17

Menjayakan Kembali Sang Primadona Budaya Indonesia

Alangkah miris rasanya mengetahui bahwa wayang — warisan budaya asli Indonesia — sangat diapresiasi di negeri lain, tapi tidak di negeri asalnya… bahwa sementara di negeri lain seni wayang sudah resmi masuk ke dalam kurikulum pendidikan formal, di negeri asalnya para budayawan perlu beradu otot dengan pemerintah untuk memperoleh pencapaian yang sama.

Dalam sejarah perkembangannya, bangsa Indonesia pernah menciptakan puncak-puncak kreasi dan karya yang sampai sekarang masih dikagumi. Kreasi dan karya budaya tersebut merupakan  hasil akal, budi, dan pikiran manusia yang tak ternilai harganya.

(Ilustrasi dari jakarta.go.id)

Kesenian wayang adalah satu dari sekian banyak kesenian khas Indonesia. Di mata para pengamat budaya, kesenian wayang memiliki nilai lebih dibandingkan seni lainnya, karena kesenian wayang merupakan kesenian yang komprehensif yang dalam pertunjukannya memadukan unsur-unsur kesenian, diantaranya seni karawitan, seni rupa (tatah sungging), seni pentas (pedalangan), dan seni tari  (wayang orang). Di samping fungsinya sebagai hiburan, kesenian wayang juga memiliki fungsi estetika dan sarat dengan nilai-nilai luhur. Setiap alur cerita, falsafah dan perwatakan tokohnya, sampai bentuk pada kesenian wayang mengandung makna yang sangat mendalam.

Kita patut berbangga akan hal ini, karena kemajuan sebuah bangsa salah satunya ditentukan oleh peradaban budayanya. Bahkan UNESCO, lembaga yang membawahi kebudayaan dari PBB pada tahun 2003 menetapkan wayang — yang merupakan kebudayaan asli Indonesia — sebagai sebuah warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity). Ironisnya, bukan rasa bangga dan tindakan melestarikan kebudayaan ini yang muncul, tapi anggapan bahwa kebudayaan ini kuno dan ketinggalan jaman sehingga generasi muda mulai meninggalkannya.

Sudah sebegitu lunturnyakah rasa kecintaan kita pada kesenian wayang?  Berkaca pada diri sendiri, mungkin saja jawabannya adalah “ya.” Saya terakhir kali menonton pertunjukan wayang hampir dua tahun lalu. Itupun karena tidak sengaja saya temukan di sebuah festival di kota tempat saya tinggal. Saya lupa siapa dalangnya, saya juga lupa bagaimana ceritanya. Mungkin saya adalah representasi dari generasi muda yang mulai acuh tak acuh dengan kesenian ini.

Saya pernah suka sekali dengan wayang, terutama wayang golek. Semuanya berawal saat orang tua saya membelikan saya “Si Cepot”, tokoh wayang golek yang memang merupakan idola saya pada kala itu. Walaupun sedikit menakutkan dengan mukanya yang merah dan giginya yang menonjol, kelucuan karakternya membuat saya jatuh hati. Kini Si Cepot entah berada di mana, saya sudah lama sekali tidak memikirkannya.

Pertunjukan mini wayang golek di Braga Festival 2010

Ketemu Cepot di Braga Festival 2010, langsung minta foto bareng 😀

Tak bisa dipungkiri, arus globalisasi dan modernisasi yang terlampau kencang menerpa negeri ini membuat kita melupakan budaya tradisional. Jika jaman dulu orang menyetel televisi untuk menonton pertunjukan wayang kulit/golek/orang di TVRI, kini ada banyak pilihan lain yang dianggap lebih menarik seperti sinetron atau sitkom. Tak heran jika semakin lama masyarakat semakin tidak mengenal wayang, apalagi tergerak untuk melestarikannya. Seperti kata pepatah, “tak kenal maka tak sayang.”

Jika generasi saya yang masa kecilnya diwarnai kesenian wayang saja kini bersikap acuh tak acuh terhadap kesenian ini, bagaimana dengan generasi anak-anak jaman sekarang yang mungkin sama sekali tidak pernah bersentuhan dengan dunia wayang? Lalu mau dibawa kemana warisan budaya ini? Pantaskah wayang tergeser oleh Naruto atau tokoh kartun lain? Memikirkannya saja saya sudah merinding. -_-

Saya merasa tergerak untuk kembali mencintai wayang. Saya tidak mau anak cucu saya kelak mengenal wayang hanya karena mengunjungi museum, lalu manggut-manggut saat membaca keterangan “ini adalah warisan budaya Indonesia.” Atau mengenal wayang karena menonton pertunjukan yang justru digelar oleh orang-orang yang bukan berkebangsaan Indonesia.

Mengeluh dan berharap saja tentu tidak akan menyelesaikan masalah. Sebagai bagian dari generasi yang sedikit lebih tua pada masa ini, saya merasa perlu ambil bagian dalam menemukan solusi untuk mengembalikan kejayaan kesenian wayang di mata anak-anak. Berikut adalah beberapa solusi yang sempat terpikirkan di benak saya terkait masalah ini:

Bagi Para Orang Tua

1. Mempelajari Dunia Wayang sebagai Modal untuk Mengajar dan Mendidik Anak

Selain memiliki cerita yang menarik, dunia wayang juga berisikan nilai-nilai luhur dan falsafah hidup yang penting untuk pembentukan karakter anak-anak. Jika kita masih kurang percaya diri membawakan nilai-nilai tersebut, minimal kita bisa membawakan cerita yang menarik dan menghibur untuk anak-anak.

Untuk mempelajari cerita wayang klasik, kita cukup sesekali menonton pertunjukan wayang. Atau kalau tidak, kita bisa membaca bukunya.  Sayangnya di dua cerita yang paling populr dalam dunia perwayangan yaitu Ramayana dan Mahabharata, terdapat beberapa bagian cerita yang kurang cocok untuk dikonsumsi anak-anak. Tapi kita bisa memilahnya dan hanya menceritakan bagian yang pantas untuk diceritakan. Saat kita sudah hafal ceritanya, kita bisa menggunakannya sebagai dongeng pengantar tidur atau media pembelajaran suatu materi.

Buku karya Rizem Aizid, cocok untuk pemula

2. Mengajak Anak-anak Mengunjungi Museum Budaya

Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Kita bisa memanfaatkan energi ini untuk mengajak mereka menjelajahi museum yang menampilkan koleksi wayang. Memang belum banyak berdiri museum khusus wayang di negeri ini, tapi paling tidak terdapat beberapa museum di beberapa kota besar yang bisa kita dijadikan pilihan:

Koleksi wayang golek Museum Sri Baduga Bandung

Koleksi wayang beber Museum Sri Baduga Bandung

3. Menjadikan Wayang sebagai Objek Kreasi

Banyak kegiatan yang dinilai bisa merangsang kemampuan motoris anak, misalnya menggambar, mewarnai, dan berprakarya. Sambil merangsang kreativitas mereka, kita bisa memperkenalkan wayang pada kegiatan-kegiatan ini, misalnya:

  • Mewarnai gambar wayang. Gambar polos wayang bisa diunduh secara gratis misalnya di laman Facebook e-wayang.
  • Membuat wayang kertas. Cara membuatnya bisa disimak di blog Surfer Girl. Jika bentuk wayang asli (misalnya wayang kulit) dirasa terlalu sulit, bisa dibuat bentuk lain yang disukai. Selanjutnya wayang hasil karya bisa digunakan untuk mengadakan pertunjukan kecil-kecilan. 😀
  • Membuat papertoy  wayang. Cetakannya bisa diunduh secara gratis misalnya di blog Yapato dan Salazad.
  • Membuat wayang dari daun singkong. Cara membuatnya bisa disimak di blog Dey.

Wayang kertas (ilustrasi dari en.surfer-girl.com)

Papertoy Bima dan Sadewa hasil buatan sendiri ^,^

Wayang batang daun singkong (ilustrasi dari blog Dey)

4. Memanfaatkan Kemajuan Teknologi Informasi

Seiring kemajuan teknologi, kini inspirasi dan cerita estetis wayang dapat kita nikmati dalam bentuk digital. Salah satunya adalah komik e-wayang.org dan situs interaktif ramaya.na. Dengan gambar yang lucu dan menarik, diharapkan anak-anak akan bersemangat untuk menyimaknya. 😀

Komik e-wayang (ilustrasi dari e-wayang.org)

Situs ramaya.na (ilustrasi dari ramaya.na)

5. Menuansakan Wayang dalam Kehidupan Sehari-hari

Banyak barang-barang yang kita gunakan sehari-hari yang bisa kita manfaatkan untuk menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap wayang, misalnya: baju, tas, sepatu, mug, dan lain-lain. Diharapkan dengan interaksi setiap hari dengan wayang, apalagi jika sudah menjadi ikon bagi barang kesayangan mereka, anak-anak akan mencintai wayang dengan sendirinya. 😀

Kaos Srikandhi, hasil hunting di Jogja

Mug wayang (ilustrasi dari kaskus.co.id)

.

Bagi Para Pelaku Dunia Wayang

1. Mengembangkan Inovasi Pertunjukan Wayang Khusus Anak-anak

Jika biasanya pertunjukan wayang digelar semalam suntuk, menggunakan Bahasa Jawa atau Sunda secara full, dan terkadang berisikan cerita-cerita dewasa, maka perlu dibuat juga pertunjukan wayang khusus untuk anak-anak. Misalnya dibuat pada waktu siang hari dengan durasi hanya 2 jam, menggunakan Bahasa Indonesia, dan berisikan cerita khusus anak-anak.

Khusus untuk anak-anak jaman sekarang yang agak kebarat-baratan, kesenian wayang perlu punya nilai nyentrik, sehingga mungkin para dalang perlu bereksperimen dengan memasukkan unsur pop ke dalamnya. Sebenarnya ini bukan hal baru, karena sejak tahun 1925 sudah ada wayang kancil, dan sejak tahun 2010 ada wayang hiphop.

Wayang kancil (ilustrasi dari dongengwayangkancil.wordpress.com)

Wayang hiphop (ilustrasi dari Facebook.com)

2. “Memformalkan” Wayang

Seni wayang mengandung nilai-nilai luhur dan falsafah hidup yang baik untuk membantu pembentukan karakter anak-anak, oleh karena itu seni wayang sangat cocok untuk dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan nasional. Upaya ini telah dilakukan oleh PEPADI, namun sayangnya gayung belum bersambut.

Kita juga bisa mengusulkan adanya Hari Wayang Nasional. Sama seperti hari-hari perayaan lainnya, biasanya masyarakat akan melakukan hal-hal spesial pada hari-hari tersebut. Saya harap, jika ada Hari Wayang Nasional, stasiun televisi swasta akan tergerak untuk menampilkan pertunjukan wayang, dan masyarakat awam akan tergerak untuk berkontribusi memajukan dunia perwayangan nasional, misalnya para blogger menulis artikel tentang wayang. 🙂

3. Mengadakan Kelas atau Kursus Dalang Bocah

Sayang sekali rasanya jika apresiasi dan minat anak-anak terhadap wayang berhasil ditingkatkan tapi tidak tersedia cukup banyak fasilitas yang memungkinkan anak-anak berkecimpung lebih jauh dalam dunia wayang, misalnya tidak ada tempat kursus dalang dan sinden bocah. Untuk  menjadi seorang dalang dan sinden profesional tentulah tidak cukup dengan mengikuti kursus selama beberapa bulan. Tapi sebagai langkah awal untuk memfasilitasi kecintaan anak-anak terhadap wayang, sepertinya wadah-wadah semacam ini perlu ada dan dikelola dengan baik.

Sekolah Pedalangan “Sobokartti” (ilustrasi dari sobokartti.wordpress.com)

4. Mengadakan dan Mendukung Acara-acara Spesial Pewayangan secara Berkala

Salah satunya adalah Festival Dalang Bocah Nasional yang diselenggarakan setiap tahun di berbagai kota pada sejak 2008. Kegiatan ini diprakarsai oleh PEPADI dan didukung oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga RI dan berbagai sponsor. Festival serupa tingkat daerah juga dilaksanakan oleh PEPADI provinsi dan kabupaten/kota setiap tahunnya.

Dalang bocah (ilustrasi dari festivaldalangbocah.com)

Ketua Umum PEPADI Pusat, Ekotjipto, mengatakan Festival Dalang Bocah diadakan untuk mendorong kecintaan anak-anak terhadap profesi dalang. PEPADI berada posisi mengawal tradisi seni wayang agar tetap lestari dan menjaga agar mata rantai generasi pedalangan tidak putus begitu saja. (Sumber)

***

Itulah beberapa hal yang menurut saya bisa kita lakukan mulai dari sekarang untuk menumbuhkan kembali minat anak-anak terhadap dunia wayang.

Kelestarian seni dan budaya wayang adalah tanggung jawab kita bersama sebagai bangsa pemilik sah kebudayaan ini. Dibutuhkan tekad dan komitmen yang kuat dari berbagai pihak untuk mengembalikan kejayaan wayang sebagai primadona budaya nasional, terutama di mata anak-anak Indonesia yang hidup di generasi instan seperti sekarang. Mengandalkan pemerintah saja tentu bukan hal yang bijak, karena sejatinya peran keluarga dan masyarakat bisa memberikan hasil yang lebih optimal.

Menggubah sedikit kesenian ini agar sesuai dengan perkembangan jaman menurut saya bukanlah sesuatu yang salah. Toh yang penting kita bisa menggiring generasi penerus kita untuk mencintai wayang. Biarkanlah mereka mencintai wayang melalui jalur yang mereka pilih sendiri. Bukankah yang terpenting dari seni wayang bukanlah kemasannya, tetapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya?

Semoga tidak ada lagi kata-kata sumbang yang mengeluhkan “kok wayang lebih diapresiasi di luar negeri ya?”. Semoga seni dan budaya wayang bisa kembali menjadi primadona di tanah kelahirannya sendiri. Tidak lagi dianggap ribet, tetapi agung… tidak lagi dianggap aneh, tetapi unik… dan tidak lagi dianggap kuno, tetapi antik…

Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai budayanya. Jayalah selalu wayangku, primadona budayaku. 🙂

8

Sedikit Update

Hai, halo, apa kabar?

Tiba-tiba aja hari ini pengen ngeblog, tapi saya bingung mau nulis apa. Mungkin saya udah lupa caranya ngeblog. Ajarin ngeblog doooong…!

Pasang foto-foto aja deh ya..

Hari ini saya main sama anak-anak Mutiara Bunda Playschool. Tema hari ini adalah “Happy Earth,” dan saya mendapat kehormatan untuk bermain bersama anak-anak yang lucu, yaaaay…! 😀

Kami semua membuat palet warna. Liat deh palet-palet buatan kami, bagus kan? 😀

Adil, my favorite kid 😀

Si cantik Enden

Terima kasih Miss Indri 🙂

 
Tuh, bagus kan?

Waktu ngajar :p

 With Sunshine Class 🙂
 Hehe, saya lupa namanya :p

 Rafi, si ganteng

Rafa yang kritis dan rajin gosok gigi 🙂 


 Adil lagi…. Senyumnya manis banget 😀

 Thoriq


Abi dan Rafa yang fotogenik 


Enden suka sekali mie goreng… “Abi juga,” kata Abi. Boleh, tapi jangan banyak-banyak ya… 🙂


Rainbow Class makan bersama 


Bukan pengalaman di TK saja yang menarik hari ini. Ternyata di kampus gajah-duduk-sok-sibuk, sebagian properti Pasar Seni ITB 2010 sudah mulai disiapkan di H-2 ini. Ini dia beberapa yang menarik….

  


 Di balik jam ganesha (yang selalu lebih lambat 5 menit dari jam para dosen)
Pohon Dadap Merah yang dibondage.
Panggung Plaza Widya… Kayanya bakal jadi panggung utama deh.
Air-airan di kolam Not Balok Indonesia Raya.
Abis gitu…. entah kenapa hari ini ujug-ujug saya pengen beli buku. Jadi mampir lah sore ini saya ke BBC (Bandung Book Center) dan Roemah Buku. Banyaaaak banget buku yang pengen dibeli, tapi berhubung saya ga punya uang, dan lagi ga banyak diskon gede-gedean, saya beli satu aja dulu. Judulnya “Libri di Luca.” Kayanya sih seru, tapi belum sempat dibaca, ehehehe xD
Yang merah itu selimut saya, yang biru itu tas saya, dan yang belang-belang itu boneka Harimau saya, hadiah dari si pacar 😀
Asa garing… Tapi setidaknya saya mencoba menulis kembali, hehehe… 🙂

12

Drunken Monster, Kapan Sekuelmu Keluar?

Setelah membaca buku ini –buku karangan orang gila ini– saya baru menyadari bahwa saya telah terlalu serius menyikapi hidup. Saya juga sering menjahili orang lain, tapi saking seriusnya, saya hampir selalu memastikan –pada akhirnya– kepada orang yang terjahili dengan kata-kata “Hey, gua becanda doang kok..”. Beda sekali dengan Pidi Baiq, yang sepertinya –bukannya tidak peduli– membiarkan si orang terjahili pada akhirnya menyadari bahwa dia telah dijahili.

Jika ini adalah kisah fiksi, mungkin reaksi saya akan datar-datar saja saat membaca buku ini, dan saya akan berkomentar “Belebai kali pun pengarangnya”. Tapi ini kisah nyata, dan menurut saya, cerita-cerita yang ditulis dengan bahasa yang katanya bukan bahasa dewa ini sangat-sangat lucu untuk ukuran kisah nyata. Salah satu bagian yang paling lucu menurut saya adalah saat Pidi dan 10 karyawannya pergi ke Lembang untuk mandi air panas. Setelah berkata “Kami dari rombongan Rumah Sakit Jiwa” dan berbohong kepada petugas penjaga tiket dan satpam bahwa masih ada 2 bus lagi menuju ke sana, dia pura-pura menelepon:

“Sudah sampai mana, Pak? … Cileuwi … oh … Ciluni … Apanya…? Busnya? … Digulingkan gimana, sih? … Sama mereka digulingkan gitu? … Ah … Sekarang gimana? … -dst”

Saya ga berani ngebayangin apa yang ada di benak si penjaga tiket dan satpam saat itu. Dan saya lebih ga berani lagi ngebayangin apa yang ada di benak si Pidi. Jail pisan, dan kepikiran pisan ngejailin orang-orang dengan cara itu.

Sejak mendapatkan buku ini dari Sawung, tidak ada yang bisa menghalangi saya untuk terus membaca buku ini sampai selesai, kecuali rasa kantuk tak tertahankan yang dianugerahi oleh Tuhan. Dan saya tertawa terguling-guling sampai sakit perut dibuatnya. Ini benar-benar kumpulan catatan harian yang layak dibaca oleh jiwa-jiwa yang merasa bosan dengan monotonnya kehidupan.

* * *

Oh, Pidi, saya mencintai kehidupanmu yang konyol, sama seperti mencintai The Panasdalam-mu yang lagu-lagunya dianggap tidak enak didengar dan tidak pasaran oleh narator di sampul buku bagian belakang. Saya telah terinspirasi secara sukses bahwa hidup memang hanya main-main 🙂

6

Dikung Lebih Homo di Dunia Nyata

Hoh, ternyata terbukti, memang pengunjung blog ini kurang suka dicekokin sama tulisan-tulisan serius, atau at least tulisan yang ga terlalu serius tapi ditulis secara serius a.k.a. sesuai EYD. Gua jadi males pake gaya bahasa sok EYD, jadi berasa bukan gua. Maka dengan ini gua putuskan untuk kembali ke tabiat lama: nulis ga sesuai EYD.

Tau ga, tadi gua ke UNPAR loh. Ceritanya mau nonton talkshownya si Dikung. Awalnya rada males sih, soalnya gua ga tau sama sekali di mana posisi si Dikung bakal talkshow di UNPARnya. Saking butuhnya kejelasan tentang posisi tersebut (jangan bayangin posisi yang nggak-nggak ah -_-), gua sampe nge-sms Dikung pagi ini untuk nanyain itu. Gua tau nomer HP-nya Dikung loh, soalnya Dikung pernah ngirimin gua imel dan ngasih tau nomer. *ceritanya gua lagi pamer nih, jadi bagi para penggemar Dikung, silahkan iri sambil nangis-nangis darah, hahahahaha (ketawa setan)*

Tapi Dikung ga bales sms gua. Hiks.

Gua dan si pacar nyampe di UNPAR jam 13.10 WIB, sesuai dengan informasi yang ditulis di sini bahwa acara akan dimulai jam 13.00 WIB. Gila, gua tepat waktu banget ya..? Hohohoho.. *tepat waktu dari Hongkong*

Ya sih kita liat posternya, tapi kita ga liat ada kerumunan orang yang lagi talkshow di sekitar poster itu. Mahasiswa-mahasiswa yang lagi seliweran di sana juga ga tahu menahu tentang talkshow ini. Untungnya ada mas-mas penjaga parkir yang ngasih tau kita, itu pun pake kata “mungkin”, hahaha..

Ternyata talkshow ini merupakan bagian dari rangkaian acara “Pameran Pendidikan 2008” atau apalah namanya, gua ga terlalu hafal. Sebelumnya udah ada beberapa penulis lain yang talkshow di acara ini, termasuk Donny Dirgantara (5 cm), Moammar Emka (Jakarta Undercover), dan lain-lain… *gua jadi inget jaman SD kalo lagi ujian PPKn, di mana kata-kata “dan lain-lain” jadi primadona saat menjawab esai”

Ini dia penampakannya: (klik gambar untuk memperbesar)

Gua setuju dengan lu Dik, di dunia nyata lu lebih keliatan kecil dan homo

Para fans lagi serius dengerin Dikung ngebanyol

Ini posternya. Gua belum baca Radikus Makankakus loh…
*dasar fans murtad*

Yang ini agak gantengan dikit

Dikung bersama seorang fans, yang difoto secara jelas

Gua dan Dikungyang difoto secara blur
*dasar pacar kurang ajar!!! -_-*

Btw Dik, ini talkshow atau promosi sih? Kok keknya banyakan narsisnya, hahahaha.. Belajar sana, biar nilai UTS lu rada lumayan -_-

31

Naga bonar Jadi 2: Melihat Indonesia dengan Hati


Gua bukan seorang movie freak. Jadi kalo aja hari Minggu kemaren ga ada praktikum nangkepin kupu-kupu, gua ga bakal sengaja dateng ke kampus dengan tujuan nonton bedah film bertajuk “Nagabonar Nyasar ke ITB”.

Kamu udah nonton film Nagabonar Jadi 2 belum? Hah…. belum? Kesian dehhhh…

Gua juga belum nonton, hahahah… Yah, maklum lah.. gua kan bukan anak gaul yang kerjanya bolak-balik bioskop tiap hari Sabtu, Senin, atau Selasa.

Tapi abis baca novelnya, gua bakal nonton film ini. Mudah-mudahan aja minggu ini filmnya masih diputer di Blitz. Kita nonton bareng yuuuu….

* * *


Di acara yang diselenggarakan oleh LFM (Liga Film Mahasiswa) ITB tersebut, hadir seorang Deddy Mizwar, Akmal Nasery Basral (penulis skrip), serta beberapa orang di-balik-layar film Nagabonar Jadi 2.

Deddy Mizwar


Acaranya tampak ngaret. Soalnya harusnya mulai jam 10 tapi ternyata baru dimulai jam 11… tepat saat gua datang sambil bawa-bawa misnet, hahaha… (itu tuh, alat tangkep serangga yang suka ada di komik-komik Jepang).

Begitu masuk ruangan 9009 alias ruang bioskop, gua disuguhi thriller berdurasi beberapa detik yang ditampilkan di atas screen, dengan kualitas suara yang lumayan… Ehm, lumayan ancur.

Saat bedah film dimulai, yaitu saat MC-tergaring-yang-pernah-ada-di-ITB-versi-gua membuka suara dan memperkenalkan para tamu yang hadir di sana, kualitas sound system masih saja buruk. Buat kita—orang-orang cincay—mungkin hal seperti itu bukan masalah. Tapi bagi mereka—insan perfilman papan atas Indonesia—itu adalah masalah yang sangat mengganggu.

Sampai akhirnya si Mr X—entahlah orang ini produser atau PR, tapi yang jelas dia dipercaya sebagai promotor—memutuskan untuk berbicara tanpa menggunakan bantuan mik. Dan sesekali bercanda gurau menyangsikan kualitas calon enjenir dari kampus terbaik bangsa ini.

*gua kan bukan calon enjenir, jadi gua biasa aja tuh… ga merasa tersindir, heuheu… malah ikutan ngetawain, wakakakak… piss ah..*

Kemudian dilakukanlah pembedahan sesuai dengan yang direncanakan.

Kenapa diputer di bioskop tanggal 29 Maret 2007?
Kenapa anaknya Nagabonar laki-laki?
Kenapa temennya gengnya Bonaga 4 orang (Uli, Mike, dan Darius)?
Kenapa ada tokoh Lukman Sardi sebagai supir bajaj?
Kenapa ada dialog “ril” antara Wulan dengan Tora?
Kenapa artis pengisi soundtracknya Padi dan Slank?

Semuanya dikupas tuntasss… tas.. tas.. tas… Gua ga bakal cerita di sini soalnya panjang benge. Gua cuman pengen kasih tau bahwa film ini telah dipersiapkan dengan sangat matang… sangaaaaaattt matang. Dua jempol deh buat Om Deddy Mizwar.

Pasti kamu ga tau kan kalo film ini ada official merchandise-nya? Tidak seperti film-film Indonesia lainnya, film ini punya beberapa merchandise, salah satunya t-shirt simple warna putih bertuliskan “Apa Kata Dunia?”. Ini adalah salah satu strategi pemasaran mereka.

Untuk menekan biaya promosi, jalur yang mereka ambil cukup unik, yaitu mencari sponsor dan kemudian meminjam bilbord sponsor untuk promosi film. Jadi ga usah mikirin lagi perijinan dan segala macamnya. Hmm.. pintar juga ya… gua sih gak kepikiran ada strategi promosi yang kayak gini.

“Dan yang paling esensial dari film ini,” kata Deddy Mizwar, “adalah kami melihat Indonesia dengan hati”

Uuuhhh… co cwit….

* * *


Abis itu ada sesi tanya jawab yang direncanain bakal selesei jam 12. Masih bersama MC-tergaring-yang-pernah-ada-di-ITB-versi-gua.

Pas lagi sesi tanya jawab, tiba-tiba… jeng jeng jeng…. ada Tora Sudiro aja gitu barengan sama Lukman Sardi masuk ke ruangan (bacanya harus pake gaya anak gaul =p). Sumpah, ganteng banget dah itu orang berdua.

Tora Sudiro

Lukman Sardi

Sayangnya Lukman ma Tora ga banyak ngomong. Malah ga ngomong apa-apa, cuman dadah-dadah doang. Ya iya lah… secara ini bukan Extravaganza… Eh, iyah.. tadi malem dia jadi bencong ya di Extravaganza, haha… gelo..

Gua ma Bona langsung ngetek si Imoth buat motoin kita nanti sama Tora Sudiro…

Ternyata ga ada foto sesion. Tapi dasar wartawan, si Imoth bisa aja curi-curi kesempatan foto bareng. Si Bona langsung blasak-blusuk gitu. Gua juga sih, cuman karena gua rada ga ngeuh.. jadinya gua telat mengejar si Bona.

Dan cekrek!

Hanya ada satu foto. Dan itu adalah foto yang ga ada guanya soalnya gua telat… hiks.. hiks..

Bona dan Imoth yang beruntung. Sial..!

Sayangnya ga ada kesempatan buat curi-curi foto lagi. Huhuhuhu…

* * *


Tapi gua ga segitu desperadonya. Gua bahagia karena di acara ini dijual novel “Nagabonar Jadi 2” dengan diskon 50%. Huahahaha… novel yang harga aslinya Rp 49.500,00 dijual seharga Rp 25.000,00.

*namanya juga calon ibu-ibu… langsung semangat lah kalo ngeliat diskon…*

Secara tas gua disimpen di sel, dan dompet ada di dalam tas. Dan saat itu juga si Bona lagi bokek… Jadinya saat itu kita nodong si Sawung buat minjemin duit. Catet: maksa bo… (kita tea barbar..)

Trus kita minta tandatangannya Akmal…

Ye… dapet tandatangannya Akmal Nasery Basral


Trus dia nanya, “Kamu pernah nulis buku juga?”

“Nggak, gua cuman seorang penulis di blog…” (catet: blognya juga ga penting, hahahaha….)

Abis minta tandatangan Akmal, gua baru nyadar kalo novel yang gua beli (ya ya.. yang pake duit pinjeman) tuh cover depannya gambar Deddy Mizwar, bukan yang Tora Sudiro. Ternyata cover novelnya tuh ada dua versi gitu. Dan si Bona dapet yang Tora. Uuuhh… sebel… si Bona beruntung banget sih hari ini… dan gua sial banget… huhuhu…

Bona, pokonya kamu harus traktir gua makan karena telah merampok nasib baik gua hari ini… Di Pizza Hut juga gapapa kok =p

Novel Nagabonar Jadi2 punya Rima dan Bona


Tapi tapapa.. gua juga ngefens kok sama Deddy Mizwar.

* * *

Dan sampai berita ini diturunkan, novel itu belum gua baca. Secara tugas gua banyak banget… dan sekarang gua lagi intens-intensnya pacaran sama yang namanya TA (tugas akhir.. yyyuu..). Dan… tuh kan gua lupa belum bayar utang ke si Sawung. Wung, kalo baca tulisan ini segera SMS gua ya untuk urusan pembayaran utang, hehehe…

Buat kalian yang belum nonton film ini, nonton gih…
Buat yang belum baca novelnya, baca gih…
Jangan sampe menyesal aja pokonya mah..

PS: buat Yoda, lu kirim email aja ke gua, ntar foto-foto lainnya gua kirim via imel aja ya… (btw cowo mesin jaman sekarang pada ngefens sama Tora Sudiro juga ya? aduh bo capedeh…

12

Buku Keren…


To Kill a Mockingbird

Gua udah baca novel ini sejak lama. Tapi baru cerita-cerita sekarang, soalnya baru sempet (halah… alasan bassssiiiii….!!!!). Di dalemnya gua nemu kalimat-kalimat bagus loh… ini contohnya..

Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya… hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.

Keberanian adalah saat kau tahu kau akan kalah sebelum memulai dan kau merampungkannya, apa pun yang terjadi. Kau jarang menang, tetapi kadang-kadang kau bisa menang.

Pada dasarnya semua orang adalah orang baik. Orang jahat hanya kebetulan mempunyai titik buta, sama seperti kita semua.

Kematian Tom Robinson yang Nigger dan cacat adalah bagaikan pembantaian tanpa arti atas burung Mockingbird oleh pemburu dan anak-anak (burung Mockingbird adalah burung penyanyi yang tidak pernah mengganggu manusia).

Bahwa kehidupan tidak melulu hitam dan putih. Bahwa prasangka seringkali membutakan manusia.

Novel terkuat dan terbijak yang pernah gua baca. Kalian juga kudu baca.. 🙂