8

PING!!! Woof woof… Yes, Master! Here I Come!

Ya, saya tahu, kepopuleran Android dan iOS telah membuat BB kini terpinggirkan. Tapi tidak bisa dipungkiri, masih banyak masyarakat yang setia dengan BB-nya, mungkiadn karena benar-benar setia, atau terpaksa menggunakannya karena tidak memiliki sumber daya untuk memperoleh gadget baru non-BB.

Saya salah satunya, tapi bukan karena saya setia, melainkan saya sangat bergantung pada aplikasi BBM (Blackberry Messenger)-nya yang saya manfaatkan untuk mengelola online shop. (Update: tapi saya sekarang beralih ke iPhone yang sudah dilengkapi dengan BBM, tapi saya masih menggunakan BB lama sebagai penunjang).

Bagi yang pernah jadi pelanggan BBM, pasti ngerti banget dengan yang namanya PING. Buat yang ga tau, PING digambarkan oleh blackberry.com sebagai berikut:

“When you ping a contact, the contact’s BlackBerry smartphone vibrates.”

BIsa diartikan: jika kita sedang sangat butuh kontak kita membaca pesan kita, tapi mereka tidak kunjung membacanya karena mungkin BB mereka berada pada status silent (tanpa getar), BB mereka akan bergetar seolah-olah mereka berada pada status “vibrate” bukan “silent.”

Just as simple as that.

Tapi sepertinya fitur ini disalahartikan dan disalahfungsikan oleh kebanyakan penggunanya sebagai fitur ajaib untuk “memanggil” orang yang sedang chatting dengan mereka, atau membuat orang cepat membalas chat mereka. Bagi sebagian orang, bahkan sudah tidak ada lagi istilah “urgent,” mereka menggunakannya setiap saat.

Ini contoh penggunaan saat urgent:

Sis, saya mau pesan barang X, tolong segera dibuatkan invoicenya, karena saya sebentar lagi akan ke luar kota, jadi saya hanya bisa transfer maksimal 1 jam dari sekarang.

PING!!!

Ini contoh saat penggunaan tidak urgent:

Sis, mau nanya dong tentang barang A. Barangnya ready ga? Harganya berapa ya?

PING!!!

Yang di atas ini masih oke lah. Tapi ada juga yang begini nih:

Sis, barang A ready ga?

PING!!!

Ready sis. Mau berapa?

Satu aja.

PING!!!

Oke sis. Lokasi di mana ya?

Di Jakarta

PING!!!

–> dan ujungnya cuma nanya-nanya doang, ga beli. Nilai PING-nya jadi semakin ga penting -_-

Terus terang, saya sebel banget kalo nemu customer yang kayak gini. Tapi yang paling bikin saya sebel adalah jika ada customer yang memulai percakapan dengan PING (tidak menuliskan apa-apa, hanya nge-PING!!!).

PING!!!

Ya. Ada yang bisa dibantu?

Kok kesannya saya ini anjing yang dipanggil pake bel ya? Padahal apa susahnya sih manggil nama atau nulis “selamat pagi,” “siang,” atau “sore” gitu? Kayaknya effortnya ga akan beda jauh dibanding nge-PING. Terus, kesannya kalo ga pake PING tuh saya ga akan bales BBM-nya mereka gitu.

Terkadang, kalo saya lagi sebel banget (misal: lagi PMS, hehehe), saya menulis status seperti ini di BBM:

PING seperlunya saja ya, pasti saya balas BBM-nya

Biasanya kalo saya udah pasang status seperti ini, oknum-oknum itu langsung berhenti PANG-PING-PONG. Tapi besoknya mulai PANG-PING-PONG lagi….. Emang udah habit kali -_-

Uniknya, fenomena PANG-PING-PONG berhubungan dengan tingkat pendidikan dan kematangan seseorang. (Sori ya, saya ga bermaksud menciptakan diskriminasi, saya cuma mencoba mendeskripsikan suatu fenomena yang saya amati aja.) Biasanya customer saya yang berprofesi sebagai dokter, dosen, atau pengusaha gitu ga pernah nge-PING kalo ga urgent. Pernah sih sekali-kali, biasanya karena ga sengaja dan mereka langsung minta maaf dan bilang kalo itu ga sengaja. Terus biasanya yang suka PANG-PING-PONG ini lebih cenderung pake bahasa alay yang kadang saya ga ngerti. Dan juga cara bertutur katanya cenderung kurang sopan. Ya memang kesopanan itu relatif ya, tapi saya bisa bilang mereka “cenderung kurang sopan” dibandingkan customer lain.

Yah, memang namanya orang beda-beda…. Ada yang menganggap kesopanan dalam bertutur kata itu penting, ada juga yang tidak. Ada yang menganggap tukang jualan online shop itu sejajar dengan mereka, ada juga yang menganggap sejajar dengan jongos, jadi “lebih cocok” diperlakukan secara tidak sopan. Saya sih ga peduli, itu urusan masing-masing orang… Cuma hati kecil saya sedikit terganggu manakala saya di-PING tidak pada tempatnya.

Perkembangan dunia teknologi informasi dan komunikasi saat ini memang memberi manfaat tersendiri bagi masyarakat kita yang notabene belum banyak terjun atau baru berkenalan dengan dunia ini. Sayangnya etika berkomunikasi masyarakat kita tidak berkoevolusi dengan meningkatnya daya beli mereka dan menurunnya harga gadget. Sepertinya etika itu memang tidak akan berkoevolusi, karena berhubungan erat dengan karakter seseorang, dan semua setuju lah ya kalo karakter masyarakat negeri ini bobrok tingkat tinggi. Jadi sepertinya karakter-karakter alay itu akan terus melekat pada diri mereka.

Jadi yang bisa saya lakukan jika menemui customer semacam itu adalah bersabar saja. Itu sudah resiko -_-

*Jarang update blog, sekalinya ngupdate malah nulis yang beginian, hahaha*

Advertisements
10

Aljabar

Beberapa hari lalu saya menemukan sebuah note di Facebook:

Hey, try to solve this problem!

Edison: “Give me one dollar, then i’ll have twice as much money as you, Nikola!

Tesla: “No Tom, you give me one dollar! Then we will have both the same amount of money.”

How many dollars has got each?

—-

Apakah teman-teman bisa langsung menebaknya? Karena formulasinya masih sederhana, jawaban dari pertanyaan ini sangat mungkin untuk ditebak dengan mudah tanpa perlu membuat persamaannya.

Tapi karena saya lagi kurang kerjaan, saya coba selesaikan soal ini secara jantan. *eh*

Kesimpulannya, Edison punya 7 dollar, sedangkan Tesla punya 5 dollar.

Saya jadi ingat masa-masa SD dulu, ketika belajar adalah sesuatu yang menyenangkan dan akan saya lakukan tanpa disuruh orang tua. Dulu saya suka sekali matematika, dan aljabar adalah salah satu bab pelajaran favorit saya pada mata pelajaran ini selain trigonometri dan logika. Sayangnya perkuliahan di kampus gajah duduk membuat saya kini benci matematika. Apalagi setelah kenalan sama si integral lipat tiga.. (dafuq did I just study?  T.T)

Terus? Ya udah, gitu aja. Cuma pengen cerita kalau saya dulu suka sekali matematika.

Maaf ga penting. :mrgreen:

16

Banci Lomba

Sebelumnya, saya jelaskan dulu ya. Saya menulis kata “banci” hanya sekedar pinjam istilah saja, bukan bermaksud mendiskreditkan para banci. Saya sendiri dalam kehidupan nyata adalah seorang penyayang banci, sama seperti sayang kepada semua orang. 😀

Dalam beberapa hari ke depan, blog ini mungkin akan diisi oleh posting untuk kepentingan lomba. Ya, kali ini saya sedang banci lomba. Selain karena saat ini banyak sekali lomba-lomba blog bertebaran di dunia maya (yang mana hadiahnya menggiurkan :mrgreen:), saya juga cenderung tidak punya topik menarik untuk dibahas di blog jablay ini. Entah bagaimana, topik-topik lomba yang saya temukan tersebut selalu saja berhasil memancing ide-ide segar di benak saya dan menginspirasi saya untuk menulis dan meramaikan kembali blog ini. Mungkin saya ini tipikal blogger yang harus diiming-imingi ya… :mrgreen:

Banyak pandangan nyinyir tentang blog yang hanya penuh dengan posting lomba. Tapi saya tidak ambil pusing. Silakan lanjutkan ribut-ributnya, saya akan tetap berlalu untuk ikutan lomba, hahaha…

6

Why, why, why?

Why?

Why people only see what they want to see?

Why when I said “A,” some people heard it as “f*cking A”?

Why when I said “the sky is blue,” some people heard it as “OMG, I f*cking love the sky!”?

Why when I said “I think…..,” some people heard it as “You must be wrong…!”?

Why? Don’t people really know about the differences between fact, opinion, and judge? It is so simple, actually.

Can anyone give me the answer except “people only see what they want to see”?

14

Penasaran Berlebihan Berbuah Tongpes

Karena terlalu sering melihat dan mendengar cerita orang tentang ‘rainbow cake’, saya jadi ikut-ikutan penasaran ingin mencicipinya. Maka ketika teman-teman saya mengajak nongkrong di Bawean Bakery, dan di sana saya melihat masterpiece itu melalui kaca etalase, saya langsung semangat bilang “Yang itu, mbak… yang ituuuuu…

Sebelum menyajikannya di piring, si mbak-nya bilang “Harganya tiga puluh lima ribu.” Ga penting juga sih sebenernya dia ngomong gitu, karena di etalase pun ada tag yang menuliskan harga yang sama. Mungkin ini hanya semacam konfirmasi, “Ini mahal loh, kamu yakin mau beli yang ini?” Mungkin dia pernah punya pengalaman ketemu alay yang sok-sokan mau beli kue ini tapi ga sanggup bayarnya. Berarti mungkin juga kelakuan norak saya membuat dia menyimpulkan kalau saya ini alay.

Tersajilah rainbow cake idaman di piring kecil tepat di depan saya duduk. Saat saya endus, wek baunya amis. Ternyata rainbow cake ini adalah cheese cake yang cake-nya dibuat berwarna-warni. Sebelumnya saya mengira kalau krim pelapisnya itu krim gula biasa, eh ga taunya krim keju. Yah, pantes aja mahal.

Blue Royal Velvet dan Rainbow Cake ala Bawean Bakery Bandung

Gigitan pertama, mmmm… yummy… Gigitan ke-empat, weeeeek… eneg -_-

Karena saya penggemar cheese cake, saya sempat yakin kalau saya akan menghabiskan kue ini sejak gigitan pertama. Tapi ternyata kue ini sangat membuat saya eneg… entah karena kue ini memang mengenegkan, atau karena saya sedang hamil sehingga saya jadi mudah eneg. Pada dasarnya cheese cake emang ga cocok buat dimakan banyak-banyak sih, makanya biasanya dijual dalam porsi sangat kecil, ga segede-gede gaban kaya gini.

Enam orang teman saya sudah mencoba setidaknya satu suap kue ini, tapi kue ini tidak kunjung habis. Saya tawarkan lagi kepada mereka, tapi mereka sudah terlalu kenyang, karena kami memang baru pulang dari pesta pernikahan seorang teman (hahahaha..). Akhirnya dengan semangat “tidak mau menyia-nyiakan makanan” saya habiskan kue ini dengan terpaksa. Dan yang namanya terpaksa itu di mana-mana rasanya ga enak, sodara-sodara.

Ada sedikit perasaan menyesal karena membeli kue mahal ini. Tapi paling tidak rasa penasaran saya hilang sudah. Mungkin suatu saat saya akan kembali membeli fenomenal cake ini lagi di sini bersama suami atau teman-teman lain… tapi satu porsi dibagi empat! >,<

(Postingan ini terinspirasi dari postingan Ais tentang rainbow cup). 

21

Santika Bogor Hotel: Green, But So Terrorism Paranoia

Pengen cerita pengalaman unik setahun lalu ah… Mungkin menurut temen-temen ini ga unik-unik amat, tapi bagi saya, disangka sebagai “teroris” di hotel berbintang 4 adalah sesuatu yang mmmm… bisa dikatakan ga wajar.

Saya lupa tepatnya, tapi sekitar bulan Desember tahun lalu, saya dan beberapa rekan kerja saya menginap di Hotel Santika Bogor. Hotel ini pasti ga asing lagi di telinga dan mata anak gaul kota Bogor, karena letaknya di pusat kota, dan bersebelahan dengan Botani Square Mall Bogor. Ga perlu diceritain lah ya ngapa-ngapainnya, intinya kami punya kegiatan di sana selama satu minggu.

Saya dan teman-teman merasa cukup nyaman menginap di sini, terlebih lagi, hotel ini sudah menerapkan beberapa prinsip zero waste. Misalnya tidak menyediakan tisu di meja makan, tapi menggantinya dengan serbet, dan juga tidak mengemas makanan ringan dengan kertas atau plastik, tapi menggantinya dengan piring kaca kecil. Begini nih penampakannya:

Nira sedang makan spaghetti, liat dong di depannya ada serbet, bukan tisu 🙂

Ini dia kue pie tanpa alas kertas.

Continue reading