14

Demi Melahirkan Normal – My 38 Weeks Pregnancy Story

Di usia kandungan minggu ke-38 ini, saya sedikit was-was. Bukan was-was karena takut akan rasa sakit saat melahirkan, tapi was-was apakah saya bisa melahirkan secara normal atau tidak. Saya juga ga takut dengan rasa sakit pasca cesar yang katanya akan sembuh dalam waktu yang jauh lebih lama. Saya cuma takut ga bisa nutupin biayanyaaaaaa, hadoh. Memang uang bisa dicari dan harusnya ga jadi masalah utama, tapi saya mencoba untuk ga muna, masalah perduitan memang merupakan salah satu yang  saya perhatikan dalam urusan melahirkan. 😦

38 weeks old fetus

Jadi begini ceritanya… *kismis mode on*

Saya adalah orang dengan potensi hipertensi bawaan genetis dari ayah. Selama ini saya tidak pernah punya tekanan darah lebih dari 120/80 mmHg, tapi pas hamil di trimester ketiga ini, duweeeeeew… tekanan darah saya naik jadi 130/90 mmHg. Ditambah dengan simptom kaki bengkak dan kenaikan berat badan secara drastis (berat badan palsu, karena beratnya berasal dari air yang ga keluar lewat pipis), saya pun divonis mengalami gejala pre-eklampsia.

Ini terjadi pada minggu 34 menuju ke minggu 36. Saat itu memang saya lagi heboh-hebohnya beraktivitas ke sana ke mari, kan ceritanya saya sedang merintis bisnis (ntar aja ya cerita bisnisnya — siapa tau ada yang penasaran *ngesok artis dikit gapapa lah :mrgreen: *). Ternyata ibu dengan gejala pre-eklampsia itu tidak boleh kecapean, karena aktivitas berlebihan akan memicu kerja jantung dan bikin tekanan darah tambah tinggi.

Gegara itu, bumil berperut besar ini (kembali) diomelin oleh sang mama yang sebenarnya sudah pensiun dari dunia omel-omelan sejak saya menikah setahun lalu. Jangan kecapean bla bla bla… Kalau pre-eklampsia nanti ga bisa lahiran normal bla bla bla… Tuh kan kakinya bengkak lagi bla bla bla… Dan sejuta bla bla bla lainnya yang kayanya ga banget kalau ditulis semua di sini. -_-

Di sisi Bumi lain bernama Kiara Condong, hiduplah seorang sepupu yang juga sedang hamil dan juga punya gejala pre-eklampsia, namanya Nita. Kayaknya gen dari keluarga ayah saya ini dominan sekali, sampe-sampe semua sodara perempuan saya dari keluarga ayah punya kecenderungan yang sama. Usia kehamilannya hanya lebih muda 2-3 minggu dari saya.

Di minggu ke-36 kehamilan saya, saat berat kandungan mencapai 2800 gram, Nita menelepon saya dan mewek karena bayinya cuma 1600 gram. Kalau menurut tabel ini sih, bayi saya kegedean 100 gram dan bayi Nita kurang 400 gram. Setelah baca-baca sana-sini, kemungkinan besar kurangnya berat badan bayi Nita adalah karena pre-eklampsia, di mana pembuluh darah (termasuk tali plasenta) menjadi mengecil akibat tekanan darah di atas normal sehingga transfer nutrisi menjadi terhambat.

Trus saya pikir, wah berarti makanan kudu dijaga bener-bener nih, saya harus makan banyak, atau minimal ga lebih sedikit dibanding sebelum-sebelumnya. Saya cuma jaga-jaga aja takut bayinya jadi kurang gizi karena saya mengalami pre-eklampsia ringan.

Tibalah minggu ke-37. Saya periksa ke dokter kandungan, dan berat badan janin saya jadi 3300 gram aja gitu. Tet tooooot, kelebihan 400 gram. Dede, how come dalam 1 minggu nambahnya 500 gram? 😦

Setelah dipikir-pikir, mungkin karena saya kebanyakan minum teh manis.Β Sebelum periksa ke dokter terakhir kali itu, saya mengalami insomnia hebat, dan biasanya pas tengah malem jadi laper, dan akhirnya ngemil dan minum teh nasgitel deh (kebetulan di rumah lagi ada teh favorit saya, dan saya udah ga mengkonsumsi asam folat, jadi saya merasa bebas minum teh sebanyak-banyaknya, hahaha…).

Bisa ditebak lah apa cerita selanjutnya, si mama langsung ngomel. Katanya untuk anak pertama, melahirkan secara normal itu susah kalau bayinya kegedean. Dia sih nyaranin (dengan nada maksa khas emak-emak galak) untuk diet. Stop dulu yang manis-manis, kurangi dulu hidrat arang! She literally mentioned it as “hidrat arang” not “karbohidrat” :p

Dan diet pun dimulai kemarin. OMG, it tastes like hell. Saya udah lama sekali ga diet-dietan, jadi sekalinya ga makan nasi dalam jumlah banyak itu rasanya gimanaaaaa gitu 😦 Saya cuma makan bayem rebus, tempe, telur rebus, sate ayam (yang tanpa gajih tentunya), sama nasi sedikit buat sarapan. Dokter juga meminta saya untuk stop minum vitamin dan kalsium.

Saya baru baca-baca lagi forum ibu hamil, ternyata berat badan janin 3300 gram di usia kehamilan 37 minggu ini memang sesuatu banget. Ga heran deh si mama segitu sewot ngomelnya T.T

Rasanya pengen banget olah raga kaya jaman muda dulu. Pengen banget menjaga berat badan tanpa ngurangin asupan makanan. Lari 20 keliling di Sabuga, trus sit-up, push-up, dan nyobain pull-up (yang sampe sekarang ga bisa-bisa :mrgreen: ). Tapi itu semua ga mungkin saya lakukan karena masalah genetis tadi. Kalau kecapean, ntar malah jadi fatal pas melahirkannya (katanya bisa sampe menimbulkan kematian buat si ibu 😦 — aduh jangan sampe deh).

Jadi satu-satunya cara untuk menjaga berat badan si dede bayi adalah berdiet. Saya harus rela berdiet supaya ga bangkrut. Alasan yang naif memang, tapi alamiah.

Jumat atau Sabtu ini saya akan periksa lagi ke dokter. Mudah-mudahan si dede bayi nambah gedenya ga gede-gede amat. Saya juga berharap minggu lalu dokternya lagi error jadi salah ngitung berat badan si dede bayi — doa yang lagi-lagi naif, tapi lagi-lagi alamiah. :mrgreen:

Bumil ini hanya bisa berusaha dan berdoa. Kalau ternyata bayinya kegedean dan harus cesar, apa boleh buat. Seperti kalimat terkenal, “uang bisa dicari.”

— Ibu hamil yang 27 tahun lalu lahir dengan berat badan 4 kg, setelah 41 minggu bersenang-senang di rahim sang mama

21

Santika Bogor Hotel: Green, But So Terrorism Paranoia

Pengen cerita pengalaman unik setahun lalu ah… Mungkin menurut temen-temen ini ga unik-unik amat, tapi bagi saya, disangka sebagai “teroris” di hotel berbintang 4 adalah sesuatu yang mmmm… bisa dikatakan ga wajar.

Saya lupa tepatnya, tapi sekitar bulan Desember tahun lalu, saya dan beberapa rekan kerja saya menginap di Hotel Santika Bogor. Hotel ini pasti ga asing lagi di telinga dan mata anak gaul kota Bogor, karena letaknya di pusat kota, dan bersebelahan dengan Botani Square Mall Bogor. Ga perlu diceritain lah ya ngapa-ngapainnya, intinya kami punya kegiatan di sana selama satu minggu.

Saya dan teman-teman merasa cukup nyaman menginap di sini, terlebih lagi, hotel ini sudah menerapkan beberapa prinsip zero waste. Misalnya tidak menyediakan tisu di meja makan, tapi menggantinya dengan serbet, dan juga tidak mengemas makanan ringan dengan kertas atau plastik, tapi menggantinya dengan piring kaca kecil. Begini nih penampakannya:

Nira sedang makan spaghetti, liat dong di depannya ada serbet, bukan tisu πŸ™‚

Ini dia kue pie tanpa alas kertas.

Continue reading

62

Kue Keranjang dan Lelaki Mata Keranjang

Hari ini, tiba-tiba rekan kerja saya menyodorkan sebuah kue keranjang ke hadapan saya. Ah.. iya, saya hampir lupa bahwa minggu depan adalah hari perayaan Tahun Baru Imlek.

Kue Keranjang

Teman saya yang sering saya panggil “Cici Jessis” ini adalah seorang keturunan Cina yang menganut agama Katolik, tapi tetap merayakan Imlek. Dia bilang, apa yang dia dan keluarganya anut memang sedikit aneh. Setengah Katolik dan setengah Konghuchu, katanya.

Kue keranjang yang Cici Jessis bawa masih sangat enyoi-enyoi, maksudnya masih sangat empuk karena belum terlalu lama dibuat.

Kata si Cici, kue keranjang ini bisa diolah dengan cara digoreng. Dan karena tadi sore saya lagi pengen melakukan hal-hal aneh, saya ajak aja Cici Jessis untuk “memasak” kue keranjang ini di dapur.

Dan bereksperimenlah kami..

Continue reading

56

American English to Sundanese English

Setelah baca tulisan Mas Prim-Prim dan Mbak Han-Han tentang Bahasa Inggris, saya jadi tertarik untuk membahasnya juga.

Pernahkah teman-teman mencoba mengidentifikasi, kira-kira kalau sedang berbicara dalam Bahasa Inggris, teman-teman pake logat apa? Logat Amerika, British, atau mungkin logat lain seperti India?

Saya ga pernah tau tentang logat saya sendiri, karena saya ga pernah menyengajakan diri mau ngomong pake logat apa. Tapi kata beberapa orang, logat Bahasa Inggris saya ini sangat American.

Wendy, seorang peneliti dari AS (rekan kerja saya di Mentawai) seringkali menggunakan kata-kata rumit saat berkomunikasi dengan saya. Sampai-sampai saya seringkali harus menanyakan kembali apa maksud kata-katanya. Saking seringnya, dia sempat mengira saya punya gangguan pendengaran :mrgreen:. Tapi kemudian saya bilang, “Wendy, saya ga budek… saya cuma ga ngerti kamu lagi ngomong apa.”

Helen dan Wendy saat mandi di sungai.

Well, syukurlah kemudian dia sadar bahwa ternyata dia seringkali terbawa suasana kalau lagi ngobrol sama saya. Katanya, dia berasa lagi ngobrol sama orang Amrik. Pret….! Saya bahkan ga tau detilnya logat orang Amrik itu bagaimana. :mrgreen:

Mungkin ini ada hubungannya dengan kebiasaan saya waktu kuliah… saya hobi banget nonton serial Amerika, terutama Heroes dan Gossip Girl, hehehe πŸ™‚ Jadi mungkin logat-logat ini masuk ke alam bawah sadar saya.. *apaan sih?*

Ya ya, saya tau serial ini ga penting. Tapi saya suka tuh :p

Selepas pulang dari Mentawai, saya memilih untuk bekerja di Bandung, bersama manusia-manusia yang saya anggap ajaib. Setelah berkecimpung dengan dunia mereka selama hampir 2 tahun, semua orang bilang logat saya sekarang nyunda abis. Saya ga tau dah, apakah logat ini juga terejawantahkan saat saya ngomong Bahasa Inggris.. :mrgreen:

Saya jadi ingat cerita dari bos saya. Beberapa bulan lalu beliau menghadiri suatu pertemuan tingkat regional Asia di Jakarta. Di sela-sela ceritanya yang cukup heboh, dia bercerita seperti ini:

“Gila, gua satu-satunya orang yang masih pake LAPTOP. Semuanya pake iPad…!”

(ini baru bumbunya, belum cerita yangs sebenarnya)

“Ternyata hampir semua pesertanya adalah orang-orang keturunan Asia yang tumbuh di Amerika. Saya kaget waktu dengar ada orang Cina yang ngomongnya pake logat koboy.”

“Hmmm… logat koboy? Kamu banyak ngomong ga pak di situ?”

“Iya, kaya yang di film-film koboy jaman dulu itu loh… Sebenarnya saya pengen banyak ngomong, tapi saya ga pede, takut yang keluar malah logat Sunda.”

“Saya baru sadar kalau selama ini saya salah gaul, hahahahaha….”

O-em-ji. Jangan-jangan ini juga terjadi pada saya, hahaha…

Bagaimana dengan teman-teman? Apa logat teman-teman saat ngomong Bahasa Inggris? American seperti para koboy, British seperti Harry Potter, atau Sundanese seperti bos saya? :mrgreen:

62

Tetangga Iwan Fals?

Tiba-tiba saja hari ini saya ingat dengan tempat kerja saya dulu, sebuah tempat yang sangat indah di pedalaman Mentawai. Mungkin ingatan ini terpicu karena tadi malam saya melihat iklan tayangan televisi berjudul “Berburu” yang menampakkan babi hutan yang sedang berlari-lari. Kondisinya mirip sekali dengan di Mentawai.

Tapi sebenarnya bukan babinya yang saya ingat… melainkan cerita tentang Iwan Fals-nya.

Ini adalah cerita yang saya dapat dari Wibi, teman kerja saya yang dulu seorang mahasiswa Kehutanan UGM.

Suatu hari seorang guide (kita sebut saja Justin Bieber) bertanya kepada seorang asisten peneliti bernama Ira, “Ira, kampung Ira di mana?”

Lalu Ira menjawab, “Di Jawa.” Mungkin karena Ira tahu bahwa kalau dia menjawab “Jogja,” Justin tidak akan tahu di mana lokasi tersebut. Minimal kalau Ira menjawabnya dengan nama pulau, Justin akan lebih mengenalnya, karena ini ada di pelajaran SD.

Tanpa dinyana, Justin pun membalasnya dengan antusias, “Wah, di Jawa? Rumah kamu dekat dengan Iwan Fals tidak?”

Saya sampai sekarang ga pernah tau apa jawaban selanjutnya dari Ira. Karena setelah Wibi menceritakan tentang pertanyaan berbau Iwan Fals tersebut, saya langsung tertawa terbahak-bahak. Demikian juga setiap kali cerita itu diceritakan, kami pasti akan kembali tertawa terbahak-bahak, dan cerita itu tidak pernah saya dengar dengan komplit.

Ups, sori… Saya tahu, mentertawakan kekurangan orang lain itu tidak baik, tapi ini benar-benar kocak. Saya tidak bermaksud melecehkan, saya hanya kagum dengan kepolosan si Justin. πŸ™‚

Di sela-sela ceritanya, saya ingat Wibi pernah berkata, “Dia berespon seperti itu karena dia menganggap Jawa itu sebesar Policoman.”

Policoman? Ini memang nama yang agak aneh, tapi ini adalah nama sebuah desa kecil di bagian Utara Siberut, Kepulauan Mentawai. Ada juga yang menyebutnya Polipsoman atau Politcoman. Malah di buku keluaran tahun 80-an, saya menemukan nama Pulipsuman. Ini adalah desa tempat tinggal para guide dan juru masak yang membantu para peneliti primata di Hutan Pungut.

Saya ga punya banyak kenangan dengan Policoman, karena saya hanya pernah menginap di sana beberapa hari, yaitu saat sebelum masuk hutan, saat lebaran, dan saat mau pulang ke Padang. Foto tentang Policoman pun tidak banyak, karena saat itu saya ga punya kamera. Ini adalah foto terakhir saya di Policoman sebelum bertolak ke Padang, yang dijepret menggunakan kamera milik Deden yang lensanya jamuran. πŸ™‚

Bergaya ala preman bersama Deden dan Vera di depan "Betaet," Desa Policoman, Siberut Utara

Dulu, waktu saya kerja di tengan hutan belantara, saya merengek-rengek ingin keluar dari sana. Bukan karena di sana banyak King Cobra, tapi karena saya stres ditekan oleh bos saya yang orang Amerika itu. Walaupun banyak kenangan buruk, tapi di sana juga ada banyak kenangan manis, salah satunya berinteraksi dengan para guide yang polos ini. πŸ™‚ Saya pengen banget bisa ke Policoman lagi untuk bertemu dengan mereka.

Sayangnya saya bukan orang kaya… Kalau saya punya uang banyak, saya akan mengajak Iwan Fals untuk manggung di Policoman, sekalian juga untuk memberi sedikit pengetahuan tentang geografi. πŸ˜‰

6

The Fungus

Hari ini saya agak bingung… apa saya harus bersyukur atau malah jadi tambah parno. Hari ini dokter ngecek lagi mata saya. Ternyata saya ga katarak, tapi mengalami kerusakan kornea karena jamur. Si dokternya juga kayanya agak bingung tentang kondisi mata kiri saya ini.

Keratomikosis lebay by Rime

Kerusakan kornea akibat jamur disebut keratomikosis. Pada beberapa kasus, hal ini terjadi akibat penggunaan obat tetes mata yang mengandung steroid. Kemungkinan besar inilah yang terjadi pada mata saya… Karena gangguan penglihatan pada mata kiri saya terjadi sehari setelah saya pakai obat tetes mata.

Setelah googling, saya dapat info bahwa kalau infeksi jamurnya belum dalem, mata saya masih bisa disembuhkan dengan obat dan vitamin. Tapi kalau udah dalem, berarti harus transplantasi kornea, yang mana itu akan susah banget karena jumlah donor kornea jauh lebih sedikit dibanding jumlah orang yang membutuhkan.

Mudah-mudahan infeksinya belum sampe dalem deh… Doakan saya ya teman-teman πŸ™‚

PS: Gambar di atas adalah campuradukan dari gambar ini dan ini (maaf saya ngopi tanpa ijin :p)

16

Katarak

Saya ga bisa tidur…. banyak sekali pikiran yang melintas di benak saya. Salah satunya tentang mata kiri saya.

I think I have a cataract in my left eye. Ini belum tentu bener sih, masih harus tunggu diagnosa dokter dulu. Tapi dari hasil penelurusan di internet sih, sepertinya ini murni katarak.

Ga usah kaget, hehehe… Kayanya ini adalah pelajaran buat saya karena saya dulu bandel pake soft lens. Seharusnya saya menghindari segala macam tindakan yang memungkinkan masuknya bakteri ke tubuh saya, apalagi saya bergolongan darah B (golongan darah yang kata orang-orang “nyebelin” hehehe…). Saya pernah baca, bahwa dibandingkan dengan semua golongan darah, orang dengan golongan darah B lebih rentan terhadap serangan bakteri.

Pasca lepas dari soft lens, mata saya sering kena inflamasi. Dokter ngasih saya obat tetes yang mengandung steroid. Keesokan harinya pandangan mata saya jadi buram seburam-buramnya, dan sensitif terhadap cahaya sesensitif-sensitifnya yang pernah saya alami.

Kayanya sih penyebabnya itu .Yang sekarang jadi pikiran adalah………….. kira-kira kalau mau operasi katarak itu ngabisin duit berapa ya? Baca-baca di blog orang sih katanya biayanya berkisar antara 8-15 juta gitu. Ada yang tau pastinya ga?

*minimal saya jadi sedikit lega setelah posting tulisan ini*