18

Nujuh Bulanan (yang Diusahakan) Zero Waste

Alhamdulillah pada Selasa, 17 Juli 2012 lalu, acara nujuhbulanan yang saya beserta keluarga selenggarakan secara kecil-kecilan berjalan dengan lancar.

Kalau mau ngikutin adat Jawa sih, harusnya pada usia tujuh bulanΒ kehamilan pertama, dilakukan upacara tingkeban yang super-duper rumit. Berhubung bakal riweuh ini-itu (apalagi menjelang bulan Ramadhan), saya memilih untuk tidak melakukan upacara ini, melainkan mengambil inti sarinya saja, yaitu berdoa demi keselamatan si jabang bayi.

Saya dan keluarga memilih mengadakan acara pengajian kecil-kecilan saja. Kami mengundang ibu-ibu di kompleks perumahan dan ibu-ibu yang biasa ngaji di masjid untuk mengaji di rumah, lalu makan-makan, dan setelah itu pulang bawa oleh-oleh. Hehehe, simpel sekali ya? πŸ™‚

Nah, mumpung acaranya simpel, saya mengusahakan acara ini supaya bersifat zero waste. Mengadakan acara zero waste memang bukanlah hal mudah, apalagi kalau posisi kita di acara ini cuma “anak bawang.” Untungnya rayuan maut saya berhasil membuat si mamah setuju untuk ber-zero waste walaupun belum bisa 100%. :mrgreen:

Hal pertama yang terpikirkan adalah bagaimana menyuguhkan makanan di rumah secara zero waste (maksudnya makanan yang tidak dibawa pulang). Untungnya karena “syarat”-nya gampang, yaitu cuma menyediakan makanan kaya karbohidrat sebanyak 7 macam (atau lebih, yang penting jumlahnya ganjil), bagian ini sangat bisa dibuat zero waste. Kami menggunakan nyiru yang dilapisi daun pisang, lalu rebusan karbohidrat tadi ditata di atasnya. Ibu-ibu yang datang akan mengonsumsi makanan yang tidak biasa dihidangkan di perkotaan ini menggunakan piring kecil. πŸ™‚

Rebusan karbohidrat (pisang, talas, “sagu,” ubi, singkong, ganyong, kacang tanah, kacang Bogor, jagung manis)

Kedua, untuk makanan yang dibawa pulang (oleh-oleh)–yang biasanya di perkotaan dibungkus menggunakan kotak kertas atau styrofoam–kami menggunakan besek bambu yang dilapisi daun pisang. Nah, untuk yang satu ini perjuangannya lumayan susah. Selain harus melobi si mamah untuk setuju bikin paketan nasi timbel, saya juga harus mencari besek bambu yang sudah semakin sulit didapat di kota ini. Akhirnya berkat rayuan maut saya, si mamah yang biasanya tukang ngatur itu setuju dengan usul saya. Horeee… :mrgreen:

Besek berisi makanan ini nantinya akan dibawa oleh ibu-ibu menggunakan tas jinjing. Awalnya kami ingin menyediakan tas jinjing kain, tapi karena biayanya akan terlalu mahal, kami memilih tas dari bahan yang lebih murah saja tapi tetap anti-kresek, yaitu non-woven (atau apa lah namanya, saya kurang hafal). Sengaja tas-tas jinjing ini tidak kami berikan sablonan kata-kata yang berhubungan dengan acara ini, supaya ibu-ibu ini mau pakai terus tas ini untuk keperluan lain tanpa perlu tersandung rasa malu karena ada label “gratisan” di atasnya.

Besek bambu

Nasinya dibuat “timbel” (dibungkus dengan daun pisang menggunakan teknik khusus), lalu untuk lauknya dibuat “takir” dari daun pisang.

Menunya sederhana saja: nasi timbel, oseng tempe, perkedel kentang, gepuk daging sapi (plus kerupuk, lalab, sambal, dan buah pisang). Di bagian bawahnya ada satu besek lagi berisi rujak dan kue-kue.

Besek nasi dan kue yang sudah dibungkus tas jinjing (anti kresek, booo…).

Rujak yang harus pake delima, yang mana delimanya susah banget dicari. Akrhinya pake delima impor deh.

Lemper, satu-satunya snack gacoan yang ga pake plastik.

Ternyata ada keuntungan lain yang didapat dari usaha ini selain (tentu saja) minimnya jumlah sampah. Daun pisang memberi aroma khas yang membuat cita rasa makanan menjadi lebih mantap. Penggunaan besek juga ternyata membuat ibu-ibu itu senang karena mengingatkan mereka pada masa kecil mereka. Kalau kita bisa bagi-bagi rejeki, sambil melestarikan tradisi, dan memberi perasaan senang yang lebih banyak kepada orang lain, itu kan seru banget…. :mrgreen:

Sayangnya, beberapa jenis makanan dalam paket makanan ini “memaksa” kami untuk tetap menggunakan plastik, antara lain: buah pisang, kerupuk, lalaban, sambal, kue-kue, dan RUJAK. Rujak adalah syarat wajib nujuhbulanan, jadi ga bisa ga ada. (Btw ini wajib versi adat Jawa ya, bukan versi agama :mrgreen:). Sama satu lagi: AMDK (air minum dalam kemasan). Saya ga berhasil merayu si mamah untuk ga menyertakan AMDK dalam kotak kue, euy. Entah kenapa AMDK ini seolah-oleh merupakan kewajiban dalam dunia perkotak-kue-an nasional. Jadi aja ga bisa 100% zero waste.

Tapi kan yang penting kita sudah berusaha. Saya percaya, hal-hal baik yang dilakukan dengan cara yang “baik” akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik lagi. Mudah-mudahan usaha zero wasteΒ ini memberi pengaruh positif kepada si dede di dalam perut saya ini untuk menjadi penerus pejuang lingkungan, membantu ibunya, tante-tante dan om-omnya menciptakan masa depan yang lebih baik. Sehat-sehat terus ya dede… tinggal 2 bulan lagi nih, jangan nakal ya. πŸ˜€

Advertisements
15

Tahun Pertama yang Berbeda

Hari ini, 10 Juli 2012, adalah tepat 1 tahun setelah saya dinikahi oleh seorang pria keren bernama Ekaprasetya Yusnikusumah. Tentu saja “keren”-nya menurut definisi yang saya buat sendiri.

Satu tahun sudah saya tidak lagi lajang dan menjadi ibu rumah tangga. Ini adalah pilihan yang saya ambil sendiri. Bukan apa-apa, saya hanya ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi ibu rumah tangga. Saya ingin ketika kelak saya perlu memutuskan untuk memilih antara menjadi wanita karir atau menjadi ibu rumah tangga, saya bisa mengambil keputusan yang objektif dan tidak bias.

Sama seperti rumah tangga muda pada umumnya, pastilah banyak rintangan yang dihadapi pada tahun pertama pernikahan. Benar kata orang, menikah muda itu berat. Berat di ego, berat di uang, dan berat di pantat (tapi yang terakhir ini khusus buat yang gendut aja :mrgreen:). Saya bersyukur saya mengalami kesulitan-kesulitan ini, karena bagi saya mengalami kesulitan pada saat kita belum mapan adalah kawah candradimuka gratis. Kalau kita mengalami kesulitan saat kita sudah mapan, itu sangat ga rame, sodara-sodara.

Alhamdulillah, pernikahan ini telah membuat perut saya gendut. Dalam perut saya kini hidup satu makhluk imut berumur 28 minggu yang setiap hari kerjanya menendangi dan menonjoki perut saya. Kedatangan sosok ini tidak saya duga, dan awalnya cukup membuat saya syok. Tapi itu semua berubah menjadi tawa, terlebih karena ternyata sosok ini begitu diharapkan oleh keempat kakek-neneknya yang masing-masing belum pernah punya cucu.

My baby :3

***

Happy first anniversary, suamiku. Sebenarnya saya ingin sekali membuatkan kue-kue lucu, tapi berhubung dirimu sedang berada di pulau lain untuk mencari sesuap nasi dan sebongkah berlian, saya kirim dalam bentuk foto saja ya. Kue aslinya menyusul. πŸ™‚

Semoga di tahun-tahun berikutnya kita bisa terus lebih baik lagi. Dan semoga kita selalu bahagia dan tidak terpisahkan sampai tua. Amiiiiiin…. πŸ˜€

3

Drawing Day #3 “My Family”

Halo, halo, tiba kita pada hari ketiga dari tantangan 30 Days of Drawing. Tantangan hari ini adalah menggambar “my family”.

Speaking of family, biasanya kita akan menggambar ayah, ibu, dan kakak-adik. Tapi saya ga menggambar mereka, Β saya menggambar anggota baru keluarga saya, namanya Ekaprasetya Yusnikusumah.

Semoga darinya dihasilkan benih-benih yang kelak akan menjadi anak-anak yang cerdas dan lucu-lucu, membentuk keluarga yang asik-surasik. πŸ™‚

Amiiiin….. ya Alloh πŸ˜€

8

Happy Mother’s Day

Hari ini adalah hari ibu. Semua orang nulis puisi indah dan cerita tentang ibunya. Saya pengen juga bikin puisi, tapi saya ga bisa… Jadi saya akan cerita saja sedikit tentang mama.

Mama saya adalah mama-mama gaul yang jagoan. Dia bisa mengawinkan predikat wanita karir dan ibu rumah tangga dengan baik. Semasa saya kecil, saya hampir tidak pernah pergi ke dokter, salon, dan tukang jahit, karena mama melakukan tugas mereka untuk saya dan kakak-adik saya. Bahkan untuk urusan mengecat rumah dan mereparasi mobil pun masih bisa dia handle dengan baik. Keren kan mama saya? Hehehehe…. πŸ™‚
Menjelang natal, mama saya sibuk membuat kue. Mungkin sibuknya hampir sama dengan waktu menjelang lebaran. Walaupun mama tidak berniat berjualan kue, teman-temannya yang akan merayakan Natal memesan banyak kue kepadanya, atau lebih tepatnya memaksanya membuatkan kue untuk mereka, hehehe…. Mereka begitu bersikeras, tidak mau pesan di tempat lain, mereka hanya mau kue mama saya. Dan karena terlalu baik dan asik, mama saya ga bisa menolaknya.
Hari ini adalah H-3 Natal. Sejak kemarin mama sibuk membuat adonan, membentuk, melumuri dengan kuning telur, dan membakar kue-kue pesanan itu. Saat dia harus pergi sebentar dari rumah, dia menitipkan oven berisi kue yang sedang dibakar kepada kakak saya. “Setengah jam ya, jangan lupa,” katanya. Sayangnya kakak saya tertidur pulas gara-gara nonton FTV (hahahaha….), sehingga akhirnya kue-kue itu agak gosong. Awalnya saya pikir: wah, bentar lagi bakal geger deh rumah ini. Tapi ternyata saya salah prediksi. Mama sama sekali tidak marah, dia malah tertawa, dan minta kita menghabiskan kue yang agak gosong itu.
Wah, ternyata mama banyak berubah. Sekarang udah ga cerewet dan hobi marah-marah lagi, hehehe…. I’m very proud of you, Mom… Happy mother’s day πŸ™‚
11

Otong, Radit, dan Jani


Ini adalah anggota keluarga baru yang dibebaskan dari sebuah toko akuarium di Ciwalk Bandung pada hari Selasa, 8 April 2008, pukul 19.00 WIB. Toko Akuarium “Gampang Ingat” tepatnya.


Ini adalah rumah baru mereka, akuarium peninggalan penghuni kos terdahulu


Peralatan dan bahan yang dibeli


Sang pembebas


Sang pembokat


Sang terbebas bernama Otong (Mas koki) serta Radit dan Jani (Moli marbel), dengan uang pembebasan sebesar Rp 6.000 untuk Otong dan Rp 2.400 masing-masing untuk Radit dan Jani


* * *


Welcome to the new life.. Mudah-mudahan kalian betah tinggal di rumah yang baru.. Saya dan Yusni akan merawat kalian dengan baik πŸ˜€
14

Menikahnya Sang Sepupu


*cerita-cerita Bali-nya ntar aja ya.. sekarang cerita nikahan dulu..*

Bukan, bukan gua kok yang nikahan, tapi sepupu gua.. Gua kan masih remaja… *aih remajaaaa*

Ah, sepupu gua yang satu ini memang aneh… Pacarannya udah lama banget, tapi nentuin tanggal pernikahannya pas musim ujan. Di Jakarta pula.. kalo banjir bijimanah coba?

Selain acara kumpul lebaran atau kematian sanak saudara, pernikahan adalah salah satu acara di mana semua anggota keluarga besar gua kumpul tumplek-tubleugh jadi satu. Rame dan susah bergerak gara-gara banyak orang, mana panas pula.. Sebenernya gua rada ga suka sama suasana kek gini, tapi mau bijimaneh lagi? Ini udah resiko menjadi seorang sepupu yang baik dan berjiwa besar..

Yang namanya ibu-ibu, apalagi ibu-ibu cerewet seperti nyokap dan bude-bude gua, kalo udah ketemuan bawaannya pasti langsung ngerumpi.. entah lah, keknya semua hal di dunia ini dirumpiin, malah menurut gua rumpiannya sudah menjurus ke arah menggunjing… Dan salah satu topik gunjingannya adalah gua yang saat itu ga mau jadi pager ayu.

Sebenernya gua sih oke-oke aja pake kebaya, tapi gua ga mau didandanin. Secara gua dah apal banget tuh sama si dukun riasnya (yang silikon di pipi kirinya jatoh, wkwkwk…) yang kalo ngeriasin orang tuh bedaknya bisa nyampe 5 cm tebelnya. Serem kali nyah… So daripada gua neko-neko bilang “gua cuman mau pake kebaya ajah, ga pake rias-riasan”, ya mendingan gua tolak aja sekalian dua-duanya, karena dalam acara hajatan ala Jawa, yang namanya kebaya dan riasan wajah adalah sebuah entitas yang tidak bisa dipisahkan.

Dan bergulirlah pergunjingan para ibu-ibu. Arrrggghhh…

Lupakan tentang ibu-ibu yang sedang bergunjing… Mari kita bicarakan tentang pernikahannya saja. Calon suami yang sekarang udah jadi suami Mbak Ning ini namanya Dado. Bukan Dado si penjual koran, tapi Dado yang tidak menjual koran. Doi orang Palembang, jadinya salah satu menu makanan di resepsi pernikahnnya Pempek, hihiy… gua kan suka banget pempek πŸ˜€

Lalu bagaimanakah bentuk pernikahannya? Satu kata: JAWA banget. Keknya yang ga Jawa tuh cuman pempeknya doang. Selebihnya sih Jawa semua, dari tata cara, pakaian adat, sampe bahasa yang dipake sama si ibu MC. Masih mending lah yah kalo bahasa yang dipake tuh Boso Jowo yang umum digunakan sehari-hari, ini yang dipake tuh bahasa Jawa kuno yang haluuuuuusss banget, yang mana gua kagak ngarti.. Secara kemampuan bahasa Jawa gua kan pas-pasan banget..

Sayang sekali saat hari H pernikahannya, batre kamera abis (dan seperti biasa: lupa bawa charger), jadinya gua ga bisa foto-foto pengantinnya deh.. Gua cuman sempet moto pelaminan sama pengantin wanitanya ajah.. Nanti lah gua minta filenya sama si fotografer wedding organizer — kalo inget, hehehe..


Ini dia Mbak Ning, si pengantin wanita yang cantik πŸ™‚


Ini pelaminan, di kolong kursinya ada kucing..


Ini dia kucingnya.. lucu, mukanya mirip Jaguar πŸ˜€


Jadi inget Bali.. kyaaa… kyaaaa…


Trus ngapain aja Ma lu di sana? Ah, ini sih pertanyaan retoris.. Ya udah tentu lah gua ngabisin makanan yang ada di sana… sama ngegangguin keponakan-keponakan gua yang lucu dan cengeng-cengeng, hehehehe… Ini dia mereka:


Ini Asa sama babysitter-nya


Ini Nashwa sama babysitter-nya


Ini Rayo sama emaknya…


Ga cuma itu deng.. Gua juga kerja rodi ngebantuin para ibu-ibu yang masak di dapur (tapi ibu-ibu yang ini beda sama ibu-ibu yang suka menggunjing, ibu-ibu yang di dapur lebih asik-asik..). Walopun udah pesen di katering, tapi para ibu-ibu ini kudu bikin masakan buat jamuan pagi pas ijab-kabul. Ternyata masak-masak buat nikahan (baca: partai besar) tuh cape banget ya.. Gua kadang suka ga abis pikir sama ibu-ibu itu.. kok pada ga cape ya? Jagoan banget…

Itu kan pra pernikahannya.. Kalo pasca pernikahannya ngapain aja Ma? Ga ngapa-ngapain.. Paling ngabisin kue-kue dan puding-puding yang masih tersisa aja (gimana ga tambah ndut ya gua, hahahahahaha…) sambil ngobrol-ngobrol sama sodara-sodara, dengan topik utama “Jadi siapa nih yang berikutnya?”. Dan semua mata tampak tertuju pada gua. Siyal..

Selow lah kaka, masih umur 22 tahun ini.. Masih jauh lah… Tapi tergantung juga sih, tergantung kapan si mas bule melamar…