2

From Womb to the World

Memang ya, yang namanya hutang itu…. Tebar janjinya enak banget,  giliran disuruh bayar gelagapan. Supaya hutang saya ga tambah banyak, saya akan cicil sedikit demi sedikit.

Yang saya maksud adalah hutang cerita, bukan hutang ke rentenir ya :mrgreen:

Ini adalah curhatan sehari setelah melahirkan. Sengaja tidak saya edit 😀

Bandung, 23 September 2012

Selama ini saya selalu bertanya-tanya, ketika seseorang mengatakan bahwa melahirkan itu sakit, sakitnya itu seperti apa? Apakah sakit karena lukanya? Ataukah sakit karena didorong-dorong kepala bayi? Atau bagaimana? Sekarang saya tahu jawabannya, bahwa rasa sakit yang dimaksud adalah rasa mulas luar biasa. Rasa mulas yang bikin badan tegang dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rasa yang membuat saya — yang menurut mama saya merupakan orang dengan ambang ketahanan rasa sakit yang rendah — teriak-teriak tengah malam dibuatnya.

Saat itu adalah minggu ke-38 kehamilan saya. Tidak lama setelah saya menulis posting tentang harapan saya melahirkan secara normal. Hari Rabu sore saya mulai jalan sambil pegang-pegang pinggang dan punggung, persis seperti nenek-nenek sakit encok. “Tenang saja, masih minggu ke-38,” pikir saya. Mungkin ini masih kontraksi palsu, masih ada 2 minggu lagi untuk mempersiapkan ini-itu.

Hari Kamis, saya semakin seperti nenek-nenek sakit encok. Hari Jumat, saya tiba-tiba ingin periksa ke dr. Sonny. Harusnya sih kontrolnya hari Sabtu, tapi entah kenapa pada Jumat itu saya begitu keukeuh pengen ke dokter. Mungkin keinginan itu muncul karena ketidaksabaran  saya mengetahui berapa BB janin pasca diet karbohidrat dan gula selama 1 minggu. Saya sangat ingin mendengar dokter berkata “ternyata perhitungan minggu lalu error, bayinya tidak seberat yang diperkirakan.”

Karena harus tes darah ini-itu, saya nongkrong di tempat praktek dokter sejak pukul 17.00 WIB. Itu berarti saya harus menunggu 2 jam sebelum dokternya datang. But the good news is saya dapet nomor antrian pertama ^,^

Maka nongkronglah saya di ruang tunggu itu sendirian. Kebetulan si suami sedang tugas di luar Jawa, dan saat itu belum ada ibu-ibu hamil lain yang datang. Entah sinetron apa yang saya tonton saat itu. Saya ga bisa konsentrasi karena setiap 10 menit sekali saya meringis menahan rasa ngilu.

Setengah jam menuju jam buka praktek dr. Sonny, ruang tunggu masih sepi. Agak aneh. Kemudian munculah mas-mas resepsionis dan memanggil nama saya dan berkata “Maaf bu, dokternya ga praktek hari ini… Beliau masih ada seminar di depan Trans Studio Mall.” Infonya lengkap banget sampe Trans Studio Mall-nya juga disebut :mrgreen:

Duer. Berasa dapet geledek di maghrib hari. Akhirnya saya pulang.

Tidak ada yang spesial pada jam-jam berikutnya, kecuali pada pukul 21:00 WIB intensitas dan kualitas rasa mulas yang saya alami menjadi semakin meningkat. “Tarik napas dalam-dalam….. hembuskan” itulah kata-kata sakti untuk menghilangkan sedikit rasa sakit. Saya terus-menerus mensugesti diri sendiri agar rasa mulas ini cepat hilang. Tapi teori ini buyar sudah…. Yang ada malah makin mulas ga karuan. Frekuensi 10 menit sekali kemudian berubah menjadi 5 menit sekali, dan akhirnya menjadi 1 menit sekali.

Kalau harus digambarkan dengan kata-kata, mungkin rasanya mirip dengan rasa menjelang menstruasi, hanya saja sensasinya 100 x lipat. Plus perut yang lagi segede gaban itu seolah-olang mau pecah.

Rasanya tidak ada rasa lain yang lebih menyakitkan dibanding rasa ingin melahirkan. Maka pecahlah tangis saya pada pukul 2 dini hari. Sejak awal saya menahan agar saya tidak membangunkan siapapun, tapi apa daya… Saya ga kuaaaaaat T.T

Mama kemudian terbangun. Feelingnya mengatakan kalau saya sebentar lagi akan melahirkan. Langsung deh semua anggota keluarga dibangunin, beres-beres baju dan perlengkapan lain, ngeluarin mobil dari garasi, dll. Oiya, saya belum sempat cerita ya… Asalnya saya berencana melahirkan di klinik di rumah sendiri dibantu oleh Bidan Atun, teman mama. Itulah kenapa saya ga siap-siap perlengkapan seperti baju dll. Tapi karena saya mengalami pre-eklampsia, mau tidak mau harus melahirkan di RS dengan pengawasan dokter SpOG.

Berangkatlah kami ke RS Bungsu pukul 02:30 WIB. RS ini dipilih karena biaya persalinan caesar-nya paling murah dibandingkan RS-RS lainnya di Bandung. Walaupun tidak pasti, tapi selalu ada kemungkinan saya harus operasi caesar jika tekanan darah saya masih tinggi sebelum bukaan lahir lengkap.

Rasa mulas di perut saya makin ga karuan. Saya mencengkeram tangan adik saya setiap kali rasa mulas datang. (Maafkan saya deeeek :p).

Di perjalanan, tiba-tiba keluar banyak air. Ternyata ketuban saya pecah.

Di UGD RS, ketuban saya pecah lagi. Lalu dua kali di kursi roda saat saya didorong oleh satpam yang siap siaga. Total 4 kali pecah. Rasanya makin ga karuan, tapi herannya, saya masih bisa bilang “Pak Satpam, maaf ya ini kursi rodanya saya kotorin.” :mrgreen:

Lalu masuklah saya ke ruangan VK. Saya ga tau apa singkatan dari VK ini. Pokonya ruangan buat melahirkan deh. Saya teriak-teriak, dan rasanya bayi akan segera brojol, tapi bu bidan tidak kunjung meminta saya mengejan. Dia malah ngobrol sama mama saya, ngobrolin Bidan Atun -_-

Ternyata penundaan itu dilakukan karena si bidannya ga berani membimbing saya melahirkan. Tekanan darah saya saat itu naik jadi 150/110, jadi saya harus nunggu dokter dulu baru bisa mengejan. Beberapa menit kemudian dokter yang dimaksud pun datang. Ternyata dokternya tetanggaan sama RS-nya, jadinya cepet, hehehehe…

Dokter meminta saya mengejan, lalu tiba-tiba ada rasa yang cukup perih, dan saya merasakan ada cairan yang mengucur. Saat itulah saya menyadari bahwa saya di-episiotomi — pengguntingan di sekitar vagina untuk memperbesar jalan lahir bayi. Saya kemudian mempraktekkan cara mengejan yang benar, seperti yang diajarkan oleh instruktur senam hamil.

Seperti biasa, saat ada seorang perempuan yang sedang berusaha melahirkan, pasti muncul kata-kata “ayo terus….”, “ayo sedikit lagi…”, dan sebagainya. Saat itu pun saya mendengarnya, tapi tidak lama, karena setelah 2 kali mengejan saja saya sudah melihat dua tangan bayi menari-nari diiringi suara tangisan yang imut.

Waaaa, sudah lahir! Jauh lebih cepat dari yang saya perkirakan 🙂

Bayi saya lahir pada 22 September 2012 pukul 03:55 WIB, kurang dari satu jam sejak ketuban pertama saya pecah. Si bayi kemudian dibawa ke ruang bayi, setelah diketahui bahwa plasenta saya tak kunjung keluar. Ya, kami gagal IMD. Rasanya muncul geledek di ruangan bersalin saat itu itu. Rencana IMD yang sudah saya persiapkan sejak awal kehamilan harus gagal karena saya mengalami retensio plasenta (plasenta mengalami perlengketan sehingga sulit atau tidak keluar melalui jalan lahir bayi). Belakangan saya baru mengerti bahwa gagal IMD masih jauh lebih baik dibanding nyawa saya melayang 😦

Dua puluh menit berlalu saat tangan kiri dokter masih menekan-nekan ringan perut saya yang sudah kempes saat itu. Dari kanan ke kiri, lalu balik lagi, dan begitu seterusnya. “Tenang bu, masih ada 10 menit lagi,” katanya kepada ibu saya. Saat itu saya tidak mengerti tentang apa yang mereka bicarakan. Untungnya, saya juga tidak mengerti seberapa terancamnya jiwa saya pada saat itu. Kalau saya tau, mungkin saya akan panik dan tekanan darah akan semakin meningkat.

Sepuluh menit berlalu, tibalah waktu yang “ditunggu.” Ternyata yang ditunggu adalah keluarnya plasenta. Karena ga keluar-keluar, akhirnya plasenta yang tertinggal di perut saya diambil secara manual. Jeng jeeeeeeeeeeeeeng…..! Rasanya bagaimana? Rasanya amit-amiiiiiit……. Jauh lebih sakit dibanding melahirkan. Prosesnya juga malah lebih lama, dan dokternya juga lebih capek. Bayangkan, pengambilan secara manual tersebut dilakukan sebanyak 4 kali! Anestesi pun seakan tidak berdaya menghilangkan rasa sakitnya T,T

Sinar matahari kemudian muncul di balik jendela. Bidan memandikan saya yang saat itu bersimbah darah. Saya yang menahan rasa sakit, tapi sangat bahagia. Saya terus-menerus bertanya kepada bu bidan “Bu, kapan saya bisa lihat bayinya?” Bu bidan hanya tersenyum dan menjawab “Sabar….”

Kemudian di pagi itu sebuah box beroda muncul di ujung pintu, diikuti seorang bidan yang mengantarkannya. Di dalamnya tertidur sesosok bayi mungil berselimutkan kain putih bermotif bunga-bunga ungu. Cantik sekali. Mukanya merah dan matanya tertutup rapat. Baunya wangiiiii sekali. Kissing her for the first time is the nicest feeling I’ve ever had in my life. Saya kemudian memanggilnya “Tiara Kayla Jasmin.”

tiara newborn

PS: Foto yang sama emaknya menyusul, soale ada di HP ayahnya. Ayahnya terbang langsung dari Kalimantan, boro-boro inget bawa kamera, hahaha.

PSS: Berat badan Tiara 3,1 kg, dan panjangnya 50 cm. 

13

Demi Melahirkan Normal – My 38 Weeks Pregnancy Story

Di usia kandungan minggu ke-38 ini, saya sedikit was-was. Bukan was-was karena takut akan rasa sakit saat melahirkan, tapi was-was apakah saya bisa melahirkan secara normal atau tidak. Saya juga ga takut dengan rasa sakit pasca cesar yang katanya akan sembuh dalam waktu yang jauh lebih lama. Saya cuma takut ga bisa nutupin biayanyaaaaaa, hadoh. Memang uang bisa dicari dan harusnya ga jadi masalah utama, tapi saya mencoba untuk ga muna, masalah perduitan memang merupakan salah satu yang  saya perhatikan dalam urusan melahirkan. 😦

38 weeks old fetus

Jadi begini ceritanya… *kismis mode on*

Saya adalah orang dengan potensi hipertensi bawaan genetis dari ayah. Selama ini saya tidak pernah punya tekanan darah lebih dari 120/80 mmHg, tapi pas hamil di trimester ketiga ini, duweeeeeew… tekanan darah saya naik jadi 130/90 mmHg. Ditambah dengan simptom kaki bengkak dan kenaikan berat badan secara drastis (berat badan palsu, karena beratnya berasal dari air yang ga keluar lewat pipis), saya pun divonis mengalami gejala pre-eklampsia.

Ini terjadi pada minggu 34 menuju ke minggu 36. Saat itu memang saya lagi heboh-hebohnya beraktivitas ke sana ke mari, kan ceritanya saya sedang merintis bisnis (ntar aja ya cerita bisnisnya — siapa tau ada yang penasaran *ngesok artis dikit gapapa lah :mrgreen: *). Ternyata ibu dengan gejala pre-eklampsia itu tidak boleh kecapean, karena aktivitas berlebihan akan memicu kerja jantung dan bikin tekanan darah tambah tinggi.

Gegara itu, bumil berperut besar ini (kembali) diomelin oleh sang mama yang sebenarnya sudah pensiun dari dunia omel-omelan sejak saya menikah setahun lalu. Jangan kecapean bla bla bla… Kalau pre-eklampsia nanti ga bisa lahiran normal bla bla bla… Tuh kan kakinya bengkak lagi bla bla bla… Dan sejuta bla bla bla lainnya yang kayanya ga banget kalau ditulis semua di sini. -_-

Di sisi Bumi lain bernama Kiara Condong, hiduplah seorang sepupu yang juga sedang hamil dan juga punya gejala pre-eklampsia, namanya Nita. Kayaknya gen dari keluarga ayah saya ini dominan sekali, sampe-sampe semua sodara perempuan saya dari keluarga ayah punya kecenderungan yang sama. Usia kehamilannya hanya lebih muda 2-3 minggu dari saya.

Di minggu ke-36 kehamilan saya, saat berat kandungan mencapai 2800 gram, Nita menelepon saya dan mewek karena bayinya cuma 1600 gram. Kalau menurut tabel ini sih, bayi saya kegedean 100 gram dan bayi Nita kurang 400 gram. Setelah baca-baca sana-sini, kemungkinan besar kurangnya berat badan bayi Nita adalah karena pre-eklampsia, di mana pembuluh darah (termasuk tali plasenta) menjadi mengecil akibat tekanan darah di atas normal sehingga transfer nutrisi menjadi terhambat.

Trus saya pikir, wah berarti makanan kudu dijaga bener-bener nih, saya harus makan banyak, atau minimal ga lebih sedikit dibanding sebelum-sebelumnya. Saya cuma jaga-jaga aja takut bayinya jadi kurang gizi karena saya mengalami pre-eklampsia ringan.

Tibalah minggu ke-37. Saya periksa ke dokter kandungan, dan berat badan janin saya jadi 3300 gram aja gitu. Tet tooooot, kelebihan 400 gram. Dede, how come dalam 1 minggu nambahnya 500 gram? 😦

Setelah dipikir-pikir, mungkin karena saya kebanyakan minum teh manis. Sebelum periksa ke dokter terakhir kali itu, saya mengalami insomnia hebat, dan biasanya pas tengah malem jadi laper, dan akhirnya ngemil dan minum teh nasgitel deh (kebetulan di rumah lagi ada teh favorit saya, dan saya udah ga mengkonsumsi asam folat, jadi saya merasa bebas minum teh sebanyak-banyaknya, hahaha…).

Bisa ditebak lah apa cerita selanjutnya, si mama langsung ngomel. Katanya untuk anak pertama, melahirkan secara normal itu susah kalau bayinya kegedean. Dia sih nyaranin (dengan nada maksa khas emak-emak galak) untuk diet. Stop dulu yang manis-manis, kurangi dulu hidrat arang! She literally mentioned it as “hidrat arang” not “karbohidrat” :p

Dan diet pun dimulai kemarin. OMG, it tastes like hell. Saya udah lama sekali ga diet-dietan, jadi sekalinya ga makan nasi dalam jumlah banyak itu rasanya gimanaaaaa gitu 😦 Saya cuma makan bayem rebus, tempe, telur rebus, sate ayam (yang tanpa gajih tentunya), sama nasi sedikit buat sarapan. Dokter juga meminta saya untuk stop minum vitamin dan kalsium.

Saya baru baca-baca lagi forum ibu hamil, ternyata berat badan janin 3300 gram di usia kehamilan 37 minggu ini memang sesuatu banget. Ga heran deh si mama segitu sewot ngomelnya T.T

Rasanya pengen banget olah raga kaya jaman muda dulu. Pengen banget menjaga berat badan tanpa ngurangin asupan makanan. Lari 20 keliling di Sabuga, trus sit-up, push-up, dan nyobain pull-up (yang sampe sekarang ga bisa-bisa :mrgreen: ). Tapi itu semua ga mungkin saya lakukan karena masalah genetis tadi. Kalau kecapean, ntar malah jadi fatal pas melahirkannya (katanya bisa sampe menimbulkan kematian buat si ibu 😦 — aduh jangan sampe deh).

Jadi satu-satunya cara untuk menjaga berat badan si dede bayi adalah berdiet. Saya harus rela berdiet supaya ga bangkrut. Alasan yang naif memang, tapi alamiah.

Jumat atau Sabtu ini saya akan periksa lagi ke dokter. Mudah-mudahan si dede bayi nambah gedenya ga gede-gede amat. Saya juga berharap minggu lalu dokternya lagi error jadi salah ngitung berat badan si dede bayi — doa yang lagi-lagi naif, tapi lagi-lagi alamiah. :mrgreen:

Bumil ini hanya bisa berusaha dan berdoa. Kalau ternyata bayinya kegedean dan harus cesar, apa boleh buat. Seperti kalimat terkenal, “uang bisa dicari.”

— Ibu hamil yang 27 tahun lalu lahir dengan berat badan 4 kg, setelah 41 minggu bersenang-senang di rahim sang mama

7

Senam Hamil Pertama ^,^

Akhirnya kemarin saya ikutan senam hamil juga. Sebenarnya sejak kemarin-kemarin juga bisa, hanya saja bumil ini terlalu malas. Saya memilih kelas senam hamil di RS Santo Borromeus (Jl. Dago, Bandung), karena berdasarkan hasil googling di sini bayarnya murah dan dapet banyak bonus produk-produk sampel dari sponsor. Yah beginilah kisah hidup pencinta gretongan… walopun nilainya ga seberapa, yang gretongan yang lebih dipilih. :mrgreen:

Saya tiba pukul 08:30 WIB tepat di RS Borromeus, sesuai dengan info yang saya dapat bahwa kelas senam hamil ini akan dimulai pada waktu tersebut. Setelah celingak-celinguk di RS besar ini, akhirnya saya bertanya kepada seorang bapak di meja front office, dan bapak berkumis baplang itu menjelaskan bahwa kelas senam hamil tidak dilakukan di RS, tapi di Klinik Kesehatan Keluarga bertempat Asrama Keperawatan St. Borromeus, Jl. Suryakencana Bandung (tepat di belakang RS).

Klinik Kesehatan Keluarga RS St. Borromeus Bandung

Registrasinya gratis. Saya hanya perlu membayar iuran senam hamil yang akan saya ikuti saat itu, yaitu Rp 15.000,00. Ibu front office juga menginformasikan bahwa setiap Rabu ada kelas Manajemen Laktasi, kalau mau ikutan, nambah lagi Rp 15.000,00. Dan saya ikutan, karena penasaran. 😀

Saya mengintip kelas hamilnya. Wah, rupanya sudah banyak ibu-ibu berperut besar sedang asyik ngerumpi. Saya kemudian mengantri untuk mendapat giliran pemeriksaan tekanan darah oleh mbak bidan.

Suasana kelas senam hamil

Sambil nunggu kelasnya dimulai, seperti biasa saya sok kenal sok deket sama orang-orang. Lumayan dapet 3 kenalan baru, hihi… (Mbak Dewi, Luciana, sama Rosi). Masing-masing usia kehamilannya sudah memasuki minggu ke 33, 37, dan 40. Sepertinya di kelas ini usia kehamilan saya yang paling bontot deh. Tapi kok saya paling endut ya? 😛

Senam pun dimulai. Ternyata senamnya asiiiiik, kaya yoga gitu. Apalagi instrukturnya suka melucu, saya jadi semakin semangat ngikutin senam hamilnya. :mrgreen:

Materi yang diajarkan adalah gerakan-gerakan untuk melenturkan otot-otot saat melahirkan. Ternyata otot yang berperan bukan hanya selangkangan, tapi hampir semua otot di seluruh tubuh (T.T). Selain itu juga diajarkan pernapasan dan mengejan yang baik. Pokonya seru deh, berasa banget jadi ibu-ibunya… ^,^

Nah, tibalah bagian yang paling asik. Setelah senam selesai, mbak-mbak SPG Prenagen membagikan susu coklat gratis. Karena saya di rumah juga minum Prenagen, jadinya ga terlalu heboh sih senengnya. Tapi terus abis itu dibagiin juga burjo (bubur kacang ijo) hangat dan 4 potong roti tawar. Daaaaan, saya dapet paket sampel produk perawatan bayi dan ibu hamil dari Mother & Baby Indonesia. Bener kata orang-orang, di sini bayarnya murah tapi bonusnya banyak, nyahahahaha….

Kudapan pasca senam hamil ^,^

Paket dari Mother & Baby Indonesia

Insya Allah hari Sabtu nanti saya akan ikutan senam hamil di sini lagi. Katanya khusus untuk senam hamil Sabtu pagi, ada bonus penyuluhan promosi kesehatan. Untuk edisi Sabtu ini, yang akan dibahas adalah “Teknik mengurangi nyeri persalinan.” 😀

Kira-kira Sabtu nanti gretongannya apa ya? *ngarep* :mrgreen:

***

PS: Cerita tentang Manajemen Laktasi akan saya tulis di kesempatan lain. Saya lagi males nulis yang serius-serius.

PS lagi: Berikut adalah jadwal kelas senam hamil dan penyuluhan Sabtu di Klinik Kesehatan Keluarga Santo Borromeus (siapa tau ada yang butuh).

Jadwal senam hamil Klinik Kesehatan Keluarga RS Santo Borromeus

Selasa | 16:00 – 18:00 WIB
Rabu | 08:30 – 09:30 WIB (kelas persiapan menyusui 09:30 – 10:30 WIB)
Jumat | 16:00 – 18:00 WIB
Sabtu Gel I | 08:30 – 09:30 WIB (kelas penyuluhan 09:30 – 10:30 WIB)
Sabtu Gel II | 10:30 – 11:30 WIB
Minggu | 10:00 – 12:00 WIB

Jadwal Penyuluhan Promosi Kesehatan Sabtu (Pre-Natal Class) Klinik Kesehatan Keluarga RS Santo Borromeus

4/8/12 | Teknik mengurangi nyeri persalinan
11/8/12 | Rawat gabung
18/8/12 | Imunisasi bayi
25/8/12 | P3K pada bayi
1/9/12 | Makanan bayi
8/9/12 | Pijat bayi sehat
15/9/12 | Tanda bahaya kehamilan
22/9/12 | Deteksi dini pada telinga bayi
29/9/12 | Tumbuh kembang bayi
6/10/12 | Memandikan bayi
13/10/12 | Keluarga berencana
20/10/12 | Senam nifas (fit & shape)
27/10/12 | Perawatan kebidanan
3/11/12 | Persiapan persalinan
10/11/12 | Gizi ibu hamil dan menyusui
17/11/12 | Slide persalinan
24/11/12 | Miracle of ASI
1/12/12 | Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
8/12/12 | Pijat ibu hamil
15/12/12 | Hypnobirthing
22/12/12 | Massage perineum
29/12/12 | Teknik mengurangi nyeri persalinan

18

Nujuh Bulanan (yang Diusahakan) Zero Waste

Alhamdulillah pada Selasa, 17 Juli 2012 lalu, acara nujuhbulanan yang saya beserta keluarga selenggarakan secara kecil-kecilan berjalan dengan lancar.

Kalau mau ngikutin adat Jawa sih, harusnya pada usia tujuh bulan kehamilan pertama, dilakukan upacara tingkeban yang super-duper rumit. Berhubung bakal riweuh ini-itu (apalagi menjelang bulan Ramadhan), saya memilih untuk tidak melakukan upacara ini, melainkan mengambil inti sarinya saja, yaitu berdoa demi keselamatan si jabang bayi.

Saya dan keluarga memilih mengadakan acara pengajian kecil-kecilan saja. Kami mengundang ibu-ibu di kompleks perumahan dan ibu-ibu yang biasa ngaji di masjid untuk mengaji di rumah, lalu makan-makan, dan setelah itu pulang bawa oleh-oleh. Hehehe, simpel sekali ya? 🙂

Nah, mumpung acaranya simpel, saya mengusahakan acara ini supaya bersifat zero waste. Mengadakan acara zero waste memang bukanlah hal mudah, apalagi kalau posisi kita di acara ini cuma “anak bawang.” Untungnya rayuan maut saya berhasil membuat si mamah setuju untuk ber-zero waste walaupun belum bisa 100%. :mrgreen:

Hal pertama yang terpikirkan adalah bagaimana menyuguhkan makanan di rumah secara zero waste (maksudnya makanan yang tidak dibawa pulang). Untungnya karena “syarat”-nya gampang, yaitu cuma menyediakan makanan kaya karbohidrat sebanyak 7 macam (atau lebih, yang penting jumlahnya ganjil), bagian ini sangat bisa dibuat zero waste. Kami menggunakan nyiru yang dilapisi daun pisang, lalu rebusan karbohidrat tadi ditata di atasnya. Ibu-ibu yang datang akan mengonsumsi makanan yang tidak biasa dihidangkan di perkotaan ini menggunakan piring kecil. 🙂

Rebusan karbohidrat (pisang, talas, “sagu,” ubi, singkong, ganyong, kacang tanah, kacang Bogor, jagung manis)

Kedua, untuk makanan yang dibawa pulang (oleh-oleh)–yang biasanya di perkotaan dibungkus menggunakan kotak kertas atau styrofoam–kami menggunakan besek bambu yang dilapisi daun pisang. Nah, untuk yang satu ini perjuangannya lumayan susah. Selain harus melobi si mamah untuk setuju bikin paketan nasi timbel, saya juga harus mencari besek bambu yang sudah semakin sulit didapat di kota ini. Akhirnya berkat rayuan maut saya, si mamah yang biasanya tukang ngatur itu setuju dengan usul saya. Horeee… :mrgreen:

Besek berisi makanan ini nantinya akan dibawa oleh ibu-ibu menggunakan tas jinjing. Awalnya kami ingin menyediakan tas jinjing kain, tapi karena biayanya akan terlalu mahal, kami memilih tas dari bahan yang lebih murah saja tapi tetap anti-kresek, yaitu non-woven (atau apa lah namanya, saya kurang hafal). Sengaja tas-tas jinjing ini tidak kami berikan sablonan kata-kata yang berhubungan dengan acara ini, supaya ibu-ibu ini mau pakai terus tas ini untuk keperluan lain tanpa perlu tersandung rasa malu karena ada label “gratisan” di atasnya.

Besek bambu

Nasinya dibuat “timbel” (dibungkus dengan daun pisang menggunakan teknik khusus), lalu untuk lauknya dibuat “takir” dari daun pisang.

Menunya sederhana saja: nasi timbel, oseng tempe, perkedel kentang, gepuk daging sapi (plus kerupuk, lalab, sambal, dan buah pisang). Di bagian bawahnya ada satu besek lagi berisi rujak dan kue-kue.

Besek nasi dan kue yang sudah dibungkus tas jinjing (anti kresek, booo…).

Rujak yang harus pake delima, yang mana delimanya susah banget dicari. Akrhinya pake delima impor deh.

Lemper, satu-satunya snack gacoan yang ga pake plastik.

Ternyata ada keuntungan lain yang didapat dari usaha ini selain (tentu saja) minimnya jumlah sampah. Daun pisang memberi aroma khas yang membuat cita rasa makanan menjadi lebih mantap. Penggunaan besek juga ternyata membuat ibu-ibu itu senang karena mengingatkan mereka pada masa kecil mereka. Kalau kita bisa bagi-bagi rejeki, sambil melestarikan tradisi, dan memberi perasaan senang yang lebih banyak kepada orang lain, itu kan seru banget…. :mrgreen:

Sayangnya, beberapa jenis makanan dalam paket makanan ini “memaksa” kami untuk tetap menggunakan plastik, antara lain: buah pisang, kerupuk, lalaban, sambal, kue-kue, dan RUJAK. Rujak adalah syarat wajib nujuhbulanan, jadi ga bisa ga ada. (Btw ini wajib versi adat Jawa ya, bukan versi agama :mrgreen:). Sama satu lagi: AMDK (air minum dalam kemasan). Saya ga berhasil merayu si mamah untuk ga menyertakan AMDK dalam kotak kue, euy. Entah kenapa AMDK ini seolah-oleh merupakan kewajiban dalam dunia perkotak-kue-an nasional. Jadi aja ga bisa 100% zero waste.

Tapi kan yang penting kita sudah berusaha. Saya percaya, hal-hal baik yang dilakukan dengan cara yang “baik” akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik lagi. Mudah-mudahan usaha zero waste ini memberi pengaruh positif kepada si dede di dalam perut saya ini untuk menjadi penerus pejuang lingkungan, membantu ibunya, tante-tante dan om-omnya menciptakan masa depan yang lebih baik. Sehat-sehat terus ya dede… tinggal 2 bulan lagi nih, jangan nakal ya. 😀

15

Tahun Pertama yang Berbeda

Hari ini, 10 Juli 2012, adalah tepat 1 tahun setelah saya dinikahi oleh seorang pria keren bernama Ekaprasetya Yusnikusumah. Tentu saja “keren”-nya menurut definisi yang saya buat sendiri.

Satu tahun sudah saya tidak lagi lajang dan menjadi ibu rumah tangga. Ini adalah pilihan yang saya ambil sendiri. Bukan apa-apa, saya hanya ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi ibu rumah tangga. Saya ingin ketika kelak saya perlu memutuskan untuk memilih antara menjadi wanita karir atau menjadi ibu rumah tangga, saya bisa mengambil keputusan yang objektif dan tidak bias.

Sama seperti rumah tangga muda pada umumnya, pastilah banyak rintangan yang dihadapi pada tahun pertama pernikahan. Benar kata orang, menikah muda itu berat. Berat di ego, berat di uang, dan berat di pantat (tapi yang terakhir ini khusus buat yang gendut aja :mrgreen:). Saya bersyukur saya mengalami kesulitan-kesulitan ini, karena bagi saya mengalami kesulitan pada saat kita belum mapan adalah kawah candradimuka gratis. Kalau kita mengalami kesulitan saat kita sudah mapan, itu sangat ga rame, sodara-sodara.

Alhamdulillah, pernikahan ini telah membuat perut saya gendut. Dalam perut saya kini hidup satu makhluk imut berumur 28 minggu yang setiap hari kerjanya menendangi dan menonjoki perut saya. Kedatangan sosok ini tidak saya duga, dan awalnya cukup membuat saya syok. Tapi itu semua berubah menjadi tawa, terlebih karena ternyata sosok ini begitu diharapkan oleh keempat kakek-neneknya yang masing-masing belum pernah punya cucu.

My baby :3

***

Happy first anniversary, suamiku. Sebenarnya saya ingin sekali membuatkan kue-kue lucu, tapi berhubung dirimu sedang berada di pulau lain untuk mencari sesuap nasi dan sebongkah berlian, saya kirim dalam bentuk foto saja ya. Kue aslinya menyusul. 🙂

Semoga di tahun-tahun berikutnya kita bisa terus lebih baik lagi. Dan semoga kita selalu bahagia dan tidak terpisahkan sampai tua. Amiiiiiin…. 😀

8

Malin Kundang Tak Lagi Durhaka

Lekat sekali dalam ingatan kita sosok Malin Kundang yang berasal dari tanah Minang, sosok yang kini “berwujud” batu karena dikutuk ibunya yang merasa sakit hati atas sikapnya yang durhaka.

Kisah Malin Kundang (Sumber)

Dikisahkan Malin pergi merantau mencari penghidupan baru. Di tengah laut, kapal yang ditumpanginya kena bajak, tapi untunglah Malin selamat karena bersembunyi di sebuah ruangan kecil. Malin kemudian terdampar di tanah yang subur. Berkat keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin bisa menjadi kaya raya dan terkenal. Suatu hari Malin dan istrinya melakukan pelayaran dan singgah di Minang. Ibunda Malin pun menyambutnya dengan suka cita. Namun malang nasib sang ibu, dia tidak diakui oleh anaknya sendiri. Sosok tua itu kemudian menjadi marah, lalu mengutuk anaknya menjadi batu. Selesai.

Begitulah kira-kira ceritanya. Pastilah cerita yang teman-teman dengar kurang lebih sama dengan yang saya dengar. Saking umumnya, sampai-sampai sosok Malin Kundang ini dijadikan simbol untuk terminologi “anak durhaka.”

Tapi bagaimana jika ada yang bercerita tentang Malin, tapi Malin bukanlah anak durhaka? Bagaimana jika kisah Malin diceritakan seperti ini:

Karena desakan ekonomi, Malin Kundang pergi merantau. Dia berprofesi sebagai tukang masak junior berusia 15 tahun di sebuah kapal barang. Di tengah laut, kapal barang yang ditumpanginya dibajak oleh perompak Somalia. Malin selamat, lalu James Bond, seorang kapten kapal dari Inggris membawa Malin ke Glasgow. Malin kemudian disekolahkan di sekolah masak ternama, dan setelah lulus, Malin membuka restoran Padang di Glasgow, London, dan Manchester.

Suatu hari terdengar kabar dari tanah Minang, bahwa terjadi tsunami besar di sana. Malin tergerak untuk membantu saudara-saudaranya di tanah air, dia mengirimkan bantuan makanan ke Minang dalam jumlah besar, di mana dia sendiri yang memimpinnya. Di tepi pantai di Minang, dia bertemu seorang wanita tua yang jalan terantuk-antuk. Dilihatnya wanita tua itu menggunakan selendang putih kumal yang dikenalinya. Malin menangis, lalu mengajak ibunya pindah ke London untuk membuka lebau dan mendirikan surau.

Kisah itu bukan buatan saya, melainkan buatan Abah Wawan Husin, seorang pendongeng, pengajar, seniman, dan “jepruter.” Apa itu jepruter? Sepenangkapan saya, jepruter itu artinya seniman suka-suka. Bahasa Sunda-nya sih seniman yang berpinsip “kumaha aing we, siah!:mrgreen:

Saya dipertemukan dengan kisah yang menceritakan Malin Kundang yang dipelesetkan menjadi Marlin Cook Kundrang ini pada acara Bincang Edukasi Meet Up #8 di Boeminini, Bandung, 7 Juli 2012 lalu. Sebenarnya acara ini diisi oleh beberapa presentan, tapi si abah ini lah yang paling menarik perhatian saya.

Wawan Husin

Wawan Husin

Abah Wawan Husin sangat mencintai dunia dongeng, karena dunia ini mengingatkannya kepada ibundanya yang telah tiada. Menurutnya, dongeng adalah metoda pendidikan yang bertaburkan cinta dan kejujuran. Orang yang tulus dan jujur pada diri sendiri akan sangat bisa menjadi pendongeng yang baik, seperti kutipan Kafka yang dimodifikasi, “Every body is a story teller if he is honest to himself.”

Sosok nyentrik ini secara tegas menyatakan ketidaksukaannya pada dongeng-dongeng atau lagu-lagu yang beredar di Indonesia. Inilah yang membuat beliau menggubah dongeng Malin Kundang yang sudah meng-Indonesia itu.

Beliau bertanya-tanya, kenapa kancil harus jadi anak nakal, sehingga anak-anak tidak ada yang mau jadi kancil? Kenapa balon kita hanya ada lima, sehingga kita hanya tau warna-warna itu saja? Kenapa tidak “balonku ada 200” sehingga anak-anak bisa mengenal diversitas warna? Kenapa Malin Kundang harus durhaka dan kemudian menjadi batu, sehingga anak-anak tidak berani membantah kepada orang tua karena takut jadi batu?

Saya sangat sependapat dengan si abah yang lincah ini. Kebanyakan dongeng atau lagu yang diajarkan kepada anak kecil di negeri ini justru lebih bermuatan negatif ketimbang positif. Ambil contoh kisah Malin Kundang ini. Saya pikir, kisah ini sengaja dibuat oleh orang jaman dulu untuk menakut-nakuti anak kecil supaya mereka tidak membantah orang tua mereka. Tapi apakah ini esensi dari “berbakti”? Hanya karena takut? Bagaimana jika seiring kedewasaan si anak kelak, rasa takut berbalut kepercayaan akan hal-hal mistis itu hilang? Apakah jika seorang anak tidak lagi takut dikutuk menjadi batu, maka mereka mendapat pembenaran untuk “boleh” tidak berbakti kepada orang tuanya?

Untuk itulah dalam sebuah pendidikan lebih dibutuhkan penanaman nilai-nilai positif ketimbang nilai-nilai negatif. Nilai positif akan jauh lebih aman dan mampu memprevensi pembenaran-pembenaran liar maupun unintended consequences lainnya. Jika untuk tujuan yang sama kita bisa memunculkan nilai-nilai positif pada sebuah dongeng, kenapa kita masih pakai yang negatif?

Coba kita baca lagi dongeng gubahan Abah Wawan di atas. Di sana beliau memasukkan beberapa unsur pendidikan: bilangan (15 tahun), keprofesian (tukang masak), geografi (Somalia, Glasgow, London, Manchester, Inggris), sains (tsunami), bahasa asing (Bahasa Inggris yang digunakan Malin), kemanusiaan (Malin membantu korban tsunami), dan yang paling penting: nilai-nilai luhur kekeluargaan (Malin tidak durhaka kepada ibunya). Apakah pesan utama yang ingin disampaikan pada kisah Malin Kundang hasil modifikasi ini sama dengan kisah Malin Kundang konvensional? Saya rasa sama. Hanya saja melalui kisah modifikasi ini, si pendengar tidak terinspirasi untuk menjadi anak durhaka, karena tidak ada lagi sosok “anak cilako” pada kisah itu. Jauh lebih indah bukan? 😉

Saya rasa si abah tidak berniat buruk mendiskreditkan dongeng Malin Kundang konvensional yang sudah turun-temurun itu. Beliau sekedar ingin mencontohkan saja, agar kita bisa membandingkan nilai-nilai di antara kedua dongeng tersebut. Intinya kita perlu behati-hati dalam mendongeng, jangan sampai alih-alih memberikan inspirasi yang baik, kita malah menebar teror. (–> bahasa saya mulai lebay :mrgreen:)

Ini adalah pelajaran yang sangat berharga bagi saya yang bercita-cita menjadi orang tua yang baik kelak. Tidak hanya dalam mendongeng, dalam melakukan hal apapun kita sebenarnya perlu lebih menonjolkan nilai positif ketimbang nilai negatif. Mungkin kita memang perlu kreatif, tapi yang lebih penting adalah kita perlu latihan dari sekarang! 😀

***

Sebagai penutup, teman-teman yang penasaran dengan aksi dongeng teaterikal si abah bisa melihatnya dalam video di bawah ini. File asli video ini adalah 1.33 GB, jadi saya kecilin, eh ga taunya malah kekecilan… :mrgreen: Pada bagian tengah video, suara kurang terdengar jelas. Kalau kurang paham jalan ceritanya, tinggal lihat lagi sinopsis dongeng yang saya tuliskan di atas. Selamat menikmati! 🙂

PS: Sinopsis di atas merupakan storyboard yang dibacakan oleh si abah sebelum beraksi, mungkin ada sedikit perbedaan dengan dongeng teraterikalnya.

PS lagi: Arti “jemprol” adalah “two thumbs up.” Kalau “jempol”, cuma “thumb up.:mrgreen: