1

Maria Hardayanto, Ibu Rumah Tangga Penebar Virus Hijau

Sebagian orang menilai menjadi ibu rumah tangga berarti memilih menarik diri dari ranah publik. Tidak ada lagi jenjang karir, tidak ada lagi aktualisasi dmairi, tidak ada lagi cita-cita turut memajukan bangsa. Jika Anda termasuk salah satu dari orang-orang ini, tunggu sampai Anda berkenalan dengan Maria Hardayanto. Anda mungkin akan berubah pikiran. 

Suatu malam, saya cek satu per satu notifikasi Facebook yang pada malam itu sangatlah padat. Ternyata beberapa notifikasi datang dari Bunda yang sedang mempromosikan tulisannya di beberapa grup yang juga kebetulan saya ikuti. Jika kebetulan waktu saya luang, saya akan langsung membacanya, tapi jika sedang sedikit sibuk, saya bookmark dulu untuk saya baca lain waktu.

Ya, “Bunda,” begitulah saya memanggil sosok wanita ini. Dan ya, saya adalah penggemar berat tulisan-tulisan Bunda. Bukan tanpa alasan, saya menyukai tulisan-tulisan beliau karena isinya sangatlah inspiratif. Membayangkan bahwa sosok penulisnya berusia paruh baya, sontak membuat saya malu. Ternyata saya yang lebih muda dan berada pada usia puncak produktif masih kalah produktif dibanding Bunda.

Laman salah satu blog Maria Hardayanto

.

Ibu Rumah Tangga yang ‘Berkarir’ Melebihi Wanita Karir

“Kita sering bilang orang-orang Indonesia itu jorok dalam menjaga lingkungan, tapi kita tidak mau terjun langsung untuk membantu mereka. Yang saya lakukan hanya setitik debu, tapi saya yakin apa yang saya lakukan bermakna bagi mereka.” — Maria Hardayanto

Bunda adalah seorang ibu rumah tangga. Namun kepeduliannya yang sangat besar terhadap isu lingkungan hidup dan pemberdayaan perempuan membuat Bunda tergerak untuk melakukan banyak aktivitas di luar rumah.

Saat ini Bunda mendampingi dan membina dua komunitas yang tinggal di pemukiman padat penduduk kota Bandung, yaitu Komunitas Engkang-engkang dan Komunitas Sukamulya Indah. Visinya sangatlah mulia, yaitu mewujudkan lingkungan yang lebih baik dan memberdayakan kaum perempuan untuk turut berpartisipasi dalam pembangunan berkelanjutan. Kegiatan ini murni beliau lakukan secara sukarela alias tanpa dibayar. “Yang ada Bunda malah nombok, hehehe…” katanya sambil tertawa.

Saya beruntung sekali karena berkesempatan untuk ikut kumpul-kumpul dengan salah satu komunitas ini pada suatu sore. Sore itu saya bertemu Bunda yang sedang bersiap-siap bertemu Komunitas Engkang-engkang. Dengan pakaian rapi, Bunda menenteng reusable bag berisi cukup banyak barang. Rupanya Bunda baru saja selesai belanja untuk keperluan pertemuan kali ini sekaligus keperluan di rumahnya.

“Engkang-engkang,” nama yang cukup unik dan mungkin banyak yang menyalahartikannya dengan “ongkang-ongkang” yang bermakna sedikit negatif. Engkang-engkang adalah nama hewan semacam laba-laba air yang merupakan indikator alami sungai bersih dan jernih. Diharapkan nama ini bisa menjadi penyemangat ibu-ibu di bantaran Sungai Cidurian untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih, yang membuat engkang-engkang muncul kembali di sungai ini.

Bale-bale Komunitas Engkang-engkang

Keberuntungan saya berlipat ganda ketika ternyata edisi pertemuan kali itu adalah membuat cupcake tape dan ganyong. Sore itu Bunda membawa selembar print out resep yang didapatkannya dari internet. Kegiatan kali ini memang hanya memasak kue, tapi bukan berarti tidak ada poin belajarnya. Dari kegiatan ini kita belajar bahwa kita bisa menggunakan bahan lokal untuk mengganti bahan impor.

Selain menghemat biaya yang dikeluarkan, dengan menggunakan bahan lokal kita turut menjaga Bumi dengan “menghemat karbon.” Maksudnya adalah kita tidak ikut-ikutan menghasilkan polusi dari kegiatan mengimpor barang.

Cupcake Tape dan Ganyong” hasil belajar Komunitas Engkang-engkang

Seru kan? Selanjutnya resep-resep inovatif yang pernah dicoba pada pertemuan komunitas bisa dipraktekkan sendiri oleh para ibu-ibu, dan hasilnya bisa dijual di warung. Anak-anak jadi bisa jajan makanan sehat yang bebas bahan kimia berbahaya. Satu hal lagi yang tak kalah penting: jajanan ini ramah lingkungan karena tidak menggunakan plastik sebagai pembungkus.

Memasak hanyalah satu dari banyak kegiatan yang dilakukan komunitas Engkang-engkang. Banyak kegiatan menarik dan sarat makna lainnya yang dilakukan oleh ibu-ibu anggota komunitas ini. Beberapa di antaranya adalah belajar memisah sampah, mengkampanyekan anti buang sampah di sungai, berkebun, mengkompos, dan membuat tas dari bungkus kemasan plastik. Yang pasti semua kegiatan tersebut mengacu pada prinsip pembangunan berkelanjutan.

(Dokumentasi Maria Hardayanto)
.

Kegigihan Bunda yang tak kenal lelah kini telah membuahkan hasil. Selain memiliki lingkungan yang lebih bersih dan asri, kedua komunitas ini kini cukup dikenal sebagai salah satu “komunitas hijau” kota Bandung.

Banyak orang yang telah mengunjungi dan banyak media yang telah meliput kedua tempat ini. Kebanyakan orang datang untuk belajar tentang social entrepreneurship. Bahkan Wakil Walikota Bandung, Bapak Ayi Vivananda sering berkunjung ke Komunitas Engkang-engkang karena beliau sangat suka dengan semangat para ibu ini.

Pada bulan Juli 2012, kedua kampung ini juga terpilih sebagai kampung percontohan perubahan iklim Jawa Barat. Hebat kan? 🙂

.

Selalu Ada Cinta untuk Keluarga

Dengan kegiatannya yang seabreg, tidak sejengkal pun Bunda menjadi jauh dari keluarganya. Keluarga adalah hal terpenting dalam hidup Bunda. Kecintaan inilah yang membuat beliau memilih menjadi ibu rumah tangga setelah selama beberapa tahun mencoba berkarir pasca lulus dari Fakultas Ekonomi Uninus Bandung. Alasannya sederhana, Bunda tidak rela jika anak-anaknya lebih dekat dengan pembantu daripada dengan dirinya.

Mesra bersama sang suami

Foto anak-anak di dinding rumah

Bahkan setelah anak-anaknya dewasa, Bunda masih memperlakukan mereka dengan manja. Tidak ada yang salah, toh memang seharusnya begitulah hubungan seorang ibu dengan anak-anaknya. Bunda selalu berbagi cerita tentang apa yang beliau kerjakan di luar rumah kepada anak-anaknya. Begitu pula sebaliknya, Bunda selalu mendengarkan cerita khas anak muda dari anak-anaknya, sambil mencoba membantu memberikan solusi apabila dibutuhkan.

Ada kalanya di antara anggota keluarga muncul perbedaan pendapat. Biasanya bunda menyikapinya dengan santai dan memilih cara musyawarah untuk mencapai mufakat. Bunda berprinsip bahwa setiap anggota keluarga punya hak yang sama dalam mengutarakan pendapat, tidak pandang bulu apakah posisi mereka sebagai anak atau orang tua. Tapi tentu saja ada batasan-batasan tertentu yang tidak bisa dilanggar.

Rasa cinta kepada keluarga Bunda curahkan dengan selalu menyediakan makanan sehat di meja makan. Jika ada jadwal berkegiatan di luar rumah, Bunda akan mempersiapkan bahan-bahan masakan sejak sehari sebelumnya, “jadi besok paginya tinggal sreng, sreng, sreng…” tambahnya.

Bukan hanya itu, Bunda juga berusaha menciptakan suasana rumah yang asri. Tentu saja “asri” menurut kamus pribadi beliau. Bunda memelihara banyak tanaman hias dan tanaman pangan di kebun depan dan belakang rumah. Ada pula kolam lele dan tong pengkomposan untuk mengolah sampah organis sisa dapur dan makanan. Melalui keasrian ini juga Bunda mengajarkan anak-anaknya untuk mencintai alam dan lingkungan.

Halaman depan (kiri) dan halaman belakang (kanan) rumah Maria Hardayanto

Tong sampah organis (kiri) dan non-organis (kanan) di rumah Maria Hardayanto

.

Menemukan Tuhan dalam Pencarian

Bunda adalah seorang muallaf. Keputusan ini beliau ambil bukan karena alasan menikah atau atas paksaan orang lain, tapi berdasarkan hasil pencariannya sendiri. Satu hal lagi yang membuat saya kagum…. Bukan karena apa agama yang beliau pilih, tapi bagaimana proses beliau menemukan Tuhan dalam perjalanan hidupnya.

Bunda mempelajari agama Islam secara otodidak. Bunda bercerita, pada tahun 1980-an beliau membeli buku belajar mengaji dan buku petunjuk sholat di pinggir jalan yang saat itu harganya hanya Rp 1.000,00. Bunda membaca dan mempelajari buku-buku itu pada perjalanan menuju atau sepulang dari kantor menggunakan bis kota. Tekad Bunda sangatlah kuat: sekali masuk Islam, maka beliau harus menjadi muslim yang baik.

Sekarang, saat sudah fasih membaca Al-Qur’an, Bunda secara rutin mengikuti pengajian. Selain menambah relasi, kegiatan ini beliau manfaatkan untuk menebar ‘virus-virus’ hijau. Menjaga lingkungan juga termasuk ibadah, maka menyebarkan virus hijau bisa dihitung juga sebagai dakwah. 🙂

.

Tetap Tampil Cantik

Di balik kesibukannya, Bunda masih sempat merawat diri. “Bagaimanapun orang pertama kali menilai kita dari penampilan fisik. Kalau kita bersih dan rapi, orang akan lebih mau mendengar kita,” katanya bersemangat.

Sebenarnya tidak sulit untuk merawat kecantikan ala bunda. Cukup cuci muka setiap hari dan makan makanan yang sehat. Sekali-sekali boleh juga ke salon untuk memanjakan diri dan melakukan perawatan yang tidak bisa kita lakukan sendiri di rumah.

Pakaian dan asesoris Bunda sederhana saja, tidak mewah. Tapi Bunda sangat lihai dalam memadupadankan pakaian dengan asesoris sehingga enak dipandang mata. Coba lihat saja penampulan bunda di foto-foto ini, matching kan? 😉

Maria Hardayanto

Suatu saat pernah kami membahas tentang salah satu foto Bunda yang dipasang di Facebook. Bunda bercerita bahwa beliau memang mempersiapkan satu foto yang bagus, yang kelak akan dikenang saat beliau tiada.

Suatu hari saudara saya meninggal, dan di depan peti matinya terpasang foto terbaiknya semasa hidup. Saya jadi kepikiran bahwa saya harus punya foto yang bagus, jadi saat sudah tiada nanti, saya dikenang seperti pada foto itu,” katanya. Ya ampun, Bunda.. 😀

Maria Hardayanto

.

Belajar dan Menjadi Inspirasi melalui Dunia Maya

Banyak hal yang Bunda capai saat ini merupakan hasil dari proses belajar secara mandiri. Adanya internet membuat proses belajar mandiri dan berjejaring menjadi lebih mudah dan cepat. Inilah salah satu keuntungan hidup di era digital.

Melalui internet pula Bunda menjadi sumber inspirasi. Saya mungkin tidak akan pernah tahu sosok ibu rumah tangga moderen ini jika saya tidak berjejaring dengan beliau melaui Facebook. Saya juga mungkin tidak akan pernah tahu tentang Komunitas Engkang-engkang jika Bunda tidak menuliskannya di blognya. Begitu pula dengan orang-orang lain.

Maria Hardayanto: ibu rumah tangga yang melek teknologi dan internet

Kini Bunda telah menjadi inspirasi bagi banyak orang, khususnya kaum perempuan. Bunda berharap ibu-ibu rumah tangga di Indonesia tidak cepat puas dengan apa yang dimiliki sekarang. Mereka harus terus merasa haus akan pengetahuan dan pengalaman baru, karena sejatinya banyak hal yang bisa dilakukan oleh ibu rumah tangga yang bisa bermanfaat bagi dirinya sendiri, keluarga, maupun lingkungannya.

Hidup di negara berkembang memang dipenuhi banyak “masalah:” harga BBM yang semakin mahal, harga sembako yang melangit, lingkungan yang semakin kotor, dan lain sebagainya. Menurut Bunda, berkeluh kesah dan menyalahkan pemerintah tidaklah berguna. Lebih baik kita gunakan energi dan waktu yang kita punya untuk melakukan sesuatu yang sederhana tapi bermanfaat.

Terima kasih Bunda, karena telah menjadi inspirasi bagi kami, kaum perempuan. Melalui pencapaian selama ini, Bunda telah membuktikan bahwa usia dan gender bukanlah penghalang untuk maju dan membawa perubahan. Bunda juga telah mematahkan anggapan miring bahwa menjadi ibu rumah tangga berarti berhenti beraktualisasi diri dan tidak turut memajukan bangsa. Semoga angin yang menerbangkan “virus-virus” yang Bunda ciptakan selalu berhembus sehingga virus-virus ini hinggap di semakin banyak tempat.

Mari kaum perempuan, ikuti langkah Bunda. Siapkan tekadmu dan mulailah melakukan perubahan sederhana yang bermanfaat! 🙂

***

Klik link-link berikut untuk terhubung dengan Bunda (Maria Hardayanto).    

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam kontes Fastron Blogging Challenge. Fastron Blogging Challenge (FBC) adalah kompetisi blog yang mengangkat tema-tema yang erat kaitannya dengan kehidupan bermasyarakat dan perubahan sosial. Pada ajang FBC yang pertama, tema yang diangkat adalah Women In Digital Era.

Advertisements
18

Nujuh Bulanan (yang Diusahakan) Zero Waste

Alhamdulillah pada Selasa, 17 Juli 2012 lalu, acara nujuhbulanan yang saya beserta keluarga selenggarakan secara kecil-kecilan berjalan dengan lancar.

Kalau mau ngikutin adat Jawa sih, harusnya pada usia tujuh bulan kehamilan pertama, dilakukan upacara tingkeban yang super-duper rumit. Berhubung bakal riweuh ini-itu (apalagi menjelang bulan Ramadhan), saya memilih untuk tidak melakukan upacara ini, melainkan mengambil inti sarinya saja, yaitu berdoa demi keselamatan si jabang bayi.

Saya dan keluarga memilih mengadakan acara pengajian kecil-kecilan saja. Kami mengundang ibu-ibu di kompleks perumahan dan ibu-ibu yang biasa ngaji di masjid untuk mengaji di rumah, lalu makan-makan, dan setelah itu pulang bawa oleh-oleh. Hehehe, simpel sekali ya? 🙂

Nah, mumpung acaranya simpel, saya mengusahakan acara ini supaya bersifat zero waste. Mengadakan acara zero waste memang bukanlah hal mudah, apalagi kalau posisi kita di acara ini cuma “anak bawang.” Untungnya rayuan maut saya berhasil membuat si mamah setuju untuk ber-zero waste walaupun belum bisa 100%. :mrgreen:

Hal pertama yang terpikirkan adalah bagaimana menyuguhkan makanan di rumah secara zero waste (maksudnya makanan yang tidak dibawa pulang). Untungnya karena “syarat”-nya gampang, yaitu cuma menyediakan makanan kaya karbohidrat sebanyak 7 macam (atau lebih, yang penting jumlahnya ganjil), bagian ini sangat bisa dibuat zero waste. Kami menggunakan nyiru yang dilapisi daun pisang, lalu rebusan karbohidrat tadi ditata di atasnya. Ibu-ibu yang datang akan mengonsumsi makanan yang tidak biasa dihidangkan di perkotaan ini menggunakan piring kecil. 🙂

Rebusan karbohidrat (pisang, talas, “sagu,” ubi, singkong, ganyong, kacang tanah, kacang Bogor, jagung manis)

Kedua, untuk makanan yang dibawa pulang (oleh-oleh)–yang biasanya di perkotaan dibungkus menggunakan kotak kertas atau styrofoam–kami menggunakan besek bambu yang dilapisi daun pisang. Nah, untuk yang satu ini perjuangannya lumayan susah. Selain harus melobi si mamah untuk setuju bikin paketan nasi timbel, saya juga harus mencari besek bambu yang sudah semakin sulit didapat di kota ini. Akhirnya berkat rayuan maut saya, si mamah yang biasanya tukang ngatur itu setuju dengan usul saya. Horeee… :mrgreen:

Besek berisi makanan ini nantinya akan dibawa oleh ibu-ibu menggunakan tas jinjing. Awalnya kami ingin menyediakan tas jinjing kain, tapi karena biayanya akan terlalu mahal, kami memilih tas dari bahan yang lebih murah saja tapi tetap anti-kresek, yaitu non-woven (atau apa lah namanya, saya kurang hafal). Sengaja tas-tas jinjing ini tidak kami berikan sablonan kata-kata yang berhubungan dengan acara ini, supaya ibu-ibu ini mau pakai terus tas ini untuk keperluan lain tanpa perlu tersandung rasa malu karena ada label “gratisan” di atasnya.

Besek bambu

Nasinya dibuat “timbel” (dibungkus dengan daun pisang menggunakan teknik khusus), lalu untuk lauknya dibuat “takir” dari daun pisang.

Menunya sederhana saja: nasi timbel, oseng tempe, perkedel kentang, gepuk daging sapi (plus kerupuk, lalab, sambal, dan buah pisang). Di bagian bawahnya ada satu besek lagi berisi rujak dan kue-kue.

Besek nasi dan kue yang sudah dibungkus tas jinjing (anti kresek, booo…).

Rujak yang harus pake delima, yang mana delimanya susah banget dicari. Akrhinya pake delima impor deh.

Lemper, satu-satunya snack gacoan yang ga pake plastik.

Ternyata ada keuntungan lain yang didapat dari usaha ini selain (tentu saja) minimnya jumlah sampah. Daun pisang memberi aroma khas yang membuat cita rasa makanan menjadi lebih mantap. Penggunaan besek juga ternyata membuat ibu-ibu itu senang karena mengingatkan mereka pada masa kecil mereka. Kalau kita bisa bagi-bagi rejeki, sambil melestarikan tradisi, dan memberi perasaan senang yang lebih banyak kepada orang lain, itu kan seru banget…. :mrgreen:

Sayangnya, beberapa jenis makanan dalam paket makanan ini “memaksa” kami untuk tetap menggunakan plastik, antara lain: buah pisang, kerupuk, lalaban, sambal, kue-kue, dan RUJAK. Rujak adalah syarat wajib nujuhbulanan, jadi ga bisa ga ada. (Btw ini wajib versi adat Jawa ya, bukan versi agama :mrgreen:). Sama satu lagi: AMDK (air minum dalam kemasan). Saya ga berhasil merayu si mamah untuk ga menyertakan AMDK dalam kotak kue, euy. Entah kenapa AMDK ini seolah-oleh merupakan kewajiban dalam dunia perkotak-kue-an nasional. Jadi aja ga bisa 100% zero waste.

Tapi kan yang penting kita sudah berusaha. Saya percaya, hal-hal baik yang dilakukan dengan cara yang “baik” akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik lagi. Mudah-mudahan usaha zero waste ini memberi pengaruh positif kepada si dede di dalam perut saya ini untuk menjadi penerus pejuang lingkungan, membantu ibunya, tante-tante dan om-omnya menciptakan masa depan yang lebih baik. Sehat-sehat terus ya dede… tinggal 2 bulan lagi nih, jangan nakal ya. 😀

14

Penasaran Berlebihan Berbuah Tongpes

Karena terlalu sering melihat dan mendengar cerita orang tentang ‘rainbow cake’, saya jadi ikut-ikutan penasaran ingin mencicipinya. Maka ketika teman-teman saya mengajak nongkrong di Bawean Bakery, dan di sana saya melihat masterpiece itu melalui kaca etalase, saya langsung semangat bilang “Yang itu, mbak… yang ituuuuu…

Sebelum menyajikannya di piring, si mbak-nya bilang “Harganya tiga puluh lima ribu.” Ga penting juga sih sebenernya dia ngomong gitu, karena di etalase pun ada tag yang menuliskan harga yang sama. Mungkin ini hanya semacam konfirmasi, “Ini mahal loh, kamu yakin mau beli yang ini?” Mungkin dia pernah punya pengalaman ketemu alay yang sok-sokan mau beli kue ini tapi ga sanggup bayarnya. Berarti mungkin juga kelakuan norak saya membuat dia menyimpulkan kalau saya ini alay.

Tersajilah rainbow cake idaman di piring kecil tepat di depan saya duduk. Saat saya endus, wek baunya amis. Ternyata rainbow cake ini adalah cheese cake yang cake-nya dibuat berwarna-warni. Sebelumnya saya mengira kalau krim pelapisnya itu krim gula biasa, eh ga taunya krim keju. Yah, pantes aja mahal.

Blue Royal Velvet dan Rainbow Cake ala Bawean Bakery Bandung

Gigitan pertama, mmmm… yummy… Gigitan ke-empat, weeeeek… eneg -_-

Karena saya penggemar cheese cake, saya sempat yakin kalau saya akan menghabiskan kue ini sejak gigitan pertama. Tapi ternyata kue ini sangat membuat saya eneg… entah karena kue ini memang mengenegkan, atau karena saya sedang hamil sehingga saya jadi mudah eneg. Pada dasarnya cheese cake emang ga cocok buat dimakan banyak-banyak sih, makanya biasanya dijual dalam porsi sangat kecil, ga segede-gede gaban kaya gini.

Enam orang teman saya sudah mencoba setidaknya satu suap kue ini, tapi kue ini tidak kunjung habis. Saya tawarkan lagi kepada mereka, tapi mereka sudah terlalu kenyang, karena kami memang baru pulang dari pesta pernikahan seorang teman (hahahaha..). Akhirnya dengan semangat “tidak mau menyia-nyiakan makanan” saya habiskan kue ini dengan terpaksa. Dan yang namanya terpaksa itu di mana-mana rasanya ga enak, sodara-sodara.

Ada sedikit perasaan menyesal karena membeli kue mahal ini. Tapi paling tidak rasa penasaran saya hilang sudah. Mungkin suatu saat saya akan kembali membeli fenomenal cake ini lagi di sini bersama suami atau teman-teman lain… tapi satu porsi dibagi empat! >,<

(Postingan ini terinspirasi dari postingan Ais tentang rainbow cup). 

21

Santika Bogor Hotel: Green, But So Terrorism Paranoia

Pengen cerita pengalaman unik setahun lalu ah… Mungkin menurut temen-temen ini ga unik-unik amat, tapi bagi saya, disangka sebagai “teroris” di hotel berbintang 4 adalah sesuatu yang mmmm… bisa dikatakan ga wajar.

Saya lupa tepatnya, tapi sekitar bulan Desember tahun lalu, saya dan beberapa rekan kerja saya menginap di Hotel Santika Bogor. Hotel ini pasti ga asing lagi di telinga dan mata anak gaul kota Bogor, karena letaknya di pusat kota, dan bersebelahan dengan Botani Square Mall Bogor. Ga perlu diceritain lah ya ngapa-ngapainnya, intinya kami punya kegiatan di sana selama satu minggu.

Saya dan teman-teman merasa cukup nyaman menginap di sini, terlebih lagi, hotel ini sudah menerapkan beberapa prinsip zero waste. Misalnya tidak menyediakan tisu di meja makan, tapi menggantinya dengan serbet, dan juga tidak mengemas makanan ringan dengan kertas atau plastik, tapi menggantinya dengan piring kaca kecil. Begini nih penampakannya:

Nira sedang makan spaghetti, liat dong di depannya ada serbet, bukan tisu 🙂

Ini dia kue pie tanpa alas kertas.

Continue reading

62

Kue Keranjang dan Lelaki Mata Keranjang

Hari ini, tiba-tiba rekan kerja saya menyodorkan sebuah kue keranjang ke hadapan saya. Ah.. iya, saya hampir lupa bahwa minggu depan adalah hari perayaan Tahun Baru Imlek.

Kue Keranjang

Teman saya yang sering saya panggil “Cici Jessis” ini adalah seorang keturunan Cina yang menganut agama Katolik, tapi tetap merayakan Imlek. Dia bilang, apa yang dia dan keluarganya anut memang sedikit aneh. Setengah Katolik dan setengah Konghuchu, katanya.

Kue keranjang yang Cici Jessis bawa masih sangat enyoi-enyoi, maksudnya masih sangat empuk karena belum terlalu lama dibuat.

Kata si Cici, kue keranjang ini bisa diolah dengan cara digoreng. Dan karena tadi sore saya lagi pengen melakukan hal-hal aneh, saya ajak aja Cici Jessis untuk “memasak” kue keranjang ini di dapur.

Dan bereksperimenlah kami..

Continue reading

19

Kopi Sore Mengenang Otto Soemarwoto, Sang Legenda

Senin pagi, saya mendapat event invitation di Facebook dari seorang teman, yang isinya begini:

OBRASS (Obrolan Senin Sore) dalam rangka memperingati 1.000 hari wafatnya Begawan Lingkungan Hidup Indonesia Prof. Otto Soemarwoto. Obrolan akan mengulas tentang gagasan dan pemikiran beliau oleh para penerusnya dari Akademisi, LSM, tokoh masyarakat, dll.

Jujur, walaupun saya sering mendengar nama besarnya, saya tidak pernah benar-benar mengenal sosok dan pemikirannya. Yang saya tahu, kata orang-orang, bapak yang satu ini hebat. Rasa penasaran pun membuat saya menyempatkan diri menghadiri acara OBRASS dengan tajuk “Tribute to Otto Soemarwoto” tersebut.

Tapi tentu saja setelah tahu bahwa teman-teman lain juga akan datang ke sana, hehehe… 

Setalah tanya sana tanya sini, sampailah saya di Kantor DPKLTS, Jl. Riau 189A, Bandung. Sialnya, teman-teman saya datang terlambat, jadi saya harus bengong-bengong sendiri di tempat yang baru pertama kali saya datangi itu. Dan pada kondisi seperti ini, ga ada hal lain yang bisa saya lakukan selain kenalan sama bapa-bapa yang udah nongkrong di sana sebelumnya… sambil sok kenal sok kenal gimanaaaaa gitu…

Singkat kata, mengobrolah kami semua di sana, di saung bambu sederhana yang ada “bar”-nya itu, yang belakangan baru saya bahwa namanya adalah “Saung Mang Ihin”. Saya pesan kopi pahit, sementara semua teman saya pesan bandrek…

Musisi yang menemani kami minup kopi dan bandrek

Kopi dan wajit di atas meja bambu. Ternyata kalau beli kopi di sini dapat bonus 2 buah wajit 🙂
Buat yang belum tau: ini namanya wajit, terbuat dari ketan hitam

Anil sedang minum bandrek 🙂

Selain kopi, bandrek, dan wajit, ternyata di sana ada juga bolu yang terbuat dari ganyong (Canna discolor). Saya baru dengar tentang bahan makanan ini. Ternyata ganyong adalah sejenis ubi jalar. Katanya, ibu-ibu DPKLTS sekarang lagi getol-getolnya mempromosikan penggunaan ganyong sebagai pengganti terigu, yang 100% masih impor.

Kue coklat yang terbuat dari ganyong. Enak looooh 🙂

Tepung ganyong, cuma Rp6.500,00 per kg. Untuk perbandingan, harga terigu sekarang sekitar Rp10.000,00 per kg.

Beginilah kira-kira suasana diskusinya….

Saung ini emang asoy banget buat nongkrong :p

Kenapa gaya saya kaya alay gini ya? Sumpah, saya ga berniat berpose ala alay -_-
Awalnya saya pengen nulis sesuatu yang agak serius di sini, tentang poin-poin belajar yang saya dapat dari acara ini. Tapi ga jadi, gara-gara saya ga punya catetan, hehehe… Kebetulan saya lagi males bawa buku catetan (apalagi laptop), jadi saya cuma bisa nulis di henfon. Tapi terus henfonnya abis batere. Eeeeeaaaa….
Intinya, dari acara ini saya mendapat pencerahan, bahwa di dunia ini ada seorang manusia hebat bernama Otto Soemarwoto, yang begitu gigih memperjuangkan lingkungan hidup. Saya sangat terinspirasi dan akan mencari tahu tentang beliau lebih banyak.  
Anyway, saya sangat suka acara kumpul-kumpul seperti ini. Minum kopi di sore hari, mengenal orang-orang baru, saling berbagi cerita dan pikiran. Sesuatu yang sangat lokal, tapi berdampak global.

Sampai jumpa di acara OBRASS selanjutnya….

15

Braga Braga Braga……!

Kata orang, kota Bandung identik dengan Braga. Tapi kalau kata saya sih, nggak juga. Jaman dulu mungkin ya…. tapi rasanya jaman sekarang kecenderungan sudah berubah. Identitas itu kini milik jalan Dago.

Saya sendiri sebagai orang yang sudah 25 tahun tinggal di Bandung, ga punya banyak memori dengan Jalan Braga. Mungkin karena saya selalu disekolahkan di tempat-tempat yang kebetulan dekat dengan rumah, dan masih berkisaran di Bandung Utara. Bener loh, sejak TK sampe kuliah, saya ga pernah keluar dari Bandung Utara yang sejuk 🙂

Sejak kecil saya ga pernah jalan-jalan ke Braga. Paling cuma ke Pasar Baru atau Alun-alun Bandung yang jaraknya tidak jauh dari Braga. Saya ingat, dulu mama membelikan saya gulali dan es krim. Dua-duanya dengan volume yang cukup besar untuk ukuran anak kecil, dan saat itu saya protes karena papa saya mintain terus es krim saya 🙂

Setelah dewasa pun saya ga punya banyak kenangan dengan Braga. Palingan cuma lewat doang, ngeliatin orang-orang yang lagi foto-foto, atau mengidentifikasi bencong di malam hari. Tapi untuk nongkrong-nongkrong sih jaraaaaang banget. Sejauh ini saya cuma punya 3 memori yang berhubungan dengan pernongkrongan di Braga.

1. Wisata Kulinday ke Toko Roti dan Kue “Sumber Hidangan”

Ini adalah acara jalan-jalannya Inday Fans Club. Di kampus saya yang aneh ini, karena jumlah makhluk bernama wanitanya terlalu sedikit, bermunculanlah fans club-fans club cewe-cewe cantik. Inday Fans Club adalah salah satunya ^o^

Kebetulan beberapa di antara kami ada yang keturunan Chinese. Tanpa bermaksud SARA, kami iseng bikin foto kaya gini. Biar suasana jadoelnya tambah terasa 😀

Para juragan beserta para jongos dan babu :p
Kalau saya ga tergabung dalam Inday Fans Club, mungkin saya ga pernah tau bahwa di Braga ada toko roti yang terkenal banget di jaman Belanda dan masih eksis sampe saat ini, yang bernama “Sumber Hidangan” 🙂
2. Kiosk Braga City Walk

Nah, sama nih… Kalau aja saya ga ikutan buka puasa bareng para volunteer YPBB, saya ga akan pernah tau kalau di Braga ada Kiosk. Emang katrok banget deh saya ini 0.o
Kiosk ini setengahnya ada di dalam Braga City Walk, dan setengahnya lagi pake bangunan sendiri. Keduanya adalah salah satu dua bangunan moderen yang menggeser posisi bangunan-bangunan tua di Braga. 
Bersama para volunteer YPBB; lagi kepedesan makan Bebek van Java. Background: Jalan Braga di malam hari.

3. Braga Festival 2009

Saya dulu ga bawa kamera, jadi dulu saya ga foto-foto waktu main ke Braga Festival 2009. Sampe sekarang saya ga inget, kok bisa-bisanya dulu ga bawa kamera :p

Setelah googling, saya nemu foto ini… Ini adalah Deklarasi Braga yang disahkan oleh Pak Yusuf M. Effendi alias Dede Yusuf alias Dede Ucup.

Deklarasi Braga (sumber

***

Ya sih, memori saya tentang Braga memang cuma sedikit. Tapi, tapi, tapi….. besok saya akan menambah pundi-pundi memori saya tentang Braga… karena besok akan ada Braga Festival yang diselenggarakan untuk ke-6 kalinya. Katanya, festival tahun ini lebih difokuskan pada pelestarian citra kawasan Braga yang sudah dikenal dengan bangunan tempo dulu, kawasan belanja bergengsi, serta bangunan art deco-nya.
Oh, ternyata Braga Festival itu udah 5 kali digelar…. tapi kok saya cuma tahu 1 kali ya? Apalagi jawabannya selain karena saya ini emang katrok :p
Buat temen-temen yang tinggal di Bandung atau biasa berlibur ke Bandung di akhir pekan, jangan lewatkan acara ini ya. Apalagi kalau kita penggiat seni dan arsitektur… Dijamin betah deh…. 😀 😀 😀

Pasang lagu ini dulu ah, biar terasa Bandungnya….
http://www.youtube.com/v/q2zR7K95k7Q?fs=1&hl=en_US&color1=0x3a3a3a&color2=0x999999