15

Tahun Pertama yang Berbeda

Hari ini, 10 Juli 2012, adalah tepat 1 tahun setelah saya dinikahi oleh seorang pria keren bernama Ekaprasetya Yusnikusumah. Tentu saja “keren”-nya menurut definisi yang saya buat sendiri.

Satu tahun sudah saya tidak lagi lajang dan menjadi ibu rumah tangga. Ini adalah pilihan yang saya ambil sendiri. Bukan apa-apa, saya hanya ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi ibu rumah tangga. Saya ingin ketika kelak saya perlu memutuskan untuk memilih antara menjadi wanita karir atau menjadi ibu rumah tangga, saya bisa mengambil keputusan yang objektif dan tidak bias.

Sama seperti rumah tangga muda pada umumnya, pastilah banyak rintangan yang dihadapi pada tahun pertama pernikahan. Benar kata orang, menikah muda itu berat. Berat di ego, berat di uang, dan berat di pantat (tapi yang terakhir ini khusus buat yang gendut aja :mrgreen:). Saya bersyukur saya mengalami kesulitan-kesulitan ini, karena bagi saya mengalami kesulitan pada saat kita belum mapan adalah kawah candradimuka gratis. Kalau kita mengalami kesulitan saat kita sudah mapan, itu sangat ga rame, sodara-sodara.

Alhamdulillah, pernikahan ini telah membuat perut saya gendut. Dalam perut saya kini hidup satu makhluk imut berumur 28 minggu yang setiap hari kerjanya menendangi dan menonjoki perut saya. Kedatangan sosok ini tidak saya duga, dan awalnya cukup membuat saya syok. Tapi itu semua berubah menjadi tawa, terlebih karena ternyata sosok ini begitu diharapkan oleh keempat kakek-neneknya yang masing-masing belum pernah punya cucu.

My baby :3

***

Happy first anniversary, suamiku. Sebenarnya saya ingin sekali membuatkan kue-kue lucu, tapi berhubung dirimu sedang berada di pulau lain untuk mencari sesuap nasi dan sebongkah berlian, saya kirim dalam bentuk foto saja ya. Kue aslinya menyusul. πŸ™‚

Semoga di tahun-tahun berikutnya kita bisa terus lebih baik lagi. Dan semoga kita selalu bahagia dan tidak terpisahkan sampai tua. Amiiiiiin…. πŸ˜€

11

[Wedding Preparation] Undangan… Undangan…

Maaf ya teman-temaaaaaan…. saya libur blogwalking dulu ya sekarang-sekarang. Sementara jadi selfish blogger dulu. Boro-boro blogwalking, blogposting aja ga sempet :p

Minggu kemarin, akhirnya undangan rebes juga. Undangannya bikin sendiri… biasa lah, sok-sok-an, hehehe.. pengen yang sesuai keinginan tapi tetap pengen low budget :mrgreen:

Beginilah bentuknya…

Halaman undangan bagian dalam

Halaman undangan bagian luar

Terus, supaya ga saru, undangannya dipakein baju, tapi karena anak nakal, bajunya baju transparan, terbuat dari kertas kalkir lokal :mrgreen:

Sebenernya awalnya pengennya pake baju dari kertas daur ulang. Tapi booooooo… susah banget bikin yang kualitasnya rapi. Perlu screen sablon yang lebih lebar, dan juga skill yang lebih jenius, hehehe… πŸ˜€

Beginilah bentuk dummy amplopnya…

Ini bajunya, dan juga dalemannya.. *ups*

Tapi ini bukan desain akhir amplopnya. Yang ini masih terlalu ribet. Desain baru ga ada fotonya, soalnya kamera saya lagi dipinjem.

Nah, kalau udah dibajuin, jadi begini nih… πŸ™‚

Undangan yang udah pake baju

Selanjutnya adalah bikin 350 amplop kalkir. Mudah-mudahan saya ga sakit lagi kaya minggu ini πŸ˜€

***

Review biaya:

– Biaya cetak offset full color kertas jasmine Rp 2.500/lembar (minimum 500 lembar, kalau cuman 350 lembar jatuhnya jadi Rp 2.850/lembar)

– Biaya bikin amplop Rp 1.000/lembar + tenaga dan waktu untuk bikin amplopnya. Kalau punya printer laser sendiri, jatuhnya akan jauh lebih murah, hehehe.. πŸ˜€

11

[Wedding Preparation] Akhirnya Foto Prewedding Juga

*Ga sempat update euy… hectic schedule….!*

Saya hanya mau mengabari bahwa akhirnya kami foto pre-wedding juga. Kok pake “akhirnya”? Iyaaaaaa, karena susah banget nyari tempat yang oke… Cerita-ceritanya nanti aja ya, hehehe… πŸ˜€

PS: Ini adalah hasil editan saya sendiri yang sedang belajar ngedit foto πŸ˜‰

11

[Wedding Preparation] Batik dan Kebaya, Indonesia Sekali…

Tanggal 7 April 2011 lalu, saya dan Lica (tetangga saya yang membantu saya menjahitkan kebaya) berbelanja bahan kebaya di Pasar Baru. Lagi-lagi Pasar Baru… Pasar Baru memang tempat gacoan bagi orang yang tinggal di Bandung membeli bahan-bahan tekstil berharga miring denganΒ pilihan yang sangat beragam.

Seperti layaknya perempuan pada umumnya, acara belanja kali ini berlangsung lama, kira-kira 3 jam hehehe… sampe kaki kita berdua pegel-pegel. Kata Lica, kalau ga nemu bahan yang bener-bener sreg di hati, dia jadi kurang semangat ngerjain kebayanya. Karena saya juga kuat berbelanja lama-lama, saya sih hayu-hayu aja.. πŸ˜€

Dan inilah hasil belanjaan kami pada hari itu:

Continue reading

21

[Wedding Preparation] Memilih Batik dan Memilih Pasangan :)

Menurut teman-teman, apa sih peranan “buku tamu” pada suatu pernikahan?

Yang jelas, memang untuk mendata siapa saja tamu yang datang. Tapi bagi saya, buku tamu juga akan jadi salah satu pelengkap memori pernikahan, bahwa pada hari itu, ada banyak sekali orang yang datang untuk mendoakan kami.Β Jadiii, buku tamu juga perlu disiapkan dengan baik, supaya saya nanti bisa mengenangnya dengan baik.

Rencananya saya akan bikin buku tamu sendiri. Ini adalah desain bagian dalam buku tamunya. Saya ga terlalu jago desain, jadi agak terkesan seperti desain abal-abal, hehehe πŸ˜€

Saya pakai kertas concord warna kuning gading, yang diprint dengan printer inkjet hitam-putih biasa.

Sedangkan untuk sampulnya, saya berencana akan pakai kain batik warna coklat tua, sesuai dengan nuansa pernikahannya. πŸ™‚

Continue reading

14

[Wedding Preparation] Rak Untuk Membuat Souvenir Terarrium

Helo epribadi… Saya kembali datang dengan kesadaran penuh bahwa penyakit saya kambuh. Saya lama sekali ga apdet blog, dengan alasan yang ga banget: “terlalu banyak yang mau ditulis, sampai bingung mau nulis apa.

Beneran deh, banyak banget yang mau ditulis, mulai dari naik gajah di tengah hutan sampe nongkrong-nongkrong di bagian paling Barat Indonesia. Well, akhirnya saya putuskan untuk nulis tentang update pernikahan dulu, karena momennya terbatas, dan rasanya sayang banget kalau momennya terlewat πŸ™‚

Masih ingat kan kalau saya akan bikin souvenir macam ini?

Karena waktunya makin lama makin dekat, maka dalam waktu dekat ini saya harus sudah mulai membuat 500 buah terarrium. Banyak memang… dan repot memang… dan butuh tempat yang cukup luas memang…. Ini adalah konsekuensi dari keinginan untuk bikin yang aneh-aneh.

Continue reading

60

Pager Ayu dan Pager Bagus (My Wedding Preparation Part 8)

Minggu ini saya banyak direcoki orang-orang, salah satu duanya adalah mama yang ribut tentang kebaya, dan adik-adik di KMPA yang ribut pengen jadi pager bagus.

Cerita tentang mama yang ribut tentang kebaya, saya simpan saja dulu. Sekarang saya mau cerita tentang busana pager ayu dan pager bagus πŸ™‚

Apakah teman-teman pernah jadi pager ayu atau pager bagus? Saya ga tau apa definisi tepatnya, pokonya pager ayu dan pager bagus itu adalah sekumpulan orang-orang yang tergabung jadi panitia nikahan seseorang. Seperti semacam front officer-nya gitu deh kira-kira. Kelompok perempuan disebut pager ayu, sedangkan kelompok laki-laki disebut pager bagus.

Saya pernah jadi pager ayu, cuma sekali seumur hidup, di nikahannya Mbak May. Sebenernya saya ga mau jadi pager ayu, karena saya anti banget sama dunia dandan. Tapi karena Mbak May baik banget sama saya, akhirnya saya iyakan. Itung-itung investasi pahala, supaya di nikahan saya nanti orang-orang ga nolak kalau saya minta mereka jadi pager ayu atau pager bagus, hehehe..

Dan beginilah rupa kami yang biasanya berdandan tomboy:

Marieanna, Ika, Rime, Mala. Yang di tengah itu si Maman dan Epin, bukan pengantinnya :p

Hari itu adalah hari teraneh di dunia bagi kami ber-empat. Sepertinya hari itu juga hari teraneh bagi orang-orang yang melihat kami dalam kondisi seperti itu… Termasuk juga bagi para tamu yang mendapati Mala lagi ngerokok saat jadi pager ayu, hahaha…

Kami rewel banget saat itu. Dua hal yang paling bikin kami rewel adalah KAINNYA… dan juga KEBAYANYA yang menurut saya terlalu girly-girly gimanaaaaa gitu.

Sebenernya kebayanya bagus banget, tapi karena terkesan mewah, akhirnya kebaya itu hanya tergantung di lemari. Saya tidak pernah pakai kebaya itu lagi, karena saya bingung mau memakainya untuk acara apa.

Dari pengalaman ini saya jadi terinspirasi untuk memilih busana yang tepat untuk para pager ayu dan pager bagus di acara nikahan saya nanti, yang kelakuannya kira-kira mirip lah sama saya. Saya mencoba memilihkan busana yang nyaman, pleus kira-kira bisa dipakai lagi di kesempatan lain.

Setelah konsultasi ke sana-sini, untuk geng pager ayu, saya memilihkan kebaya katun sederhana warna broken white, yang dipadukan dengan rok batik berwarna coklat. Kira-kira beginilah modelnya:

Sedangkan untuk geng pager bagus, saya memilih baju koko batik warna coklat + celana panjang hitam + blangkon hitam. Pertimbangannya adalah: baju koko bisa dipakai untuk acara apa saja, termasuk solat Jum’at dan solat Ied, hehehe πŸ™‚

Kira-kira model baju kokonya seperti ini:

Mudah-mudah ini adalah pilihan yang tepat. Selain lebih murah dan membuat pemakainya merasa nyaman, busana ini memungkinkan untuk BISA DIPAKAI LAGI, sehingga manfaatnya akan berkali lipat.

Bagaimana dengan teman-teman, pernahkah teman-teman jadi pager ayu atau pager bagus? Atau teman-teman punya saran terkait pemilihan busana ini? Sharing-sharing ya πŸ™‚

17

My Spirited Wedding Souvenir (My Wedding Preparation – Part 7)

*Spesial (pake telor) untuk Asop yang penasaran dengan souvenir pernikahan saya :)*

Apa yang akan Anda ucapkan jika seseorang telah membuat Anda bahagia… atau melakukan apa yang Anda minta? Tentu saja Anda akan mengucapkan terima kasih. Dan sebagai makhluk beradab, sudah sepantasnya kita membalas kebaikan dengan kebaikan.Β 
Saya rasa hukum kemanusiaan itu juga perlu diterapkan di acara pernikahan seseorang. Kita harus mengucapkan terima kasih kepada seluruh tamu undangan yang hadir ke acara kita, baik yang diundang maupun yang tidak. Sebagian orang menyimbolkan rasa terima kasih itu dengan memberi souvenir cantik. Memang ini tidak mutlak harus dilakukan, tapi menurut saya pribadi, ini penting untuk dilakukan karena bisa berfungsi sebagai pembangun modal sosial yang baik.Β 
Tentu saja kalau kita tidak mampu melakukannya, kita tidak perlu memaksakan diri.
Banyak orang yang mengukur nilai sebuah souvenir pernikahan dari harganya. Tapi bagi saya harga bukanlah alat ukur yang baik, karena besar nominal uang sangatlah absurd dan relatif. Saya lebih suka menilainya dari segi manfaatnya. Semakin bermanfaat suatu barang, maka akan semakin bagus nilainya.Β 
Di rumah saya saat ini terdapat sebuah onggokan souvenir yang keluarga saya dapatkan dari acara pernikahan teman dan famili. Hanya sebagian kecil souvenir yang benar-benar terpakai oleh kami. Dan dari onggokan souvenir yang tidak terpakai itu, saya ambil satu contoh yang menurut saya paling aneh:Β 

Baca selengkapnya Β»

17

Karena Hidup Penuh dengan Ketidakpastian (My Wedding Preparation – Part 6)

Ya, hidup memang penuh dengan ketidakpastian. Oleh karena itulah kita harus menyiapkan banyak waktu dalam melakukan perencanaan segala sesuatu, agar kita bisa mengantisipasi segala ketidakpastian yang mungkin muncul. *Ceileh kata-katanya, sok bijak kali pun…*

Eh, tapi bener loh… Saya aja dalam 1 bulan ini gonta-ganti konsep rencana pernikahan, mulai dari lokasi, nuansa resepsi, sampe penata rias, hehehe… Untung aja ga sampe ganti calon mempelai pria.

Jadi beginilah ceritanya….
Baca selengkapnya Β»

4

Mencoba Mandiri (My Wedding Preparation – Part 5)

Lucu ya gambar ini. Ini adalah poster yang menggambarkan kondisi di Eropa pada tahun 1940-an. Saat itu kaum pria sibuk berperang, sehingga kaum wanita harus mengerjakan pekerjaan pria dan wanita sekaligus. 

***

Banyak teman yang bertanya, kenapa saya begitu keukeuh membuat undangan dan souvenir pernikahan sendiri. Saya ga bisa jawab panjang lebar kecuali satu kata: pengen. Ya pengen aja. Tapi terus mereka nanya lagi “Kenapa pengen?” Well, kalau kalau untuk yang ini, penjelasannya agak panjang.

Boleh setuju boleh nggak… tapi bagi saya, dunia ini hancur karena uang. Dan makin lama dunia akan makin hancur, karena makin lama manusia makin suka sama yang namanya uang. Manusia cenderung jadi ga kreatif dan mengabaikan pentingnya modal sosial gara-gara uang. Padahal menurut saya ini adalah dua hal terindah yang bisa manusia lakukan di sepanjang hidupnya.

Memang, uang tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan kita sehari-hari. Tapi saya ga mau jadi ga kreatif πŸ˜€ Kalau saya bisa kerjain sendiri, kenapa ga dikerjain sendiri? Bukankah ini membuat hidup kita jadi lebih hidup? πŸ˜€

Ya tapi bukan berarti juga semua-muanya saya kerjain sendiri kaleeee. Ada beberapa hal yang memang saya ga bisa lakukan, misalnya ngedekor ruangan (ajigile, masa saya ngedekor ruangan sendiri?) atau jadi pager ayu (lah, apanan saya duduk di pelaminan :p).

Nah, untuk hal-hal seperti ini, prioritas pertama yang akan saya lakukan adalah minta bantuan dari orang-orang yang saya kenal, dan yang namanya bantuan mah artinya ga dibayar. Kalau ga ada yang bisa bantu, baru deh bayar orang… Tapi liat-liat dulu, ada ga kerabat atau famili yang bisa menyediakan jasa ini. Kalau ada, kenapa ga pake mereka aja? Itung-itung menjaga tali silaturahmi dan membuat harga jadi miring, hehehe :p

Sejauh ini, perintilan yang akan saya buat sendiri hanya kartu undangan dan souvenir. Lay out kartu undangan juga insya Allah akan saya desain sendiri. Tapi karena saya kurang jago desain grafis, untuk bagian desain yang agak rumit saya minta bantuan Toru, atau lebih tepatnya ngerepotin Toru, hehehe…. Toru baik deh… πŸ™‚

Intinya, saya pengen punya semangat seperti ibu-ibu yang gambarnya saya tempel di atas. Kalau suatu pekerjaan bisa kita kerjain sendiri, kenapa ga kita kerjain sendiri? Kalau kita bisa minta bantuan temen, kenapa kita mesti bayar orang?

Emang kartu undangan saya nanti ga akan sebagus kartu undangan lain yang diproduksi di percetakan. Tapi bagi saya memaknai hidup jauh lebih penting daripada kartu undangan yang bagus, hehehehe….. πŸ˜€ πŸ˜€

Tulisan ini saya persembahkan untuk teman-teman ITB saya yang begitu mencintai uang. Sadarlah kaliaaaaaan… uang itu bukan segala-galanya :p