9

Drawing Day #7 “My Inspiration”

Apa itu inspirasi? Jujur, walaupun saya sering pake kata ini dalam kehidupan sehari-hari, saya ga tau apa arti “inspirasi” yang sebenarnya. Menurut KAAR sih (KAAR = Kamus Abal-Abal Rima), inspirasi adalah sesuatu yang membuat seseorang terdorong untuk menentukan dan mengejar visi hidupnya. Sehingga seseorang yang menginspirasi orang lain disebut “inspirator.”

Tapi sepertinya ketimbang “inspirator,” orang-orang lebih suka menyebut orang yang menginspirasi dengan “inspirasi.” Mungkin karena inspirator terlalu terkesan seperti nama alat, hahaha… Atau mungkin juga telinga orang-orang banyak terpengaruh lagu Chicago tahun ’80-an yang judulnya You’re the Inspiration. Sebentar ya, saya nyanyi dulu….

♪ ♫You’re the meaning in my life
You’re the inspiration
You bring feeling to my life
You’re the inspiration ♪ ♫

Beliaulah Dr. Achmad Sjarmidi, yang menginspirasi saya untuk menjadi dosen. Bukan dosen sembarang dosen, tetapi dosen gaul tentunya, ahaha… Satu hal yang paling saya tidak suka dari dosen adalah sikap judgmental mereka terhadap mahasiswa. Hebatnya, Pa Mamid (sapaan akrabnya) tidak begitu. Beliau melihat kualitas seseorang bukan dari nilai akademisnya, tapi dari cara mereka memperoleh nilai tersebut. Sehingga tak heran pada semua mata kuliah yang beliau ajarkan, pendekatan yang dilakukan adalah mengajak mahasiswa berpikir (secara harfiah), bukan “berpikir” yang hanya mendengarkan tetapi konsentrasi belanja ke mana-mana. Sementara mahasiswa lain merasa bete karena “kenyamanan” mereka terganggu, saya justru bersemangat! It’s so fun….! 😀

Lebih kerennya lagi adalah, saya bisa tidak sengaja bertemu beliau pada event-event pergerakan sosial di Bandung. Di saat orang-orang seumuran beliau merasa hal-hal seperti itu sudah bukan urusan mereka lagi karena sudah bukan jamannya, Pa Mamid hadir untuk menginspirasi anak-anak muda.

Satu hal lain yang membuat saya heran adalah, dengan segala kesibukannya ke sana ke mari, beliau masih tetap update dengan dunia musik mancanegara. Pernah di satu kesempatan saat kami survey tempat kuliah lapangan bersama, beliau memperdengarkan musik dengan lagu berbahasa Perancis kepada saya, dia bilang “Ini lagu seksi.” Dan pada perjalanan kembali ke Bandung, saat kami mendengar lagu Britney Spears di radio, beliau berkomentar, “Hebat ya si Britney, bisa bangkit lagi dari keterpurukan.”

Eh…. Sampe tau berita tentang Britney, pak? Wah, bener-bener gaul 😀

*Padahal saya yang anak muda aja saat itu ga tau kalau itu lagu Britney, dan saya juga ga tau kalau Britney sudah bangkit dari keterpurukannya -_-*

Itulah Pa Mamid, dosen yang gaul dan asik. Someday, I want to be just like him: cerdas, gaul, hangat, inspiratif 🙂

P.S.: Gambar ini adalah hasil percobaan kali ke-tiga saya belajar menggunakan cat air, dan saya menemui kesulitan dalam mewarna kulit manusia, hahaha… Liat aja tuh hasilnya berantakan. Harusnya sih ga selegam itu kulitnya si bapak, tapi karena warnanya ga rata terus, saya poles-poles lagi.. akhirnya jadi legam banget plus tetep ga rata juga -_- *yah, namanya juga belajar :p*

P.S.S.: Beliau adalah orang yang sama dengan yang saya ceritakan di sini.

15

If we just try try try… Just to be ni-ni-nice…

Ada yang tau Peter Senge? Kalau tadi malam kita nonton Face2Face-nya Desi Anwar, ya itulah Peter Senge.

Jam 7-8 tepat tadi malam adalah waktu yang sangat berharga bagi saya, karena berkesempatan “mengobrol” dengan beliau tentang world sustainability. Ada banyak poin penting yang sangat inspiratif (sayangnya saya tidak mencatatnya), salah satunya adalah tentang pendidikan:

Ilmu yang paling penting adalah memahami diri sendiri, dan memahami bahwa kita perlu menjaga hubungan yang baik dengan orang lain. Ini jauh lebih penting dari belajar matematika dan sains. 

Saya jadi ingat kampus saya dulu… *ceileh, berasa udah tua, padahal baru lulus 2 tahun* Namanya Kampus Gajah Duduk, yang duduknya di Jalan Ganeca, Bandung. Kampus ini (katanya) diisi oleh orang-orang pintar, tapi sebagian besar (faktanya) orang-orang ini ga tau gimana cara berhubungan baik dengan orang lain.

Kayanya memang kita harus pilih salah satu, mau otak rasional yang dominan, atau otak emosional yang dominan. Tapi kita bisa berusaha menyeimbangkannya. Buat yang EQ-nya lebih dominan, IQ bisa diperkuat dengan latihan dan baca buku. Sedangkan buat yang IQ-nya lebih dominan, EQ bisa diperkuat dengan belajar menjaga hubungan baik dengan orang lain.

Sebenarnya menjaga hubungan baik dengan orang lain itu tidak sesulit yang kita bayangkan. Kita hanya perlu menjadi “nice.” Bagi setiap orang, tantangan untuk menjadi nice mungkin berbeda. Kita biasanya sulit menjadi nice person karena kurang mampu mengendalikan emosi. Dan biasanya kalau udah emosi, kita gengsi untuk ngaku salah, atau gengsi untuk baikan, atau gengsi untuk mengakui bahwa kita menyesal karena terlalu cepat emosi.

Ini adalah satu hal kecil yang berdampak sangat besar. Saya pernah baca di suatu situs: jika kita sadar darah kita naik, yang perlu kita lakukan adalah: stop, ambil nafas panjang, lalu pergilah tidur…. karena mungkin kita kurang tidur 🙂

Ngomong-ngomong tentang nice attitude, ada lagu bagus nih… Ini adalah karya Jason Mraz yang ditulis untuk Michael Squire. Kalau teman-teman pernah dengan lagu ini versi suara Jason Mraz, itu adalah sampel lagu yang bocor. Saya lebih dulu denger yang versi Mraz, jadinya versi Michael Squire agak kebanting deh, hehehe…. Tapi tetep asik kok… apalagi yang nyanyinya ganteng banget, hihiy….

If we just try try try… just to be ni-ni-nice…
Then the world would be a better place for you and I

http://www.youtube.com/v/zqbNluBxsGY?fs=1&hl=en_US&color1=0x3a3a3a&color2=0x999999

8

Sedikit Update

Hai, halo, apa kabar?

Tiba-tiba aja hari ini pengen ngeblog, tapi saya bingung mau nulis apa. Mungkin saya udah lupa caranya ngeblog. Ajarin ngeblog doooong…!

Pasang foto-foto aja deh ya..

Hari ini saya main sama anak-anak Mutiara Bunda Playschool. Tema hari ini adalah “Happy Earth,” dan saya mendapat kehormatan untuk bermain bersama anak-anak yang lucu, yaaaay…! 😀

Kami semua membuat palet warna. Liat deh palet-palet buatan kami, bagus kan? 😀

Adil, my favorite kid 😀

Si cantik Enden

Terima kasih Miss Indri 🙂

 
Tuh, bagus kan?

Waktu ngajar :p

 With Sunshine Class 🙂
 Hehe, saya lupa namanya :p

 Rafi, si ganteng

Rafa yang kritis dan rajin gosok gigi 🙂 


 Adil lagi…. Senyumnya manis banget 😀

 Thoriq


Abi dan Rafa yang fotogenik 


Enden suka sekali mie goreng… “Abi juga,” kata Abi. Boleh, tapi jangan banyak-banyak ya… 🙂


Rainbow Class makan bersama 


Bukan pengalaman di TK saja yang menarik hari ini. Ternyata di kampus gajah-duduk-sok-sibuk, sebagian properti Pasar Seni ITB 2010 sudah mulai disiapkan di H-2 ini. Ini dia beberapa yang menarik….

  


 Di balik jam ganesha (yang selalu lebih lambat 5 menit dari jam para dosen)
Pohon Dadap Merah yang dibondage.
Panggung Plaza Widya… Kayanya bakal jadi panggung utama deh.
Air-airan di kolam Not Balok Indonesia Raya.
Abis gitu…. entah kenapa hari ini ujug-ujug saya pengen beli buku. Jadi mampir lah sore ini saya ke BBC (Bandung Book Center) dan Roemah Buku. Banyaaaak banget buku yang pengen dibeli, tapi berhubung saya ga punya uang, dan lagi ga banyak diskon gede-gedean, saya beli satu aja dulu. Judulnya “Libri di Luca.” Kayanya sih seru, tapi belum sempat dibaca, ehehehe xD
Yang merah itu selimut saya, yang biru itu tas saya, dan yang belang-belang itu boneka Harimau saya, hadiah dari si pacar 😀
Asa garing… Tapi setidaknya saya mencoba menulis kembali, hehehe… 🙂

25

Akhirnya :)

Ternyata udah lama banget ga posting di mari… hampir sebulan 😀

Belakangan ini emang lagi sok sibuk ngurusin kelulusan.

Dan akhirnya….. hari ini saya lulus dari kampus gajah duduk terkutuk ini, hahahahahahahaha…

Udah ah, mau balik dulu.. keknya kena diare nih akibat stress 😦

28

Donna is Back


(gambar diambil dari blog Imoth)

Setelah dikabarkan alih profesi menjadi penjual panganan di depan kampus Universitas Kristen Maranatha beberapa bulan lalu, Donna kembali ke ITB.

Ada apa gerangan? Banyak hipotesis. Menurut gua sih, ada 2 hal. Yang pertama, Donna “dirilis” kembali karena saat ini mahasiswa sedang jadi musuh pemerintah terutama polisi. Tidak semua sih, tapi paling tidak sudah ada 2 universitas yang dipergunjingkan dalam berita selama 3 hari terakhir ini, yaitu UNAS dan UKI.

Yang kedua, sedang ada manusia berbahaya di ITB, bernama Sawung (Mbak Yuni tenang aja ya, dia pasti baik-baik aja :p). Menurut berita di harian Tribun Jabar, dia telah membocorkan rahasia polisi dengan memaparkan foto2 intel BIN, bla bla bla… Tapi kalo menurut gua sih, intelnya aja yang bego… jadi intel kok narsis, pake acara nyatet-nyatet segala.

Terlepas dari apa misi Donna kali ini, gua sih welkam-welkam aja, asal dia ga banyak tingkah seperti nyolong barang-barang mahasiswa atau mecahin blender seperti dulu. Asal dia bertindak layaknya orang normal yang berpura-pura sebagai orang gila, tidak merusak dan meresahkan -_-

Tampaknya Sawung harus menambah satu foto intel lagi di blognya, yaitu Donna si intel polisi di ITB.

4

Kick Andy Edisi Rektor

Saya tidak menyangka bahwa kedatangan saya ke kampus Sabtu kemarin berbuntut pada menonton langsung acara talkshow Kick Andy. Talkshow berdurasi total 3 jam tersebut merupakan rangkaian acara ITB Expo yang berlangsung pada tanggal 22-23 Maret 2008 di kampus ITB.

Seorang teman memberitahu saya tentang talkshow ini saat kami makan siang bersama. Namun semangat untuk menonton presenter favorit saya tersebut redup seketika karena ternyata tiket masuk yang diberikan secara cuma-cuma hari ini telah habis terpesan. Beruntung saya dan si pacar sedang melintasi panggung saat seorang presenter menginformasikan adanya 50 buah tiket tambahan. Setelah mengantri selama setengah jam di tempat yang menurut saya tidak pantas digunakan sebagai tempat mengantri karena saat itu kami kehujanan, saya dan si pacar akhirnya mendapatkan the most wanted tickets of this day.

Tiket yang difoto dengan webcam *maksa banget :D*

Sebenarnya saya punya banyak catatan untuk dijadikan bahan introspeksi panitia acara talkshow ini, mulai dari kerja yang kurang efektif sampai membosankannya presenter pengantar sebelum Andy F. Noya tampil. Tapi yang paling saya sayangkan adalah penghamburan material yang dilakukan oleh panitia.

Malam itu saya mendapat suvenir berupa sebuah kantung berisi stiker, bolpoin, dan pin. Untuk kumpulan suvenir yang jumlahnya hanya 3 dan berukuran kecil, menurut saya adalah berlebihan jika dibungkus menggunakan kantung kertas semi plastik yang disablon secara full colour. Selain tidak efisien dalam penggunaan dan susah diurai oleh lingkungan, panitia pasti mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk memproduksi barang ini. Lagipula tidak ada yang dapat menjamin bahwa kantung ini akan digunakan kembali di lain waktu oleh penerima suvenir.

Untuk ukuran acara yang akan ditayangkan di stasiun televisi swasta nasional, menurut saya talkshow ini terlalu sarat akan narsisisme ITB, sehingga tema yang lebih pantas digunakan adalah “Energizing Indonesia with ITB’s Various Creation” bukan “Energizing Indonesia with Our Various Creation” . Bagaimana tidak, 3 nara sumber utamanya adalah rektor dan mantan rektor ITB, masing-masing adalah Djoko Santoso, Kusmayanto Kadiman, dan Wiranto Arismunandar. Dan 2 narasumber lain adalah Fadoli (ketua HME ITB, anggota tim Palapa HME ITB) dan Riska, siswi SMP di Semarang yang memenangkan lomba penelitian ilmiah LIPI.

Menurut Pak Wiranto, kunci sukses seseorang terletak pada kedisiplinannya, pada sejauh mana seseorang berpegang teguh pada aturan yang telah ditetapkan. Jika selalu berdisiplin, niscaya manusia-manusia negeri ini akan sukses pada bidangnya masing-masing, dan bangsa ini akan maju dengan sendirinya.

“Setiap orang yang berhasil masuk kuliah di ITB dan menyisihkan saingan-saingannya, memiliki satu dosa”. Pak Kus menyatakan bahwa setiap dosa tersebut akan hilang jika setelah lulus setiap pemilik dosa menciptakan lapangan pekerjaan, namun akan menjadi dua kali kipat jika ikut bersaing mencari pekerjaan. Yang beliau katakan adalah benar adanya, namun saya cukup geli mendengarnya, karena saya pribadi kuliah di perguruan tinggi ini dengan iming-iming akan mudah mencari pekerjaan setela lulus nanti, bukan bercita-cita menciptakan pekerjaan. Bahasan ini semakin menggelikan saat Bung Andy mengeluarkan sebuah anekdot “Berarti neraka isinya anak ITB semua, hahaha….”

Sedangkan Pak Djoko membahas topik ini dengan lebih menghubungkannya dengan dunia akademis. Menurut beliau, kampus harus menjadi tempat yang kondusif untuk melakukan kegiatan-kegiatan penelitian yang inovatif. Jika dibandingkan dengan kenyataan, sepertinya pernyataan ini kurang pas, karena yang saya rasakan selama kuliah 5 tahun di sini adalah kampus ini sangat minim fasilitas dan tidak banyak dana yang dialokasikan untuk menunjang kegiatan tersebut, lebih parah lagi saat ini kegiatan ekstrakulikuler mahasiswa sangat-sangat dipaksa untuk dikurangi.

Fadoli dan Riska datang pada acara ini untuk mempresentasikan kegiatan inovatif yang telah mereka lakukan. Fadoli bersama Tim Palapa HME telah melakukan sebuah pembangunan dan pengelolaan PLTA mikrohidro berbasis masyarakat di salah satu desa di Garut. Sedangkan Riska menceritakan tentang penelitiannya yang menarik, yaitu penggunaan kubis merah sebagai pewarna, yang menghasilkan warna merah bila diberi asan, biru jika diberi basa, dan ungu jika netral. How inovative.

Sebenarnya di negara ini banyak orang-orang pintar yang inovatif. Hanya saja mereka harus mengubur kembali ide-ide yang telah muncul karena keterbatasan dana dan perhatian dari berbagai pihak termasuk pemerintah. Coba bayangkan, jika sebuah tugas akhir mahasiswa S1 di setiap perguruan tinggi di Indonesia dianggap sebagai sebuah penemuan baru, maka betapa kayanya bangsa ini akan ilmu dan betapa berpotensinya untuk maju. Namun tampaknya bangsa ini belum siap untuk hal itu, tercermin dari tingkat kedisiplinan yang rendah dan kebiasaan merendahkan diri sendiri.

Oya, ada satu hal lagi yang menggelitik saya saat itu, yaitu saat seorang calon presiden KM ITB periode 2008-2009 mengajukan pertanyaan kepada narasumber: “Apa core competence dari ITB sehingga berbeda dengan perguruan tinggi lainnya?” Hey girl, kampus ini diberi nama Institut Teknologi Bandung bukanlah tanpa maksud.

Secara keseluruhan talkshow ini saya nilai bagus dan menarik. Terima kasih kepada panitia ITB Expo yang telah mengusahakan acara ini berlangsung.

4

Indonesia: Solidaritas Berlebih dan Hobi Pake Kekerasan


Duh, gua pengen ganti skin blog nih.. tapi setelah sercing-sercing ke sana ke mari, gua ga dapet juga skin yang gua suka.. *sengaja ditulis sebagai pembuka, siapa tau ada desainer web yang baca trus ngebikinin skin gratis, hohoho… NGAREP*

Tau film Get Married? Kebangetan lah kalo ga tau… Sama kebangetannya sama gua yang baru nonton film ini dua hari yang lalu, hehehehe…

Tau ga, apa yang paling gua suka di film ini? ADEGAN BERANTEMNYA.. rame banget… ga cincai kayak film-film Indonesia yang ngakunya bergenre action tapi berantemnya cem mak-mak..

Baru kali ini gua nemu gaya berantem yang lucu dalam film: lempar-lempar jemuran, manjat pohon, nyungsep ke lemari, sampe nyungsepin kepala ke baskom cingcau, hihihi….

Trus lucu aja, berantem antar kampungnya tuh gara-gara salah satu anggota geng disakiti. “Indonesia banget” kata mereka dengan bangga. Heran, sifat jelek gini kok malah bangga…

Tapi sifat solidaritas berlebih dan hobi pake kekerasan emang Indonesia banget sih. Gua jadi inget jaman TPB dulu, waktu masih lucu dan imut jamannya ditindas sama senior… gua disuruh ngedanus dengan berjualan kue di kelas TPB sambil teriak-teriak “Woi.. woi… beli kue gua dong..

Banyak yang ngambil tapi ga mau bayar… tapi untungnya gua punya jurus andalan: “Mau digebukin sama anak-anak KMPA hah?” hihihihihihi….