10

Aljabar

Beberapa hari lalu saya menemukan sebuah note di Facebook:

Hey, try to solve this problem!

Edison: “Give me one dollar, then i’ll have twice as much money as you, Nikola!

Tesla: “No Tom, you give me one dollar! Then we will have both the same amount of money.”

How many dollars has got each?

—-

Apakah teman-teman bisa langsung menebaknya? Karena formulasinya masih sederhana, jawaban dari pertanyaan ini sangat mungkin untuk ditebak dengan mudah tanpa perlu membuat persamaannya.

Tapi karena saya lagi kurang kerjaan, saya coba selesaikan soal ini secara jantan. *eh*

Kesimpulannya, Edison punya 7 dollar, sedangkan Tesla punya 5 dollar.

Saya jadi ingat masa-masa SD dulu, ketika belajar adalah sesuatu yang menyenangkan dan akan saya lakukan tanpa disuruh orang tua. Dulu saya suka sekali matematika, dan aljabar adalah salah satu bab pelajaran favorit saya pada mata pelajaran ini selain trigonometri dan logika. Sayangnya perkuliahan di kampus gajah duduk membuat saya kini benci matematika. Apalagi setelah kenalan sama si integral lipat tiga.. (dafuq did I just study?  T.T)

Terus? Ya udah, gitu aja. Cuma pengen cerita kalau saya dulu suka sekali matematika.

Maaf ga penting. :mrgreen:

10

“Sadewa”

Ada yang tau papertoy? Sederhananya papertoy adalah boneka yang terbuat dari kertas, yang bisa kita buat sendiri, cukup dengan modal mem-print, menggunting, melipat, dan menempel. 😀

Suatu hari saya menemukan blog ini, terus jadi kabita pengen bikin papertoy Pandawa 5. Akhirnya saya download deh gambar-gambarnya untuk kemudian di-print. Asalnya saya mau print di kertas manila, tapi ternyata di tempat nge-print-nya ga ada kertas manila, jadinya pake kertas inkjet deh. Ternyata hasilnya lebih bagus, wow woooow… ^,^

(Sekilas info aja: biaya print di kertas inkjet per lembarnya Rp 3.000 perak.)

Alat dan bahan yang dibutuhkan untuk membuat papertoy

Alat dan bahan yang dibutuhkan sederhana saja. Cukup alat potong dan bahan perekat. Buat yang perfeksionis dan gila kerapihan, mungkin akan lebih suka pakai cutter dan penggaris. Tapi buat pemalas kelas kakap, bisa pake gunting aja. Saya pake keduanya. Untuk garis potong yang akan terlihat dari luar, saya pakai cutter. Tapi untuk potongan yang ga bakal keliatan, saya pake gunting. :mrgreen:

Terus untuk perekatnya bisa pake lem atau pakai double tape. Buat kamu-kamu yang jorok, mendingan pake double tape aja deh, soalnya lem yang belepotan bakal mengurangi keindahan papertoy-nya.

Cetakan yang telah dipotong

Ini dia Sadewa yang sudah jadi

Ini ceritanya percobaan pertama. Masih banyak sisi ga rapihnya: idungnya kurang nempel, lipetannya banyak yang ga rapih, garis putus-putus masih keliatan (keknya bisa dibikin ga keliatan deh).

Bagi yang bertanya-tanya “kenapa yang dibuat pertama kali Sadewa?” jawabannya adalah karena Nakula dan Sadewa adalah tokoh Pandawa 5 yang least favorite bagi saya. Jadi kalau ada yang salah-salah, saya ga bete. Kenapa ga Nakula aja? Yah karena hidup memang tidak adil.

Gapapa ya, Sadewa… walaupun kamu produk gagal, you will always be in my heart. :mrgreen:

62

Kue Keranjang dan Lelaki Mata Keranjang

Hari ini, tiba-tiba rekan kerja saya menyodorkan sebuah kue keranjang ke hadapan saya. Ah.. iya, saya hampir lupa bahwa minggu depan adalah hari perayaan Tahun Baru Imlek.

Kue Keranjang

Teman saya yang sering saya panggil “Cici Jessis” ini adalah seorang keturunan Cina yang menganut agama Katolik, tapi tetap merayakan Imlek. Dia bilang, apa yang dia dan keluarganya anut memang sedikit aneh. Setengah Katolik dan setengah Konghuchu, katanya.

Kue keranjang yang Cici Jessis bawa masih sangat enyoi-enyoi, maksudnya masih sangat empuk karena belum terlalu lama dibuat.

Kata si Cici, kue keranjang ini bisa diolah dengan cara digoreng. Dan karena tadi sore saya lagi pengen melakukan hal-hal aneh, saya ajak aja Cici Jessis untuk “memasak” kue keranjang ini di dapur.

Dan bereksperimenlah kami..

Continue reading

31

Bayangkan Engkau Duduk di Sana

“Sayang, lihatlah burung-burung yang sedang bermain di sana… Mereka romantis sekali ya..”
“Matahari sore ini begitu menghangatkan. Aroma sangat senada dengan rumput menguning..”
“………………………………………………….”
Kalo kamu duduk di sana, di gambar ketiga, kira-kira apa yang akan tertulis pada balonnya? Punya ide, ayo tuliskan ide gilamu. Sepuluh pengide terbaik akan mendapat hadiah menarik dari Rime. (pede amat sih, cem yang ngomennya bakal lebih dari sepuluh aja :p)
PS: Foto ini saya ambil 100 meter dari kantor saya. Itu ceritanya TPS (Tempat Pembuangan Sampah Sementara)
24

Sundanisasi…. Barade… Barade…

*saya memposting tulisan ini dengan maksud berbagi, tanpa ada tendensi melecehkan budaya manapun*

Memang tidak bisa dibantah, bahwa saya adalah makhluk yang mudah sekali berubah logat. Saya jadi teringat masa-masa Batakisasi dulu saat masih kuliah di kampus gajah duduk. Betapa saya dengan mudahnya berganti logat dari Indonesia ke Batak, dan merasa bangga menggunakan logat itu.

Beberapa tahun kemudian, saya kembali mengalami fenomena tersebut, hanya saja judulnya bukan lagi Batakisasi, tapi Sundanisasi. Mungkin ini adalah efek yang tak terhindarkan dari pengalaman bergelut dengan orang-orang lokal Bandung selama 1 tahun, dengan label “pekerjaan”.

Oiya, saya adalah seorang Jawa yang sejak lahir hingga sekarang tinggal di Bandung. Sayangnya saya tidak pernah belajar Bahasa Sunda sejak kecil (kecuali di pelajaran SD dan SMP, itu pun dengan nilai melulu 6 di rapot ), jadi ya wajar saja kalau saya ga bisa berbahasa Sunda.

Bagi saya, rekan-rekan kerja di sini adalah orang-orang yang ajaib. Ajaib, karena mereka bisa menghipnotis saya untuk menjadi seorang pelogat Sunda. Bagaimana mereka melakukannya? Sederhana saja, mereka cukup mengatakan istilah-istilah ajaib ini saat berbincang dengan saya:

Ngagayem = ngenyom = ngemil mulu ga berenti-berenti
Ngeyembeng = menggenang
Cingogo = jongkok
Orowodol = berantakan
Tiseureuleu = tisoledad = kepeleset
Mereketengteng = merecet = sifat pakaian yang ketat saat dipakai seseorang
Merekedeweng = keras kepala
Polo = otak
Matakan, mikir teh make polo = makanya, mikir tuh pake otak

Terkadang mereka juga pake gaya bahasa ajaib:
Ember –> emer
Bandung –> Banung
Bensin –> bengsin

Dan yang paling fenomenal adalah P-isasi F dan F-isasi P:
Finalisasi –> pinalisasi
Opera van Java –> Overa pan Japa
Freeport –> Preefort
Fitnah –> pitnah (penomenal banget nih.. sampe ada logonya)

Awalnya saya hanya ngalelewe (ngebecandain) mereka, dengan bilang “Pitnah… pitnah…”. Eh lama-lama malah ketularan. Kualat sih…

Sebenernya masih banyak lagi istilah dan gaya Bahasa Sunda lain yang belum ditulis di sini.. Tapi saya lupa euy. Nanti lah kalo udah inget, saya akan mengapdet postingan ini. Bagi saya, Bahasa Sunda itu unik, dan sangat worth a try untuk dipelajari.. Jadi ga ada salahnya kalo temen-temen juga melakukan hal yang sama dengan saya, hehehe…

Hayu atuh urang nyarios Sunda. Barade… Barade…?