46

UUJ (Ujung-ujungnya Jablay)

Pernah ga teman-teman suatu saat mendapat telepon atau SMS salah sambung? Pasti pernah dong….

Kalau salah sambung yang berujung pada minta kenalan? Mungkin pernah juga.

Tapi bagaimana dengan salah sambung ngirim foto, terus orangnya nongol di Facebook? Aneh bin ajaib kalo kata saya mah.

Saya ga ngerti juga kenapa, dalam kehidupan berhenfon saya selama 8 tahun ini, saya sering banget dapet telepon atau SMS salah sambung yang ujung-ujungnya ngajak kenalan. Seolah-olah nomor henfon saya ini terpampang jelas di billboard yang memang diperuntukkan bagi orang yang lagi nyari temen pacar. Kenapa saya tulis “pacar” dan bukan “teman”? Karena memang biasanya itulah tujuan sejati mereka.

Saya pernah sesekali iseng menanggapi orang-orang semacam ini, sekedar ingin tahu apa mau mereka. Dan ternyata memang benar, mereka ini adalah kaum UUJ “Ujung-ujungnya Jablay”. :mrgreen:

Continue reading

57

Eni Komengs? (Any Comments?)

“Comment back or I’ll kick your ass.”
Kalau saya komen di blog Anda, berarti Anda HARUS komen balik di blog saya.

Asumsi ini kali ya yang ada di benak para narablog jaman sekarang. Sori, bukannya sok tua atau gimana, tapi fenomena yang akan saya ceritakan ini memang lebih sering saya temukan belakangan ini dibanding beberapa tahun lalu.

Dulu, orang ngomeng di blog orang lain karena memang pengen dan perlu untuk ngomeng. Kalau memang tulisan seseorang tidak perlu dikomeng, atau bingung mau ngasih komeng apa, ya tidak perlu memaksakan diri ngasih komeng. Tapi kayaknya jaman sudah berubah. Sekarang, aktivitas komeng-mengkomeng lebih seperti aktivitas jual beli, bukan aktivitas pertemanan.

Ai komeng yu komeng… yu tidak komeng balik, ai tidak akan komeng-komeng lagi.

*duh, kebanyakan nulis “komeng” nih. Masukin foto si Komeng dulu ah*

*Setelah foto ini, saya ga pake kata “komeng” lagi. Geli bacanya.*

Sah-sah aja sih kalau kita mau nganut paham ai komen yu komen. Tapi jangan sampai saking pengennya banyak orang yang ngunjungin balik blog kita, kita jadi mengurangi esensi aktivitas komen-mengkomen ini.

Pernah ga temen-temen nemu komen yang ga nyambung sama tulisan yang sedang dikomen? Saya cukup sering. Misalnya (salah satu yang paling saya ingat selama ini) di postingan saya tentang syukuran wisuda tahun 2007. Ga usah dilihat siapa-siapanya deh, intinya di situ ada orang yang ngasih ucapan selamat wisuda, padahal jelas-jelas sejak awal tulisan saya ga bilang bahwa itu acara wisudaan saya. Setelahnya, oknum ini acapkali memberi komen ga nyambung di blog saya.

Belakangan, setelah saya mencoba menulis blog lagi, saya semakin sering aja nemu fenomena semacam ini, baik di blog saya maupun di blog orang lain, yang mungkin jadi indikasi bahwa semakin banyak saja blogwalker yang asal komen tanpa membaca tulisan seseorang terlebih dahulu.

Selalu ada kemungkinan dari A-Z. Bisa saja orang tersebut ga baca suatu tulisan karena terlalu panjang. Terkadang saya juga melakukannya kalau saya lagi ga punya banyak waktu. Tapi minimal sebelum ngasih komen, saya akan mencoba menangkap dulu apa pokok pikiran dari tulisan tersebut, sehingga saya bisa ngasih komen yang ga bikin si empunya blog merasa gendok.

Bukannya asik ya kalau komennya jadi banyak?

Saya sih seneng-seneng aja komen yang masuk ke blog saya banyak.
Tapi kalau boleh milih, saya lebih suka komen yang saya dapat sedikit tapi tulisan saya beneran dibaca. Saya ga berharap tulisan-tulisan di blog ini dibaca banyak orang, karena toh ini adalah blog catatan pribadi yang ga penting. Tapi tetep, saya kurang suka kalau ada orang yang memanfaatkan blog ini tanpa mau membacanya terlebih dahulu.

Boleh dong saya bilang ‘memanfaatkan’? Kalau ada orang yang komen tanpa baca tulisannya dulu, kira-kira menurut temen-temen, apa sih tujuannya? Ya, kita sama-sama tau lah.. ga usah dibahas lagi.

Lebih aneh lagi kalau *ini kisah nyata nih* ada orang yang ngasih komen ga nyambung, udah gitu minta kita berkunjung ke blognya, lalu minta kita ngomen di sana, tapi ternyata di blognya ga ada fasilitas komen, lalu dia datang lagi ke blog kita, dan ngomen ga penting lagi, dan meminta KEMBALI kita berkunjung ke blognya sambil seolah-olah bilang “kok belum ngomen di blog saya?”

Jangan jadi bete dong kalau narablog yang blognya sudah kita komen ga balik ngomen di blog kita. Ini kan ga ada aturannya di UUD ’45 dan Al-Qur’an, hahaha….

Jan wessssss… Beneran pusing deh menghadapi narablog semacam ini…. -_-

Bagi saya, peradaban di dunia maya ga banyak beda dengan dunia nyata. Kita akan menilai sesuatu berdasarkan apa yang kita rasa, karena kita masih manusia, bukan robot. Saya akan bersimpati pada orang yang saya suka, dan saya akan (ehm) biasa-biasa saja pada orang yang membuat saya ilfil pada kesan pertama. Bagi saya, komen-yang-mengindikasikan-bahwa-si-pengomen-ga-baca-tulisan-yang-sedang-dia-komen adalah hal yang membuat saya ilfil. Kalau saya nemu hal kayak gini di blog orang lain pun, saya akan malas menjambangi blog si pengomen itu. *halah menjambangi…*

*pake istilah ‘komeng’ lagi ah…*

Kalau nemu pengomeng seperti ini di blog saya, saya akan tetap mengunjungi balik blognya, sesuai dengan apa yang dia harapkan, walaupun dia ga bilang “komen balik ya di blog saya” dan semacamnya. Saya akan membaca blognya dan memberi komeng secara manusiawi. Tapi jangan harap ke depannya saya akan berinisiatif blogwalking ke sana. Saya akan bilang “ai komeng yu komeng,” seperti halnya dua orang yang bertemu di pasar untuk bertransaksi jual beli, bukan bertemu di warung kopi untuk mengobrol dan saling berbagi cerita.

Lalu peradaban blog macam apa yang kita inginkan? Mari kita tentukan itu dulu, baru kita ngomeng-ngomeng secara membabi buta.

Saya sih lebih memilih peradaban blog yang seperti warung kopi, yang sederhana tapi manusiawi 🙂

6

Bandung Lautan Sampah dan Haters Gonna Hate

Ini adalah berita yang cukup basi, tapi mungkin ada beberapa di antara temen-temen yang belum tahu….. bahwa Kota Bandung kini kembali menjadi lautan sampah. Setelah TPA Leuwi Gajah ditutup dan pembuangan sampah disentralisasi di TPA Sari Mukti, kini TPA ini pun ditutup. Tidak jelas apa yang melatarbelakangi penutupan ini, tapi beberapa pihak percaya bahwa ini mengandung isu politis, yaitu untuk menggolkan dibangunnya PLTSa (insenerator) di Bandung.

Ini adalah foto tumpukan sampah di Jalan Cibeunying-Bengawan, yang saya dapat dari Walhi Jabar.

Dada Rosada, mana dadamu?

Pada situasi seperti ini, barulah sebagian masyarakat memahami pentingnya 3R, terutama reduce (mengurangi sampah). Himbauan 3R pun berkumandang di mana-mana. Tapi herannya, bisa-bisanya ada yang menulis hal yang sangat bertentangan dengan prinsip reduce di wall YPBB di saat-saat seperti ini. Beginilah ceritanya…… *jadi inget program kismis yang hantu-hantuan, hahahaha…*

Xxx: (nulis di wall) kita tidak bisa lepas dari plastik. tapi kita harus berusaha mendaur ulang plastik tersebut


YPBB: halo Xxx 🙂
kalau sampah plastiknya sudah ada, sedapat mungkin memang perlu kita cegah supaya tidak jadi sampah (Misalnya dengan didaur ulang atau digunakan ulang)
tapi tentunya, yang perlu menjadi prioritas adalah mengurangi sampah plastik dari awal…
tetep smangat untuk mengurangi penggunaan plastik ya 🙂
GO ZERO WASTE, GO!


Xxx: bersahabatlah dengan plahtik


Xxx: janagn khawatir 500 tahun mendatang sampah yang tertanam akan menjadi bahan tambang yang amat dicari bagi generasi selanjutnya.
sama halnya manusi purba dulu yang disebuit budaya dapaur sampah itu pertma kli ditemukan tumpukan kulit kerang yang amat banyak
kalau dipikir zaman dahulu kulit kerang itu limbah yanh tidak bisa didaur ulang tapi sekarang kulit kerang yang ditemukan di jemran itu menjadi objek penelitian ternya awarga jerman sudah sadar akan tata kota dan kebersihan heheheh


Saya: Halo Xxx..


Setahu saya, bahan tambang atau migas akan terbentuk setelah jutaan tahun, itu pun kalau tekanan dan faktor abiotik lainnya mendukung… 


Kalau faktor abiotiknya tidak mendukung, walaupun dia terurai 500 tahun kemudian, dia hanya akan terurai jadi karbondioksida, air, senyawa organik, dan racun logam berat yang tidak bisa terurai. 


Memang ada suatu fenomena prasejarah yang disebut “dapur sampah” atau kjokkenmoddinger, yang maksudnya adalah tumpukan kerang sisa makanan manusia purba. Tapi ini ga bisa dijadikan alasan bagi kita untuk “menanam” plastik. Memang sampah kerang dan plastik sulit terurai, tapi kedua hal ini punya perbedaan. 


– Kerang sulit terurai karena mengandung kitin dan kalsium dalam jumlah besar, sedangkan plastik sulit terurai karena memang tidak ada organisme yang bisa mengurainya.
– Kerang tidak mengandung racun, jadi kalaupun kita buang kerang di tanah, kita tidak meracuni tanah. Lain halnya dengan plastik, dia butuh senyawa kimia sintetis yang aneh-aneh untuk bisa membuatnya lentur, kaku, berwarna, tahan lama, dll. 
– Kerang sangat bisa didaur ulang (oleh alam), walaupun waktunya lama… sedangkan plastik ga bisa, kecuali kalau kita punya bakteri dan jamur alien yang bisa mengkonsumsi plastik. Kalaupun didaur ulang pake teknologi pabrikan, kualitas plastik daur ulang akan jauh lebih rendah dari kualitas plastik sebelumnya, sehingga bisa dikatakan bahwa ini adalah proses down-cycle, bukan recycle. Jadi “daur ulang plastik” itu bukan solusi yang mumpuni
– Untuk dapet kerang, orang tinggal ngambil ke laut. Tapi untuk bisa menghasilkan plastik, orang harus ngebuka hutan, ngebor, ngambil minyak, dan diolah di pabrik plastik. Bayangkan berapa polusi yang dihasilkan? terus kalau udah jadi sampah, dia cuma bisa jadi racun buat tanah… jadi memang sebaiknya ga usah ada aja sekalian….


Kalau kita bisa hidup kaya manusia jaman purba, yang untuk ngebungkus makanan ga perlu pake plastik, cukup pake daun atau kulit kayu, atau kerang, kita boleh kok buang sampah sembarangan kaya mereka… malah lebih bagus kalau kita buang sampah-sampah jenis itu sembarangan, karana mereka akan jadi kompos dan menambah kesuburan di tempat itu 🙂


Xxx: jangan khawatir kita sekarang belum tau teknologi pengurai karena pengetahuan masih terbattas. nanti setelah ratusan tahun ke depan manusia sudah berubah banyak temuan yang sanagt bermanfaat dari limbah plastik ini. orang zaman purba dulu juga tidak mengenal apa itu kitin atau zat pengurai. dan sebagainya dan sekarang pun kita tidak tau apa itu limbah plasik bagimana mengurainya dan sebgainya. pasti ada suatu revolusi bahwa bahan plastik akan laris.


Saya: justru karena kita belum tahu, sebaiknya kita tidak gegabah dalam menggunakan plastik 🙂


Xxx: justru ini adalah kehendak alamiah dari insan manusia untuk terus memanfaatkan yang ada zamn dulu kulit kerang sanagt berbahaya karena mereka berfikir tidak dapat didaur ulang. nah terhadap plastik pun kita banayk berfikir yang sama padahal dalam plstik itu tersimpam zat yang kita tahu apa reaksinya setalah tertanam dalam tanah disertai timbunana limbah kompos lainnya nah inilah yang perlu dikaji zat apa yang akan terjadi setlelah ratusan atau ribuan tahuan ke depan. 
plastik akan tetap jadi primadona abad sekarang inoi


Saya: boleh tau ga apa bahayanya kerang? 🙂
terus, kita tahu dari masa kalau manusia purba jaman dulu tahu bahwa kerang ga bisa didaur ulang?


saya baru baca-baca lagi… ternyata kitin pada kulit kerang itu terurai dengan cukup cepat.. jadi kerang yang kita temukan sebagai kjokkenmoddinger kemungkinan besar adalah fosil (tentunya anak jurusan sejarah lebih tau tentang ini :p).. kitin pada kerang akan terurai, dan rongganya akan terisi dengan komponen anorganik yang kebetulan ada di sekitar situ, misalnya kalsium karbonat.


kalau udah jadi fosil, maka sifat dia non-organik, artinya sampai lebaran monyet pun ga akan terurai.. tapi hanya bisa lapuk (dan waktunya tergantung dari waktu paruh senyawa pada fosil). 


okelah plastik akan jadi kompos setelah ratusan atau ribuan tahun, tapi jumlah material organik yang bermanfaat mungkin akan lebih sedikit daripada material non-organik yang terkandung dalam plastik itu.. dan untungnya kita udah tahu bahwa itu berbahaya (udah ada studi ilmiahnya, silahkan googling untuk tahu lebih banyak)


boleh saja kalau mau mengkaji apa yang terjadi setelah ratusan atau ribuan tahun ke depan. tapi apakah untuk alasan ini kita mau mengorbankan kesehatan masyarakat dan lingkungan? kalau mau, penelitian aja dilab.. dan pastikan orang-orangnya full protected karena mungkin di situ ada sangat banyak zat berbahaya. 


betul… plastik adalah primadona…. primadona di abad kebodohan, kalau kata orang-orang, bahasa kerennya adalah “the age of stupid”. kalau kita mau meneruskan gaya peradaban semacam ini, silakan terus pakai plastik 🙂


Saya: satu lagi…. kompos itu bukan limbah 🙂


***

Omaigooooood…. sedihnya…. kok bisa-bisanya ada calon guru yang pola pikirnya seperti ini? Saya tidak habis pikir…… 😦

Kalau dia masih keukeuh ngajak berantem (dan bukan berdiskusi), berarti dia resmi jadi my reactionary. Dan saya ga akan ngeladenin reactionaries.

Because haters gonna hate, and reactionaries gonna reactivate. 
Hidup zero waste….! 

4

Jadilah Penipu yang Cerdas!

20 Oktober 2010 09:36:21
Sender: +6287870593222 to +6285721515xxx

Ini papa lg pinjam hp org tolon beliin plsa 20rb kenmr bru papa in nmrya. 087846647906, papa lg ad masla dikntr polisi,jngn dl sms/tlpn,nanti papa yg tlpn.

Saya mendapat SMS ini saat sedang di Bogor, atau dengan kata lain memang sedang tidak bersama ayah saya. SMS ini bisa saja benar-benar dari ayah saya, atau mungkin salah sambung, atau bisa juga penipuan. Tapi berhubung saya tidak memanggil ayah saya dengan “papa”, opsi pertama sudah pasti gugur. Lalu kemudian saya berbaik sangka dengan menganggap ini adalah SMS dari seorang ayah yang salah mengetikkan nomor ponsel anaknya.

Ya, ini bisa saja merupakan SMS dari seorang ayah yang memang sedang berurusan di kantor polisi dan butuh bantuan. Tapi saat itu saya benat-benar sedang sibuk, dan parahnya lagi saya sedang berada di tengah hutan. Di mana saya bisa membelikan pulsa untuk orang ini–kalaupun memang saya harus membantunya? Saya bisa saja minta bantuan teman saya yang ada di kota untuk melakukannya. Tapi ah, saya memang benar-benar sedang sibuk untuk melakukan hal ini saat itu. Jadi saya tunda niat baik itu, minimal sampai istirahat makan siang.

24 Oktober 2010 12:18:06
Sender: +6287812017217 to +6281220530xxx
Status: Reply requested a.k.a. URGENT
Ini Mama lg pinjam hp org,tolong beliin pulsa 20rb kenmr baru mama=081338799669,mama lg ada masalah dikntr polisi,jgn dulu sms/telp,nanti mama yg telpon.penting 

*Sigh* Siang ini saya baru sadar bahwa saya belum menjalankan niat saya 4 hari lalu. Seketika saya merasa bersalah karena mengabaikan orang yang mungkin memang sedang butuh bantuan. Tapi rasa itu seketika pula lenyap setelah menyadari bahwa ini adalah modus penipuan baru.
Penipu ini melancarkan kembali niatnya dengan mengirimkan pesan serupa ke nomor ponsel saya yang lain. Haha, penipu yang bodoh. Coba perhatikan gaya menulisnya. Saya yakin pengirimnya adalah orang yang sama. Tapi bagaimana dia bisa mendapatkan 2 nomor ponsel saya dalam waktu bersamaan? Do you have any idea?
*Chuckles*
Plis deh, kalaupun Anda memang ditakdirkan untuk menjadi penipu, jadilah penipu yang cerdas!

151

ITB VS GA MAU SEBUT MEREK


*syarat dan ketentuan: bacalah tulisan ini secara lengkap atau tidak sama sekali*

Walaupun bisa dikatakan bahwa saya adalah penulis spesialis hal-hal ga penting dalam dunia blogging, saya masih bisa membedakan antara tulisan ga penting dengan tulisan ’ga penting’. Lalu kalau saya ditanya tentang status tulisan ini, maka saya akan menjawab “ini adalah tulisan ‘ga penting’ yang merupakan tanggapan atas tulisan ‘ga penting’ lainnya.”

Tujuan saya menulis tulisan ini adalah sekedar memberi tanggapan atas tulisan seseorang di blognya yang berkomentar tentang sifat-sifat mahasiswa ITB yang kemudian berujung pada pembandingan mahasiswa ITB dengan mahasiswa di perguruan tinggi tempat beliau menuntut ilmu.

Sebut saja nama perguruan tinggi tersebut “Ga Mau Sebut Merek” (GMSM). Saya memang ga mau sebut merek orang, karena saya juga ga suka merek saya disebut-sebut pada sebuah tulisan yang hanya bersifat opini dan berstatus ‘tidak penting’.

Tempo hari saya secara tidak sengaja menemukan sebuah tulisan dengan judul Pendapatku Tentang Anak ITB tertanggal 7 September 2007. Saya rasa saat mempublis tulisannya, si penulis baru saja mengunjungi blog seorang mahasiswi ITB yang memang sedang banyak diperbincangkan pada saat itu.

Terlepas dari apakah beliau (si penulis—mahasiswi GMSM) bereaksi setelah membaca tulisan tersebut atau tidak, saya sangat setuju dengan apa yang beliau tulis: tentang mahasiswa ITB yang narsis, sombong, konsumtif, tidak melihat kemampuan lawan, tidak menghargai jurusan lain dan perguruan tinggi lain, dll dsb…

*Sebenarnya banyak yang kurang tuuuuh… *

Mahasiswa-mahasiswa ITB itu banyak yang autis dan bertindak seperti orang autis. Anak-anak ITB hobi banget protes (contohnya diusir sama satpam kampus aja protes). Anak ITB banyak yang males-malesan dan akhirnya lulus lebih dari 4 atau 5 tahun atau bahkan di-DO. Anak ITB suka mencontek saat ujian, saat praktikum, dan bahkan saat membuat laporan. Anak ITB merasa sakit kakinya jika menginjak duri. Anak ITB juga merasa lapar saat lambungnya tidak terisi makanan pada waktunya.

Do you get what I mean? Anak ITB juga manusia. Bernapas, bergerak, punya emosi, punya sifat narsis. Kalo ga gitu bukan manusia namanya. Saya juga kurang suka orang congkak, tapi khusus bagi orang-orang congkak yang pintar, saya menanggapinya dengan “tidak ada manusia yang jenius di bidang IQ dan EQ sekaligus”. Gitu aja kok repot. Lagipula, menurut saya sih wajar saja bagi seseorang yang pintar untuk bersifat congkak. Yang tidak wajar adalah orang bodoh yang congkak.

Ngomong-ngomong masalah congkak, toh pada tulisan tersebut pada akhirnya juga terdapat unsur narsisisme yang sangat kental. Jadi sebenarnya pada tulisan itu si penulis sedang menceritakan dirinya sendiri.

Dari tulisan tersebut kemudian munculah komentar-komentar baik dari mahasiswa-mahasiswa tersindir mau pun dari para pendukung si empunya blog. Tapi tampak damai-damai saja tuh.. secara anak-anak ITB yang komen di situ hampir semuanya muna… alias tepu… alias bermuka dua, hahahaha… Setidaknya inilah yang diakui oleh dua orang pemberi komentar tulisan tersebut. Yah, minimal dari serentetan sifat jelek yang sudah terpatri pada diri mahasiswa ITB, terselip sebuah sifat mulia, yaitu tidak mau membuat panas blog orang…

Berangkat dari tulisan sebelumnya, si penulis kemudian membuat sebuah tulisan lainnya berjudul Pendapatku Tentang Anak GMSM tertanggal 9 September 2007. Pada tulisan ini si penulis menjabarkan poin per poin tentang kelebihan yang dimiliki para blogger GMSM. Walaupun tulisan ini hanyalah sebuah deskripsi di mana terdapat sangkalan “saya tidak sedang membanding-bandingkan GMSM dengan ITB kok”, tapi tetap saja secara tersirat tulisan itu sarat akan nilai-nilai pembandingan.

Saya asumsikan tulisan tersebut adalah pembandingan. Jika ternyata bukan, ya maap-maap aja dan anggap saja tulisan di bawah ini hanyalah sebuah tanggapan yang merupakan buah dari salah asumsi. Saya juga akan tulis poin per poin:

*Saya pernah belajar statistik, tapi saya tidak suka kuliah itu, jadi saya tidak ingat istilah-istilah yang pernah diajarkan di dalamnya. Pokoknya ada salah satu teori logika yang menerangkan tentang “jika tidak 1 maka 2” seperti dalam kasus “jika dia bukan perempuan maka dia laki-laki” (maaf bencong ga diitung). Logika semacam ini lah yang saya gunakan sekarang.*

1. Banyak, bahkan hampir semuanya (Insya Allah) alim. Karena banyak postingan di blog yang disangkutkan ke agama. Alhamdulillah..

Silogisme
: Anak ITB kurang alim ditinjau dari tulisan-tulisan di blognya yang tidak berbau agama.
Tanggapan: Mungkin beliau belum pernah melihat blog ini, ini atau yang ini. Memang sih lebih banyak persentase blogger ITB yang bejat (contohnya saya, haha..) dibanding blogger yang alim. Tetapi walaupun begitu, adalah terlalu dini untuk menilai kealiman seseorang ditinjau dari konten blog. Dunia ini luas, dan isinya sangat beragam untuk dipelajari dan dibahas. Dan saya rasa semua orang punya hak untuk memilih topik apa yang paling disukainya untuk dibahas lebih lanjut dalam otaknya juga dalam blognya. Bukan berarti orang Jawa harus selalu menulis tulisan dalam Boso Jowo kan? Dan bukan berarti pula orang alim harus selalu menulis tentang agama.

2. Banyak yang berstatus aktivis, yang menceritakan kegiatan mengurusi organisasinya. Hehe, kebetulan aja blogrunningnya kepleset ke blog anak-anak aktivis.. Bahasa aktivis kan beda, berkoar-koar.. Hihi, MANTAB lah..!

Silogisme:
a. ITB miskin aktivis, dan kalopun ada ga ada yang nulis blog.
b. Ga cuman ITB doang loh yang aktivisnya ngeblog…
Tanggapan:
a. ITB memang miskin aktivis dibandingan satu dekade lalu. Hal ini disebabkan oleh kebijakan kampus yang ‘merugikan’ aktivis. Juga karena memang terjadi penurunan kualitas mahasiswa ITB dari tahun ke tahun. Tapi masih ada kok sisanya. Coba lihat blognya Ijul (ketua KM ITB), Sawung (mantan ketua PSIK), Oki (si 232 yang cinta perdamaian dan kelestarian lingkungan), dan Gerry (si aktivis muda dengan semangat membara). Atau buka ini dan ini aja sekalian..
b. Ya bagus lah…

3. Topik seputar IT ditulis sederhana, singkat, dan manfaatnya lebih terasa karena menggunakan bahasa yang lebih manusia. Kalau anak ITB (rata-rata) tulisannya ‘niat’ (panjang-panjang) dan menggunakan bahasa yang terlalu bahasa robot dan bahasa mesin, juga tidak ada penjelasan lebih lanjut tentang bahasa mesin tersebut. Ada disuruh ngeklik ke wikipedia, ya ogah..

Silogisme: Anak ITB nulis pake bahasa planet X, dan menjadi semakin buruk karena tulisannya panjang dan suka ngelink-ngelink ke wiki.
Tanggapan:
Saya bukan penulis topik-topik IT, jadi no comment lah masalah IT. Masalah panjang-enggaknya mah masalah selera aja. Mungkin selera anak ITB tuh yang komplit, yang kompre, dll. Ya mungkin ada blogger yang nulisnya pake bahasa planet X. Tapi itu hanya sebagian kecil saja.. cuman yang lagi ngomongin masalah-masalah di planet masing-masing. Mungkin kamu belum pernah buka blog saya ya… atau blognya Imoth, atau Adita Nanda, atau dik Baim, atau Jubel, atau si Benx, atau blognya Adithya Mulya aja tuh sekalian… kan dia alumnus ITB juga.. Tulisan kami emang relatif panjang, tapi kami pake bahasa manusia kok.. 🙂

Masalah suka ngelink-ngelink ke wiki dsb menurut gua sih karena “kalo emang kita mau membahas tentang sesuatu yang lebih advance, ngapain juga susah-susah pake ngajarin dulu materi dasar”. Ya kalo emang ternyata si pembaca belum mengerti materi dasar dari apa yang sedang dibahas, artinya orang itu bukan sasaran publisitas tulisan tersebut. Tulisan kanji diperuntukkan untuk orang yang bisa baca kanji, dan tulisan berbahasa planet X juga ditujukan kepada orang yang mengerti bahasa planet X. Semuanya punya pangsa pasar masing-masing.

Masalah beda cara pandang aja kayanya ini mah…

4. Tidak memasang atribut GMSM di blognya. Berbeda sekali dengan (beberapa) anak ITB yang blognya berisi banyak banner ini-itu bertuliskan dan bergambarkan kampus gajah duduk.. Gimana nih, apa kita (anak GMSM) perlu bikin banner GMSM? Agar mudah diidentifikasi? Hahaha.. Narsiis..

Silogisme: Anak ITB memiliki ‘banner blog almamater’ sehingga dinilai narsis dan congkak.
Tanggapan: Sebenarnya saya ga tau banner apa yang dimaksud oleh si penulis. Sejak kapan blogger ITB punya banner yang ada logo gajah duduknya dan bertuliskan ‘ITB’? Emangnya ada ya? Saya pernah sih melihat banner HME sama KMPA (itu pun cuman foto) di blog milik dik Gustaf. Itu kali ya maksudnya..

Atau jangan-jangan yang dia maksud dengan banner gambar gajah duduk tuh ini ya? Ga mungkin lah.. dah jelas-jelas itu mah gambar, bukan banner.

Atau mungkin yang beliau maksud adalah tulisan ‘ITB’ seperti yang tertulis di sidebar kanan blog saya ini? FYI ajah, saya nulis ‘ITB’ di situ hanyalah sebagai identitas, yang mungkin akan berguna bagi pembaca blog ini untuk lebih memahami sudut pandang saya sebagai penulis. Lagipula saya ga suka ngaku-ngaku ITB… kata ‘ITB’ di situ tertulis dengan terpaksa karena merupakan bagian dari nama instansi tempat saya bernaung. Mosok saya harus tulis KMPA ‘Ganesha’ Kampus Gajah Duduk? Aneh lah jadinya…

5. Hampir semua anak GMSM terbiasa dengan yang namanya Dorama, Anime dan hal-hal seperti itu.. Hahaha..

Silogisme:
a. Anak ITB cupu banget dan ga gaul tentang anime, dorama, dll
b. Ga cuman anak ITB aja loh yang tahu banyak dan freak tentang anime, dorama, dll
Tanggapan:
a . Mungkin beliau mengetahui tentang keberadaan forum Rileks di ITB, tapi mungkin beliau belum pernah masuk dan berenang-renang di dalamnya. Mungkin beliau juga tidak mengetahui eksistensi unit kegiatan mahasiswa bernama UKJ, yang isinya jurig anime semua, bahkan beberapa di antaranya merupakan cosplayer.
b. Ya bagus lah…

6. (Beberapa) Statistik blog-nya relatif masih dikit dibandingkan dengan punya (beberapa) anak ITB.. Anak ITB rata-rata sudah mencapai ratusan ribu lhoh.. Komunitas Blogger GMSM masih punya satu kekurangan (Apa cacat yah? Nggak lah.. hihi) yaitu masih belum adanya Blog Agregator..! Satu hal yang penting banget, agar nulis blog tidak untuk dikonsumsi pribadi (hingga menyebabkan Blog-Stat hanya dikit). Hehe.. Alias agar semua orang sesama GMSM (mahasiswa, alumni, dan –kalau perlu- dosen) bisa menikmati ‘makanan’ tersebut dengan mudah.

Silogisme: Traffic blog anak-anak ITB rame karena punya blog aggregator.
Tanggapan: Menurut saya blog yang ramai dikunjungi oleh orang lain adalah bukan semata-mata karena dia terdaftar sebagai anggota blog aggregator ini atau itu, tapi dari kualitas blog itu sendiri. Kalau emang blognya ga berkualitas, mau ikutan sepuluh blog aggregator juga ga akan dilirik orang.

Saya berani bilang gitu karena saya merupakan anggota blog aggregator di tukangkomentar dan biophilia. Tapi berdasarkan fakta, pengunjung blog ini sebagian besar adalah teman-teman saya di dunia luar sana, yang sama sekali bukan sasaran dari kedua blog aggregator yang saya ikuti. Blog aggregator hanyalah sebagai pendukung, bukan sebagai faktor utama tingginya traffic blog yang bersangkutan.

Ada yang jumlah pengunjungnya sampai ratusan ribu? Siapa? Emang ada ya anak ITB yang sehebat itu? Salah liat angka kali…

Lagian kalo ngiri ya bikin sendiri lah.. Gitu aja kok repot.

* * *


Sekian tanggapan saya. Ada komentar tambahan? Atau mungkin ada sanggahan?

Saya menulis ini sambil ketawa ngakak… Lucu aja..