10

Aljabar

Beberapa hari lalu saya menemukan sebuah note di Facebook:

Hey, try to solve this problem!

Edison: “Give me one dollar, then i’ll have twice as much money as you, Nikola!

Tesla: “No Tom, you give me one dollar! Then we will have both the same amount of money.”

How many dollars has got each?

—-

Apakah teman-teman bisa langsung menebaknya? Karena formulasinya masih sederhana, jawaban dari pertanyaan ini sangat mungkin untuk ditebak dengan mudah tanpa perlu membuat persamaannya.

Tapi karena saya lagi kurang kerjaan, saya coba selesaikan soal ini secara jantan. *eh*

Kesimpulannya, Edison punya 7 dollar, sedangkan Tesla punya 5 dollar.

Saya jadi ingat masa-masa SD dulu, ketika belajar adalah sesuatu yang menyenangkan dan akan saya lakukan tanpa disuruh orang tua. Dulu saya suka sekali matematika, dan aljabar adalah salah satu bab pelajaran favorit saya pada mata pelajaran ini selain trigonometri dan logika. Sayangnya perkuliahan di kampus gajah duduk membuat saya kini benci matematika. Apalagi setelah kenalan sama si integral lipat tiga.. (dafuq did I just study?  T.T)

Terus? Ya udah, gitu aja. Cuma pengen cerita kalau saya dulu suka sekali matematika.

Maaf ga penting. :mrgreen:

Advertisements
17

Menjayakan Kembali Sang Primadona Budaya Indonesia

Alangkah miris rasanya mengetahui bahwa wayang — warisan budaya asli Indonesia — sangat diapresiasi di negeri lain, tapi tidak di negeri asalnya… bahwa sementara di negeri lain seni wayang sudah resmi masuk ke dalam kurikulum pendidikan formal, di negeri asalnya para budayawan perlu beradu otot dengan pemerintah untuk memperoleh pencapaian yang sama.

Dalam sejarah perkembangannya, bangsa Indonesia pernah menciptakan puncak-puncak kreasi dan karya yang sampai sekarang masih dikagumi. Kreasi dan karya budaya tersebut merupakan  hasil akal, budi, dan pikiran manusia yang tak ternilai harganya.

(Ilustrasi dari jakarta.go.id)

Kesenian wayang adalah satu dari sekian banyak kesenian khas Indonesia. Di mata para pengamat budaya, kesenian wayang memiliki nilai lebih dibandingkan seni lainnya, karena kesenian wayang merupakan kesenian yang komprehensif yang dalam pertunjukannya memadukan unsur-unsur kesenian, diantaranya seni karawitan, seni rupa (tatah sungging), seni pentas (pedalangan), dan seni tari  (wayang orang). Di samping fungsinya sebagai hiburan, kesenian wayang juga memiliki fungsi estetika dan sarat dengan nilai-nilai luhur. Setiap alur cerita, falsafah dan perwatakan tokohnya, sampai bentuk pada kesenian wayang mengandung makna yang sangat mendalam.

Kita patut berbangga akan hal ini, karena kemajuan sebuah bangsa salah satunya ditentukan oleh peradaban budayanya. Bahkan UNESCO, lembaga yang membawahi kebudayaan dari PBB pada tahun 2003 menetapkan wayang — yang merupakan kebudayaan asli Indonesia — sebagai sebuah warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity). Ironisnya, bukan rasa bangga dan tindakan melestarikan kebudayaan ini yang muncul, tapi anggapan bahwa kebudayaan ini kuno dan ketinggalan jaman sehingga generasi muda mulai meninggalkannya.

Sudah sebegitu lunturnyakah rasa kecintaan kita pada kesenian wayang?  Berkaca pada diri sendiri, mungkin saja jawabannya adalah “ya.” Saya terakhir kali menonton pertunjukan wayang hampir dua tahun lalu. Itupun karena tidak sengaja saya temukan di sebuah festival di kota tempat saya tinggal. Saya lupa siapa dalangnya, saya juga lupa bagaimana ceritanya. Mungkin saya adalah representasi dari generasi muda yang mulai acuh tak acuh dengan kesenian ini.

Saya pernah suka sekali dengan wayang, terutama wayang golek. Semuanya berawal saat orang tua saya membelikan saya “Si Cepot”, tokoh wayang golek yang memang merupakan idola saya pada kala itu. Walaupun sedikit menakutkan dengan mukanya yang merah dan giginya yang menonjol, kelucuan karakternya membuat saya jatuh hati. Kini Si Cepot entah berada di mana, saya sudah lama sekali tidak memikirkannya.

Pertunjukan mini wayang golek di Braga Festival 2010

Ketemu Cepot di Braga Festival 2010, langsung minta foto bareng 😀

Tak bisa dipungkiri, arus globalisasi dan modernisasi yang terlampau kencang menerpa negeri ini membuat kita melupakan budaya tradisional. Jika jaman dulu orang menyetel televisi untuk menonton pertunjukan wayang kulit/golek/orang di TVRI, kini ada banyak pilihan lain yang dianggap lebih menarik seperti sinetron atau sitkom. Tak heran jika semakin lama masyarakat semakin tidak mengenal wayang, apalagi tergerak untuk melestarikannya. Seperti kata pepatah, “tak kenal maka tak sayang.”

Jika generasi saya yang masa kecilnya diwarnai kesenian wayang saja kini bersikap acuh tak acuh terhadap kesenian ini, bagaimana dengan generasi anak-anak jaman sekarang yang mungkin sama sekali tidak pernah bersentuhan dengan dunia wayang? Lalu mau dibawa kemana warisan budaya ini? Pantaskah wayang tergeser oleh Naruto atau tokoh kartun lain? Memikirkannya saja saya sudah merinding. -_-

Saya merasa tergerak untuk kembali mencintai wayang. Saya tidak mau anak cucu saya kelak mengenal wayang hanya karena mengunjungi museum, lalu manggut-manggut saat membaca keterangan “ini adalah warisan budaya Indonesia.” Atau mengenal wayang karena menonton pertunjukan yang justru digelar oleh orang-orang yang bukan berkebangsaan Indonesia.

Mengeluh dan berharap saja tentu tidak akan menyelesaikan masalah. Sebagai bagian dari generasi yang sedikit lebih tua pada masa ini, saya merasa perlu ambil bagian dalam menemukan solusi untuk mengembalikan kejayaan kesenian wayang di mata anak-anak. Berikut adalah beberapa solusi yang sempat terpikirkan di benak saya terkait masalah ini:

Bagi Para Orang Tua

1. Mempelajari Dunia Wayang sebagai Modal untuk Mengajar dan Mendidik Anak

Selain memiliki cerita yang menarik, dunia wayang juga berisikan nilai-nilai luhur dan falsafah hidup yang penting untuk pembentukan karakter anak-anak. Jika kita masih kurang percaya diri membawakan nilai-nilai tersebut, minimal kita bisa membawakan cerita yang menarik dan menghibur untuk anak-anak.

Untuk mempelajari cerita wayang klasik, kita cukup sesekali menonton pertunjukan wayang. Atau kalau tidak, kita bisa membaca bukunya.  Sayangnya di dua cerita yang paling populr dalam dunia perwayangan yaitu Ramayana dan Mahabharata, terdapat beberapa bagian cerita yang kurang cocok untuk dikonsumsi anak-anak. Tapi kita bisa memilahnya dan hanya menceritakan bagian yang pantas untuk diceritakan. Saat kita sudah hafal ceritanya, kita bisa menggunakannya sebagai dongeng pengantar tidur atau media pembelajaran suatu materi.

Buku karya Rizem Aizid, cocok untuk pemula

2. Mengajak Anak-anak Mengunjungi Museum Budaya

Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Kita bisa memanfaatkan energi ini untuk mengajak mereka menjelajahi museum yang menampilkan koleksi wayang. Memang belum banyak berdiri museum khusus wayang di negeri ini, tapi paling tidak terdapat beberapa museum di beberapa kota besar yang bisa kita dijadikan pilihan:

Koleksi wayang golek Museum Sri Baduga Bandung

Koleksi wayang beber Museum Sri Baduga Bandung

3. Menjadikan Wayang sebagai Objek Kreasi

Banyak kegiatan yang dinilai bisa merangsang kemampuan motoris anak, misalnya menggambar, mewarnai, dan berprakarya. Sambil merangsang kreativitas mereka, kita bisa memperkenalkan wayang pada kegiatan-kegiatan ini, misalnya:

  • Mewarnai gambar wayang. Gambar polos wayang bisa diunduh secara gratis misalnya di laman Facebook e-wayang.
  • Membuat wayang kertas. Cara membuatnya bisa disimak di blog Surfer Girl. Jika bentuk wayang asli (misalnya wayang kulit) dirasa terlalu sulit, bisa dibuat bentuk lain yang disukai. Selanjutnya wayang hasil karya bisa digunakan untuk mengadakan pertunjukan kecil-kecilan. 😀
  • Membuat papertoy  wayang. Cetakannya bisa diunduh secara gratis misalnya di blog Yapato dan Salazad.
  • Membuat wayang dari daun singkong. Cara membuatnya bisa disimak di blog Dey.

Wayang kertas (ilustrasi dari en.surfer-girl.com)

Papertoy Bima dan Sadewa hasil buatan sendiri ^,^

Wayang batang daun singkong (ilustrasi dari blog Dey)

4. Memanfaatkan Kemajuan Teknologi Informasi

Seiring kemajuan teknologi, kini inspirasi dan cerita estetis wayang dapat kita nikmati dalam bentuk digital. Salah satunya adalah komik e-wayang.org dan situs interaktif ramaya.na. Dengan gambar yang lucu dan menarik, diharapkan anak-anak akan bersemangat untuk menyimaknya. 😀

Komik e-wayang (ilustrasi dari e-wayang.org)

Situs ramaya.na (ilustrasi dari ramaya.na)

5. Menuansakan Wayang dalam Kehidupan Sehari-hari

Banyak barang-barang yang kita gunakan sehari-hari yang bisa kita manfaatkan untuk menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap wayang, misalnya: baju, tas, sepatu, mug, dan lain-lain. Diharapkan dengan interaksi setiap hari dengan wayang, apalagi jika sudah menjadi ikon bagi barang kesayangan mereka, anak-anak akan mencintai wayang dengan sendirinya. 😀

Kaos Srikandhi, hasil hunting di Jogja

Mug wayang (ilustrasi dari kaskus.co.id)

.

Bagi Para Pelaku Dunia Wayang

1. Mengembangkan Inovasi Pertunjukan Wayang Khusus Anak-anak

Jika biasanya pertunjukan wayang digelar semalam suntuk, menggunakan Bahasa Jawa atau Sunda secara full, dan terkadang berisikan cerita-cerita dewasa, maka perlu dibuat juga pertunjukan wayang khusus untuk anak-anak. Misalnya dibuat pada waktu siang hari dengan durasi hanya 2 jam, menggunakan Bahasa Indonesia, dan berisikan cerita khusus anak-anak.

Khusus untuk anak-anak jaman sekarang yang agak kebarat-baratan, kesenian wayang perlu punya nilai nyentrik, sehingga mungkin para dalang perlu bereksperimen dengan memasukkan unsur pop ke dalamnya. Sebenarnya ini bukan hal baru, karena sejak tahun 1925 sudah ada wayang kancil, dan sejak tahun 2010 ada wayang hiphop.

Wayang kancil (ilustrasi dari dongengwayangkancil.wordpress.com)

Wayang hiphop (ilustrasi dari Facebook.com)

2. “Memformalkan” Wayang

Seni wayang mengandung nilai-nilai luhur dan falsafah hidup yang baik untuk membantu pembentukan karakter anak-anak, oleh karena itu seni wayang sangat cocok untuk dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan nasional. Upaya ini telah dilakukan oleh PEPADI, namun sayangnya gayung belum bersambut.

Kita juga bisa mengusulkan adanya Hari Wayang Nasional. Sama seperti hari-hari perayaan lainnya, biasanya masyarakat akan melakukan hal-hal spesial pada hari-hari tersebut. Saya harap, jika ada Hari Wayang Nasional, stasiun televisi swasta akan tergerak untuk menampilkan pertunjukan wayang, dan masyarakat awam akan tergerak untuk berkontribusi memajukan dunia perwayangan nasional, misalnya para blogger menulis artikel tentang wayang. 🙂

3. Mengadakan Kelas atau Kursus Dalang Bocah

Sayang sekali rasanya jika apresiasi dan minat anak-anak terhadap wayang berhasil ditingkatkan tapi tidak tersedia cukup banyak fasilitas yang memungkinkan anak-anak berkecimpung lebih jauh dalam dunia wayang, misalnya tidak ada tempat kursus dalang dan sinden bocah. Untuk  menjadi seorang dalang dan sinden profesional tentulah tidak cukup dengan mengikuti kursus selama beberapa bulan. Tapi sebagai langkah awal untuk memfasilitasi kecintaan anak-anak terhadap wayang, sepertinya wadah-wadah semacam ini perlu ada dan dikelola dengan baik.

Sekolah Pedalangan “Sobokartti” (ilustrasi dari sobokartti.wordpress.com)

4. Mengadakan dan Mendukung Acara-acara Spesial Pewayangan secara Berkala

Salah satunya adalah Festival Dalang Bocah Nasional yang diselenggarakan setiap tahun di berbagai kota pada sejak 2008. Kegiatan ini diprakarsai oleh PEPADI dan didukung oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga RI dan berbagai sponsor. Festival serupa tingkat daerah juga dilaksanakan oleh PEPADI provinsi dan kabupaten/kota setiap tahunnya.

Dalang bocah (ilustrasi dari festivaldalangbocah.com)

Ketua Umum PEPADI Pusat, Ekotjipto, mengatakan Festival Dalang Bocah diadakan untuk mendorong kecintaan anak-anak terhadap profesi dalang. PEPADI berada posisi mengawal tradisi seni wayang agar tetap lestari dan menjaga agar mata rantai generasi pedalangan tidak putus begitu saja. (Sumber)

***

Itulah beberapa hal yang menurut saya bisa kita lakukan mulai dari sekarang untuk menumbuhkan kembali minat anak-anak terhadap dunia wayang.

Kelestarian seni dan budaya wayang adalah tanggung jawab kita bersama sebagai bangsa pemilik sah kebudayaan ini. Dibutuhkan tekad dan komitmen yang kuat dari berbagai pihak untuk mengembalikan kejayaan wayang sebagai primadona budaya nasional, terutama di mata anak-anak Indonesia yang hidup di generasi instan seperti sekarang. Mengandalkan pemerintah saja tentu bukan hal yang bijak, karena sejatinya peran keluarga dan masyarakat bisa memberikan hasil yang lebih optimal.

Menggubah sedikit kesenian ini agar sesuai dengan perkembangan jaman menurut saya bukanlah sesuatu yang salah. Toh yang penting kita bisa menggiring generasi penerus kita untuk mencintai wayang. Biarkanlah mereka mencintai wayang melalui jalur yang mereka pilih sendiri. Bukankah yang terpenting dari seni wayang bukanlah kemasannya, tetapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya?

Semoga tidak ada lagi kata-kata sumbang yang mengeluhkan “kok wayang lebih diapresiasi di luar negeri ya?”. Semoga seni dan budaya wayang bisa kembali menjadi primadona di tanah kelahirannya sendiri. Tidak lagi dianggap ribet, tetapi agung… tidak lagi dianggap aneh, tetapi unik… dan tidak lagi dianggap kuno, tetapi antik…

Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai budayanya. Jayalah selalu wayangku, primadona budayaku. 🙂

8

Malin Kundang Tak Lagi Durhaka

Lekat sekali dalam ingatan kita sosok Malin Kundang yang berasal dari tanah Minang, sosok yang kini “berwujud” batu karena dikutuk ibunya yang merasa sakit hati atas sikapnya yang durhaka.

Kisah Malin Kundang (Sumber)

Dikisahkan Malin pergi merantau mencari penghidupan baru. Di tengah laut, kapal yang ditumpanginya kena bajak, tapi untunglah Malin selamat karena bersembunyi di sebuah ruangan kecil. Malin kemudian terdampar di tanah yang subur. Berkat keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin bisa menjadi kaya raya dan terkenal. Suatu hari Malin dan istrinya melakukan pelayaran dan singgah di Minang. Ibunda Malin pun menyambutnya dengan suka cita. Namun malang nasib sang ibu, dia tidak diakui oleh anaknya sendiri. Sosok tua itu kemudian menjadi marah, lalu mengutuk anaknya menjadi batu. Selesai.

Begitulah kira-kira ceritanya. Pastilah cerita yang teman-teman dengar kurang lebih sama dengan yang saya dengar. Saking umumnya, sampai-sampai sosok Malin Kundang ini dijadikan simbol untuk terminologi “anak durhaka.”

Tapi bagaimana jika ada yang bercerita tentang Malin, tapi Malin bukanlah anak durhaka? Bagaimana jika kisah Malin diceritakan seperti ini:

Karena desakan ekonomi, Malin Kundang pergi merantau. Dia berprofesi sebagai tukang masak junior berusia 15 tahun di sebuah kapal barang. Di tengah laut, kapal barang yang ditumpanginya dibajak oleh perompak Somalia. Malin selamat, lalu James Bond, seorang kapten kapal dari Inggris membawa Malin ke Glasgow. Malin kemudian disekolahkan di sekolah masak ternama, dan setelah lulus, Malin membuka restoran Padang di Glasgow, London, dan Manchester.

Suatu hari terdengar kabar dari tanah Minang, bahwa terjadi tsunami besar di sana. Malin tergerak untuk membantu saudara-saudaranya di tanah air, dia mengirimkan bantuan makanan ke Minang dalam jumlah besar, di mana dia sendiri yang memimpinnya. Di tepi pantai di Minang, dia bertemu seorang wanita tua yang jalan terantuk-antuk. Dilihatnya wanita tua itu menggunakan selendang putih kumal yang dikenalinya. Malin menangis, lalu mengajak ibunya pindah ke London untuk membuka lebau dan mendirikan surau.

Kisah itu bukan buatan saya, melainkan buatan Abah Wawan Husin, seorang pendongeng, pengajar, seniman, dan “jepruter.” Apa itu jepruter? Sepenangkapan saya, jepruter itu artinya seniman suka-suka. Bahasa Sunda-nya sih seniman yang berpinsip “kumaha aing we, siah!:mrgreen:

Saya dipertemukan dengan kisah yang menceritakan Malin Kundang yang dipelesetkan menjadi Marlin Cook Kundrang ini pada acara Bincang Edukasi Meet Up #8 di Boeminini, Bandung, 7 Juli 2012 lalu. Sebenarnya acara ini diisi oleh beberapa presentan, tapi si abah ini lah yang paling menarik perhatian saya.

Wawan Husin

Wawan Husin

Abah Wawan Husin sangat mencintai dunia dongeng, karena dunia ini mengingatkannya kepada ibundanya yang telah tiada. Menurutnya, dongeng adalah metoda pendidikan yang bertaburkan cinta dan kejujuran. Orang yang tulus dan jujur pada diri sendiri akan sangat bisa menjadi pendongeng yang baik, seperti kutipan Kafka yang dimodifikasi, “Every body is a story teller if he is honest to himself.”

Sosok nyentrik ini secara tegas menyatakan ketidaksukaannya pada dongeng-dongeng atau lagu-lagu yang beredar di Indonesia. Inilah yang membuat beliau menggubah dongeng Malin Kundang yang sudah meng-Indonesia itu.

Beliau bertanya-tanya, kenapa kancil harus jadi anak nakal, sehingga anak-anak tidak ada yang mau jadi kancil? Kenapa balon kita hanya ada lima, sehingga kita hanya tau warna-warna itu saja? Kenapa tidak “balonku ada 200” sehingga anak-anak bisa mengenal diversitas warna? Kenapa Malin Kundang harus durhaka dan kemudian menjadi batu, sehingga anak-anak tidak berani membantah kepada orang tua karena takut jadi batu?

Saya sangat sependapat dengan si abah yang lincah ini. Kebanyakan dongeng atau lagu yang diajarkan kepada anak kecil di negeri ini justru lebih bermuatan negatif ketimbang positif. Ambil contoh kisah Malin Kundang ini. Saya pikir, kisah ini sengaja dibuat oleh orang jaman dulu untuk menakut-nakuti anak kecil supaya mereka tidak membantah orang tua mereka. Tapi apakah ini esensi dari “berbakti”? Hanya karena takut? Bagaimana jika seiring kedewasaan si anak kelak, rasa takut berbalut kepercayaan akan hal-hal mistis itu hilang? Apakah jika seorang anak tidak lagi takut dikutuk menjadi batu, maka mereka mendapat pembenaran untuk “boleh” tidak berbakti kepada orang tuanya?

Untuk itulah dalam sebuah pendidikan lebih dibutuhkan penanaman nilai-nilai positif ketimbang nilai-nilai negatif. Nilai positif akan jauh lebih aman dan mampu memprevensi pembenaran-pembenaran liar maupun unintended consequences lainnya. Jika untuk tujuan yang sama kita bisa memunculkan nilai-nilai positif pada sebuah dongeng, kenapa kita masih pakai yang negatif?

Coba kita baca lagi dongeng gubahan Abah Wawan di atas. Di sana beliau memasukkan beberapa unsur pendidikan: bilangan (15 tahun), keprofesian (tukang masak), geografi (Somalia, Glasgow, London, Manchester, Inggris), sains (tsunami), bahasa asing (Bahasa Inggris yang digunakan Malin), kemanusiaan (Malin membantu korban tsunami), dan yang paling penting: nilai-nilai luhur kekeluargaan (Malin tidak durhaka kepada ibunya). Apakah pesan utama yang ingin disampaikan pada kisah Malin Kundang hasil modifikasi ini sama dengan kisah Malin Kundang konvensional? Saya rasa sama. Hanya saja melalui kisah modifikasi ini, si pendengar tidak terinspirasi untuk menjadi anak durhaka, karena tidak ada lagi sosok “anak cilako” pada kisah itu. Jauh lebih indah bukan? 😉

Saya rasa si abah tidak berniat buruk mendiskreditkan dongeng Malin Kundang konvensional yang sudah turun-temurun itu. Beliau sekedar ingin mencontohkan saja, agar kita bisa membandingkan nilai-nilai di antara kedua dongeng tersebut. Intinya kita perlu behati-hati dalam mendongeng, jangan sampai alih-alih memberikan inspirasi yang baik, kita malah menebar teror. (–> bahasa saya mulai lebay :mrgreen:)

Ini adalah pelajaran yang sangat berharga bagi saya yang bercita-cita menjadi orang tua yang baik kelak. Tidak hanya dalam mendongeng, dalam melakukan hal apapun kita sebenarnya perlu lebih menonjolkan nilai positif ketimbang nilai negatif. Mungkin kita memang perlu kreatif, tapi yang lebih penting adalah kita perlu latihan dari sekarang! 😀

***

Sebagai penutup, teman-teman yang penasaran dengan aksi dongeng teaterikal si abah bisa melihatnya dalam video di bawah ini. File asli video ini adalah 1.33 GB, jadi saya kecilin, eh ga taunya malah kekecilan… :mrgreen: Pada bagian tengah video, suara kurang terdengar jelas. Kalau kurang paham jalan ceritanya, tinggal lihat lagi sinopsis dongeng yang saya tuliskan di atas. Selamat menikmati! 🙂

PS: Sinopsis di atas merupakan storyboard yang dibacakan oleh si abah sebelum beraksi, mungkin ada sedikit perbedaan dengan dongeng teraterikalnya.

PS lagi: Arti “jemprol” adalah “two thumbs up.” Kalau “jempol”, cuma “thumb up.:mrgreen:

24

Sejenak Lahir Kembali di Babakan Siliwangi

Sebagai warga negara Indonesia, kita berhak berbangga diri, karena dengan luasnya wilayah dan tingginya keanekaragaman hayati yang dimiliki, hutan Indonesia kini menjadi tumpuan dunia. Kita juga sering melantangkan bahwa hutan adalah penyangga kehidupan yang harus dijaga dengan baik. Tapi apakah kita—masyarakat kota—benar-benar paham tentang hutan? Pernahkah Anda melihat bagaimana bentuknya, mencium aromanya, menginjak tanahnya, atau bermain dengan binatang-binatang yang tinggal di dalamnya?

Jika Anda lahir dan dibesarkan di kota besar, mungkin Anda belum pernah berinteraksi dengan hutan karena sulitnya akses hutan dari kota. Lalu dengan kondisi seperti ini, masih layakkah anggapan bahwa “tinggal di kota” adalah sebuah simbol kemajuan?

Kotor dan menyeramkan. Mungkin dua hal inilah yang terpatri kuat di benak masyarakat kota tentang hutan. Begitu kuatnya, sehingga mereka cenderung menjauhi hutan. Terlepas dari kedua stigma tersebut, sejatinya hutan memiliki banyak fungsi dan manfaat bagi manusia, bahkan melebihi apa yang kebanyakan kita pikirkan selama ini. Yang kita tahu, hutan menghasilkan oksigen dan menyimpan air dalam jumlah besar, tapi tahukah Anda bahwa hutan juga bisa mejadi sarana pendidikan dan bersosial?

Memiliki banyak warna dan suara, hutan sangatlah cocok menjadi tempat bermain dan belajar bagi anak-anak yang sedang tumbuh dan berkembang. Semakin beragam warna dan suara yang ditangkap oleh panca indera anak- anak, semakin terpicu pula otak mereka untuk berkembang. Lasekapnya yang luas memungkinkan anak-anak berlari dengan bebas, membuat saraf motoris mereka terlatih. Suasananya yang tentram dan mendamaikan hati membuat hutan juga bisa menjadi sarana yang sangat cocok bagi orang dewasa untuk berkumpul dan bersosial. Sambil ditemani nyanyian serangga dan hembusan angin sepoi-sepoi, kegiatan bersosial akan terasa semakin mengasyikkan.

Bunga berwarna-warni di salah satu sudut Babakan Siliwangi.

Tak ayal, hutan menjadi hal mutlak yang perlu ada untuk menemani manusia di mana pun manusia beraktivitas, di desa maupun di kota. Sayangnya tidak banyak kota besar di Indonesia memiliki hutan yang berdiri kokoh di antara lintasan-lintasan jalan aspal dan gedung-gedung beton. Sepertinya peraturan pemerintah yang mewajibkan seluruh kota memiliki minimal 30% RTH (Ruang Terbuka Hijau) hanya dianggap angin lalu. Belum lagi terdapat mispersepsi tentang definisi RTH. Di kota-kota besar, orang menganggap taman kota yang 80%-nya ditutupi aspal atau semen adalah RTH. Padahal sejatinya RTH lebih dari itu. RTH seharusnya berbentuk hutan, yang 100% tanah dan tumbuhan, bukan yang sebagian besar ditutupi aspal atau semen.

Tapi, apakah mungkin kita memiliki hutan di tengah kota? Jawabannya adalah sangat mungkin! Kenapa tidak? Tapi tentu saja hanya jika kita menghendakinya. Jika tidak percaya, datang saja ke kota Bandung, kota tempat kami tinggal. Di Bandung, Anda bisa menemukan kawasan bernama Babakan Siliwangi, sebuah hutan mini dengan luas 3,8 hektar yang terletak di jantung kota Bandung. Anda mungkin tidak akan percaya bahwa ini adalah hutan buatan, karena pohonnya tinggi-tinggi dan bermacam-macam, juga terdapat banyak hewan liar di sana.

Hutan kota yang unik ini terletak di antara Jl. Dago dan Jl. Cihampelas, dua ruas jalan yang paling ramai dan merupakan landmark kota Bandung. Betul, Babakan Siliwangi bukan hutan alami. Pada masa penjajahan Belanda, kawasan ini merupakan hamparan sawah yang cukup luas, yang kemudian dialifungsikan menjadi hutan melalui penanaman berbagai jenis pohon. Dan kini, voila…..! Jadilah hutan kota dengan 48 jenis pohon, 14 jenis burung, dan beberapa jenis mamalia!

Keberadaan hutan di tengah kota Bandung yang semakin sarat penduduk dan bangunan bertingkat bagaikan kehadiran sebuah oase di padang pasir. Bayangkan saja ada hutan lebat di sebelah jalan raya yang sarat kendaraan bermotor. Di mana di sana orang dewasa bisa melepas lelah dan penat seusai bekerja seharian… anak-anak bisa belajar tentang alam dan segala sesuatu tentang kehidupan sambil bermain dan berlari-larian di lantai hutan… dan kawula muda bisa berkumpul dan bersosial dengan memanfaatkan keterbukaan ruangnya. Babakan Siliwangi benar-benar aset yang tak ternilai bagi kota Bandung!

Babakan Siliwangi memiliki sejarah yang cukup panjang. Dan pada tahun 2011, sejarah panjang itu diperkaya dengan sejarah baru yang mendunia. Pada bulan September 2011, kawasan Babakan Siliwangi ditetapkan sebagai hutan kota pertama yang diakui dunia. Status baru ini diresmikan di sela Konferensi Internasional Anak-anak dan Pemuda TUNZA, setelah beberapa hari sebelumnya komunitas “UDUNAN” yang merupakan bentuk kerja sama puluhan komunitas di kota Bandung melakukan aksi “Save Babakan Siliwangi”. Pada aksi yang melibatkan ratusan relawan dan membakar kembali semangat anak muda kota Bandung ini, dilakukan pelepasan sebagian aspal jalan yang melintang di Babakan Siliwangi, dan sebagai gantinya dilakukan penanaman berbagai jenis pohon di kawasan tersebut. Pada waktu yang berdekatan, dibangun pula sebuah jembatan kanopi hasil kerja sama UNEP PBB dengan komunitas Bandung Inisiatip. Pembaruan-pembaruan wajah Babakan Siliwangi ini membuat hutan kota dunia ini berdiri dengan semangat baru.

Belajar menanam pohon di acara "Save Babakan Siliwangi". (dok - HUB! Bandung)

Pohon yang ditanam di area aspal yang dilepas.

Jembatan Kanopi

Percuma saja punya hutan kota yang diakui dunia jika masyarakat yang tinggal di sekitarnya tidak memanfaatkannya dengan baik. Selain aktivitas para seniman di Galeri Sanggar Olah Seni (SOS) yang terletak di dalam hutan, hampir tidak ada aktivitas lain di Babakan Siliwangi. Menyoal ini, komunitas HUB! hadir dengan pendekatan yang menarik: mengajak masyarakat bermain bersama di Babakan Siliwangi. Komunitas bernama panjang “Hayu Ulin di Baksil!” (Indonesia: Mari Kita Main di Baksil!) ini lahir pada tahun 2011, dengan hasrat mengajak masyarakat meramaikan Babakan Siliwangi melalui aktivitas-aktivitas positif sesuai kegemaran masing-masing. Diharapkan dengan semakin banyak orang beraktivitas dan merasa memiliki Babakan Siliwangi, maka akan semakin banyak pula orang yang peduli terhadap hutan kota ini. Secara rutin komunitas ini melakukan kegiatan-kegiatan menarik, di antaranya bersepeda, fotografi, menggambar komik, membuat lomba desain rumah burung, serta kegiatan-kegiatan menarik lainnya di kawasan Babakan Siliwangi. Semoga aksi mereka berbuah manis! 🙂

Contoh rumah burung untuk lomba desain rumah burung. (dok - HUB! Bandung)

Menikmati hutan kota dari jembatan kanopi.

Dengan kemampuannya mengatur dan memelihara diri sendiri, hutan tidak membutuhkan terlau banyak campur tangan manusia. Manusia hanya perlu melakukan inisiasi dan perawatan pada tahap awal. Dengan segala keuntungan yang ditawarkan oleh hutan, masyarakat seharusnya tidak perlu lagi pusing menentukan apakah mereka membutuhkan hutan kota atau tidak. Hutan kota adalah lansekap terbaik yang dibutuhkan oleh sebuah kota untuk menjadi kota yang sehat. Tidak ada lansekap lain yang bisa menggantikan posisinya…  juga keindahannya. Coba, beri lihat kepada kami sudut kota yang lebih indah dari ini:

***

Itu tadi sepotong cerita tentang hutan kota di Bandung. Bagaimana dengan kota tempat Anda tinggal, sudahkah memiliki hutan kota? Jika belum, siapkah Anda menjadi agen perubahan? Jika masyarakat dan komunitas-komunitas di kota Bandung bisa mewujudkan mimpi mereka memiliki hutan kota yang nyaman dan asri, masih ragukah Anda bahwa Anda juga bisa melakukannya?

Pepatah Sunda mengatakan “Leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak.” Jika hutan rusak, air akan habis, dan manusia akan sengsara. Mari selamatkan hutan yang tersisa, dan ciptakan hutan-hutan baru! Salam Lestari! 🙂

————————————————————————————————-

Artikel ini dibuat untuk kepentingan lomba menulis blog 3on3 Competition 2011 tenang “Open Public Space” yang diselenggarakan oleh ON|OFF, hasil karya Rima Putri Agustina, Rizki Ersa Heryana, dan Nicky Irawan.

29

Menjadi Dosen = Mencari Psikolog?

Mungkin saya ini memang aneh. Bahkan di umur 25, saya masih belum bisa menentukan apa cita-cita saya. Entah karena terlalu dongo, atau terlalu banyak yang ingin diraih… pokoknya saya ga bisa ngasih satu jawaban pasti ketika dihadapkan pertanyaan “jadi visi hidup kamu apa?”

Sore ini saya menyempatkan diri berbincang dengan dosen pembimbing TA saya dulu. Saya memang butuh panduan dari orang-orang yang mengerti tentang “karir yang bagus.” Minimal bagus menurut saya. Dan saya rasa, beliau adalah orang yang tepat. Dan beliau bilang, “kamu cocoknya jadi dosen.”

Aw, aw… benarkah?

Sebenarnya banyak orang yang mengharapkan saya kelak menjadi seorang dosen, salah satunya si pacar, mama, dan tetangga sebelah rumah saya, yang juga seorang dosen yang meminta saya mengajarkannya Microsoft Office beberapa bulan lalu. Saya heran, kenapa mereka begitu menginginkan saya untuk menjadi seorang dosen? Apa karena saya judes? Atau saya punya tampang ibu-ibu killer, gitu? 😉 Continue reading

15

If we just try try try… Just to be ni-ni-nice…

Ada yang tau Peter Senge? Kalau tadi malam kita nonton Face2Face-nya Desi Anwar, ya itulah Peter Senge.

Jam 7-8 tepat tadi malam adalah waktu yang sangat berharga bagi saya, karena berkesempatan “mengobrol” dengan beliau tentang world sustainability. Ada banyak poin penting yang sangat inspiratif (sayangnya saya tidak mencatatnya), salah satunya adalah tentang pendidikan:

Ilmu yang paling penting adalah memahami diri sendiri, dan memahami bahwa kita perlu menjaga hubungan yang baik dengan orang lain. Ini jauh lebih penting dari belajar matematika dan sains. 

Saya jadi ingat kampus saya dulu… *ceileh, berasa udah tua, padahal baru lulus 2 tahun* Namanya Kampus Gajah Duduk, yang duduknya di Jalan Ganeca, Bandung. Kampus ini (katanya) diisi oleh orang-orang pintar, tapi sebagian besar (faktanya) orang-orang ini ga tau gimana cara berhubungan baik dengan orang lain.

Kayanya memang kita harus pilih salah satu, mau otak rasional yang dominan, atau otak emosional yang dominan. Tapi kita bisa berusaha menyeimbangkannya. Buat yang EQ-nya lebih dominan, IQ bisa diperkuat dengan latihan dan baca buku. Sedangkan buat yang IQ-nya lebih dominan, EQ bisa diperkuat dengan belajar menjaga hubungan baik dengan orang lain.

Sebenarnya menjaga hubungan baik dengan orang lain itu tidak sesulit yang kita bayangkan. Kita hanya perlu menjadi “nice.” Bagi setiap orang, tantangan untuk menjadi nice mungkin berbeda. Kita biasanya sulit menjadi nice person karena kurang mampu mengendalikan emosi. Dan biasanya kalau udah emosi, kita gengsi untuk ngaku salah, atau gengsi untuk baikan, atau gengsi untuk mengakui bahwa kita menyesal karena terlalu cepat emosi.

Ini adalah satu hal kecil yang berdampak sangat besar. Saya pernah baca di suatu situs: jika kita sadar darah kita naik, yang perlu kita lakukan adalah: stop, ambil nafas panjang, lalu pergilah tidur…. karena mungkin kita kurang tidur 🙂

Ngomong-ngomong tentang nice attitude, ada lagu bagus nih… Ini adalah karya Jason Mraz yang ditulis untuk Michael Squire. Kalau teman-teman pernah dengan lagu ini versi suara Jason Mraz, itu adalah sampel lagu yang bocor. Saya lebih dulu denger yang versi Mraz, jadinya versi Michael Squire agak kebanting deh, hehehe…. Tapi tetep asik kok… apalagi yang nyanyinya ganteng banget, hihiy….

If we just try try try… just to be ni-ni-nice…
Then the world would be a better place for you and I

http://www.youtube.com/v/zqbNluBxsGY?fs=1&hl=en_US&color1=0x3a3a3a&color2=0x999999