7

Senam Hamil Pertama ^,^

Akhirnya kemarin saya ikutan senam hamil juga. Sebenarnya sejak kemarin-kemarin juga bisa, hanya saja bumil ini terlalu malas. Saya memilih kelas senam hamil di RS Santo Borromeus (Jl. Dago, Bandung), karena berdasarkan hasil googling di sini bayarnya murah dan dapet banyak bonus produk-produk sampel dari sponsor. Yah beginilah kisah hidup pencinta gretongan… walopun nilainya ga seberapa, yang gretongan yang lebih dipilih. :mrgreen:

Saya tiba pukul 08:30 WIB tepat di RS Borromeus, sesuai dengan info yang saya dapat bahwa kelas senam hamil ini akan dimulai pada waktu tersebut. Setelah celingak-celinguk di RS besar ini, akhirnya saya bertanya kepada seorang bapak di meja front office, dan bapak berkumis baplang itu menjelaskan bahwa kelas senam hamil tidak dilakukan di RS, tapi di Klinik Kesehatan Keluarga bertempat Asrama Keperawatan St. Borromeus, Jl. Suryakencana Bandung (tepat di belakang RS).

Klinik Kesehatan Keluarga RS St. Borromeus Bandung

Registrasinya gratis. Saya hanya perlu membayar iuran senam hamil yang akan saya ikuti saat itu, yaitu Rp 15.000,00. Ibu front office juga menginformasikan bahwa setiap Rabu ada kelas Manajemen Laktasi, kalau mau ikutan, nambah lagi Rp 15.000,00. Dan saya ikutan, karena penasaran. 😀

Saya mengintip kelas hamilnya. Wah, rupanya sudah banyak ibu-ibu berperut besar sedang asyik ngerumpi. Saya kemudian mengantri untuk mendapat giliran pemeriksaan tekanan darah oleh mbak bidan.

Suasana kelas senam hamil

Sambil nunggu kelasnya dimulai, seperti biasa saya sok kenal sok deket sama orang-orang. Lumayan dapet 3 kenalan baru, hihi… (Mbak Dewi, Luciana, sama Rosi). Masing-masing usia kehamilannya sudah memasuki minggu ke 33, 37, dan 40. Sepertinya di kelas ini usia kehamilan saya yang paling bontot deh. Tapi kok saya paling endut ya? 😛

Senam pun dimulai. Ternyata senamnya asiiiiik, kaya yoga gitu. Apalagi instrukturnya suka melucu, saya jadi semakin semangat ngikutin senam hamilnya. :mrgreen:

Materi yang diajarkan adalah gerakan-gerakan untuk melenturkan otot-otot saat melahirkan. Ternyata otot yang berperan bukan hanya selangkangan, tapi hampir semua otot di seluruh tubuh (T.T). Selain itu juga diajarkan pernapasan dan mengejan yang baik. Pokonya seru deh, berasa banget jadi ibu-ibunya… ^,^

Nah, tibalah bagian yang paling asik. Setelah senam selesai, mbak-mbak SPG Prenagen membagikan susu coklat gratis. Karena saya di rumah juga minum Prenagen, jadinya ga terlalu heboh sih senengnya. Tapi terus abis itu dibagiin juga burjo (bubur kacang ijo) hangat dan 4 potong roti tawar. Daaaaan, saya dapet paket sampel produk perawatan bayi dan ibu hamil dari Mother & Baby Indonesia. Bener kata orang-orang, di sini bayarnya murah tapi bonusnya banyak, nyahahahaha….

Kudapan pasca senam hamil ^,^

Paket dari Mother & Baby Indonesia

Insya Allah hari Sabtu nanti saya akan ikutan senam hamil di sini lagi. Katanya khusus untuk senam hamil Sabtu pagi, ada bonus penyuluhan promosi kesehatan. Untuk edisi Sabtu ini, yang akan dibahas adalah “Teknik mengurangi nyeri persalinan.” 😀

Kira-kira Sabtu nanti gretongannya apa ya? *ngarep* :mrgreen:

***

PS: Cerita tentang Manajemen Laktasi akan saya tulis di kesempatan lain. Saya lagi males nulis yang serius-serius.

PS lagi: Berikut adalah jadwal kelas senam hamil dan penyuluhan Sabtu di Klinik Kesehatan Keluarga Santo Borromeus (siapa tau ada yang butuh).

Jadwal senam hamil Klinik Kesehatan Keluarga RS Santo Borromeus

Selasa | 16:00 – 18:00 WIB
Rabu | 08:30 – 09:30 WIB (kelas persiapan menyusui 09:30 – 10:30 WIB)
Jumat | 16:00 – 18:00 WIB
Sabtu Gel I | 08:30 – 09:30 WIB (kelas penyuluhan 09:30 – 10:30 WIB)
Sabtu Gel II | 10:30 – 11:30 WIB
Minggu | 10:00 – 12:00 WIB

Jadwal Penyuluhan Promosi Kesehatan Sabtu (Pre-Natal Class) Klinik Kesehatan Keluarga RS Santo Borromeus

4/8/12 | Teknik mengurangi nyeri persalinan
11/8/12 | Rawat gabung
18/8/12 | Imunisasi bayi
25/8/12 | P3K pada bayi
1/9/12 | Makanan bayi
8/9/12 | Pijat bayi sehat
15/9/12 | Tanda bahaya kehamilan
22/9/12 | Deteksi dini pada telinga bayi
29/9/12 | Tumbuh kembang bayi
6/10/12 | Memandikan bayi
13/10/12 | Keluarga berencana
20/10/12 | Senam nifas (fit & shape)
27/10/12 | Perawatan kebidanan
3/11/12 | Persiapan persalinan
10/11/12 | Gizi ibu hamil dan menyusui
17/11/12 | Slide persalinan
24/11/12 | Miracle of ASI
1/12/12 | Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
8/12/12 | Pijat ibu hamil
15/12/12 | Hypnobirthing
22/12/12 | Massage perineum
29/12/12 | Teknik mengurangi nyeri persalinan

1

Maria Hardayanto, Ibu Rumah Tangga Penebar Virus Hijau

Sebagian orang menilai menjadi ibu rumah tangga berarti memilih menarik diri dari ranah publik. Tidak ada lagi jenjang karir, tidak ada lagi aktualisasi dmairi, tidak ada lagi cita-cita turut memajukan bangsa. Jika Anda termasuk salah satu dari orang-orang ini, tunggu sampai Anda berkenalan dengan Maria Hardayanto. Anda mungkin akan berubah pikiran. 

Suatu malam, saya cek satu per satu notifikasi Facebook yang pada malam itu sangatlah padat. Ternyata beberapa notifikasi datang dari Bunda yang sedang mempromosikan tulisannya di beberapa grup yang juga kebetulan saya ikuti. Jika kebetulan waktu saya luang, saya akan langsung membacanya, tapi jika sedang sedikit sibuk, saya bookmark dulu untuk saya baca lain waktu.

Ya, “Bunda,” begitulah saya memanggil sosok wanita ini. Dan ya, saya adalah penggemar berat tulisan-tulisan Bunda. Bukan tanpa alasan, saya menyukai tulisan-tulisan beliau karena isinya sangatlah inspiratif. Membayangkan bahwa sosok penulisnya berusia paruh baya, sontak membuat saya malu. Ternyata saya yang lebih muda dan berada pada usia puncak produktif masih kalah produktif dibanding Bunda.

Laman salah satu blog Maria Hardayanto

.

Ibu Rumah Tangga yang ‘Berkarir’ Melebihi Wanita Karir

“Kita sering bilang orang-orang Indonesia itu jorok dalam menjaga lingkungan, tapi kita tidak mau terjun langsung untuk membantu mereka. Yang saya lakukan hanya setitik debu, tapi saya yakin apa yang saya lakukan bermakna bagi mereka.” — Maria Hardayanto

Bunda adalah seorang ibu rumah tangga. Namun kepeduliannya yang sangat besar terhadap isu lingkungan hidup dan pemberdayaan perempuan membuat Bunda tergerak untuk melakukan banyak aktivitas di luar rumah.

Saat ini Bunda mendampingi dan membina dua komunitas yang tinggal di pemukiman padat penduduk kota Bandung, yaitu Komunitas Engkang-engkang dan Komunitas Sukamulya Indah. Visinya sangatlah mulia, yaitu mewujudkan lingkungan yang lebih baik dan memberdayakan kaum perempuan untuk turut berpartisipasi dalam pembangunan berkelanjutan. Kegiatan ini murni beliau lakukan secara sukarela alias tanpa dibayar. “Yang ada Bunda malah nombok, hehehe…” katanya sambil tertawa.

Saya beruntung sekali karena berkesempatan untuk ikut kumpul-kumpul dengan salah satu komunitas ini pada suatu sore. Sore itu saya bertemu Bunda yang sedang bersiap-siap bertemu Komunitas Engkang-engkang. Dengan pakaian rapi, Bunda menenteng reusable bag berisi cukup banyak barang. Rupanya Bunda baru saja selesai belanja untuk keperluan pertemuan kali ini sekaligus keperluan di rumahnya.

“Engkang-engkang,” nama yang cukup unik dan mungkin banyak yang menyalahartikannya dengan “ongkang-ongkang” yang bermakna sedikit negatif. Engkang-engkang adalah nama hewan semacam laba-laba air yang merupakan indikator alami sungai bersih dan jernih. Diharapkan nama ini bisa menjadi penyemangat ibu-ibu di bantaran Sungai Cidurian untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih, yang membuat engkang-engkang muncul kembali di sungai ini.

Bale-bale Komunitas Engkang-engkang

Keberuntungan saya berlipat ganda ketika ternyata edisi pertemuan kali itu adalah membuat cupcake tape dan ganyong. Sore itu Bunda membawa selembar print out resep yang didapatkannya dari internet. Kegiatan kali ini memang hanya memasak kue, tapi bukan berarti tidak ada poin belajarnya. Dari kegiatan ini kita belajar bahwa kita bisa menggunakan bahan lokal untuk mengganti bahan impor.

Selain menghemat biaya yang dikeluarkan, dengan menggunakan bahan lokal kita turut menjaga Bumi dengan “menghemat karbon.” Maksudnya adalah kita tidak ikut-ikutan menghasilkan polusi dari kegiatan mengimpor barang.

Cupcake Tape dan Ganyong” hasil belajar Komunitas Engkang-engkang

Seru kan? Selanjutnya resep-resep inovatif yang pernah dicoba pada pertemuan komunitas bisa dipraktekkan sendiri oleh para ibu-ibu, dan hasilnya bisa dijual di warung. Anak-anak jadi bisa jajan makanan sehat yang bebas bahan kimia berbahaya. Satu hal lagi yang tak kalah penting: jajanan ini ramah lingkungan karena tidak menggunakan plastik sebagai pembungkus.

Memasak hanyalah satu dari banyak kegiatan yang dilakukan komunitas Engkang-engkang. Banyak kegiatan menarik dan sarat makna lainnya yang dilakukan oleh ibu-ibu anggota komunitas ini. Beberapa di antaranya adalah belajar memisah sampah, mengkampanyekan anti buang sampah di sungai, berkebun, mengkompos, dan membuat tas dari bungkus kemasan plastik. Yang pasti semua kegiatan tersebut mengacu pada prinsip pembangunan berkelanjutan.

(Dokumentasi Maria Hardayanto)
.

Kegigihan Bunda yang tak kenal lelah kini telah membuahkan hasil. Selain memiliki lingkungan yang lebih bersih dan asri, kedua komunitas ini kini cukup dikenal sebagai salah satu “komunitas hijau” kota Bandung.

Banyak orang yang telah mengunjungi dan banyak media yang telah meliput kedua tempat ini. Kebanyakan orang datang untuk belajar tentang social entrepreneurship. Bahkan Wakil Walikota Bandung, Bapak Ayi Vivananda sering berkunjung ke Komunitas Engkang-engkang karena beliau sangat suka dengan semangat para ibu ini.

Pada bulan Juli 2012, kedua kampung ini juga terpilih sebagai kampung percontohan perubahan iklim Jawa Barat. Hebat kan? 🙂

.

Selalu Ada Cinta untuk Keluarga

Dengan kegiatannya yang seabreg, tidak sejengkal pun Bunda menjadi jauh dari keluarganya. Keluarga adalah hal terpenting dalam hidup Bunda. Kecintaan inilah yang membuat beliau memilih menjadi ibu rumah tangga setelah selama beberapa tahun mencoba berkarir pasca lulus dari Fakultas Ekonomi Uninus Bandung. Alasannya sederhana, Bunda tidak rela jika anak-anaknya lebih dekat dengan pembantu daripada dengan dirinya.

Mesra bersama sang suami

Foto anak-anak di dinding rumah

Bahkan setelah anak-anaknya dewasa, Bunda masih memperlakukan mereka dengan manja. Tidak ada yang salah, toh memang seharusnya begitulah hubungan seorang ibu dengan anak-anaknya. Bunda selalu berbagi cerita tentang apa yang beliau kerjakan di luar rumah kepada anak-anaknya. Begitu pula sebaliknya, Bunda selalu mendengarkan cerita khas anak muda dari anak-anaknya, sambil mencoba membantu memberikan solusi apabila dibutuhkan.

Ada kalanya di antara anggota keluarga muncul perbedaan pendapat. Biasanya bunda menyikapinya dengan santai dan memilih cara musyawarah untuk mencapai mufakat. Bunda berprinsip bahwa setiap anggota keluarga punya hak yang sama dalam mengutarakan pendapat, tidak pandang bulu apakah posisi mereka sebagai anak atau orang tua. Tapi tentu saja ada batasan-batasan tertentu yang tidak bisa dilanggar.

Rasa cinta kepada keluarga Bunda curahkan dengan selalu menyediakan makanan sehat di meja makan. Jika ada jadwal berkegiatan di luar rumah, Bunda akan mempersiapkan bahan-bahan masakan sejak sehari sebelumnya, “jadi besok paginya tinggal sreng, sreng, sreng…” tambahnya.

Bukan hanya itu, Bunda juga berusaha menciptakan suasana rumah yang asri. Tentu saja “asri” menurut kamus pribadi beliau. Bunda memelihara banyak tanaman hias dan tanaman pangan di kebun depan dan belakang rumah. Ada pula kolam lele dan tong pengkomposan untuk mengolah sampah organis sisa dapur dan makanan. Melalui keasrian ini juga Bunda mengajarkan anak-anaknya untuk mencintai alam dan lingkungan.

Halaman depan (kiri) dan halaman belakang (kanan) rumah Maria Hardayanto

Tong sampah organis (kiri) dan non-organis (kanan) di rumah Maria Hardayanto

.

Menemukan Tuhan dalam Pencarian

Bunda adalah seorang muallaf. Keputusan ini beliau ambil bukan karena alasan menikah atau atas paksaan orang lain, tapi berdasarkan hasil pencariannya sendiri. Satu hal lagi yang membuat saya kagum…. Bukan karena apa agama yang beliau pilih, tapi bagaimana proses beliau menemukan Tuhan dalam perjalanan hidupnya.

Bunda mempelajari agama Islam secara otodidak. Bunda bercerita, pada tahun 1980-an beliau membeli buku belajar mengaji dan buku petunjuk sholat di pinggir jalan yang saat itu harganya hanya Rp 1.000,00. Bunda membaca dan mempelajari buku-buku itu pada perjalanan menuju atau sepulang dari kantor menggunakan bis kota. Tekad Bunda sangatlah kuat: sekali masuk Islam, maka beliau harus menjadi muslim yang baik.

Sekarang, saat sudah fasih membaca Al-Qur’an, Bunda secara rutin mengikuti pengajian. Selain menambah relasi, kegiatan ini beliau manfaatkan untuk menebar ‘virus-virus’ hijau. Menjaga lingkungan juga termasuk ibadah, maka menyebarkan virus hijau bisa dihitung juga sebagai dakwah. 🙂

.

Tetap Tampil Cantik

Di balik kesibukannya, Bunda masih sempat merawat diri. “Bagaimanapun orang pertama kali menilai kita dari penampilan fisik. Kalau kita bersih dan rapi, orang akan lebih mau mendengar kita,” katanya bersemangat.

Sebenarnya tidak sulit untuk merawat kecantikan ala bunda. Cukup cuci muka setiap hari dan makan makanan yang sehat. Sekali-sekali boleh juga ke salon untuk memanjakan diri dan melakukan perawatan yang tidak bisa kita lakukan sendiri di rumah.

Pakaian dan asesoris Bunda sederhana saja, tidak mewah. Tapi Bunda sangat lihai dalam memadupadankan pakaian dengan asesoris sehingga enak dipandang mata. Coba lihat saja penampulan bunda di foto-foto ini, matching kan? 😉

Maria Hardayanto

Suatu saat pernah kami membahas tentang salah satu foto Bunda yang dipasang di Facebook. Bunda bercerita bahwa beliau memang mempersiapkan satu foto yang bagus, yang kelak akan dikenang saat beliau tiada.

Suatu hari saudara saya meninggal, dan di depan peti matinya terpasang foto terbaiknya semasa hidup. Saya jadi kepikiran bahwa saya harus punya foto yang bagus, jadi saat sudah tiada nanti, saya dikenang seperti pada foto itu,” katanya. Ya ampun, Bunda.. 😀

Maria Hardayanto

.

Belajar dan Menjadi Inspirasi melalui Dunia Maya

Banyak hal yang Bunda capai saat ini merupakan hasil dari proses belajar secara mandiri. Adanya internet membuat proses belajar mandiri dan berjejaring menjadi lebih mudah dan cepat. Inilah salah satu keuntungan hidup di era digital.

Melalui internet pula Bunda menjadi sumber inspirasi. Saya mungkin tidak akan pernah tahu sosok ibu rumah tangga moderen ini jika saya tidak berjejaring dengan beliau melaui Facebook. Saya juga mungkin tidak akan pernah tahu tentang Komunitas Engkang-engkang jika Bunda tidak menuliskannya di blognya. Begitu pula dengan orang-orang lain.

Maria Hardayanto: ibu rumah tangga yang melek teknologi dan internet

Kini Bunda telah menjadi inspirasi bagi banyak orang, khususnya kaum perempuan. Bunda berharap ibu-ibu rumah tangga di Indonesia tidak cepat puas dengan apa yang dimiliki sekarang. Mereka harus terus merasa haus akan pengetahuan dan pengalaman baru, karena sejatinya banyak hal yang bisa dilakukan oleh ibu rumah tangga yang bisa bermanfaat bagi dirinya sendiri, keluarga, maupun lingkungannya.

Hidup di negara berkembang memang dipenuhi banyak “masalah:” harga BBM yang semakin mahal, harga sembako yang melangit, lingkungan yang semakin kotor, dan lain sebagainya. Menurut Bunda, berkeluh kesah dan menyalahkan pemerintah tidaklah berguna. Lebih baik kita gunakan energi dan waktu yang kita punya untuk melakukan sesuatu yang sederhana tapi bermanfaat.

Terima kasih Bunda, karena telah menjadi inspirasi bagi kami, kaum perempuan. Melalui pencapaian selama ini, Bunda telah membuktikan bahwa usia dan gender bukanlah penghalang untuk maju dan membawa perubahan. Bunda juga telah mematahkan anggapan miring bahwa menjadi ibu rumah tangga berarti berhenti beraktualisasi diri dan tidak turut memajukan bangsa. Semoga angin yang menerbangkan “virus-virus” yang Bunda ciptakan selalu berhembus sehingga virus-virus ini hinggap di semakin banyak tempat.

Mari kaum perempuan, ikuti langkah Bunda. Siapkan tekadmu dan mulailah melakukan perubahan sederhana yang bermanfaat! 🙂

***

Klik link-link berikut untuk terhubung dengan Bunda (Maria Hardayanto).    

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam kontes Fastron Blogging Challenge. Fastron Blogging Challenge (FBC) adalah kompetisi blog yang mengangkat tema-tema yang erat kaitannya dengan kehidupan bermasyarakat dan perubahan sosial. Pada ajang FBC yang pertama, tema yang diangkat adalah Women In Digital Era.

18

Nujuh Bulanan (yang Diusahakan) Zero Waste

Alhamdulillah pada Selasa, 17 Juli 2012 lalu, acara nujuhbulanan yang saya beserta keluarga selenggarakan secara kecil-kecilan berjalan dengan lancar.

Kalau mau ngikutin adat Jawa sih, harusnya pada usia tujuh bulan kehamilan pertama, dilakukan upacara tingkeban yang super-duper rumit. Berhubung bakal riweuh ini-itu (apalagi menjelang bulan Ramadhan), saya memilih untuk tidak melakukan upacara ini, melainkan mengambil inti sarinya saja, yaitu berdoa demi keselamatan si jabang bayi.

Saya dan keluarga memilih mengadakan acara pengajian kecil-kecilan saja. Kami mengundang ibu-ibu di kompleks perumahan dan ibu-ibu yang biasa ngaji di masjid untuk mengaji di rumah, lalu makan-makan, dan setelah itu pulang bawa oleh-oleh. Hehehe, simpel sekali ya? 🙂

Nah, mumpung acaranya simpel, saya mengusahakan acara ini supaya bersifat zero waste. Mengadakan acara zero waste memang bukanlah hal mudah, apalagi kalau posisi kita di acara ini cuma “anak bawang.” Untungnya rayuan maut saya berhasil membuat si mamah setuju untuk ber-zero waste walaupun belum bisa 100%. :mrgreen:

Hal pertama yang terpikirkan adalah bagaimana menyuguhkan makanan di rumah secara zero waste (maksudnya makanan yang tidak dibawa pulang). Untungnya karena “syarat”-nya gampang, yaitu cuma menyediakan makanan kaya karbohidrat sebanyak 7 macam (atau lebih, yang penting jumlahnya ganjil), bagian ini sangat bisa dibuat zero waste. Kami menggunakan nyiru yang dilapisi daun pisang, lalu rebusan karbohidrat tadi ditata di atasnya. Ibu-ibu yang datang akan mengonsumsi makanan yang tidak biasa dihidangkan di perkotaan ini menggunakan piring kecil. 🙂

Rebusan karbohidrat (pisang, talas, “sagu,” ubi, singkong, ganyong, kacang tanah, kacang Bogor, jagung manis)

Kedua, untuk makanan yang dibawa pulang (oleh-oleh)–yang biasanya di perkotaan dibungkus menggunakan kotak kertas atau styrofoam–kami menggunakan besek bambu yang dilapisi daun pisang. Nah, untuk yang satu ini perjuangannya lumayan susah. Selain harus melobi si mamah untuk setuju bikin paketan nasi timbel, saya juga harus mencari besek bambu yang sudah semakin sulit didapat di kota ini. Akhirnya berkat rayuan maut saya, si mamah yang biasanya tukang ngatur itu setuju dengan usul saya. Horeee… :mrgreen:

Besek berisi makanan ini nantinya akan dibawa oleh ibu-ibu menggunakan tas jinjing. Awalnya kami ingin menyediakan tas jinjing kain, tapi karena biayanya akan terlalu mahal, kami memilih tas dari bahan yang lebih murah saja tapi tetap anti-kresek, yaitu non-woven (atau apa lah namanya, saya kurang hafal). Sengaja tas-tas jinjing ini tidak kami berikan sablonan kata-kata yang berhubungan dengan acara ini, supaya ibu-ibu ini mau pakai terus tas ini untuk keperluan lain tanpa perlu tersandung rasa malu karena ada label “gratisan” di atasnya.

Besek bambu

Nasinya dibuat “timbel” (dibungkus dengan daun pisang menggunakan teknik khusus), lalu untuk lauknya dibuat “takir” dari daun pisang.

Menunya sederhana saja: nasi timbel, oseng tempe, perkedel kentang, gepuk daging sapi (plus kerupuk, lalab, sambal, dan buah pisang). Di bagian bawahnya ada satu besek lagi berisi rujak dan kue-kue.

Besek nasi dan kue yang sudah dibungkus tas jinjing (anti kresek, booo…).

Rujak yang harus pake delima, yang mana delimanya susah banget dicari. Akrhinya pake delima impor deh.

Lemper, satu-satunya snack gacoan yang ga pake plastik.

Ternyata ada keuntungan lain yang didapat dari usaha ini selain (tentu saja) minimnya jumlah sampah. Daun pisang memberi aroma khas yang membuat cita rasa makanan menjadi lebih mantap. Penggunaan besek juga ternyata membuat ibu-ibu itu senang karena mengingatkan mereka pada masa kecil mereka. Kalau kita bisa bagi-bagi rejeki, sambil melestarikan tradisi, dan memberi perasaan senang yang lebih banyak kepada orang lain, itu kan seru banget…. :mrgreen:

Sayangnya, beberapa jenis makanan dalam paket makanan ini “memaksa” kami untuk tetap menggunakan plastik, antara lain: buah pisang, kerupuk, lalaban, sambal, kue-kue, dan RUJAK. Rujak adalah syarat wajib nujuhbulanan, jadi ga bisa ga ada. (Btw ini wajib versi adat Jawa ya, bukan versi agama :mrgreen:). Sama satu lagi: AMDK (air minum dalam kemasan). Saya ga berhasil merayu si mamah untuk ga menyertakan AMDK dalam kotak kue, euy. Entah kenapa AMDK ini seolah-oleh merupakan kewajiban dalam dunia perkotak-kue-an nasional. Jadi aja ga bisa 100% zero waste.

Tapi kan yang penting kita sudah berusaha. Saya percaya, hal-hal baik yang dilakukan dengan cara yang “baik” akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik lagi. Mudah-mudahan usaha zero waste ini memberi pengaruh positif kepada si dede di dalam perut saya ini untuk menjadi penerus pejuang lingkungan, membantu ibunya, tante-tante dan om-omnya menciptakan masa depan yang lebih baik. Sehat-sehat terus ya dede… tinggal 2 bulan lagi nih, jangan nakal ya. 😀

8

Malin Kundang Tak Lagi Durhaka

Lekat sekali dalam ingatan kita sosok Malin Kundang yang berasal dari tanah Minang, sosok yang kini “berwujud” batu karena dikutuk ibunya yang merasa sakit hati atas sikapnya yang durhaka.

Kisah Malin Kundang (Sumber)

Dikisahkan Malin pergi merantau mencari penghidupan baru. Di tengah laut, kapal yang ditumpanginya kena bajak, tapi untunglah Malin selamat karena bersembunyi di sebuah ruangan kecil. Malin kemudian terdampar di tanah yang subur. Berkat keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin bisa menjadi kaya raya dan terkenal. Suatu hari Malin dan istrinya melakukan pelayaran dan singgah di Minang. Ibunda Malin pun menyambutnya dengan suka cita. Namun malang nasib sang ibu, dia tidak diakui oleh anaknya sendiri. Sosok tua itu kemudian menjadi marah, lalu mengutuk anaknya menjadi batu. Selesai.

Begitulah kira-kira ceritanya. Pastilah cerita yang teman-teman dengar kurang lebih sama dengan yang saya dengar. Saking umumnya, sampai-sampai sosok Malin Kundang ini dijadikan simbol untuk terminologi “anak durhaka.”

Tapi bagaimana jika ada yang bercerita tentang Malin, tapi Malin bukanlah anak durhaka? Bagaimana jika kisah Malin diceritakan seperti ini:

Karena desakan ekonomi, Malin Kundang pergi merantau. Dia berprofesi sebagai tukang masak junior berusia 15 tahun di sebuah kapal barang. Di tengah laut, kapal barang yang ditumpanginya dibajak oleh perompak Somalia. Malin selamat, lalu James Bond, seorang kapten kapal dari Inggris membawa Malin ke Glasgow. Malin kemudian disekolahkan di sekolah masak ternama, dan setelah lulus, Malin membuka restoran Padang di Glasgow, London, dan Manchester.

Suatu hari terdengar kabar dari tanah Minang, bahwa terjadi tsunami besar di sana. Malin tergerak untuk membantu saudara-saudaranya di tanah air, dia mengirimkan bantuan makanan ke Minang dalam jumlah besar, di mana dia sendiri yang memimpinnya. Di tepi pantai di Minang, dia bertemu seorang wanita tua yang jalan terantuk-antuk. Dilihatnya wanita tua itu menggunakan selendang putih kumal yang dikenalinya. Malin menangis, lalu mengajak ibunya pindah ke London untuk membuka lebau dan mendirikan surau.

Kisah itu bukan buatan saya, melainkan buatan Abah Wawan Husin, seorang pendongeng, pengajar, seniman, dan “jepruter.” Apa itu jepruter? Sepenangkapan saya, jepruter itu artinya seniman suka-suka. Bahasa Sunda-nya sih seniman yang berpinsip “kumaha aing we, siah!:mrgreen:

Saya dipertemukan dengan kisah yang menceritakan Malin Kundang yang dipelesetkan menjadi Marlin Cook Kundrang ini pada acara Bincang Edukasi Meet Up #8 di Boeminini, Bandung, 7 Juli 2012 lalu. Sebenarnya acara ini diisi oleh beberapa presentan, tapi si abah ini lah yang paling menarik perhatian saya.

Wawan Husin

Wawan Husin

Abah Wawan Husin sangat mencintai dunia dongeng, karena dunia ini mengingatkannya kepada ibundanya yang telah tiada. Menurutnya, dongeng adalah metoda pendidikan yang bertaburkan cinta dan kejujuran. Orang yang tulus dan jujur pada diri sendiri akan sangat bisa menjadi pendongeng yang baik, seperti kutipan Kafka yang dimodifikasi, “Every body is a story teller if he is honest to himself.”

Sosok nyentrik ini secara tegas menyatakan ketidaksukaannya pada dongeng-dongeng atau lagu-lagu yang beredar di Indonesia. Inilah yang membuat beliau menggubah dongeng Malin Kundang yang sudah meng-Indonesia itu.

Beliau bertanya-tanya, kenapa kancil harus jadi anak nakal, sehingga anak-anak tidak ada yang mau jadi kancil? Kenapa balon kita hanya ada lima, sehingga kita hanya tau warna-warna itu saja? Kenapa tidak “balonku ada 200” sehingga anak-anak bisa mengenal diversitas warna? Kenapa Malin Kundang harus durhaka dan kemudian menjadi batu, sehingga anak-anak tidak berani membantah kepada orang tua karena takut jadi batu?

Saya sangat sependapat dengan si abah yang lincah ini. Kebanyakan dongeng atau lagu yang diajarkan kepada anak kecil di negeri ini justru lebih bermuatan negatif ketimbang positif. Ambil contoh kisah Malin Kundang ini. Saya pikir, kisah ini sengaja dibuat oleh orang jaman dulu untuk menakut-nakuti anak kecil supaya mereka tidak membantah orang tua mereka. Tapi apakah ini esensi dari “berbakti”? Hanya karena takut? Bagaimana jika seiring kedewasaan si anak kelak, rasa takut berbalut kepercayaan akan hal-hal mistis itu hilang? Apakah jika seorang anak tidak lagi takut dikutuk menjadi batu, maka mereka mendapat pembenaran untuk “boleh” tidak berbakti kepada orang tuanya?

Untuk itulah dalam sebuah pendidikan lebih dibutuhkan penanaman nilai-nilai positif ketimbang nilai-nilai negatif. Nilai positif akan jauh lebih aman dan mampu memprevensi pembenaran-pembenaran liar maupun unintended consequences lainnya. Jika untuk tujuan yang sama kita bisa memunculkan nilai-nilai positif pada sebuah dongeng, kenapa kita masih pakai yang negatif?

Coba kita baca lagi dongeng gubahan Abah Wawan di atas. Di sana beliau memasukkan beberapa unsur pendidikan: bilangan (15 tahun), keprofesian (tukang masak), geografi (Somalia, Glasgow, London, Manchester, Inggris), sains (tsunami), bahasa asing (Bahasa Inggris yang digunakan Malin), kemanusiaan (Malin membantu korban tsunami), dan yang paling penting: nilai-nilai luhur kekeluargaan (Malin tidak durhaka kepada ibunya). Apakah pesan utama yang ingin disampaikan pada kisah Malin Kundang hasil modifikasi ini sama dengan kisah Malin Kundang konvensional? Saya rasa sama. Hanya saja melalui kisah modifikasi ini, si pendengar tidak terinspirasi untuk menjadi anak durhaka, karena tidak ada lagi sosok “anak cilako” pada kisah itu. Jauh lebih indah bukan? 😉

Saya rasa si abah tidak berniat buruk mendiskreditkan dongeng Malin Kundang konvensional yang sudah turun-temurun itu. Beliau sekedar ingin mencontohkan saja, agar kita bisa membandingkan nilai-nilai di antara kedua dongeng tersebut. Intinya kita perlu behati-hati dalam mendongeng, jangan sampai alih-alih memberikan inspirasi yang baik, kita malah menebar teror. (–> bahasa saya mulai lebay :mrgreen:)

Ini adalah pelajaran yang sangat berharga bagi saya yang bercita-cita menjadi orang tua yang baik kelak. Tidak hanya dalam mendongeng, dalam melakukan hal apapun kita sebenarnya perlu lebih menonjolkan nilai positif ketimbang nilai negatif. Mungkin kita memang perlu kreatif, tapi yang lebih penting adalah kita perlu latihan dari sekarang! 😀

***

Sebagai penutup, teman-teman yang penasaran dengan aksi dongeng teaterikal si abah bisa melihatnya dalam video di bawah ini. File asli video ini adalah 1.33 GB, jadi saya kecilin, eh ga taunya malah kekecilan… :mrgreen: Pada bagian tengah video, suara kurang terdengar jelas. Kalau kurang paham jalan ceritanya, tinggal lihat lagi sinopsis dongeng yang saya tuliskan di atas. Selamat menikmati! 🙂

PS: Sinopsis di atas merupakan storyboard yang dibacakan oleh si abah sebelum beraksi, mungkin ada sedikit perbedaan dengan dongeng teraterikalnya.

PS lagi: Arti “jemprol” adalah “two thumbs up.” Kalau “jempol”, cuma “thumb up.:mrgreen:

14

Penasaran Berlebihan Berbuah Tongpes

Karena terlalu sering melihat dan mendengar cerita orang tentang ‘rainbow cake’, saya jadi ikut-ikutan penasaran ingin mencicipinya. Maka ketika teman-teman saya mengajak nongkrong di Bawean Bakery, dan di sana saya melihat masterpiece itu melalui kaca etalase, saya langsung semangat bilang “Yang itu, mbak… yang ituuuuu…

Sebelum menyajikannya di piring, si mbak-nya bilang “Harganya tiga puluh lima ribu.” Ga penting juga sih sebenernya dia ngomong gitu, karena di etalase pun ada tag yang menuliskan harga yang sama. Mungkin ini hanya semacam konfirmasi, “Ini mahal loh, kamu yakin mau beli yang ini?” Mungkin dia pernah punya pengalaman ketemu alay yang sok-sokan mau beli kue ini tapi ga sanggup bayarnya. Berarti mungkin juga kelakuan norak saya membuat dia menyimpulkan kalau saya ini alay.

Tersajilah rainbow cake idaman di piring kecil tepat di depan saya duduk. Saat saya endus, wek baunya amis. Ternyata rainbow cake ini adalah cheese cake yang cake-nya dibuat berwarna-warni. Sebelumnya saya mengira kalau krim pelapisnya itu krim gula biasa, eh ga taunya krim keju. Yah, pantes aja mahal.

Blue Royal Velvet dan Rainbow Cake ala Bawean Bakery Bandung

Gigitan pertama, mmmm… yummy… Gigitan ke-empat, weeeeek… eneg -_-

Karena saya penggemar cheese cake, saya sempat yakin kalau saya akan menghabiskan kue ini sejak gigitan pertama. Tapi ternyata kue ini sangat membuat saya eneg… entah karena kue ini memang mengenegkan, atau karena saya sedang hamil sehingga saya jadi mudah eneg. Pada dasarnya cheese cake emang ga cocok buat dimakan banyak-banyak sih, makanya biasanya dijual dalam porsi sangat kecil, ga segede-gede gaban kaya gini.

Enam orang teman saya sudah mencoba setidaknya satu suap kue ini, tapi kue ini tidak kunjung habis. Saya tawarkan lagi kepada mereka, tapi mereka sudah terlalu kenyang, karena kami memang baru pulang dari pesta pernikahan seorang teman (hahahaha..). Akhirnya dengan semangat “tidak mau menyia-nyiakan makanan” saya habiskan kue ini dengan terpaksa. Dan yang namanya terpaksa itu di mana-mana rasanya ga enak, sodara-sodara.

Ada sedikit perasaan menyesal karena membeli kue mahal ini. Tapi paling tidak rasa penasaran saya hilang sudah. Mungkin suatu saat saya akan kembali membeli fenomenal cake ini lagi di sini bersama suami atau teman-teman lain… tapi satu porsi dibagi empat! >,<

(Postingan ini terinspirasi dari postingan Ais tentang rainbow cup). 

24

Sejenak Lahir Kembali di Babakan Siliwangi

Sebagai warga negara Indonesia, kita berhak berbangga diri, karena dengan luasnya wilayah dan tingginya keanekaragaman hayati yang dimiliki, hutan Indonesia kini menjadi tumpuan dunia. Kita juga sering melantangkan bahwa hutan adalah penyangga kehidupan yang harus dijaga dengan baik. Tapi apakah kita—masyarakat kota—benar-benar paham tentang hutan? Pernahkah Anda melihat bagaimana bentuknya, mencium aromanya, menginjak tanahnya, atau bermain dengan binatang-binatang yang tinggal di dalamnya?

Jika Anda lahir dan dibesarkan di kota besar, mungkin Anda belum pernah berinteraksi dengan hutan karena sulitnya akses hutan dari kota. Lalu dengan kondisi seperti ini, masih layakkah anggapan bahwa “tinggal di kota” adalah sebuah simbol kemajuan?

Kotor dan menyeramkan. Mungkin dua hal inilah yang terpatri kuat di benak masyarakat kota tentang hutan. Begitu kuatnya, sehingga mereka cenderung menjauhi hutan. Terlepas dari kedua stigma tersebut, sejatinya hutan memiliki banyak fungsi dan manfaat bagi manusia, bahkan melebihi apa yang kebanyakan kita pikirkan selama ini. Yang kita tahu, hutan menghasilkan oksigen dan menyimpan air dalam jumlah besar, tapi tahukah Anda bahwa hutan juga bisa mejadi sarana pendidikan dan bersosial?

Memiliki banyak warna dan suara, hutan sangatlah cocok menjadi tempat bermain dan belajar bagi anak-anak yang sedang tumbuh dan berkembang. Semakin beragam warna dan suara yang ditangkap oleh panca indera anak- anak, semakin terpicu pula otak mereka untuk berkembang. Lasekapnya yang luas memungkinkan anak-anak berlari dengan bebas, membuat saraf motoris mereka terlatih. Suasananya yang tentram dan mendamaikan hati membuat hutan juga bisa menjadi sarana yang sangat cocok bagi orang dewasa untuk berkumpul dan bersosial. Sambil ditemani nyanyian serangga dan hembusan angin sepoi-sepoi, kegiatan bersosial akan terasa semakin mengasyikkan.

Bunga berwarna-warni di salah satu sudut Babakan Siliwangi.

Tak ayal, hutan menjadi hal mutlak yang perlu ada untuk menemani manusia di mana pun manusia beraktivitas, di desa maupun di kota. Sayangnya tidak banyak kota besar di Indonesia memiliki hutan yang berdiri kokoh di antara lintasan-lintasan jalan aspal dan gedung-gedung beton. Sepertinya peraturan pemerintah yang mewajibkan seluruh kota memiliki minimal 30% RTH (Ruang Terbuka Hijau) hanya dianggap angin lalu. Belum lagi terdapat mispersepsi tentang definisi RTH. Di kota-kota besar, orang menganggap taman kota yang 80%-nya ditutupi aspal atau semen adalah RTH. Padahal sejatinya RTH lebih dari itu. RTH seharusnya berbentuk hutan, yang 100% tanah dan tumbuhan, bukan yang sebagian besar ditutupi aspal atau semen.

Tapi, apakah mungkin kita memiliki hutan di tengah kota? Jawabannya adalah sangat mungkin! Kenapa tidak? Tapi tentu saja hanya jika kita menghendakinya. Jika tidak percaya, datang saja ke kota Bandung, kota tempat kami tinggal. Di Bandung, Anda bisa menemukan kawasan bernama Babakan Siliwangi, sebuah hutan mini dengan luas 3,8 hektar yang terletak di jantung kota Bandung. Anda mungkin tidak akan percaya bahwa ini adalah hutan buatan, karena pohonnya tinggi-tinggi dan bermacam-macam, juga terdapat banyak hewan liar di sana.

Hutan kota yang unik ini terletak di antara Jl. Dago dan Jl. Cihampelas, dua ruas jalan yang paling ramai dan merupakan landmark kota Bandung. Betul, Babakan Siliwangi bukan hutan alami. Pada masa penjajahan Belanda, kawasan ini merupakan hamparan sawah yang cukup luas, yang kemudian dialifungsikan menjadi hutan melalui penanaman berbagai jenis pohon. Dan kini, voila…..! Jadilah hutan kota dengan 48 jenis pohon, 14 jenis burung, dan beberapa jenis mamalia!

Keberadaan hutan di tengah kota Bandung yang semakin sarat penduduk dan bangunan bertingkat bagaikan kehadiran sebuah oase di padang pasir. Bayangkan saja ada hutan lebat di sebelah jalan raya yang sarat kendaraan bermotor. Di mana di sana orang dewasa bisa melepas lelah dan penat seusai bekerja seharian… anak-anak bisa belajar tentang alam dan segala sesuatu tentang kehidupan sambil bermain dan berlari-larian di lantai hutan… dan kawula muda bisa berkumpul dan bersosial dengan memanfaatkan keterbukaan ruangnya. Babakan Siliwangi benar-benar aset yang tak ternilai bagi kota Bandung!

Babakan Siliwangi memiliki sejarah yang cukup panjang. Dan pada tahun 2011, sejarah panjang itu diperkaya dengan sejarah baru yang mendunia. Pada bulan September 2011, kawasan Babakan Siliwangi ditetapkan sebagai hutan kota pertama yang diakui dunia. Status baru ini diresmikan di sela Konferensi Internasional Anak-anak dan Pemuda TUNZA, setelah beberapa hari sebelumnya komunitas “UDUNAN” yang merupakan bentuk kerja sama puluhan komunitas di kota Bandung melakukan aksi “Save Babakan Siliwangi”. Pada aksi yang melibatkan ratusan relawan dan membakar kembali semangat anak muda kota Bandung ini, dilakukan pelepasan sebagian aspal jalan yang melintang di Babakan Siliwangi, dan sebagai gantinya dilakukan penanaman berbagai jenis pohon di kawasan tersebut. Pada waktu yang berdekatan, dibangun pula sebuah jembatan kanopi hasil kerja sama UNEP PBB dengan komunitas Bandung Inisiatip. Pembaruan-pembaruan wajah Babakan Siliwangi ini membuat hutan kota dunia ini berdiri dengan semangat baru.

Belajar menanam pohon di acara "Save Babakan Siliwangi". (dok - HUB! Bandung)

Pohon yang ditanam di area aspal yang dilepas.

Jembatan Kanopi

Percuma saja punya hutan kota yang diakui dunia jika masyarakat yang tinggal di sekitarnya tidak memanfaatkannya dengan baik. Selain aktivitas para seniman di Galeri Sanggar Olah Seni (SOS) yang terletak di dalam hutan, hampir tidak ada aktivitas lain di Babakan Siliwangi. Menyoal ini, komunitas HUB! hadir dengan pendekatan yang menarik: mengajak masyarakat bermain bersama di Babakan Siliwangi. Komunitas bernama panjang “Hayu Ulin di Baksil!” (Indonesia: Mari Kita Main di Baksil!) ini lahir pada tahun 2011, dengan hasrat mengajak masyarakat meramaikan Babakan Siliwangi melalui aktivitas-aktivitas positif sesuai kegemaran masing-masing. Diharapkan dengan semakin banyak orang beraktivitas dan merasa memiliki Babakan Siliwangi, maka akan semakin banyak pula orang yang peduli terhadap hutan kota ini. Secara rutin komunitas ini melakukan kegiatan-kegiatan menarik, di antaranya bersepeda, fotografi, menggambar komik, membuat lomba desain rumah burung, serta kegiatan-kegiatan menarik lainnya di kawasan Babakan Siliwangi. Semoga aksi mereka berbuah manis! 🙂

Contoh rumah burung untuk lomba desain rumah burung. (dok - HUB! Bandung)

Menikmati hutan kota dari jembatan kanopi.

Dengan kemampuannya mengatur dan memelihara diri sendiri, hutan tidak membutuhkan terlau banyak campur tangan manusia. Manusia hanya perlu melakukan inisiasi dan perawatan pada tahap awal. Dengan segala keuntungan yang ditawarkan oleh hutan, masyarakat seharusnya tidak perlu lagi pusing menentukan apakah mereka membutuhkan hutan kota atau tidak. Hutan kota adalah lansekap terbaik yang dibutuhkan oleh sebuah kota untuk menjadi kota yang sehat. Tidak ada lansekap lain yang bisa menggantikan posisinya…  juga keindahannya. Coba, beri lihat kepada kami sudut kota yang lebih indah dari ini:

***

Itu tadi sepotong cerita tentang hutan kota di Bandung. Bagaimana dengan kota tempat Anda tinggal, sudahkah memiliki hutan kota? Jika belum, siapkah Anda menjadi agen perubahan? Jika masyarakat dan komunitas-komunitas di kota Bandung bisa mewujudkan mimpi mereka memiliki hutan kota yang nyaman dan asri, masih ragukah Anda bahwa Anda juga bisa melakukannya?

Pepatah Sunda mengatakan “Leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak.” Jika hutan rusak, air akan habis, dan manusia akan sengsara. Mari selamatkan hutan yang tersisa, dan ciptakan hutan-hutan baru! Salam Lestari! 🙂

————————————————————————————————-

Artikel ini dibuat untuk kepentingan lomba menulis blog 3on3 Competition 2011 tenang “Open Public Space” yang diselenggarakan oleh ON|OFF, hasil karya Rima Putri Agustina, Rizki Ersa Heryana, dan Nicky Irawan.

6

Kafe Ah Lo Lo, Y U No Respect Your Guest?

Ew, saya sudah terlampau lama ga apdet blog, saya jadi bingung harus memulai cerita dari mana. Intinya, pasca menikah, saya tidak lagi bekerja di tempat kerja saya sebelumnya. Kini saya membantu penelitian yang tengah dilakukan oleh LPPM ITB bekerja sama dengan Dinas Pendapatan Kota Bandung.

Tugas saya sangatlah simpel, saya hanya perlu mendatangi para wajib pajak berupa hotel dan restoran, bertanya sedikit tentang kondisi mereka saat ini, lalu melaporkannya ke LPPM ITB. Simpel sekali bukan? Benar, simpel sekali, JIKA perwakilan wajib pajak yang saya temui benar-benar kooperatif dan ga melaporkan saya ke sekuriti karena merasa terganggu dengan keberadaan saya.

Pernah ga sih kamu ngebayangin ditangkep sekuriti di mall? Kalau nggak pernah ngebayangin, berarti kamu sama dengan saya. Tapi apa yang terjadi pada saya 2 hari lalu mengubah pengalaman saya tentang pernah atau nggaknya ditangkep sekuriti di mall -_-

Hari itu saya ditugasi untuk mensurvey 20 restoran di sebuah mall yang cukup terkenal di Bandung, sebut saja PIB (Pandung Indah Blaza). Yang harus saya tanyakan kepada para responden di keduapuluh restoran tersebut sangat-sangat-sangat-sangat-sangatlah simpel (kelewat simpel malah):
1. Apakah di restoran ini tersedia akses internet (untuk klien maupun untuk karyawan)?
2. Apakah di restoran ini ada staf yang khusus menangani IT atau komputer?
3. Apa saja peralatan yang digunakan pada kasir?

Plus saya perlu memfoto kondisi kasir dan meminta contoh bon/struk pembayaraan, yang mana kalau ga ada, saya cukup memfotonya saja pake kamera.

See? Simpel sekali bukan? Seharusnya prosesnya pun berjalan dengan lancar karena Dispenda sudah mengantongi ijin dari masing-masing kantor pusat restoran yang dijadikan responden.

Setelah mengitari 18 restoran dan mengumpulkan data yang dibutuhkan, tibalah saya pada restoran ke-19, sebut saja C.Jo (yang jualan donat-donat eneg itu). Restoran ini tidak bersedia memberikan data saya minta, kecuali jika saya membawa ijin tertulis dari pihak pusat di Jakarta. Ini cukup aneh, karena sebenarnya Dispenda sudah mengantongi ijin dari kantor pusat restoran ini. Tentang apakah pihak pusat sudah memberi tahu manajer di counter-counter cabang tentang ijin ini, ITU BUKAN URUSAN SAYA, bukan? Tapi gapapa lah, daripada jadi ribut, biar nanti Dispenda saja yang mengurusnya, hahaha… >,<

Walaupun begitu, saya sangat mengapresiasi keramahan sang supervisor saat berhadapan dengan saya.

Lalu berjalanlah saya ke restoran ke-20, sebut saja Kafe Ah Lo Lo. Terus terang saya baru satu kali nongkrong di kafe ini, itu pun bukan di PIB sini, tapi di JvP mall (Jaris van Pava), karena menurut saya sih harganya ga masuk akal buat kantong saya.

Di sana saya tidak bertemu manajer atau supervisor di kafe tersebut, karena katanya sedang libur atau sedang cuti, atau lain-lain lah. Tapi karena pertanyaan yang akan saya ajukan levelnya berada pada ranah teknis, seharusnya kasir atau pelayan pun bisa membantu memberi jawaban. Iya lah, masa untuk tau apakah di kafe ini ada akses internet aja perlu tanya manajer dulu? Saya percaya mereka di sini bekerja sebagai karyawan, bukan budak.

Akhirnya dengan wajah cemberut, si mbaknya mau menjawab ketiga pertanyaan yang saya ajukan. Tibalah pada bagian di mana saya meminta ijin untuk memfoto kondisi kasir dan meminta contoh bon/struk. Si mbak itu tidak mengijinkan saya memfoto kondisi kasir. “Oh, gapapa lah,” pikir saya. Toh memang kebijakan tiap restoran beda-beda, dan memang ada restoran tidak mengijinkan asetnya difoto.

WALAUPUN SEBENARNYA SAYA PUNYA HAK BAHKAN SAMPE NGELIAT PEMBUKUAN KEUANGAN MEREKA, tapi gapapa lah, daripada ribut.

Ga boleh ngambil foto? Oke. “Terus mbak, kalau saya minta struk bekasnya boleh ga?” tanya saya. Terus si mbaknya, yang seolah-olah menyeragamkan dengan jawaban sebelumnya menjawab “Wah, maaf ya itu ga bisa.”

PADAHAL DI DEPAN SAYA JELAS-JELAS ADA STRUK-STRUK GA KEPAKE yang ditinggalkan oleh pelanggan-pelanggan yang terlampau malas untuk mengambilnya dari kasir atau membuangnya ke tempat sampah. “Kalau ini, ini kan bekas ya mbak, ini ga boleh saya ambil juga? Atau saya foto aja deh ya struk ya?”

Jawabannya bisa ditebak lah. “TETEP NGGAK BOLEH MBAK, HARUS DAPAT IJIN DARI PUSAT DULU”. Can you believe it?

“Oh, gitu ya. Ya udah mbak, gapapa. Saya boleh ga minta tandatangan mbak? Sekedar untuk verifikasi bahwa jawaban dari ketiga pertanyaan yang kita bahas di awal itu benar adanya” tanya saya lagi. Lalu si mbaknya menjawab “Maaf ya ga bisa, kecuali kalau saya bawa surat tugas mbak.” Maksudnya adalah SURAT TUGAS SAYA, YANG HANYA SATU-SATUNYA ITU.

Sepertinya si mbak ini cuma cari cara supaya dia ga usah tandatangan. Tapi dia lupa bahwa di dunia ini ada teknologi fotokopi -_-

Maka pergilah saya ke luar area PIB, mencari tukang fotokopi. Beberapa menit kemudian saya kembali ke Kafe Ah Lo Lo untuk memberikan surat YANG SI MBAKNYA MINTA, lalu menagih tanda tangan yang dia “janjikan”. Akhirnya dia mau ngasih, tapi sambil cemberut, yang mana saya ga habis pikir kenapa dia mesti cemberut.

Sampe sini, keadaan masih oke-oke saja. Tidak ada yang aneh, saya hanya bertemu responden yang tidak kooperatif atau rese saja. Dari Kafe Ah Lo Lo saya bergerak ke Es Teler 77 (kalau yang ini namanya ga diutak-atik :p), untuk minta struk bekas pelanggan, karena pada pagi hari saat saya survey ke sana, belum ada struk bekas yang bisa saya minta.

Kalau pernah ke PIB, pasti kamu tau bahwa untuk kembali ke gerbang utama dari Es Teler 77, kamu harus lewat Kafe Ah Lo Lo. Nah, pas saya lewat kafe rese tersebut, keluarlah petugas sekuriti dari dalam kafe, sambil MENERIAKI SAYA untuk sekedar membuat saya aware kalau dia bermaksud berurusan dengan saya. Petugas sekuriti itu bilang “Mbak, di sini kalau mau menyebarkan selebaran, harus ijin dulu sama pihak manajamen.”

WHAT? SAYA NGGAK MENYEBARKAN SELEBARAN, PAK. Tadi itu saya ngasih fotokopian surat tugas saya karena mereka sendiri yang minta. Kenapa ga mereka aja yang ditangkep? Ah tapi percuma juga komplen sama petugas sekuriti, mereka kan cuma MENURUTI PERINTAH TUAN MEREKA, ga peduli apakah tuannya oon dan ga berperikemanusiaan atau tidak.

Saya dibawa ke bagian manajemen PIB. Saat saya digelandang ke kantor manajemen, saya sempat bertanya sama si petugas tersebut “Saya dilaporkan oleh pelayan Kafe Ah Lo Lo ya?” yang kemudian di-iya-kan oleh si petugas sekuriti. Saya sebenernya kesel berat dan pengen komplen atas kesalahpahaman bahwa saya menyebarkan selebaran gelap, tapi ya sudahlah, saya ga punya waktu buat ribut-ribut. Saya ikutin aja lah mereka maunya gimana.

Sayangnya manajer operasionalnya lagi sibuk, jadi saya cuma bisa titip pesen sama front officenya yang ganteng. “Mas, tolong disampein aja ke manajernya, saya ga menyebarkan selebaran, saya hanya menanyakan beberapa hal, dan  saya sebenarnya sudah mengantongi ijin dari kantor pusat mereka. Saya minta maaf karena menimbulkan kekacauan, ini nomer HP saya kalau-kalau pihak PIB atau Kafe Ah Lo Lo mau menuntut saya lebih lanjut.”

Sebelum saya ngomong gitu, saya sempet nanya sama si masnya “Mas, emangnya kalau saya cuma mau nanya doang ke restoran2 tentang apakah di sana ada internet atau nggak, terus nanya apa merek mesin kasirnya, itu harus ijin dulu sama PIB?” terus kata masnya, “Harusnya sih iya, termasuk juga misalnya kalau restoran mau ngeloading barang dari truk, itu harus lapor dulu sama pihak manajemen.”

OMG, itu mah 2 hal yang beda kali mas T.T

Oh, jadi semuanya harus minta ijin dulu ya sama pihak manajemen? Jadi selama hampir 20 tahun ini saya makan atau beli-beli barang di PIB, saya melakukan kesalahan dong? Karena selama ini saya selalu nanya segala hal langsung ke pelayan di counter yang bersangkutan, ga lewat manajemen dulu tuh -_-

Selama ini PIB adalah salah satu tempat nongkrong favorit saya, tapi sepertinya saya harus cari tempat nongkrong baru nih. Akan jadi terlalu ribet bagi saya, jika untuk menanyakan “Apakah di sini ada koneksi wi fi?” ke pelayan aja saya harus minta ijin ke pihak manajemen PIB dulu. Sori-sori jek, saya ga suka yang ribet-ribet.

Dan untuk Kafe Ah Lo Lo, saya ga nyangka kalau niat baik saya untuk susah-susah nyari tukang fotokopian supaya saya bisa ngasih kopian surat tugas saya ke Kafe Ah Lo Lo ternyata dimanfaatkan untuk memberi alasan kepada sekuriti untuk menangkap saya. WAT DE HEL? Kalau emang ga mau ngasih tandatangan, bilang aja ga mau, ga usah ngasih tapi ujung-ujungnya malah bikin orang jadi susah. Apa sih susahnya bilang “GA MAU”?

Mengutip Dalai Lama, “If you can, help others; if you cannot do that, at least do not harm them.”

Saya jadi berandai-andai, jika saja saya datang ke sana sebagai pembeli, lalu saya bertanya “Apakah di sini ada akses internet?” mungkin ceritanya akan lain. Bagi ke-19 restoran lain, saya bisa bilang bahwa mereka benar-benar menerapkan slogan “Tamu adalah Raja”, siapapun tamu mereka, mereka akan melayaninya dengan baik. Tapi tidak untuk Kafe Ah Lo Lo. Sepertinya bagi mereka, tamu berduit yang mau menghambut-hamburkan duit di Kafe Ah Lo Lo sajalah yang layak diberi pelayanan yang baik. Sisanya cuma bikin susah aja, sehingga lebih baik diurus oleh sekuriti.

Dengan memposting tulisan ini saya TIDAK bermaksud mengajak teman-teman untuk tidak mengunjungi Kafe Ah Lo Lo, saya hanya bermaksud mengajak teman-teman untuk tidak meniru apa yang pelayan Kafe Ah Lo Lo lakukan dalam memperlakukan tamu. Percayalah, itu adalah sikap yang sangat menyebalkan dan hanya akan merugikan diri sendiri.


*sigh*