0

Menanti Datangnya Engkang-engkang

Ada yang berbeda pada sore itu, sore di mana saya memenuhi ajakan Bunda Maria Hardayanto untuk berkunjung ke komunitas Engkang-engkang yang bermukim di sebuah kampung di bantaran Sungai Cidurian, Bandung. Tak saya sangka, ini adalah kampung yang begitu spesial, kampung yang dipenuhi dengan semangat perbaikan lingkungan dan kehidupan yang lebih baik.  

Selasa itu adalah hari di mana Bunda melakukan pendampingan ibu-ibu di kampung Cidurian. Tepung ganyong, tape singkong, telur, dan beberapa bahan lain sudah ada di tangan. Saya dan Bunda meneruskan langkah melewati gang sempit yang berliku, hingga sampailah kami di sebuah bale desa, sebuah ruangan yang kami gunakan untuk belajar memasak sore itu.

Kue yang akan kami buat hari ini adalah kue muffin. Ini adalah resep coba-coba, tetapi ini adalah resep istimewa, karena kami tidak lagi menggunakan tepung terigu. Sebagai gantinya, kami menggunakan tepung ganyong, tepung yang dibuat secara lokal, sehingga lebih ramah lingkungan dan harganya lebih murah.

“Jika kita tidak impor barang, berarti kita menghemat emisi karbon,” begitulah kira-kira pesan yang Bunda ingin sampaikan pada acara memasak kali itu. Ternyata sebagian dari ibu-ibu tersebut sudah paham tentang pemanasan global dan hubungannya dengan emisi karbon.

Bukan hanya tepung ganyong, mereka juga sering menggunakan bahan-bahan lokal lain seperti singkong, ubi, pisang untuk membuat panganan. Prinsip yang dipakai adalah sebisa mungkin menggunakan bahan lokal.

Selain sebagai ajang mempopulerkan bahan pangan lokal, kegiatan memasak juga dipromosikan sebagai gaya hidup sehat keluarga, karena dengan memasak sendiri, para ibu bisa menjaga kualitas makanan untuk keluarga dan buah hati mereka.

maria2

Aneka panganan non beras dan non terigu yang dibuat ibu-ibu komunitas

maria5

Anak-anak menikmati kue buatan ibu mereka

Muffin Ganyong

Muffin ganyong

Tidak lebih dari satu jam sejak pertama kali kami berkumpul, sepiring kue muffin sudah terpanggang dan siap disantap. Ibu-ibu lain yang sebelumnya tidak ikut memasak pun bermunculan untuk ikut mencicipinya. Hingga munculah Bu Dian, ibu RT kampung tersebut yang belakangan baru saya tahu bahwa beliau memiliki andil yang cukup besar dalam perkembangan kampung tersebut.

Melihat saya sebagai orang asing, Bu Dian kemudian bercerita tentang apa yang telah ibu-ibu di kampung ini lakukan untuk membuat lingkungan mereka lebih baik. Beliau juga menawari saya tour singkat untuk melihat hasil kerja keras mereka selama ini. Tanpa pikir panjang, saya langsung terima ajakan beliau. “Dengan senang hati, Bu…” ucap saya.

“Dulu biasanya sampah dibuang di sini,” ucap Bu Dian sambil menunjuk Sungai Cidurian.

“Tapi sekarang mah udah dipilah, yang basah dikompos, yang kering dimanfaatkan jadi kerajinan dan ga dibuang di sungai lagi. Nanti komposnya dipakai untuk pupuk taneman ini,” tambahnya.

Lahan hijau di tepian sungai lah yang Bu Dian maksud. Lahan yang beberapa tahun lalu merupakan  ‘trotoar’ berpasir itu kini telah berubah menjadi ladang bertanamkan pepohonan dan berbagai tumbuhan pangan.

maria1

maria4

Tumbuhan di ladang tersebut sengaja dibuat beragam agar tidak dibutuhkan pesitida untuk merawatnya. Secara berkala ibu-ibu mengumpulkan kompos yang dibuat di rumah masing-masing untuk ditebarkan di ladang sebagai pupuk alami.

Saat panen tiba, mereka memanennya bersama-sama. Dari ladang tersebut sudah dihasilkan banyak bahan pangan untuk dikonsumsi para warga kampung. Mudah, murah, dan sehat. Ditambah lagi karena ini adalah hasil kerja keras sendiri, rasanya sungguhlah nikmat.

Sebuah saung kecil berdiri di tengah-tengah ladang. Tiga anak sedang bermain di dalamnya. Di bagian belakangnya terdapat baligo berukuran cukup besar bertuliskan “Engkang-Engkang, Komunitas Cidurian Bersih” dengan logo seekor laba-laba air.

engkang-engkang1-e1343672209573

Saung di tengah ladang

Rasa penasaran saya tentang arti nama komunitas ini akhirnya hilang setelah saya melihat baligo tersebut. Ternyata ‘engkang-engkang’ diambil dari nama lokal laba-laba air yang hanya hidup di perairan bersih. Warga menggunakan nama tersebut sebagai penyemangat, dengan harapan suatu saat nanti engkang-engkang akan hidup kembali di Sungai Cidurian.

Selesailah tour saya di hari yang menyenangkan itu. Tak disangka modal iseng-iseng saya berbuah begitu banyak inspirasi…. bahwa ternyata kampung sekecil ini mampu melakukan perubahan yang begitu berarti… bahwa keterbatasan ekonomi dan pendidikan bukanlah halangan dalam berinovasi dan beradaptasi di tengah krisis lingkungan yang terjadi saat ini.

Saya senang sekali pernah menjadi bagian dari komunitas ini, komunitas di mana para ibunya aktif secara langsung memperbaiki kulitas hidup keluarga dan kampung mereka tanpa membebani Bumi lebih jauh… para ibu yang suatu saat akan berkata kepada anak-anak mereka “tenanglah nak, kita tidak perlu memaksakan beli beras, tidak perlu beli terigu, tidak perlu lagi boros karbon untuk bisa menikmati makanan enak dan sehat.”

Semoga saat engkang-engkang yang mereka tunggu telah hadir di Sungai Cidurian, kampung ini sudah benar-benar mandiri dan tahan pangan. Juga menjadi kampung yang menjadi inspirasi bagi kampung-kampung lain untuk maju dan mensukseskan pembangunan berkelanjutan.

Hari beranjak malam. Saya bersiap pulang dengan membawa oleh-oleh kue muffin hasil belajar memasak sore itu. Sebagian ibu bersikeras menawarkan kantung plastik kepada saya untuk membungkus kue-kue tersebut, tapi saya memilih menggunakan daun pisang. Sementara mereka terheran-heran, saya berkata, “simpan dulu rasa penasarannya, Bu, di pertemuan selanjutnya kita bahas tentang plastik.” 😉

***

Tulisan ini diikutsertakan pada lomba blog dengan tema “Masyarakat dan Perubahan Iklim” yang diselenggarakan oleh Oxfam Indonesia.

Oxfam adalah konfederasi Internasional dari tujuh belas organisasi yang bekerja bersama di 92 negara sebagai bagian dari sebuah gerakan global untuk perubahan, membangun masa depan yang bebas dari ketidakadilan akibat kemiskinan.

Kampung Cidurian terpilih sebagai kampung iklim mewakili provinsi Jawa Barat pada Program Kampung Iklim yang diselenggarakan oleh Kementrian Lingkungan Hidup RI. Gelar tersebut diberikan sebagai penghargaan atas upaya-upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang telah dilaksanakan di tingkat lokal sesuai dengan kondisi wilayah.

Semua foto merupakan dokumentasi pribadi Maria Hardayanto.

11

Tesso Nilo: Jembatan Perkembangan Ekowisata Indonesia

Mungkin tidaklah berlebihan jika saya menilai perjalanan saya ke Taman Nasional Tesso Nilo Riau tahun lalu merupakan sebuah wujud dari impian yang menjadi kenyataan. Ya, saya sejak lama telah bermimpi untuk bertualang ke tempat seperti ini, tempat di mana keanekaragaman hayati begitu berlimpah dan keindahan terpancar dari segala sisinya. Dengan sejuta pesonanya, Tesso Nilo siap menjadi jembatan bagi perkembangan ekowisata Indonesia.

Pulau Sumatera kehilangan hampir 50% hutan alamnya dalam rentang 25 tahun. Tesso Nilo adalah satu dari yang tersisa. Terletak di Provinsi Riau, Tesso Nilo adalah salah satu habitat terpenting yang tersisa bagi gajah dan harimau sumatera yang terancam punah. Tesso Nilo juga merupakan hutan dengan keanekaragaman tumbuhan berpembuluh terkaya di dunia. Maka alangkah beruntungnya saya, karena kala itu – Maret 2011 – saya dan rekan saya Lena Gottschalk berkesempatan menjelajahi hutan Tesso Nilo bersama rekan-rekan dari WWF Indonesia dan WWF Jerman selama beberapa hari.

**

Rima dan Lena di depan kantor Balai Taman Nasional Tesso Nilo. Photo (C) Annisa Ruzuar / WWF-Indonesia

Petualangan dimulai ketika jalan aspal perlahan berganti menjadi jalan tanah, dan tembok-tembok beton perlahan mulai hilang dari pandangan. Selama kurang lebih 4 jam perjalanan dari kota Pekanbaru menuju Taman Nasional Tesso Nilo, mata kami disuguhi pemandangan beragam. Perkotaan, perkebunan akasia dan sawit, lahan gambut yang baru dibuka, hutan yang terbakar, lahan kosong, hingga akhirnya hutan tropis yang sangat lebat. Tibalah kami di Flying Squad Camp.

Jalan menuju Taman Nasional Tesso Nilo

Flying Squad Camp adalah kamp milik WWF yang juga dikelola oleh Balai Taman Nasional Tesso Nilo. Kamp ini merupakan markas dari Elephant Flying Squad atau Pasukan Gajah Reaksi Cepat, yaitu gajah-gajah yang diselamatkan dari bagian lain di Sumatra kemudian dilatih untuk menjadi gajah patroli di Taman Nasional Tesso Nilo. Patroli ini dilakukan untuk meminimalisir konflik yang terjadi antara manusia dengan gajah liar. Bersama para gajah Flying Squad, polisi hutan secara rutin berkeliling Taman Nasional dna mencegah gajah liar masuk ke permukiman atau perkebunan milik masyarakat.

Sebuah kantor berdinding beton berdiri tegap di dekat pintu masuk wilayah kamp. Di belakangnya berdiri dua bangunan beton lain dan sebuah bale-bale. Di dua bangunan ini lah kami akan menginap. Saya tidak pernah menyangka sebelumnya, bahwa berada di tengah hutan bukanlah alasan untuk tidak bisa tidur nyenyak di kasur yang empuk dan mandi di kamar mandi  yang bersih. Kalau enak begini sih, siapa yang tidak mau? 😀

Penginapan di Flying Squad Camp Tesso Nilo

Suasana di dalam kamar penginapan

Terbangun di pagi hari di suatu tempat baru selalu menimbulkan sensasi berbeda, begitu pula dengan yang saya alami di Tesso Nilo. Suara sautan kodok yang sangat keras membangunkan saya pagi itu. Menurut salah seorang petugas di sana,  pada pagi hari kita bisa mendengar suara ungko, kodok, dan gajah yang bersaut-sautan keras. Mungkin saya tidur terlalu lelap, sehingga saya tidak mendengar suara ungko dan gajah pagi itu. Begitu lelap, karena saya mempersiapkan diri untuk bermain bersama para gajah hari ini.

Sejak pagi hari, para mahout (pawang gajah) sudah bersiap dengan gajah masing-masing. Sebelum menjelajahi hutan Tesso Nilo dengan menumpaki punggung gajah, kami belajar membuat “brownies gajah” terlebih dahulu. Brownies ini akan menjadi kejutan bagi para gajah di sore hari nanti.

Ternyata membuat brownies gajah tidaklah terlalu rumit. Yang paling kami butuhkan adalah tenaga yang sangat kuat untuk mengaduk dan memindahkan bahan-bahan yang dibutuhkan ke kuali raksasa. Bahan yang dibutuhkan adalah gula merah, biji jagung, bekatul, mineral pakan ternak, dan air. Kami memasaknya dengan bantuan lalapan api pada kayu bakar yang cukup besar. Setelah matang, brownies dicetak dan dikeringkan di bawah tempat teduh. Brownies ini hanya diberikan seminggu sekali, tidak sering-sering, mungkin supaya gajah tidak bosan makan daun melulu. 🙂

Membuat “brownies gajah.” Photo (C) Annisa Ruzuar / WWF Indonesia

Tibalah agenda yang paling ditunggu: kami menaiki punggung gajah dan menjelajahi hutan selama 2 jam menuju Sungai Nilo. Saya dan Ulrike menumpaki punggung Indro, gajah jantan alfa berusia 27 tahun. Awalnya saya agak gugup, karena saya takut ketinggian. Namun lama-kelamaan saya terbiasa dan mulai menikmatinya. Kombinasi tubuh gajah yang besar dan rapatnya hutan hujan tropis Tesso Nilo membuat kaki saya beberapa kali tersangkut dan terjepit di antara badan Indro dan pepohonan. Bagian paling menghebohkan dari pengalaman menaiki punggu gajah adalah saat kami menyeberangi sungai dan mendaki tanjakan yang sangat curam. Rasanya seperti mau jatuh dan dunia akan segera berakhir. Untunglah mahout Edi yang mendampingi kami dapat meyakinkan kami bahwa semua akan baik-baik saja.

Menjelajahi hutan bersama para gajah. Photo (C) WWF Germany

Sementara kami beristirahat dan menikmati indahnya pemandangan di pinggir Sungai Nilo, para mahout memandikan gajah-gajah yang kepanasan di tengah sungai. Setelah mandi, para gajah mencari makan di pinggir hutan, sementara kami dan para mahout memakan bekal makan siang kami. Makan siang bersama para gajah Flying Squad adalah pengalaman yang sungguh luar biasa bagi saya. 🙂

Kami benar-benar sangat beruntung siang itu, karena kami juga menemukan jejak harimau Sumatera di dasar sungai yang sedang mengering.

Para mahout sedang memandikan gajah di Sungai Nilo

Pasir Sungai Nilo berwarna putih seperti di pantai 😀

Tapak kaki harimau di pinggir Sungai Nilo

Sore hari, sekembali kami bertualang bersama para gajah, ternyata kue yang kami buat pada pagi hari tidak benar-benar mengeras. Mungkin karena adonannya terlalu encer. Pak Syam yang juga merupakan koordinator para mahout di Flying Squad Camp mengajarkan kami cara memberi makan kue kepada gajah. Caranya adalah dengan membentuk kue menjadi bola seukuran setengah bola boling, lalu memampatkannya, dan memasukkannya ke dalam mulut gajah. Kami harus memberi instruksi kepada gajah agar mereka mau membuka mulutnya. Gumpalan kue harus diperlihatkan di depan mata gajah yang mana tingginya lebih tinggi dari pada kepala kami. Lalu kami harus berkata “tinggi, tinggi, tinggi….”, dan gajah akan menaikkan belalainya dan membuka mulutnya. Lalu hap..! Itulah saat yang tepat untuk memasukkan kue. Nyam, nyam, nyam…

Menyuapi brownies ke mulut gajah

“Rima dan Lena, siap-siap ya, habis ini kalian belajar menjadi mahout,” kata Pak Syam. Awalnya saya dan Lena menolak karena takut. Tapi akhirnya kami menjalaninya karena tidak mau melewatkan pengalaman yang sangat berharga ini. Kami belajar menunggangi Rahman, seekor gajah jantan berumur 27 tahun. Ternyata mengendalikan gajah tidak sesulit yang saya bayangkan. Saya cukup “menendang” kecil bagian belakang kuping mereka, atau menepuk bagian kepala tertentu untuk membuat mereka berjalan. Hanya saja dibutuhkan keberanian yang tinggi akan ketinggian, serta ketahanan yang luar biasa terhadap serangga-serangga yang hidup di atas kulit gajah.

**

Kini saya paham mengapa wisatawan mancanegara begitu menggemari ekowisata. Ekowisata memberikan sensasi yang berbeda, lebih dari sekedar pemandangan untuk dinikmati dan dijelajahi. Ekowisata mengandung unsur-unsur edukasi lingkungan hidup dan dilakukan dengan cara yang juga ramah lingkungan. Dengan berekowisata, seorang wisatawan tidak sekedar memanjakan diri dan menghabiskan materi, tetapi juga mempelajari sesuatu dan berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan di wilayah yang disinggahi.

Bertualang bersama gajah hanyalah satu dari paket ekowisata yang ditawarkan di Tesso Nilo. Dari satu petak hutan, dengan satu jenis hewan, di satu kabupaten di Riau saja saya sudah bisa melakukan banyak hal, apalagi jika kekayaan alam lain juga dimanfaatkan untuk menjadi ikon ekowisata. Pantai, laut, pulau-pulau kecil, hutan gambut, sungai-sungai besar, dan suku-suku pedalaman yang hidup di antaranya, masing-masing memiliki ciri khas yang menanti untuk digali dan dikembangkan sebagai ekowisata.

Ekowisata yang tengah menjadi tren saat ini adalah peluang emas bagi Indonesia  untuk mendongkrak sektor pariwisata, mengingat Indonesia dikaruniai kekayaan alam yang begitu melimpah. Dengan mengembangkan ekowisata, bukan tidak mungkin Indonesia bisa kembali menjadi raja di sektor pariwisata di Asia. Namun ini memang bukan hal yang mudah. Perlu kerja keras dan kreativitas ekstra untuk bisa memanfaatkan peluang tersebut.

Tesso Nilo dengan gajah-gajahnya bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan ekowisata Riau, dan lebih luas lagi ekowisata Indonesia. Pada akhirnya, yang terkuatlah yang menang… yang adaptiflah yang bertahan. Ekowisata akan menjadi ikon pariwisata masa depan. Karena tidak seperti wisata konvensional, alih-alih merusak, ekowisata justru melestarikan lingkungan. 🙂

**

Jantung saya masih berdegup sangat kencang saat turun dari punggung Rahman. Namun degup tersebut perlahan mereda saat saya belajar memandikan Indro di Sungai Perbekalan. Ekspresi takut berubah menjadi bahagia saat saya bersama mahout Edi dan Indro tercebur bersama Indro di sungai. Ini adalah bagian terindah dari petualangan saya di Tesso Nilo. Saya ingin memandikan gajah lagi dan suatu saat datang kembali ke tempat ini untuk bermain dengan para gajah Flying Squad! 😀 

Saya memandikan gajah… Yeeeey! 😀

Kami akan kembali ke Tesso Nilo suatu saat nanti.

————————————————————————————

Bagi Anda yang ingin berekowisata di Taman Nasional Tesso Nilo, Anda bisa menghubungi:

Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Jl. Raya Langgan KM 4
Pangkalan Kerinci, Pelalawan – Riau
Telp/fax: +62 761 494728

WWF-Indonesia Program Riau
Perkantoran Grand Sudirman Blok No. B-1
Jl. Datuk Setia Maharaja, Pekanbaru – Riau
Telp : +62 761 855006, Fax : + 62 761 32323
Email : reservasi@tessoniloecotour.com

Situs: http://tessoniloecotour.com/

Download brosur Ekowisata Tesso Nilo di sini.

Rima dan Lena adalah pemenang Forest Friends, sebuah program kerja sama WWF Indonesia dan WWF Jerman yang bertujuan untuk meningkatkan kesadartahuan generasi muda terhadap pentingnya kelestarian hutan. 

Tulisan ini dibuat untuk kepentingan Lomba Blog dalam Rangka Riau Travel dan Tour Fair 2012 dengan tema “Strategi Pengembangan & Promosi Wisata Riau” yang diselenggarakan oleh ASITA RIAU.

1

Maria Hardayanto, Ibu Rumah Tangga Penebar Virus Hijau

Sebagian orang menilai menjadi ibu rumah tangga berarti memilih menarik diri dari ranah publik. Tidak ada lagi jenjang karir, tidak ada lagi aktualisasi dmairi, tidak ada lagi cita-cita turut memajukan bangsa. Jika Anda termasuk salah satu dari orang-orang ini, tunggu sampai Anda berkenalan dengan Maria Hardayanto. Anda mungkin akan berubah pikiran. 

Suatu malam, saya cek satu per satu notifikasi Facebook yang pada malam itu sangatlah padat. Ternyata beberapa notifikasi datang dari Bunda yang sedang mempromosikan tulisannya di beberapa grup yang juga kebetulan saya ikuti. Jika kebetulan waktu saya luang, saya akan langsung membacanya, tapi jika sedang sedikit sibuk, saya bookmark dulu untuk saya baca lain waktu.

Ya, “Bunda,” begitulah saya memanggil sosok wanita ini. Dan ya, saya adalah penggemar berat tulisan-tulisan Bunda. Bukan tanpa alasan, saya menyukai tulisan-tulisan beliau karena isinya sangatlah inspiratif. Membayangkan bahwa sosok penulisnya berusia paruh baya, sontak membuat saya malu. Ternyata saya yang lebih muda dan berada pada usia puncak produktif masih kalah produktif dibanding Bunda.

Laman salah satu blog Maria Hardayanto

.

Ibu Rumah Tangga yang ‘Berkarir’ Melebihi Wanita Karir

“Kita sering bilang orang-orang Indonesia itu jorok dalam menjaga lingkungan, tapi kita tidak mau terjun langsung untuk membantu mereka. Yang saya lakukan hanya setitik debu, tapi saya yakin apa yang saya lakukan bermakna bagi mereka.” — Maria Hardayanto

Bunda adalah seorang ibu rumah tangga. Namun kepeduliannya yang sangat besar terhadap isu lingkungan hidup dan pemberdayaan perempuan membuat Bunda tergerak untuk melakukan banyak aktivitas di luar rumah.

Saat ini Bunda mendampingi dan membina dua komunitas yang tinggal di pemukiman padat penduduk kota Bandung, yaitu Komunitas Engkang-engkang dan Komunitas Sukamulya Indah. Visinya sangatlah mulia, yaitu mewujudkan lingkungan yang lebih baik dan memberdayakan kaum perempuan untuk turut berpartisipasi dalam pembangunan berkelanjutan. Kegiatan ini murni beliau lakukan secara sukarela alias tanpa dibayar. “Yang ada Bunda malah nombok, hehehe…” katanya sambil tertawa.

Saya beruntung sekali karena berkesempatan untuk ikut kumpul-kumpul dengan salah satu komunitas ini pada suatu sore. Sore itu saya bertemu Bunda yang sedang bersiap-siap bertemu Komunitas Engkang-engkang. Dengan pakaian rapi, Bunda menenteng reusable bag berisi cukup banyak barang. Rupanya Bunda baru saja selesai belanja untuk keperluan pertemuan kali ini sekaligus keperluan di rumahnya.

“Engkang-engkang,” nama yang cukup unik dan mungkin banyak yang menyalahartikannya dengan “ongkang-ongkang” yang bermakna sedikit negatif. Engkang-engkang adalah nama hewan semacam laba-laba air yang merupakan indikator alami sungai bersih dan jernih. Diharapkan nama ini bisa menjadi penyemangat ibu-ibu di bantaran Sungai Cidurian untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih, yang membuat engkang-engkang muncul kembali di sungai ini.

Bale-bale Komunitas Engkang-engkang

Keberuntungan saya berlipat ganda ketika ternyata edisi pertemuan kali itu adalah membuat cupcake tape dan ganyong. Sore itu Bunda membawa selembar print out resep yang didapatkannya dari internet. Kegiatan kali ini memang hanya memasak kue, tapi bukan berarti tidak ada poin belajarnya. Dari kegiatan ini kita belajar bahwa kita bisa menggunakan bahan lokal untuk mengganti bahan impor.

Selain menghemat biaya yang dikeluarkan, dengan menggunakan bahan lokal kita turut menjaga Bumi dengan “menghemat karbon.” Maksudnya adalah kita tidak ikut-ikutan menghasilkan polusi dari kegiatan mengimpor barang.

Cupcake Tape dan Ganyong” hasil belajar Komunitas Engkang-engkang

Seru kan? Selanjutnya resep-resep inovatif yang pernah dicoba pada pertemuan komunitas bisa dipraktekkan sendiri oleh para ibu-ibu, dan hasilnya bisa dijual di warung. Anak-anak jadi bisa jajan makanan sehat yang bebas bahan kimia berbahaya. Satu hal lagi yang tak kalah penting: jajanan ini ramah lingkungan karena tidak menggunakan plastik sebagai pembungkus.

Memasak hanyalah satu dari banyak kegiatan yang dilakukan komunitas Engkang-engkang. Banyak kegiatan menarik dan sarat makna lainnya yang dilakukan oleh ibu-ibu anggota komunitas ini. Beberapa di antaranya adalah belajar memisah sampah, mengkampanyekan anti buang sampah di sungai, berkebun, mengkompos, dan membuat tas dari bungkus kemasan plastik. Yang pasti semua kegiatan tersebut mengacu pada prinsip pembangunan berkelanjutan.

(Dokumentasi Maria Hardayanto)
.

Kegigihan Bunda yang tak kenal lelah kini telah membuahkan hasil. Selain memiliki lingkungan yang lebih bersih dan asri, kedua komunitas ini kini cukup dikenal sebagai salah satu “komunitas hijau” kota Bandung.

Banyak orang yang telah mengunjungi dan banyak media yang telah meliput kedua tempat ini. Kebanyakan orang datang untuk belajar tentang social entrepreneurship. Bahkan Wakil Walikota Bandung, Bapak Ayi Vivananda sering berkunjung ke Komunitas Engkang-engkang karena beliau sangat suka dengan semangat para ibu ini.

Pada bulan Juli 2012, kedua kampung ini juga terpilih sebagai kampung percontohan perubahan iklim Jawa Barat. Hebat kan? 🙂

.

Selalu Ada Cinta untuk Keluarga

Dengan kegiatannya yang seabreg, tidak sejengkal pun Bunda menjadi jauh dari keluarganya. Keluarga adalah hal terpenting dalam hidup Bunda. Kecintaan inilah yang membuat beliau memilih menjadi ibu rumah tangga setelah selama beberapa tahun mencoba berkarir pasca lulus dari Fakultas Ekonomi Uninus Bandung. Alasannya sederhana, Bunda tidak rela jika anak-anaknya lebih dekat dengan pembantu daripada dengan dirinya.

Mesra bersama sang suami

Foto anak-anak di dinding rumah

Bahkan setelah anak-anaknya dewasa, Bunda masih memperlakukan mereka dengan manja. Tidak ada yang salah, toh memang seharusnya begitulah hubungan seorang ibu dengan anak-anaknya. Bunda selalu berbagi cerita tentang apa yang beliau kerjakan di luar rumah kepada anak-anaknya. Begitu pula sebaliknya, Bunda selalu mendengarkan cerita khas anak muda dari anak-anaknya, sambil mencoba membantu memberikan solusi apabila dibutuhkan.

Ada kalanya di antara anggota keluarga muncul perbedaan pendapat. Biasanya bunda menyikapinya dengan santai dan memilih cara musyawarah untuk mencapai mufakat. Bunda berprinsip bahwa setiap anggota keluarga punya hak yang sama dalam mengutarakan pendapat, tidak pandang bulu apakah posisi mereka sebagai anak atau orang tua. Tapi tentu saja ada batasan-batasan tertentu yang tidak bisa dilanggar.

Rasa cinta kepada keluarga Bunda curahkan dengan selalu menyediakan makanan sehat di meja makan. Jika ada jadwal berkegiatan di luar rumah, Bunda akan mempersiapkan bahan-bahan masakan sejak sehari sebelumnya, “jadi besok paginya tinggal sreng, sreng, sreng…” tambahnya.

Bukan hanya itu, Bunda juga berusaha menciptakan suasana rumah yang asri. Tentu saja “asri” menurut kamus pribadi beliau. Bunda memelihara banyak tanaman hias dan tanaman pangan di kebun depan dan belakang rumah. Ada pula kolam lele dan tong pengkomposan untuk mengolah sampah organis sisa dapur dan makanan. Melalui keasrian ini juga Bunda mengajarkan anak-anaknya untuk mencintai alam dan lingkungan.

Halaman depan (kiri) dan halaman belakang (kanan) rumah Maria Hardayanto

Tong sampah organis (kiri) dan non-organis (kanan) di rumah Maria Hardayanto

.

Menemukan Tuhan dalam Pencarian

Bunda adalah seorang muallaf. Keputusan ini beliau ambil bukan karena alasan menikah atau atas paksaan orang lain, tapi berdasarkan hasil pencariannya sendiri. Satu hal lagi yang membuat saya kagum…. Bukan karena apa agama yang beliau pilih, tapi bagaimana proses beliau menemukan Tuhan dalam perjalanan hidupnya.

Bunda mempelajari agama Islam secara otodidak. Bunda bercerita, pada tahun 1980-an beliau membeli buku belajar mengaji dan buku petunjuk sholat di pinggir jalan yang saat itu harganya hanya Rp 1.000,00. Bunda membaca dan mempelajari buku-buku itu pada perjalanan menuju atau sepulang dari kantor menggunakan bis kota. Tekad Bunda sangatlah kuat: sekali masuk Islam, maka beliau harus menjadi muslim yang baik.

Sekarang, saat sudah fasih membaca Al-Qur’an, Bunda secara rutin mengikuti pengajian. Selain menambah relasi, kegiatan ini beliau manfaatkan untuk menebar ‘virus-virus’ hijau. Menjaga lingkungan juga termasuk ibadah, maka menyebarkan virus hijau bisa dihitung juga sebagai dakwah. 🙂

.

Tetap Tampil Cantik

Di balik kesibukannya, Bunda masih sempat merawat diri. “Bagaimanapun orang pertama kali menilai kita dari penampilan fisik. Kalau kita bersih dan rapi, orang akan lebih mau mendengar kita,” katanya bersemangat.

Sebenarnya tidak sulit untuk merawat kecantikan ala bunda. Cukup cuci muka setiap hari dan makan makanan yang sehat. Sekali-sekali boleh juga ke salon untuk memanjakan diri dan melakukan perawatan yang tidak bisa kita lakukan sendiri di rumah.

Pakaian dan asesoris Bunda sederhana saja, tidak mewah. Tapi Bunda sangat lihai dalam memadupadankan pakaian dengan asesoris sehingga enak dipandang mata. Coba lihat saja penampulan bunda di foto-foto ini, matching kan? 😉

Maria Hardayanto

Suatu saat pernah kami membahas tentang salah satu foto Bunda yang dipasang di Facebook. Bunda bercerita bahwa beliau memang mempersiapkan satu foto yang bagus, yang kelak akan dikenang saat beliau tiada.

Suatu hari saudara saya meninggal, dan di depan peti matinya terpasang foto terbaiknya semasa hidup. Saya jadi kepikiran bahwa saya harus punya foto yang bagus, jadi saat sudah tiada nanti, saya dikenang seperti pada foto itu,” katanya. Ya ampun, Bunda.. 😀

Maria Hardayanto

.

Belajar dan Menjadi Inspirasi melalui Dunia Maya

Banyak hal yang Bunda capai saat ini merupakan hasil dari proses belajar secara mandiri. Adanya internet membuat proses belajar mandiri dan berjejaring menjadi lebih mudah dan cepat. Inilah salah satu keuntungan hidup di era digital.

Melalui internet pula Bunda menjadi sumber inspirasi. Saya mungkin tidak akan pernah tahu sosok ibu rumah tangga moderen ini jika saya tidak berjejaring dengan beliau melaui Facebook. Saya juga mungkin tidak akan pernah tahu tentang Komunitas Engkang-engkang jika Bunda tidak menuliskannya di blognya. Begitu pula dengan orang-orang lain.

Maria Hardayanto: ibu rumah tangga yang melek teknologi dan internet

Kini Bunda telah menjadi inspirasi bagi banyak orang, khususnya kaum perempuan. Bunda berharap ibu-ibu rumah tangga di Indonesia tidak cepat puas dengan apa yang dimiliki sekarang. Mereka harus terus merasa haus akan pengetahuan dan pengalaman baru, karena sejatinya banyak hal yang bisa dilakukan oleh ibu rumah tangga yang bisa bermanfaat bagi dirinya sendiri, keluarga, maupun lingkungannya.

Hidup di negara berkembang memang dipenuhi banyak “masalah:” harga BBM yang semakin mahal, harga sembako yang melangit, lingkungan yang semakin kotor, dan lain sebagainya. Menurut Bunda, berkeluh kesah dan menyalahkan pemerintah tidaklah berguna. Lebih baik kita gunakan energi dan waktu yang kita punya untuk melakukan sesuatu yang sederhana tapi bermanfaat.

Terima kasih Bunda, karena telah menjadi inspirasi bagi kami, kaum perempuan. Melalui pencapaian selama ini, Bunda telah membuktikan bahwa usia dan gender bukanlah penghalang untuk maju dan membawa perubahan. Bunda juga telah mematahkan anggapan miring bahwa menjadi ibu rumah tangga berarti berhenti beraktualisasi diri dan tidak turut memajukan bangsa. Semoga angin yang menerbangkan “virus-virus” yang Bunda ciptakan selalu berhembus sehingga virus-virus ini hinggap di semakin banyak tempat.

Mari kaum perempuan, ikuti langkah Bunda. Siapkan tekadmu dan mulailah melakukan perubahan sederhana yang bermanfaat! 🙂

***

Klik link-link berikut untuk terhubung dengan Bunda (Maria Hardayanto).    

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam kontes Fastron Blogging Challenge. Fastron Blogging Challenge (FBC) adalah kompetisi blog yang mengangkat tema-tema yang erat kaitannya dengan kehidupan bermasyarakat dan perubahan sosial. Pada ajang FBC yang pertama, tema yang diangkat adalah Women In Digital Era.

18

Nujuh Bulanan (yang Diusahakan) Zero Waste

Alhamdulillah pada Selasa, 17 Juli 2012 lalu, acara nujuhbulanan yang saya beserta keluarga selenggarakan secara kecil-kecilan berjalan dengan lancar.

Kalau mau ngikutin adat Jawa sih, harusnya pada usia tujuh bulan kehamilan pertama, dilakukan upacara tingkeban yang super-duper rumit. Berhubung bakal riweuh ini-itu (apalagi menjelang bulan Ramadhan), saya memilih untuk tidak melakukan upacara ini, melainkan mengambil inti sarinya saja, yaitu berdoa demi keselamatan si jabang bayi.

Saya dan keluarga memilih mengadakan acara pengajian kecil-kecilan saja. Kami mengundang ibu-ibu di kompleks perumahan dan ibu-ibu yang biasa ngaji di masjid untuk mengaji di rumah, lalu makan-makan, dan setelah itu pulang bawa oleh-oleh. Hehehe, simpel sekali ya? 🙂

Nah, mumpung acaranya simpel, saya mengusahakan acara ini supaya bersifat zero waste. Mengadakan acara zero waste memang bukanlah hal mudah, apalagi kalau posisi kita di acara ini cuma “anak bawang.” Untungnya rayuan maut saya berhasil membuat si mamah setuju untuk ber-zero waste walaupun belum bisa 100%. :mrgreen:

Hal pertama yang terpikirkan adalah bagaimana menyuguhkan makanan di rumah secara zero waste (maksudnya makanan yang tidak dibawa pulang). Untungnya karena “syarat”-nya gampang, yaitu cuma menyediakan makanan kaya karbohidrat sebanyak 7 macam (atau lebih, yang penting jumlahnya ganjil), bagian ini sangat bisa dibuat zero waste. Kami menggunakan nyiru yang dilapisi daun pisang, lalu rebusan karbohidrat tadi ditata di atasnya. Ibu-ibu yang datang akan mengonsumsi makanan yang tidak biasa dihidangkan di perkotaan ini menggunakan piring kecil. 🙂

Rebusan karbohidrat (pisang, talas, “sagu,” ubi, singkong, ganyong, kacang tanah, kacang Bogor, jagung manis)

Kedua, untuk makanan yang dibawa pulang (oleh-oleh)–yang biasanya di perkotaan dibungkus menggunakan kotak kertas atau styrofoam–kami menggunakan besek bambu yang dilapisi daun pisang. Nah, untuk yang satu ini perjuangannya lumayan susah. Selain harus melobi si mamah untuk setuju bikin paketan nasi timbel, saya juga harus mencari besek bambu yang sudah semakin sulit didapat di kota ini. Akhirnya berkat rayuan maut saya, si mamah yang biasanya tukang ngatur itu setuju dengan usul saya. Horeee… :mrgreen:

Besek berisi makanan ini nantinya akan dibawa oleh ibu-ibu menggunakan tas jinjing. Awalnya kami ingin menyediakan tas jinjing kain, tapi karena biayanya akan terlalu mahal, kami memilih tas dari bahan yang lebih murah saja tapi tetap anti-kresek, yaitu non-woven (atau apa lah namanya, saya kurang hafal). Sengaja tas-tas jinjing ini tidak kami berikan sablonan kata-kata yang berhubungan dengan acara ini, supaya ibu-ibu ini mau pakai terus tas ini untuk keperluan lain tanpa perlu tersandung rasa malu karena ada label “gratisan” di atasnya.

Besek bambu

Nasinya dibuat “timbel” (dibungkus dengan daun pisang menggunakan teknik khusus), lalu untuk lauknya dibuat “takir” dari daun pisang.

Menunya sederhana saja: nasi timbel, oseng tempe, perkedel kentang, gepuk daging sapi (plus kerupuk, lalab, sambal, dan buah pisang). Di bagian bawahnya ada satu besek lagi berisi rujak dan kue-kue.

Besek nasi dan kue yang sudah dibungkus tas jinjing (anti kresek, booo…).

Rujak yang harus pake delima, yang mana delimanya susah banget dicari. Akrhinya pake delima impor deh.

Lemper, satu-satunya snack gacoan yang ga pake plastik.

Ternyata ada keuntungan lain yang didapat dari usaha ini selain (tentu saja) minimnya jumlah sampah. Daun pisang memberi aroma khas yang membuat cita rasa makanan menjadi lebih mantap. Penggunaan besek juga ternyata membuat ibu-ibu itu senang karena mengingatkan mereka pada masa kecil mereka. Kalau kita bisa bagi-bagi rejeki, sambil melestarikan tradisi, dan memberi perasaan senang yang lebih banyak kepada orang lain, itu kan seru banget…. :mrgreen:

Sayangnya, beberapa jenis makanan dalam paket makanan ini “memaksa” kami untuk tetap menggunakan plastik, antara lain: buah pisang, kerupuk, lalaban, sambal, kue-kue, dan RUJAK. Rujak adalah syarat wajib nujuhbulanan, jadi ga bisa ga ada. (Btw ini wajib versi adat Jawa ya, bukan versi agama :mrgreen:). Sama satu lagi: AMDK (air minum dalam kemasan). Saya ga berhasil merayu si mamah untuk ga menyertakan AMDK dalam kotak kue, euy. Entah kenapa AMDK ini seolah-oleh merupakan kewajiban dalam dunia perkotak-kue-an nasional. Jadi aja ga bisa 100% zero waste.

Tapi kan yang penting kita sudah berusaha. Saya percaya, hal-hal baik yang dilakukan dengan cara yang “baik” akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik lagi. Mudah-mudahan usaha zero waste ini memberi pengaruh positif kepada si dede di dalam perut saya ini untuk menjadi penerus pejuang lingkungan, membantu ibunya, tante-tante dan om-omnya menciptakan masa depan yang lebih baik. Sehat-sehat terus ya dede… tinggal 2 bulan lagi nih, jangan nakal ya. 😀

24

Sejenak Lahir Kembali di Babakan Siliwangi

Sebagai warga negara Indonesia, kita berhak berbangga diri, karena dengan luasnya wilayah dan tingginya keanekaragaman hayati yang dimiliki, hutan Indonesia kini menjadi tumpuan dunia. Kita juga sering melantangkan bahwa hutan adalah penyangga kehidupan yang harus dijaga dengan baik. Tapi apakah kita—masyarakat kota—benar-benar paham tentang hutan? Pernahkah Anda melihat bagaimana bentuknya, mencium aromanya, menginjak tanahnya, atau bermain dengan binatang-binatang yang tinggal di dalamnya?

Jika Anda lahir dan dibesarkan di kota besar, mungkin Anda belum pernah berinteraksi dengan hutan karena sulitnya akses hutan dari kota. Lalu dengan kondisi seperti ini, masih layakkah anggapan bahwa “tinggal di kota” adalah sebuah simbol kemajuan?

Kotor dan menyeramkan. Mungkin dua hal inilah yang terpatri kuat di benak masyarakat kota tentang hutan. Begitu kuatnya, sehingga mereka cenderung menjauhi hutan. Terlepas dari kedua stigma tersebut, sejatinya hutan memiliki banyak fungsi dan manfaat bagi manusia, bahkan melebihi apa yang kebanyakan kita pikirkan selama ini. Yang kita tahu, hutan menghasilkan oksigen dan menyimpan air dalam jumlah besar, tapi tahukah Anda bahwa hutan juga bisa mejadi sarana pendidikan dan bersosial?

Memiliki banyak warna dan suara, hutan sangatlah cocok menjadi tempat bermain dan belajar bagi anak-anak yang sedang tumbuh dan berkembang. Semakin beragam warna dan suara yang ditangkap oleh panca indera anak- anak, semakin terpicu pula otak mereka untuk berkembang. Lasekapnya yang luas memungkinkan anak-anak berlari dengan bebas, membuat saraf motoris mereka terlatih. Suasananya yang tentram dan mendamaikan hati membuat hutan juga bisa menjadi sarana yang sangat cocok bagi orang dewasa untuk berkumpul dan bersosial. Sambil ditemani nyanyian serangga dan hembusan angin sepoi-sepoi, kegiatan bersosial akan terasa semakin mengasyikkan.

Bunga berwarna-warni di salah satu sudut Babakan Siliwangi.

Tak ayal, hutan menjadi hal mutlak yang perlu ada untuk menemani manusia di mana pun manusia beraktivitas, di desa maupun di kota. Sayangnya tidak banyak kota besar di Indonesia memiliki hutan yang berdiri kokoh di antara lintasan-lintasan jalan aspal dan gedung-gedung beton. Sepertinya peraturan pemerintah yang mewajibkan seluruh kota memiliki minimal 30% RTH (Ruang Terbuka Hijau) hanya dianggap angin lalu. Belum lagi terdapat mispersepsi tentang definisi RTH. Di kota-kota besar, orang menganggap taman kota yang 80%-nya ditutupi aspal atau semen adalah RTH. Padahal sejatinya RTH lebih dari itu. RTH seharusnya berbentuk hutan, yang 100% tanah dan tumbuhan, bukan yang sebagian besar ditutupi aspal atau semen.

Tapi, apakah mungkin kita memiliki hutan di tengah kota? Jawabannya adalah sangat mungkin! Kenapa tidak? Tapi tentu saja hanya jika kita menghendakinya. Jika tidak percaya, datang saja ke kota Bandung, kota tempat kami tinggal. Di Bandung, Anda bisa menemukan kawasan bernama Babakan Siliwangi, sebuah hutan mini dengan luas 3,8 hektar yang terletak di jantung kota Bandung. Anda mungkin tidak akan percaya bahwa ini adalah hutan buatan, karena pohonnya tinggi-tinggi dan bermacam-macam, juga terdapat banyak hewan liar di sana.

Hutan kota yang unik ini terletak di antara Jl. Dago dan Jl. Cihampelas, dua ruas jalan yang paling ramai dan merupakan landmark kota Bandung. Betul, Babakan Siliwangi bukan hutan alami. Pada masa penjajahan Belanda, kawasan ini merupakan hamparan sawah yang cukup luas, yang kemudian dialifungsikan menjadi hutan melalui penanaman berbagai jenis pohon. Dan kini, voila…..! Jadilah hutan kota dengan 48 jenis pohon, 14 jenis burung, dan beberapa jenis mamalia!

Keberadaan hutan di tengah kota Bandung yang semakin sarat penduduk dan bangunan bertingkat bagaikan kehadiran sebuah oase di padang pasir. Bayangkan saja ada hutan lebat di sebelah jalan raya yang sarat kendaraan bermotor. Di mana di sana orang dewasa bisa melepas lelah dan penat seusai bekerja seharian… anak-anak bisa belajar tentang alam dan segala sesuatu tentang kehidupan sambil bermain dan berlari-larian di lantai hutan… dan kawula muda bisa berkumpul dan bersosial dengan memanfaatkan keterbukaan ruangnya. Babakan Siliwangi benar-benar aset yang tak ternilai bagi kota Bandung!

Babakan Siliwangi memiliki sejarah yang cukup panjang. Dan pada tahun 2011, sejarah panjang itu diperkaya dengan sejarah baru yang mendunia. Pada bulan September 2011, kawasan Babakan Siliwangi ditetapkan sebagai hutan kota pertama yang diakui dunia. Status baru ini diresmikan di sela Konferensi Internasional Anak-anak dan Pemuda TUNZA, setelah beberapa hari sebelumnya komunitas “UDUNAN” yang merupakan bentuk kerja sama puluhan komunitas di kota Bandung melakukan aksi “Save Babakan Siliwangi”. Pada aksi yang melibatkan ratusan relawan dan membakar kembali semangat anak muda kota Bandung ini, dilakukan pelepasan sebagian aspal jalan yang melintang di Babakan Siliwangi, dan sebagai gantinya dilakukan penanaman berbagai jenis pohon di kawasan tersebut. Pada waktu yang berdekatan, dibangun pula sebuah jembatan kanopi hasil kerja sama UNEP PBB dengan komunitas Bandung Inisiatip. Pembaruan-pembaruan wajah Babakan Siliwangi ini membuat hutan kota dunia ini berdiri dengan semangat baru.

Belajar menanam pohon di acara "Save Babakan Siliwangi". (dok - HUB! Bandung)

Pohon yang ditanam di area aspal yang dilepas.

Jembatan Kanopi

Percuma saja punya hutan kota yang diakui dunia jika masyarakat yang tinggal di sekitarnya tidak memanfaatkannya dengan baik. Selain aktivitas para seniman di Galeri Sanggar Olah Seni (SOS) yang terletak di dalam hutan, hampir tidak ada aktivitas lain di Babakan Siliwangi. Menyoal ini, komunitas HUB! hadir dengan pendekatan yang menarik: mengajak masyarakat bermain bersama di Babakan Siliwangi. Komunitas bernama panjang “Hayu Ulin di Baksil!” (Indonesia: Mari Kita Main di Baksil!) ini lahir pada tahun 2011, dengan hasrat mengajak masyarakat meramaikan Babakan Siliwangi melalui aktivitas-aktivitas positif sesuai kegemaran masing-masing. Diharapkan dengan semakin banyak orang beraktivitas dan merasa memiliki Babakan Siliwangi, maka akan semakin banyak pula orang yang peduli terhadap hutan kota ini. Secara rutin komunitas ini melakukan kegiatan-kegiatan menarik, di antaranya bersepeda, fotografi, menggambar komik, membuat lomba desain rumah burung, serta kegiatan-kegiatan menarik lainnya di kawasan Babakan Siliwangi. Semoga aksi mereka berbuah manis! 🙂

Contoh rumah burung untuk lomba desain rumah burung. (dok - HUB! Bandung)

Menikmati hutan kota dari jembatan kanopi.

Dengan kemampuannya mengatur dan memelihara diri sendiri, hutan tidak membutuhkan terlau banyak campur tangan manusia. Manusia hanya perlu melakukan inisiasi dan perawatan pada tahap awal. Dengan segala keuntungan yang ditawarkan oleh hutan, masyarakat seharusnya tidak perlu lagi pusing menentukan apakah mereka membutuhkan hutan kota atau tidak. Hutan kota adalah lansekap terbaik yang dibutuhkan oleh sebuah kota untuk menjadi kota yang sehat. Tidak ada lansekap lain yang bisa menggantikan posisinya…  juga keindahannya. Coba, beri lihat kepada kami sudut kota yang lebih indah dari ini:

***

Itu tadi sepotong cerita tentang hutan kota di Bandung. Bagaimana dengan kota tempat Anda tinggal, sudahkah memiliki hutan kota? Jika belum, siapkah Anda menjadi agen perubahan? Jika masyarakat dan komunitas-komunitas di kota Bandung bisa mewujudkan mimpi mereka memiliki hutan kota yang nyaman dan asri, masih ragukah Anda bahwa Anda juga bisa melakukannya?

Pepatah Sunda mengatakan “Leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak.” Jika hutan rusak, air akan habis, dan manusia akan sengsara. Mari selamatkan hutan yang tersisa, dan ciptakan hutan-hutan baru! Salam Lestari! 🙂

————————————————————————————————-

Artikel ini dibuat untuk kepentingan lomba menulis blog 3on3 Competition 2011 tenang “Open Public Space” yang diselenggarakan oleh ON|OFF, hasil karya Rima Putri Agustina, Rizki Ersa Heryana, dan Nicky Irawan.

6

Drawing Day #16 “My Turning Point in Life”

Ternyata benar apa kata rumput yang bergoyang, bahwa hidup manusia tidak akan pernah bisa disangka-sangka. Seperti juga hidup saya.

Pada suatu hari di bulan Agustus tahun 2000, di minggu pertama saya sekolah di SMA Negeri 1 Bandung, teman saya Dian Marliana Srikaton mengajak saya untuk bergabung dengan organisasi bernama “Bumi Satu.” Saya yang saat itu masih ababil dan belum tahu mau memilih organisasi apa yang akan saya jalani selama 3 tahun ke depan, akhirnya mengiyakannya.

Sebenernya saya kurang sreg dengan keputusan yang saya buat, karena saya pikir organisasi ini tidak populer (yah, namanya juga ababil, ngerti lah :p). Tapi saat itu saya tidak tega menolak ajakan Dian, apalagi setelah Dian bilang “Pliiiiiis, sodara saya minta saya ngajakin kalian untuk masuk ke situ.”

Maka bergabunglah saya sebagai anggota Bumi Satu, organisasi SMA pertama di Indonesia yang bergerak dalam bidang lingkungan hidup. Benar dugaan saya, organisasi ini memang tidak populer, pendaftarnya hanya 6 orang pada tahun itu: saya, Dian, Rani, Evi, Gilang, dan Made. Tapi yang tersisa sampai akhir tahun 2003 hanyalah 5 orang, karena Made mati gaya dan akhirnya beralih ke klub skateboard.

Pada jaman saya SMA dulu, isu-isu lingkungan hidup belum sesanter sekarang. Bahkan saking bingungnya mau melakukan aktivitas apa, kami sering kali menyibukkan diri mengurusi tanaman di greenhouse. Lumayan, sambil ngurusin tanaman biasanya kami bisa curi-curi pandang anak-anak Tae Kwon Do yang sedang latihan tendang-tendangan. :mrgreen:

Kami memang tidak punya banyak aktivitas internal selain main tanaman dan main ular, tapi senior kami seringkali mengajak kami main ke LSM sana-sini, ikutan aksi ini-itu, dan diskusi segala macem. Sampai akhirnya saya yang ababil saat itu menemukan bahwa “lingkungan hidup” adalah dunia yang sangat menarik.

Bocah Ababil

Ketertarikan ini kemudian menyeret saya untuk berkarir di bidang lingkungan hidup selepas saya lulus kuliah…. dan saya berniat untuk terus konsisten berkarir di bidang ini sampai tua. Doakan saja ya! *Takeshi Castle mode on* :mrgreen:

Saya merasa sangat beruntung 11 tahun lalu berteman dengan Dian, si gadis Pontianak yang lugu. Dan saya bersyukur saya yang ababil saat SMA dulu mau mencoba sesuatu yang baru, yang menurut saya tidak populer. Jika tidak, mungkin saat ini saya berkarir sebagai akuntan atau artis. *ngarep* :mrgreen:

Hidup memang penuh dengan kejutan, jadi jangan pernah tolak kesempatan yang datang kepada kita saat ini. Kita tidak akan pernah tahu apakah hal itu akan mengantarkan kita pada turning point hidup kita selanjutnya. So, just try it! 🙂

4

WWF Forest Friends Uckermark Trip – Day 1: Ich Liebe Uckermark!

Lychen, Uckermark, Jerman, 24 Juli 2011

Yeah, akhirnya saya bertemu lagi dengan Lena, setelah sekitar 2 bulan lalu kami berpetualang bersama mengarungi lebatnya Taman Nasional Tesso Nilo bersama gajah-gajah Flying Squad dan mencari jejak Harimau Sumatera. Kali ini giliran saya mengunjungi Lena di Jerman, tepatnya di Uckermark. Ya, benar, kunjungan ini masih merupakan bagian dari program WWF Forest Friends, dan ini adalah bagian terakhir dari perjalanan kami.

Saya dan Annisa tiba di Berlin pada 24 Juli 2011 pukul 08:30 pagi waktu setempat, setelah menempuh perjalanan sekitar 18 jam (termasuk transit di Kuala Lumpur dan Amsterdam). Di Bandara Berlin, kami bertemu Astrid Korolczuk, seorang perwakilan WWF Jerman, yang kemudian memboyong kami ke Berlin Hauptbahnhof, stasiun kereta api utama di Berlin. Di Berlin Hauptbahnhof saya kemudian bertemu Lena Gottschalk, partner Forest Friends saya, dan juga Hagen Betzwieser dokumentator kegiatan kami selama seminggu ke depan). Senangnya bertemu kembali dengan Lena! 🙂

Saat ini sedang musim panas di Berlin. Kata Astrid, kami beruntung karena cuaca saat itu cukup hangat dibanding hari-hari sebelumnya, yaitu sekitar 20 derajat Celcius. Tapi tetap saja, bagi saya cuaca hari itu sangat dingin. Walaupun awan cukup tebal menutupi langit, syukurlah kami masih bisa menikmati secuil sinar matahari di sore hari.

Berlin Hauptbahnhof

(c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Berlin sangat sepi hari ini. “Sebagian besar pertokoan di Berlin tutup pada hari Minggu, dan orang banyak menghabiskan waktu akhir pekan mereka untuk bertemu sanak famili,” tutur Astrid. Saya sangat suka Berlin. Saya selalu suka kota yang rapi, bersih, dan yang paling keren: punya jalur sepeda.

Walaupun di Bandung (kota asal saya) juga ada jalur sepeda, tapi kualitasnya sangatlah berbeda dengan di sini. Di Berlin, para pesepeda bisa menggoes sepedanya dengan nyaman tanpa harus was-was berbaku hantam dengan para pengguna mobil atau pejalan kaki. Saya bilang sangat berbeda, karena di Bandung jalur sepeda beririsan dengan jalan raya dan trotoar.

Jalur sepeda di Berlin.

Hari ini kami berangkat dari Berlin Hauptbahnhof menuju Uckermark Lake Park (Uckermark akan menjadi lokasi kegiatan kami selama seminggu ke depan) menggunakan kereta api dengan waktu tempuh selama 1 jam. Uckermark adalah sebuah wilayah administratif yang memiliki kawasan lindung paling luas di Jerman, yaitu sekitar 40.604 ha dari luas total 3.058 km². Di luar dugaan, kami tiba 2 jam lebih cepat di Uckermark. Sekitar pukul 14:00 waktu setempat, kami berjalan-jalan berkeliling kompleks motel Treibholz, tempat kami menginap, dengan ditemani Markus sang pemilik motel.

Motel tempat kami menginap (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Berjalan-jalan di sekitar motel (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Jalan kecil di sebelah kanan motel.

Muara sungai yang menuju salah satu danau di Uckermark.

Menurut penuturan Markus, Uckermark memiliki bentuk yang menarik karena mendapat pengaruh besar dari fenomena pencairan es pada jaman es terakhir. Saat es encair, air dan angin menggeser bebatuan dan pasir ke tempat-tempat tertentu yang kemudian membentuk bukit, lembah, dan sungai. Markus menambahkan, bebatuan sisa jaman es terebut kemudian banyak digunakan oleh masyarakat setempat untuk membuat bangunan seperti rumah atau gereja.

(c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Gereja yang tersusun atas bebatuan sisa jaman es.

Selama berabad-abad, Uckermark ditanami berbagai macam tumbuhan, sehingga kini menghasilkan keragaman tumbuhan yang cukup tinggi. Di Uckermark, kita bisa menemukan beberapa spesies tumbuhan endemik Eropa seperti Marsh Orchid (Dactylorhiza majalis), Feather Grass (Stipa pennata), Siberian Bellflower (Campanula sibirica), serta burung Lesser Spotted Eagle (Aquila pomarina), dan Great Bittern (Botaurus stellaris).
Di hari pertama ini, kami belum menemukan banyak tumbuhan dan binatang endemik. Tapi kami sangat beruntung karena kami bisa melihat Bumblebee (Bombus sp.) yang terancam punah karena habitatnya semakin lama semakin berkurang. Kami juga menemukan beberapa spesies bebek dan ikan di danau yang jernih.

Bumblebee (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Pengalaman kuliner hari ini sangat menarik. Saat makan siang, sekitar pukul 16:30 (atau 21:30 WIB), saya memesan salad sayuran dengan tujuan agar tidak terlalu kenyang. Tapi tak dinyana, ternyata salad yang disajikan berukuran jumbo. Bahkan ekstra jumbo, karena ukurannya 3-4 kali lebih besar dari porsi yang biasa saya santap di Indonesia. Sayang sekali saya tidak menghabiskannya. Untuk pelepas dahaga, saya mencoba Apfelsaftschorle (sari apel yang dicampur dengan air soda). Oh, saya suka sekali Apfelsaftschorle! 🙂

Untuk makan malam, saya memesan omelet dan kentang (ah, sayang sekali saya lupa namanya). Sebenarnya pada menu ini disajikan juga sepiring kecil salad, tapi saya memesan menu tanpa salad, karena khawatir tidak bisa menghabiskannya lagi. Sedangkan untuk minumannya, saya mencoba yang Radler (air limun yang dicampur dengan bir). Omelet dan kentangnya terlalu asin bagi saya, tapi Saya suka sekali Radler! Saya mau Radler lagi…! 🙂

Radler

Saya tidak sabar menunggu esok hari untuk menikmati indahnya alam Uckermark, mengangumi bangunan-bangunan menariknya, mendengarkan sejarah-sejarahnya, sambil mencicipi kuliner khasnya, dan yang terpenting: berbagi keceriaan bersama Lena Gottschalk, my lovely Forest Friend. 🙂

Lenna Gottschalk

Sampai jumpa di reportase selanjutnya. 🙂