17

Menjayakan Kembali Sang Primadona Budaya Indonesia

Alangkah miris rasanya mengetahui bahwa wayang — warisan budaya asli Indonesia — sangat diapresiasi di negeri lain, tapi tidak di negeri asalnya… bahwa sementara di negeri lain seni wayang sudah resmi masuk ke dalam kurikulum pendidikan formal, di negeri asalnya para budayawan perlu beradu otot dengan pemerintah untuk memperoleh pencapaian yang sama.

Dalam sejarah perkembangannya, bangsa Indonesia pernah menciptakan puncak-puncak kreasi dan karya yang sampai sekarang masih dikagumi. Kreasi dan karya budaya tersebut merupakan  hasil akal, budi, dan pikiran manusia yang tak ternilai harganya.

(Ilustrasi dari jakarta.go.id)

Kesenian wayang adalah satu dari sekian banyak kesenian khas Indonesia. Di mata para pengamat budaya, kesenian wayang memiliki nilai lebih dibandingkan seni lainnya, karena kesenian wayang merupakan kesenian yang komprehensif yang dalam pertunjukannya memadukan unsur-unsur kesenian, diantaranya seni karawitan, seni rupa (tatah sungging), seni pentas (pedalangan), dan seni tari  (wayang orang). Di samping fungsinya sebagai hiburan, kesenian wayang juga memiliki fungsi estetika dan sarat dengan nilai-nilai luhur. Setiap alur cerita, falsafah dan perwatakan tokohnya, sampai bentuk pada kesenian wayang mengandung makna yang sangat mendalam.

Kita patut berbangga akan hal ini, karena kemajuan sebuah bangsa salah satunya ditentukan oleh peradaban budayanya. Bahkan UNESCO, lembaga yang membawahi kebudayaan dari PBB pada tahun 2003 menetapkan wayang — yang merupakan kebudayaan asli Indonesia — sebagai sebuah warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity). Ironisnya, bukan rasa bangga dan tindakan melestarikan kebudayaan ini yang muncul, tapi anggapan bahwa kebudayaan ini kuno dan ketinggalan jaman sehingga generasi muda mulai meninggalkannya.

Sudah sebegitu lunturnyakah rasa kecintaan kita pada kesenian wayang?  Berkaca pada diri sendiri, mungkin saja jawabannya adalah “ya.” Saya terakhir kali menonton pertunjukan wayang hampir dua tahun lalu. Itupun karena tidak sengaja saya temukan di sebuah festival di kota tempat saya tinggal. Saya lupa siapa dalangnya, saya juga lupa bagaimana ceritanya. Mungkin saya adalah representasi dari generasi muda yang mulai acuh tak acuh dengan kesenian ini.

Saya pernah suka sekali dengan wayang, terutama wayang golek. Semuanya berawal saat orang tua saya membelikan saya “Si Cepot”, tokoh wayang golek yang memang merupakan idola saya pada kala itu. Walaupun sedikit menakutkan dengan mukanya yang merah dan giginya yang menonjol, kelucuan karakternya membuat saya jatuh hati. Kini Si Cepot entah berada di mana, saya sudah lama sekali tidak memikirkannya.

Pertunjukan mini wayang golek di Braga Festival 2010

Ketemu Cepot di Braga Festival 2010, langsung minta foto bareng 😀

Tak bisa dipungkiri, arus globalisasi dan modernisasi yang terlampau kencang menerpa negeri ini membuat kita melupakan budaya tradisional. Jika jaman dulu orang menyetel televisi untuk menonton pertunjukan wayang kulit/golek/orang di TVRI, kini ada banyak pilihan lain yang dianggap lebih menarik seperti sinetron atau sitkom. Tak heran jika semakin lama masyarakat semakin tidak mengenal wayang, apalagi tergerak untuk melestarikannya. Seperti kata pepatah, “tak kenal maka tak sayang.”

Jika generasi saya yang masa kecilnya diwarnai kesenian wayang saja kini bersikap acuh tak acuh terhadap kesenian ini, bagaimana dengan generasi anak-anak jaman sekarang yang mungkin sama sekali tidak pernah bersentuhan dengan dunia wayang? Lalu mau dibawa kemana warisan budaya ini? Pantaskah wayang tergeser oleh Naruto atau tokoh kartun lain? Memikirkannya saja saya sudah merinding. -_-

Saya merasa tergerak untuk kembali mencintai wayang. Saya tidak mau anak cucu saya kelak mengenal wayang hanya karena mengunjungi museum, lalu manggut-manggut saat membaca keterangan “ini adalah warisan budaya Indonesia.” Atau mengenal wayang karena menonton pertunjukan yang justru digelar oleh orang-orang yang bukan berkebangsaan Indonesia.

Mengeluh dan berharap saja tentu tidak akan menyelesaikan masalah. Sebagai bagian dari generasi yang sedikit lebih tua pada masa ini, saya merasa perlu ambil bagian dalam menemukan solusi untuk mengembalikan kejayaan kesenian wayang di mata anak-anak. Berikut adalah beberapa solusi yang sempat terpikirkan di benak saya terkait masalah ini:

Bagi Para Orang Tua

1. Mempelajari Dunia Wayang sebagai Modal untuk Mengajar dan Mendidik Anak

Selain memiliki cerita yang menarik, dunia wayang juga berisikan nilai-nilai luhur dan falsafah hidup yang penting untuk pembentukan karakter anak-anak. Jika kita masih kurang percaya diri membawakan nilai-nilai tersebut, minimal kita bisa membawakan cerita yang menarik dan menghibur untuk anak-anak.

Untuk mempelajari cerita wayang klasik, kita cukup sesekali menonton pertunjukan wayang. Atau kalau tidak, kita bisa membaca bukunya.  Sayangnya di dua cerita yang paling populr dalam dunia perwayangan yaitu Ramayana dan Mahabharata, terdapat beberapa bagian cerita yang kurang cocok untuk dikonsumsi anak-anak. Tapi kita bisa memilahnya dan hanya menceritakan bagian yang pantas untuk diceritakan. Saat kita sudah hafal ceritanya, kita bisa menggunakannya sebagai dongeng pengantar tidur atau media pembelajaran suatu materi.

Buku karya Rizem Aizid, cocok untuk pemula

2. Mengajak Anak-anak Mengunjungi Museum Budaya

Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Kita bisa memanfaatkan energi ini untuk mengajak mereka menjelajahi museum yang menampilkan koleksi wayang. Memang belum banyak berdiri museum khusus wayang di negeri ini, tapi paling tidak terdapat beberapa museum di beberapa kota besar yang bisa kita dijadikan pilihan:

Koleksi wayang golek Museum Sri Baduga Bandung

Koleksi wayang beber Museum Sri Baduga Bandung

3. Menjadikan Wayang sebagai Objek Kreasi

Banyak kegiatan yang dinilai bisa merangsang kemampuan motoris anak, misalnya menggambar, mewarnai, dan berprakarya. Sambil merangsang kreativitas mereka, kita bisa memperkenalkan wayang pada kegiatan-kegiatan ini, misalnya:

  • Mewarnai gambar wayang. Gambar polos wayang bisa diunduh secara gratis misalnya di laman Facebook e-wayang.
  • Membuat wayang kertas. Cara membuatnya bisa disimak di blog Surfer Girl. Jika bentuk wayang asli (misalnya wayang kulit) dirasa terlalu sulit, bisa dibuat bentuk lain yang disukai. Selanjutnya wayang hasil karya bisa digunakan untuk mengadakan pertunjukan kecil-kecilan. 😀
  • Membuat papertoy  wayang. Cetakannya bisa diunduh secara gratis misalnya di blog Yapato dan Salazad.
  • Membuat wayang dari daun singkong. Cara membuatnya bisa disimak di blog Dey.

Wayang kertas (ilustrasi dari en.surfer-girl.com)

Papertoy Bima dan Sadewa hasil buatan sendiri ^,^

Wayang batang daun singkong (ilustrasi dari blog Dey)

4. Memanfaatkan Kemajuan Teknologi Informasi

Seiring kemajuan teknologi, kini inspirasi dan cerita estetis wayang dapat kita nikmati dalam bentuk digital. Salah satunya adalah komik e-wayang.org dan situs interaktif ramaya.na. Dengan gambar yang lucu dan menarik, diharapkan anak-anak akan bersemangat untuk menyimaknya. 😀

Komik e-wayang (ilustrasi dari e-wayang.org)

Situs ramaya.na (ilustrasi dari ramaya.na)

5. Menuansakan Wayang dalam Kehidupan Sehari-hari

Banyak barang-barang yang kita gunakan sehari-hari yang bisa kita manfaatkan untuk menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap wayang, misalnya: baju, tas, sepatu, mug, dan lain-lain. Diharapkan dengan interaksi setiap hari dengan wayang, apalagi jika sudah menjadi ikon bagi barang kesayangan mereka, anak-anak akan mencintai wayang dengan sendirinya. 😀

Kaos Srikandhi, hasil hunting di Jogja

Mug wayang (ilustrasi dari kaskus.co.id)

.

Bagi Para Pelaku Dunia Wayang

1. Mengembangkan Inovasi Pertunjukan Wayang Khusus Anak-anak

Jika biasanya pertunjukan wayang digelar semalam suntuk, menggunakan Bahasa Jawa atau Sunda secara full, dan terkadang berisikan cerita-cerita dewasa, maka perlu dibuat juga pertunjukan wayang khusus untuk anak-anak. Misalnya dibuat pada waktu siang hari dengan durasi hanya 2 jam, menggunakan Bahasa Indonesia, dan berisikan cerita khusus anak-anak.

Khusus untuk anak-anak jaman sekarang yang agak kebarat-baratan, kesenian wayang perlu punya nilai nyentrik, sehingga mungkin para dalang perlu bereksperimen dengan memasukkan unsur pop ke dalamnya. Sebenarnya ini bukan hal baru, karena sejak tahun 1925 sudah ada wayang kancil, dan sejak tahun 2010 ada wayang hiphop.

Wayang kancil (ilustrasi dari dongengwayangkancil.wordpress.com)

Wayang hiphop (ilustrasi dari Facebook.com)

2. “Memformalkan” Wayang

Seni wayang mengandung nilai-nilai luhur dan falsafah hidup yang baik untuk membantu pembentukan karakter anak-anak, oleh karena itu seni wayang sangat cocok untuk dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan nasional. Upaya ini telah dilakukan oleh PEPADI, namun sayangnya gayung belum bersambut.

Kita juga bisa mengusulkan adanya Hari Wayang Nasional. Sama seperti hari-hari perayaan lainnya, biasanya masyarakat akan melakukan hal-hal spesial pada hari-hari tersebut. Saya harap, jika ada Hari Wayang Nasional, stasiun televisi swasta akan tergerak untuk menampilkan pertunjukan wayang, dan masyarakat awam akan tergerak untuk berkontribusi memajukan dunia perwayangan nasional, misalnya para blogger menulis artikel tentang wayang. 🙂

3. Mengadakan Kelas atau Kursus Dalang Bocah

Sayang sekali rasanya jika apresiasi dan minat anak-anak terhadap wayang berhasil ditingkatkan tapi tidak tersedia cukup banyak fasilitas yang memungkinkan anak-anak berkecimpung lebih jauh dalam dunia wayang, misalnya tidak ada tempat kursus dalang dan sinden bocah. Untuk  menjadi seorang dalang dan sinden profesional tentulah tidak cukup dengan mengikuti kursus selama beberapa bulan. Tapi sebagai langkah awal untuk memfasilitasi kecintaan anak-anak terhadap wayang, sepertinya wadah-wadah semacam ini perlu ada dan dikelola dengan baik.

Sekolah Pedalangan “Sobokartti” (ilustrasi dari sobokartti.wordpress.com)

4. Mengadakan dan Mendukung Acara-acara Spesial Pewayangan secara Berkala

Salah satunya adalah Festival Dalang Bocah Nasional yang diselenggarakan setiap tahun di berbagai kota pada sejak 2008. Kegiatan ini diprakarsai oleh PEPADI dan didukung oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga RI dan berbagai sponsor. Festival serupa tingkat daerah juga dilaksanakan oleh PEPADI provinsi dan kabupaten/kota setiap tahunnya.

Dalang bocah (ilustrasi dari festivaldalangbocah.com)

Ketua Umum PEPADI Pusat, Ekotjipto, mengatakan Festival Dalang Bocah diadakan untuk mendorong kecintaan anak-anak terhadap profesi dalang. PEPADI berada posisi mengawal tradisi seni wayang agar tetap lestari dan menjaga agar mata rantai generasi pedalangan tidak putus begitu saja. (Sumber)

***

Itulah beberapa hal yang menurut saya bisa kita lakukan mulai dari sekarang untuk menumbuhkan kembali minat anak-anak terhadap dunia wayang.

Kelestarian seni dan budaya wayang adalah tanggung jawab kita bersama sebagai bangsa pemilik sah kebudayaan ini. Dibutuhkan tekad dan komitmen yang kuat dari berbagai pihak untuk mengembalikan kejayaan wayang sebagai primadona budaya nasional, terutama di mata anak-anak Indonesia yang hidup di generasi instan seperti sekarang. Mengandalkan pemerintah saja tentu bukan hal yang bijak, karena sejatinya peran keluarga dan masyarakat bisa memberikan hasil yang lebih optimal.

Menggubah sedikit kesenian ini agar sesuai dengan perkembangan jaman menurut saya bukanlah sesuatu yang salah. Toh yang penting kita bisa menggiring generasi penerus kita untuk mencintai wayang. Biarkanlah mereka mencintai wayang melalui jalur yang mereka pilih sendiri. Bukankah yang terpenting dari seni wayang bukanlah kemasannya, tetapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya?

Semoga tidak ada lagi kata-kata sumbang yang mengeluhkan “kok wayang lebih diapresiasi di luar negeri ya?”. Semoga seni dan budaya wayang bisa kembali menjadi primadona di tanah kelahirannya sendiri. Tidak lagi dianggap ribet, tetapi agung… tidak lagi dianggap aneh, tetapi unik… dan tidak lagi dianggap kuno, tetapi antik…

Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai budayanya. Jayalah selalu wayangku, primadona budayaku. 🙂

Advertisements
10

“Sadewa”

Ada yang tau papertoy? Sederhananya papertoy adalah boneka yang terbuat dari kertas, yang bisa kita buat sendiri, cukup dengan modal mem-print, menggunting, melipat, dan menempel. 😀

Suatu hari saya menemukan blog ini, terus jadi kabita pengen bikin papertoy Pandawa 5. Akhirnya saya download deh gambar-gambarnya untuk kemudian di-print. Asalnya saya mau print di kertas manila, tapi ternyata di tempat nge-print-nya ga ada kertas manila, jadinya pake kertas inkjet deh. Ternyata hasilnya lebih bagus, wow woooow… ^,^

(Sekilas info aja: biaya print di kertas inkjet per lembarnya Rp 3.000 perak.)

Alat dan bahan yang dibutuhkan untuk membuat papertoy

Alat dan bahan yang dibutuhkan sederhana saja. Cukup alat potong dan bahan perekat. Buat yang perfeksionis dan gila kerapihan, mungkin akan lebih suka pakai cutter dan penggaris. Tapi buat pemalas kelas kakap, bisa pake gunting aja. Saya pake keduanya. Untuk garis potong yang akan terlihat dari luar, saya pakai cutter. Tapi untuk potongan yang ga bakal keliatan, saya pake gunting. :mrgreen:

Terus untuk perekatnya bisa pake lem atau pakai double tape. Buat kamu-kamu yang jorok, mendingan pake double tape aja deh, soalnya lem yang belepotan bakal mengurangi keindahan papertoy-nya.

Cetakan yang telah dipotong

Ini dia Sadewa yang sudah jadi

Ini ceritanya percobaan pertama. Masih banyak sisi ga rapihnya: idungnya kurang nempel, lipetannya banyak yang ga rapih, garis putus-putus masih keliatan (keknya bisa dibikin ga keliatan deh).

Bagi yang bertanya-tanya “kenapa yang dibuat pertama kali Sadewa?” jawabannya adalah karena Nakula dan Sadewa adalah tokoh Pandawa 5 yang least favorite bagi saya. Jadi kalau ada yang salah-salah, saya ga bete. Kenapa ga Nakula aja? Yah karena hidup memang tidak adil.

Gapapa ya, Sadewa… walaupun kamu produk gagal, you will always be in my heart. :mrgreen:

18

Nujuh Bulanan (yang Diusahakan) Zero Waste

Alhamdulillah pada Selasa, 17 Juli 2012 lalu, acara nujuhbulanan yang saya beserta keluarga selenggarakan secara kecil-kecilan berjalan dengan lancar.

Kalau mau ngikutin adat Jawa sih, harusnya pada usia tujuh bulan kehamilan pertama, dilakukan upacara tingkeban yang super-duper rumit. Berhubung bakal riweuh ini-itu (apalagi menjelang bulan Ramadhan), saya memilih untuk tidak melakukan upacara ini, melainkan mengambil inti sarinya saja, yaitu berdoa demi keselamatan si jabang bayi.

Saya dan keluarga memilih mengadakan acara pengajian kecil-kecilan saja. Kami mengundang ibu-ibu di kompleks perumahan dan ibu-ibu yang biasa ngaji di masjid untuk mengaji di rumah, lalu makan-makan, dan setelah itu pulang bawa oleh-oleh. Hehehe, simpel sekali ya? 🙂

Nah, mumpung acaranya simpel, saya mengusahakan acara ini supaya bersifat zero waste. Mengadakan acara zero waste memang bukanlah hal mudah, apalagi kalau posisi kita di acara ini cuma “anak bawang.” Untungnya rayuan maut saya berhasil membuat si mamah setuju untuk ber-zero waste walaupun belum bisa 100%. :mrgreen:

Hal pertama yang terpikirkan adalah bagaimana menyuguhkan makanan di rumah secara zero waste (maksudnya makanan yang tidak dibawa pulang). Untungnya karena “syarat”-nya gampang, yaitu cuma menyediakan makanan kaya karbohidrat sebanyak 7 macam (atau lebih, yang penting jumlahnya ganjil), bagian ini sangat bisa dibuat zero waste. Kami menggunakan nyiru yang dilapisi daun pisang, lalu rebusan karbohidrat tadi ditata di atasnya. Ibu-ibu yang datang akan mengonsumsi makanan yang tidak biasa dihidangkan di perkotaan ini menggunakan piring kecil. 🙂

Rebusan karbohidrat (pisang, talas, “sagu,” ubi, singkong, ganyong, kacang tanah, kacang Bogor, jagung manis)

Kedua, untuk makanan yang dibawa pulang (oleh-oleh)–yang biasanya di perkotaan dibungkus menggunakan kotak kertas atau styrofoam–kami menggunakan besek bambu yang dilapisi daun pisang. Nah, untuk yang satu ini perjuangannya lumayan susah. Selain harus melobi si mamah untuk setuju bikin paketan nasi timbel, saya juga harus mencari besek bambu yang sudah semakin sulit didapat di kota ini. Akhirnya berkat rayuan maut saya, si mamah yang biasanya tukang ngatur itu setuju dengan usul saya. Horeee… :mrgreen:

Besek berisi makanan ini nantinya akan dibawa oleh ibu-ibu menggunakan tas jinjing. Awalnya kami ingin menyediakan tas jinjing kain, tapi karena biayanya akan terlalu mahal, kami memilih tas dari bahan yang lebih murah saja tapi tetap anti-kresek, yaitu non-woven (atau apa lah namanya, saya kurang hafal). Sengaja tas-tas jinjing ini tidak kami berikan sablonan kata-kata yang berhubungan dengan acara ini, supaya ibu-ibu ini mau pakai terus tas ini untuk keperluan lain tanpa perlu tersandung rasa malu karena ada label “gratisan” di atasnya.

Besek bambu

Nasinya dibuat “timbel” (dibungkus dengan daun pisang menggunakan teknik khusus), lalu untuk lauknya dibuat “takir” dari daun pisang.

Menunya sederhana saja: nasi timbel, oseng tempe, perkedel kentang, gepuk daging sapi (plus kerupuk, lalab, sambal, dan buah pisang). Di bagian bawahnya ada satu besek lagi berisi rujak dan kue-kue.

Besek nasi dan kue yang sudah dibungkus tas jinjing (anti kresek, booo…).

Rujak yang harus pake delima, yang mana delimanya susah banget dicari. Akrhinya pake delima impor deh.

Lemper, satu-satunya snack gacoan yang ga pake plastik.

Ternyata ada keuntungan lain yang didapat dari usaha ini selain (tentu saja) minimnya jumlah sampah. Daun pisang memberi aroma khas yang membuat cita rasa makanan menjadi lebih mantap. Penggunaan besek juga ternyata membuat ibu-ibu itu senang karena mengingatkan mereka pada masa kecil mereka. Kalau kita bisa bagi-bagi rejeki, sambil melestarikan tradisi, dan memberi perasaan senang yang lebih banyak kepada orang lain, itu kan seru banget…. :mrgreen:

Sayangnya, beberapa jenis makanan dalam paket makanan ini “memaksa” kami untuk tetap menggunakan plastik, antara lain: buah pisang, kerupuk, lalaban, sambal, kue-kue, dan RUJAK. Rujak adalah syarat wajib nujuhbulanan, jadi ga bisa ga ada. (Btw ini wajib versi adat Jawa ya, bukan versi agama :mrgreen:). Sama satu lagi: AMDK (air minum dalam kemasan). Saya ga berhasil merayu si mamah untuk ga menyertakan AMDK dalam kotak kue, euy. Entah kenapa AMDK ini seolah-oleh merupakan kewajiban dalam dunia perkotak-kue-an nasional. Jadi aja ga bisa 100% zero waste.

Tapi kan yang penting kita sudah berusaha. Saya percaya, hal-hal baik yang dilakukan dengan cara yang “baik” akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik lagi. Mudah-mudahan usaha zero waste ini memberi pengaruh positif kepada si dede di dalam perut saya ini untuk menjadi penerus pejuang lingkungan, membantu ibunya, tante-tante dan om-omnya menciptakan masa depan yang lebih baik. Sehat-sehat terus ya dede… tinggal 2 bulan lagi nih, jangan nakal ya. 😀

62

Kue Keranjang dan Lelaki Mata Keranjang

Hari ini, tiba-tiba rekan kerja saya menyodorkan sebuah kue keranjang ke hadapan saya. Ah.. iya, saya hampir lupa bahwa minggu depan adalah hari perayaan Tahun Baru Imlek.

Kue Keranjang

Teman saya yang sering saya panggil “Cici Jessis” ini adalah seorang keturunan Cina yang menganut agama Katolik, tapi tetap merayakan Imlek. Dia bilang, apa yang dia dan keluarganya anut memang sedikit aneh. Setengah Katolik dan setengah Konghuchu, katanya.

Kue keranjang yang Cici Jessis bawa masih sangat enyoi-enyoi, maksudnya masih sangat empuk karena belum terlalu lama dibuat.

Kata si Cici, kue keranjang ini bisa diolah dengan cara digoreng. Dan karena tadi sore saya lagi pengen melakukan hal-hal aneh, saya ajak aja Cici Jessis untuk “memasak” kue keranjang ini di dapur.

Dan bereksperimenlah kami..

Continue reading

56

American English to Sundanese English

Setelah baca tulisan Mas Prim-Prim dan Mbak Han-Han tentang Bahasa Inggris, saya jadi tertarik untuk membahasnya juga.

Pernahkah teman-teman mencoba mengidentifikasi, kira-kira kalau sedang berbicara dalam Bahasa Inggris, teman-teman pake logat apa? Logat Amerika, British, atau mungkin logat lain seperti India?

Saya ga pernah tau tentang logat saya sendiri, karena saya ga pernah menyengajakan diri mau ngomong pake logat apa. Tapi kata beberapa orang, logat Bahasa Inggris saya ini sangat American.

Wendy, seorang peneliti dari AS (rekan kerja saya di Mentawai) seringkali menggunakan kata-kata rumit saat berkomunikasi dengan saya. Sampai-sampai saya seringkali harus menanyakan kembali apa maksud kata-katanya. Saking seringnya, dia sempat mengira saya punya gangguan pendengaran :mrgreen:. Tapi kemudian saya bilang, “Wendy, saya ga budek… saya cuma ga ngerti kamu lagi ngomong apa.”

Helen dan Wendy saat mandi di sungai.

Well, syukurlah kemudian dia sadar bahwa ternyata dia seringkali terbawa suasana kalau lagi ngobrol sama saya. Katanya, dia berasa lagi ngobrol sama orang Amrik. Pret….! Saya bahkan ga tau detilnya logat orang Amrik itu bagaimana. :mrgreen:

Mungkin ini ada hubungannya dengan kebiasaan saya waktu kuliah… saya hobi banget nonton serial Amerika, terutama Heroes dan Gossip Girl, hehehe 🙂 Jadi mungkin logat-logat ini masuk ke alam bawah sadar saya.. *apaan sih?*

Ya ya, saya tau serial ini ga penting. Tapi saya suka tuh :p

Selepas pulang dari Mentawai, saya memilih untuk bekerja di Bandung, bersama manusia-manusia yang saya anggap ajaib. Setelah berkecimpung dengan dunia mereka selama hampir 2 tahun, semua orang bilang logat saya sekarang nyunda abis. Saya ga tau dah, apakah logat ini juga terejawantahkan saat saya ngomong Bahasa Inggris.. :mrgreen:

Saya jadi ingat cerita dari bos saya. Beberapa bulan lalu beliau menghadiri suatu pertemuan tingkat regional Asia di Jakarta. Di sela-sela ceritanya yang cukup heboh, dia bercerita seperti ini:

“Gila, gua satu-satunya orang yang masih pake LAPTOP. Semuanya pake iPad…!”

(ini baru bumbunya, belum cerita yangs sebenarnya)

“Ternyata hampir semua pesertanya adalah orang-orang keturunan Asia yang tumbuh di Amerika. Saya kaget waktu dengar ada orang Cina yang ngomongnya pake logat koboy.”

“Hmmm… logat koboy? Kamu banyak ngomong ga pak di situ?”

“Iya, kaya yang di film-film koboy jaman dulu itu loh… Sebenarnya saya pengen banyak ngomong, tapi saya ga pede, takut yang keluar malah logat Sunda.”

“Saya baru sadar kalau selama ini saya salah gaul, hahahahaha….”

O-em-ji. Jangan-jangan ini juga terjadi pada saya, hahaha…

Bagaimana dengan teman-teman? Apa logat teman-teman saat ngomong Bahasa Inggris? American seperti para koboy, British seperti Harry Potter, atau Sundanese seperti bos saya? :mrgreen:

62

Tetangga Iwan Fals?

Tiba-tiba saja hari ini saya ingat dengan tempat kerja saya dulu, sebuah tempat yang sangat indah di pedalaman Mentawai. Mungkin ingatan ini terpicu karena tadi malam saya melihat iklan tayangan televisi berjudul “Berburu” yang menampakkan babi hutan yang sedang berlari-lari. Kondisinya mirip sekali dengan di Mentawai.

Tapi sebenarnya bukan babinya yang saya ingat… melainkan cerita tentang Iwan Fals-nya.

Ini adalah cerita yang saya dapat dari Wibi, teman kerja saya yang dulu seorang mahasiswa Kehutanan UGM.

Suatu hari seorang guide (kita sebut saja Justin Bieber) bertanya kepada seorang asisten peneliti bernama Ira, “Ira, kampung Ira di mana?”

Lalu Ira menjawab, “Di Jawa.” Mungkin karena Ira tahu bahwa kalau dia menjawab “Jogja,” Justin tidak akan tahu di mana lokasi tersebut. Minimal kalau Ira menjawabnya dengan nama pulau, Justin akan lebih mengenalnya, karena ini ada di pelajaran SD.

Tanpa dinyana, Justin pun membalasnya dengan antusias, “Wah, di Jawa? Rumah kamu dekat dengan Iwan Fals tidak?”

Saya sampai sekarang ga pernah tau apa jawaban selanjutnya dari Ira. Karena setelah Wibi menceritakan tentang pertanyaan berbau Iwan Fals tersebut, saya langsung tertawa terbahak-bahak. Demikian juga setiap kali cerita itu diceritakan, kami pasti akan kembali tertawa terbahak-bahak, dan cerita itu tidak pernah saya dengar dengan komplit.

Ups, sori… Saya tahu, mentertawakan kekurangan orang lain itu tidak baik, tapi ini benar-benar kocak. Saya tidak bermaksud melecehkan, saya hanya kagum dengan kepolosan si Justin. 🙂

Di sela-sela ceritanya, saya ingat Wibi pernah berkata, “Dia berespon seperti itu karena dia menganggap Jawa itu sebesar Policoman.”

Policoman? Ini memang nama yang agak aneh, tapi ini adalah nama sebuah desa kecil di bagian Utara Siberut, Kepulauan Mentawai. Ada juga yang menyebutnya Polipsoman atau Politcoman. Malah di buku keluaran tahun 80-an, saya menemukan nama Pulipsuman. Ini adalah desa tempat tinggal para guide dan juru masak yang membantu para peneliti primata di Hutan Pungut.

Saya ga punya banyak kenangan dengan Policoman, karena saya hanya pernah menginap di sana beberapa hari, yaitu saat sebelum masuk hutan, saat lebaran, dan saat mau pulang ke Padang. Foto tentang Policoman pun tidak banyak, karena saat itu saya ga punya kamera. Ini adalah foto terakhir saya di Policoman sebelum bertolak ke Padang, yang dijepret menggunakan kamera milik Deden yang lensanya jamuran. 🙂

Bergaya ala preman bersama Deden dan Vera di depan "Betaet," Desa Policoman, Siberut Utara

Dulu, waktu saya kerja di tengan hutan belantara, saya merengek-rengek ingin keluar dari sana. Bukan karena di sana banyak King Cobra, tapi karena saya stres ditekan oleh bos saya yang orang Amerika itu. Walaupun banyak kenangan buruk, tapi di sana juga ada banyak kenangan manis, salah satunya berinteraksi dengan para guide yang polos ini. 🙂 Saya pengen banget bisa ke Policoman lagi untuk bertemu dengan mereka.

Sayangnya saya bukan orang kaya… Kalau saya punya uang banyak, saya akan mengajak Iwan Fals untuk manggung di Policoman, sekalian juga untuk memberi sedikit pengetahuan tentang geografi. 😉

15

Braga Braga Braga……!

Kata orang, kota Bandung identik dengan Braga. Tapi kalau kata saya sih, nggak juga. Jaman dulu mungkin ya…. tapi rasanya jaman sekarang kecenderungan sudah berubah. Identitas itu kini milik jalan Dago.

Saya sendiri sebagai orang yang sudah 25 tahun tinggal di Bandung, ga punya banyak memori dengan Jalan Braga. Mungkin karena saya selalu disekolahkan di tempat-tempat yang kebetulan dekat dengan rumah, dan masih berkisaran di Bandung Utara. Bener loh, sejak TK sampe kuliah, saya ga pernah keluar dari Bandung Utara yang sejuk 🙂

Sejak kecil saya ga pernah jalan-jalan ke Braga. Paling cuma ke Pasar Baru atau Alun-alun Bandung yang jaraknya tidak jauh dari Braga. Saya ingat, dulu mama membelikan saya gulali dan es krim. Dua-duanya dengan volume yang cukup besar untuk ukuran anak kecil, dan saat itu saya protes karena papa saya mintain terus es krim saya 🙂

Setelah dewasa pun saya ga punya banyak kenangan dengan Braga. Palingan cuma lewat doang, ngeliatin orang-orang yang lagi foto-foto, atau mengidentifikasi bencong di malam hari. Tapi untuk nongkrong-nongkrong sih jaraaaaang banget. Sejauh ini saya cuma punya 3 memori yang berhubungan dengan pernongkrongan di Braga.

1. Wisata Kulinday ke Toko Roti dan Kue “Sumber Hidangan”

Ini adalah acara jalan-jalannya Inday Fans Club. Di kampus saya yang aneh ini, karena jumlah makhluk bernama wanitanya terlalu sedikit, bermunculanlah fans club-fans club cewe-cewe cantik. Inday Fans Club adalah salah satunya ^o^

Kebetulan beberapa di antara kami ada yang keturunan Chinese. Tanpa bermaksud SARA, kami iseng bikin foto kaya gini. Biar suasana jadoelnya tambah terasa 😀

Para juragan beserta para jongos dan babu :p
Kalau saya ga tergabung dalam Inday Fans Club, mungkin saya ga pernah tau bahwa di Braga ada toko roti yang terkenal banget di jaman Belanda dan masih eksis sampe saat ini, yang bernama “Sumber Hidangan” 🙂
2. Kiosk Braga City Walk

Nah, sama nih… Kalau aja saya ga ikutan buka puasa bareng para volunteer YPBB, saya ga akan pernah tau kalau di Braga ada Kiosk. Emang katrok banget deh saya ini 0.o
Kiosk ini setengahnya ada di dalam Braga City Walk, dan setengahnya lagi pake bangunan sendiri. Keduanya adalah salah satu dua bangunan moderen yang menggeser posisi bangunan-bangunan tua di Braga. 
Bersama para volunteer YPBB; lagi kepedesan makan Bebek van Java. Background: Jalan Braga di malam hari.

3. Braga Festival 2009

Saya dulu ga bawa kamera, jadi dulu saya ga foto-foto waktu main ke Braga Festival 2009. Sampe sekarang saya ga inget, kok bisa-bisanya dulu ga bawa kamera :p

Setelah googling, saya nemu foto ini… Ini adalah Deklarasi Braga yang disahkan oleh Pak Yusuf M. Effendi alias Dede Yusuf alias Dede Ucup.

Deklarasi Braga (sumber

***

Ya sih, memori saya tentang Braga memang cuma sedikit. Tapi, tapi, tapi….. besok saya akan menambah pundi-pundi memori saya tentang Braga… karena besok akan ada Braga Festival yang diselenggarakan untuk ke-6 kalinya. Katanya, festival tahun ini lebih difokuskan pada pelestarian citra kawasan Braga yang sudah dikenal dengan bangunan tempo dulu, kawasan belanja bergengsi, serta bangunan art deco-nya.
Oh, ternyata Braga Festival itu udah 5 kali digelar…. tapi kok saya cuma tahu 1 kali ya? Apalagi jawabannya selain karena saya ini emang katrok :p
Buat temen-temen yang tinggal di Bandung atau biasa berlibur ke Bandung di akhir pekan, jangan lewatkan acara ini ya. Apalagi kalau kita penggiat seni dan arsitektur… Dijamin betah deh…. 😀 😀 😀

Pasang lagu ini dulu ah, biar terasa Bandungnya….
http://www.youtube.com/v/q2zR7K95k7Q?fs=1&hl=en_US&color1=0x3a3a3a&color2=0x999999