7

Senam Hamil Pertama ^,^

Akhirnya kemarin saya ikutan senam hamil juga. Sebenarnya sejak kemarin-kemarin juga bisa, hanya saja bumil ini terlalu malas. Saya memilih kelas senam hamil di RS Santo Borromeus (Jl. Dago, Bandung), karena berdasarkan hasil googling di sini bayarnya murah dan dapet banyak bonus produk-produk sampel dari sponsor. Yah beginilah kisah hidup pencinta gretongan… walopun nilainya ga seberapa, yang gretongan yang lebih dipilih. :mrgreen:

Saya tiba pukul 08:30 WIB tepat di RS Borromeus, sesuai dengan info yang saya dapat bahwa kelas senam hamil ini akan dimulai pada waktu tersebut. Setelah celingak-celinguk di RS besar ini, akhirnya saya bertanya kepada seorang bapak di meja front office, dan bapak berkumis baplang itu menjelaskan bahwa kelas senam hamil tidak dilakukan di RS, tapi di Klinik Kesehatan Keluarga bertempat Asrama Keperawatan St. Borromeus, Jl. Suryakencana Bandung (tepat di belakang RS).

Klinik Kesehatan Keluarga RS St. Borromeus Bandung

Registrasinya gratis. Saya hanya perlu membayar iuran senam hamil yang akan saya ikuti saat itu, yaitu Rp 15.000,00. Ibu front office juga menginformasikan bahwa setiap Rabu ada kelas Manajemen Laktasi, kalau mau ikutan, nambah lagi Rp 15.000,00. Dan saya ikutan, karena penasaran. 😀

Saya mengintip kelas hamilnya. Wah, rupanya sudah banyak ibu-ibu berperut besar sedang asyik ngerumpi. Saya kemudian mengantri untuk mendapat giliran pemeriksaan tekanan darah oleh mbak bidan.

Suasana kelas senam hamil

Sambil nunggu kelasnya dimulai, seperti biasa saya sok kenal sok deket sama orang-orang. Lumayan dapet 3 kenalan baru, hihi… (Mbak Dewi, Luciana, sama Rosi). Masing-masing usia kehamilannya sudah memasuki minggu ke 33, 37, dan 40. Sepertinya di kelas ini usia kehamilan saya yang paling bontot deh. Tapi kok saya paling endut ya? 😛

Senam pun dimulai. Ternyata senamnya asiiiiik, kaya yoga gitu. Apalagi instrukturnya suka melucu, saya jadi semakin semangat ngikutin senam hamilnya. :mrgreen:

Materi yang diajarkan adalah gerakan-gerakan untuk melenturkan otot-otot saat melahirkan. Ternyata otot yang berperan bukan hanya selangkangan, tapi hampir semua otot di seluruh tubuh (T.T). Selain itu juga diajarkan pernapasan dan mengejan yang baik. Pokonya seru deh, berasa banget jadi ibu-ibunya… ^,^

Nah, tibalah bagian yang paling asik. Setelah senam selesai, mbak-mbak SPG Prenagen membagikan susu coklat gratis. Karena saya di rumah juga minum Prenagen, jadinya ga terlalu heboh sih senengnya. Tapi terus abis itu dibagiin juga burjo (bubur kacang ijo) hangat dan 4 potong roti tawar. Daaaaan, saya dapet paket sampel produk perawatan bayi dan ibu hamil dari Mother & Baby Indonesia. Bener kata orang-orang, di sini bayarnya murah tapi bonusnya banyak, nyahahahaha….

Kudapan pasca senam hamil ^,^

Paket dari Mother & Baby Indonesia

Insya Allah hari Sabtu nanti saya akan ikutan senam hamil di sini lagi. Katanya khusus untuk senam hamil Sabtu pagi, ada bonus penyuluhan promosi kesehatan. Untuk edisi Sabtu ini, yang akan dibahas adalah “Teknik mengurangi nyeri persalinan.” 😀

Kira-kira Sabtu nanti gretongannya apa ya? *ngarep* :mrgreen:

***

PS: Cerita tentang Manajemen Laktasi akan saya tulis di kesempatan lain. Saya lagi males nulis yang serius-serius.

PS lagi: Berikut adalah jadwal kelas senam hamil dan penyuluhan Sabtu di Klinik Kesehatan Keluarga Santo Borromeus (siapa tau ada yang butuh).

Jadwal senam hamil Klinik Kesehatan Keluarga RS Santo Borromeus

Selasa | 16:00 – 18:00 WIB
Rabu | 08:30 – 09:30 WIB (kelas persiapan menyusui 09:30 – 10:30 WIB)
Jumat | 16:00 – 18:00 WIB
Sabtu Gel I | 08:30 – 09:30 WIB (kelas penyuluhan 09:30 – 10:30 WIB)
Sabtu Gel II | 10:30 – 11:30 WIB
Minggu | 10:00 – 12:00 WIB

Jadwal Penyuluhan Promosi Kesehatan Sabtu (Pre-Natal Class) Klinik Kesehatan Keluarga RS Santo Borromeus

4/8/12 | Teknik mengurangi nyeri persalinan
11/8/12 | Rawat gabung
18/8/12 | Imunisasi bayi
25/8/12 | P3K pada bayi
1/9/12 | Makanan bayi
8/9/12 | Pijat bayi sehat
15/9/12 | Tanda bahaya kehamilan
22/9/12 | Deteksi dini pada telinga bayi
29/9/12 | Tumbuh kembang bayi
6/10/12 | Memandikan bayi
13/10/12 | Keluarga berencana
20/10/12 | Senam nifas (fit & shape)
27/10/12 | Perawatan kebidanan
3/11/12 | Persiapan persalinan
10/11/12 | Gizi ibu hamil dan menyusui
17/11/12 | Slide persalinan
24/11/12 | Miracle of ASI
1/12/12 | Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
8/12/12 | Pijat ibu hamil
15/12/12 | Hypnobirthing
22/12/12 | Massage perineum
29/12/12 | Teknik mengurangi nyeri persalinan

18

Nujuh Bulanan (yang Diusahakan) Zero Waste

Alhamdulillah pada Selasa, 17 Juli 2012 lalu, acara nujuhbulanan yang saya beserta keluarga selenggarakan secara kecil-kecilan berjalan dengan lancar.

Kalau mau ngikutin adat Jawa sih, harusnya pada usia tujuh bulan kehamilan pertama, dilakukan upacara tingkeban yang super-duper rumit. Berhubung bakal riweuh ini-itu (apalagi menjelang bulan Ramadhan), saya memilih untuk tidak melakukan upacara ini, melainkan mengambil inti sarinya saja, yaitu berdoa demi keselamatan si jabang bayi.

Saya dan keluarga memilih mengadakan acara pengajian kecil-kecilan saja. Kami mengundang ibu-ibu di kompleks perumahan dan ibu-ibu yang biasa ngaji di masjid untuk mengaji di rumah, lalu makan-makan, dan setelah itu pulang bawa oleh-oleh. Hehehe, simpel sekali ya? 🙂

Nah, mumpung acaranya simpel, saya mengusahakan acara ini supaya bersifat zero waste. Mengadakan acara zero waste memang bukanlah hal mudah, apalagi kalau posisi kita di acara ini cuma “anak bawang.” Untungnya rayuan maut saya berhasil membuat si mamah setuju untuk ber-zero waste walaupun belum bisa 100%. :mrgreen:

Hal pertama yang terpikirkan adalah bagaimana menyuguhkan makanan di rumah secara zero waste (maksudnya makanan yang tidak dibawa pulang). Untungnya karena “syarat”-nya gampang, yaitu cuma menyediakan makanan kaya karbohidrat sebanyak 7 macam (atau lebih, yang penting jumlahnya ganjil), bagian ini sangat bisa dibuat zero waste. Kami menggunakan nyiru yang dilapisi daun pisang, lalu rebusan karbohidrat tadi ditata di atasnya. Ibu-ibu yang datang akan mengonsumsi makanan yang tidak biasa dihidangkan di perkotaan ini menggunakan piring kecil. 🙂

Rebusan karbohidrat (pisang, talas, “sagu,” ubi, singkong, ganyong, kacang tanah, kacang Bogor, jagung manis)

Kedua, untuk makanan yang dibawa pulang (oleh-oleh)–yang biasanya di perkotaan dibungkus menggunakan kotak kertas atau styrofoam–kami menggunakan besek bambu yang dilapisi daun pisang. Nah, untuk yang satu ini perjuangannya lumayan susah. Selain harus melobi si mamah untuk setuju bikin paketan nasi timbel, saya juga harus mencari besek bambu yang sudah semakin sulit didapat di kota ini. Akhirnya berkat rayuan maut saya, si mamah yang biasanya tukang ngatur itu setuju dengan usul saya. Horeee… :mrgreen:

Besek berisi makanan ini nantinya akan dibawa oleh ibu-ibu menggunakan tas jinjing. Awalnya kami ingin menyediakan tas jinjing kain, tapi karena biayanya akan terlalu mahal, kami memilih tas dari bahan yang lebih murah saja tapi tetap anti-kresek, yaitu non-woven (atau apa lah namanya, saya kurang hafal). Sengaja tas-tas jinjing ini tidak kami berikan sablonan kata-kata yang berhubungan dengan acara ini, supaya ibu-ibu ini mau pakai terus tas ini untuk keperluan lain tanpa perlu tersandung rasa malu karena ada label “gratisan” di atasnya.

Besek bambu

Nasinya dibuat “timbel” (dibungkus dengan daun pisang menggunakan teknik khusus), lalu untuk lauknya dibuat “takir” dari daun pisang.

Menunya sederhana saja: nasi timbel, oseng tempe, perkedel kentang, gepuk daging sapi (plus kerupuk, lalab, sambal, dan buah pisang). Di bagian bawahnya ada satu besek lagi berisi rujak dan kue-kue.

Besek nasi dan kue yang sudah dibungkus tas jinjing (anti kresek, booo…).

Rujak yang harus pake delima, yang mana delimanya susah banget dicari. Akrhinya pake delima impor deh.

Lemper, satu-satunya snack gacoan yang ga pake plastik.

Ternyata ada keuntungan lain yang didapat dari usaha ini selain (tentu saja) minimnya jumlah sampah. Daun pisang memberi aroma khas yang membuat cita rasa makanan menjadi lebih mantap. Penggunaan besek juga ternyata membuat ibu-ibu itu senang karena mengingatkan mereka pada masa kecil mereka. Kalau kita bisa bagi-bagi rejeki, sambil melestarikan tradisi, dan memberi perasaan senang yang lebih banyak kepada orang lain, itu kan seru banget…. :mrgreen:

Sayangnya, beberapa jenis makanan dalam paket makanan ini “memaksa” kami untuk tetap menggunakan plastik, antara lain: buah pisang, kerupuk, lalaban, sambal, kue-kue, dan RUJAK. Rujak adalah syarat wajib nujuhbulanan, jadi ga bisa ga ada. (Btw ini wajib versi adat Jawa ya, bukan versi agama :mrgreen:). Sama satu lagi: AMDK (air minum dalam kemasan). Saya ga berhasil merayu si mamah untuk ga menyertakan AMDK dalam kotak kue, euy. Entah kenapa AMDK ini seolah-oleh merupakan kewajiban dalam dunia perkotak-kue-an nasional. Jadi aja ga bisa 100% zero waste.

Tapi kan yang penting kita sudah berusaha. Saya percaya, hal-hal baik yang dilakukan dengan cara yang “baik” akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik lagi. Mudah-mudahan usaha zero waste ini memberi pengaruh positif kepada si dede di dalam perut saya ini untuk menjadi penerus pejuang lingkungan, membantu ibunya, tante-tante dan om-omnya menciptakan masa depan yang lebih baik. Sehat-sehat terus ya dede… tinggal 2 bulan lagi nih, jangan nakal ya. 😀

8

Malin Kundang Tak Lagi Durhaka

Lekat sekali dalam ingatan kita sosok Malin Kundang yang berasal dari tanah Minang, sosok yang kini “berwujud” batu karena dikutuk ibunya yang merasa sakit hati atas sikapnya yang durhaka.

Kisah Malin Kundang (Sumber)

Dikisahkan Malin pergi merantau mencari penghidupan baru. Di tengah laut, kapal yang ditumpanginya kena bajak, tapi untunglah Malin selamat karena bersembunyi di sebuah ruangan kecil. Malin kemudian terdampar di tanah yang subur. Berkat keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin bisa menjadi kaya raya dan terkenal. Suatu hari Malin dan istrinya melakukan pelayaran dan singgah di Minang. Ibunda Malin pun menyambutnya dengan suka cita. Namun malang nasib sang ibu, dia tidak diakui oleh anaknya sendiri. Sosok tua itu kemudian menjadi marah, lalu mengutuk anaknya menjadi batu. Selesai.

Begitulah kira-kira ceritanya. Pastilah cerita yang teman-teman dengar kurang lebih sama dengan yang saya dengar. Saking umumnya, sampai-sampai sosok Malin Kundang ini dijadikan simbol untuk terminologi “anak durhaka.”

Tapi bagaimana jika ada yang bercerita tentang Malin, tapi Malin bukanlah anak durhaka? Bagaimana jika kisah Malin diceritakan seperti ini:

Karena desakan ekonomi, Malin Kundang pergi merantau. Dia berprofesi sebagai tukang masak junior berusia 15 tahun di sebuah kapal barang. Di tengah laut, kapal barang yang ditumpanginya dibajak oleh perompak Somalia. Malin selamat, lalu James Bond, seorang kapten kapal dari Inggris membawa Malin ke Glasgow. Malin kemudian disekolahkan di sekolah masak ternama, dan setelah lulus, Malin membuka restoran Padang di Glasgow, London, dan Manchester.

Suatu hari terdengar kabar dari tanah Minang, bahwa terjadi tsunami besar di sana. Malin tergerak untuk membantu saudara-saudaranya di tanah air, dia mengirimkan bantuan makanan ke Minang dalam jumlah besar, di mana dia sendiri yang memimpinnya. Di tepi pantai di Minang, dia bertemu seorang wanita tua yang jalan terantuk-antuk. Dilihatnya wanita tua itu menggunakan selendang putih kumal yang dikenalinya. Malin menangis, lalu mengajak ibunya pindah ke London untuk membuka lebau dan mendirikan surau.

Kisah itu bukan buatan saya, melainkan buatan Abah Wawan Husin, seorang pendongeng, pengajar, seniman, dan “jepruter.” Apa itu jepruter? Sepenangkapan saya, jepruter itu artinya seniman suka-suka. Bahasa Sunda-nya sih seniman yang berpinsip “kumaha aing we, siah!:mrgreen:

Saya dipertemukan dengan kisah yang menceritakan Malin Kundang yang dipelesetkan menjadi Marlin Cook Kundrang ini pada acara Bincang Edukasi Meet Up #8 di Boeminini, Bandung, 7 Juli 2012 lalu. Sebenarnya acara ini diisi oleh beberapa presentan, tapi si abah ini lah yang paling menarik perhatian saya.

Wawan Husin

Wawan Husin

Abah Wawan Husin sangat mencintai dunia dongeng, karena dunia ini mengingatkannya kepada ibundanya yang telah tiada. Menurutnya, dongeng adalah metoda pendidikan yang bertaburkan cinta dan kejujuran. Orang yang tulus dan jujur pada diri sendiri akan sangat bisa menjadi pendongeng yang baik, seperti kutipan Kafka yang dimodifikasi, “Every body is a story teller if he is honest to himself.”

Sosok nyentrik ini secara tegas menyatakan ketidaksukaannya pada dongeng-dongeng atau lagu-lagu yang beredar di Indonesia. Inilah yang membuat beliau menggubah dongeng Malin Kundang yang sudah meng-Indonesia itu.

Beliau bertanya-tanya, kenapa kancil harus jadi anak nakal, sehingga anak-anak tidak ada yang mau jadi kancil? Kenapa balon kita hanya ada lima, sehingga kita hanya tau warna-warna itu saja? Kenapa tidak “balonku ada 200” sehingga anak-anak bisa mengenal diversitas warna? Kenapa Malin Kundang harus durhaka dan kemudian menjadi batu, sehingga anak-anak tidak berani membantah kepada orang tua karena takut jadi batu?

Saya sangat sependapat dengan si abah yang lincah ini. Kebanyakan dongeng atau lagu yang diajarkan kepada anak kecil di negeri ini justru lebih bermuatan negatif ketimbang positif. Ambil contoh kisah Malin Kundang ini. Saya pikir, kisah ini sengaja dibuat oleh orang jaman dulu untuk menakut-nakuti anak kecil supaya mereka tidak membantah orang tua mereka. Tapi apakah ini esensi dari “berbakti”? Hanya karena takut? Bagaimana jika seiring kedewasaan si anak kelak, rasa takut berbalut kepercayaan akan hal-hal mistis itu hilang? Apakah jika seorang anak tidak lagi takut dikutuk menjadi batu, maka mereka mendapat pembenaran untuk “boleh” tidak berbakti kepada orang tuanya?

Untuk itulah dalam sebuah pendidikan lebih dibutuhkan penanaman nilai-nilai positif ketimbang nilai-nilai negatif. Nilai positif akan jauh lebih aman dan mampu memprevensi pembenaran-pembenaran liar maupun unintended consequences lainnya. Jika untuk tujuan yang sama kita bisa memunculkan nilai-nilai positif pada sebuah dongeng, kenapa kita masih pakai yang negatif?

Coba kita baca lagi dongeng gubahan Abah Wawan di atas. Di sana beliau memasukkan beberapa unsur pendidikan: bilangan (15 tahun), keprofesian (tukang masak), geografi (Somalia, Glasgow, London, Manchester, Inggris), sains (tsunami), bahasa asing (Bahasa Inggris yang digunakan Malin), kemanusiaan (Malin membantu korban tsunami), dan yang paling penting: nilai-nilai luhur kekeluargaan (Malin tidak durhaka kepada ibunya). Apakah pesan utama yang ingin disampaikan pada kisah Malin Kundang hasil modifikasi ini sama dengan kisah Malin Kundang konvensional? Saya rasa sama. Hanya saja melalui kisah modifikasi ini, si pendengar tidak terinspirasi untuk menjadi anak durhaka, karena tidak ada lagi sosok “anak cilako” pada kisah itu. Jauh lebih indah bukan? 😉

Saya rasa si abah tidak berniat buruk mendiskreditkan dongeng Malin Kundang konvensional yang sudah turun-temurun itu. Beliau sekedar ingin mencontohkan saja, agar kita bisa membandingkan nilai-nilai di antara kedua dongeng tersebut. Intinya kita perlu behati-hati dalam mendongeng, jangan sampai alih-alih memberikan inspirasi yang baik, kita malah menebar teror. (–> bahasa saya mulai lebay :mrgreen:)

Ini adalah pelajaran yang sangat berharga bagi saya yang bercita-cita menjadi orang tua yang baik kelak. Tidak hanya dalam mendongeng, dalam melakukan hal apapun kita sebenarnya perlu lebih menonjolkan nilai positif ketimbang nilai negatif. Mungkin kita memang perlu kreatif, tapi yang lebih penting adalah kita perlu latihan dari sekarang! 😀

***

Sebagai penutup, teman-teman yang penasaran dengan aksi dongeng teaterikal si abah bisa melihatnya dalam video di bawah ini. File asli video ini adalah 1.33 GB, jadi saya kecilin, eh ga taunya malah kekecilan… :mrgreen: Pada bagian tengah video, suara kurang terdengar jelas. Kalau kurang paham jalan ceritanya, tinggal lihat lagi sinopsis dongeng yang saya tuliskan di atas. Selamat menikmati! 🙂

PS: Sinopsis di atas merupakan storyboard yang dibacakan oleh si abah sebelum beraksi, mungkin ada sedikit perbedaan dengan dongeng teraterikalnya.

PS lagi: Arti “jemprol” adalah “two thumbs up.” Kalau “jempol”, cuma “thumb up.:mrgreen:

5

WWF Forest Friends Uckermark Trip – Day 6: Berlin, Berlin…!

Berlin, Jerman, 29 Juli 2011

Pindah dari Lychen menuju Berlin, sama seperti pindah dari kesunyian menuju kegaduhan, atau dari kedamaian menuju kesibukan. Ya, Berlin adalah kota sibuk yang akan kami jelajahi hari ini.

Salah satu sudut kota Berlin yang sibuk.

Sama seperti cuaca di Lychen kemarin, hari ini Berlin diguyur hujan sejak pagi hari. Dari Motel One— tempat kami menginap semalam—kami berjalan kaki menuju kantor WWF Jerman yang lokasinya tidak berjauhan. Di sana kami bertemu tiga orang perwakilan WWF Jerman yang membagi pengetahuan dan pengalamannya dengan kami seputar dunia konservasi. Masing-masing dari mereka menjelaskan tentang profil WWF Jerman, FSC (Forest Stewardship Council), dan peta GIS hutan-hutan Kalimantan dan Sumatera.

"Surat" dalam bentuk gelondongan kayu berisi boneka orangutan ini dikirimkan kepada para profesional di Berlin, sebagai satu bentuk kampanye FSC - WWF.

Di sana saya juga berkesempatan mempresentasikan kondisi pohon-pohon yang kami tanam di Taman Nasional Tesso Nilo 4 (empat) bulan lalu. Pohon-pohon tersebut kini semakin tumbuh besar. Saya juga mengabarkan tentang pemindahan lokasi penanaman pohon Forest Friends seluas 30 hektar dari Desa Pontian Mekar ke desa lain. Penanaman di Desa Pontian Mekar terpaksa dibatalkan, karena masih terdapat konflik antara penduduk setempat dengan pihak Balai Taman Nasional Tesso Nilo. Hal yang paling dikhawatirkan jika penanaman ini dipaksalakukan tanpa persetujuan masyarakat adalah masyarakat justru merusak pohon-pohon tersebut, bukan menjaganya.

Telepon berdering tidak lama setelah sesi presentasi berakhir. Di ujung telepon, terdengar suara seorang wanita berbicara dengan bahasa Jerman. Dialah jurnalis yang kemarin Silke katakan hendak mewawancara saya dan Lena. Untuk kesekian kalinya kami menceritakan kembali tentang program Forest Friends yang kami jalani. Walaupun begitu, kami tidak pernah bosan menceritakannya, karena kisah Forest Friends ini benar-benar unik dan menarik.

Sisa waktu di Berlin kami manfaatkan untuk berjalan-jalan keliling Berlin. Di Berlin terdapat cukup banyak penyedia paket wisata, di antaranya adalah kapal-kapal wisata yang bergerak hilir mudik di sepanjang Sungai Spree yang membelah kota Berlin. Di sepanjang pelayaran, kami mendapat penjelasan dalam Bahasa Inggris tentang bangunan-bangunan yang sedang kami dilewati. Karena hari sedang hujan, kami tidak bisa duduk di bagian atas kapal yang tidak beratap, kami hanya diperbolehkan duduk di bagian bawah kapal.

Interior kapal.

Kapal wisata lain, dilihat dari dalam kapal.

Tahukah kamu, Berlin adalah salah satu kota dengan jembatan terbanyak di dunia? Di pelayaran kapal wisata in,i kami melewati banyak sekali jembatan. Sayangnya tidak semua jembatan bisa kami lalui, karena rute wisata kami terpotong akibat ditutupnya salah satu kanal di sungai tersebut.

Salah satu jembatan di Sungai Spree.

Gedung Pemerintahan, salah satu bangunan favorit saya di Berlin 😀

Pendeknya rute wisata dan buramnya kaca jendela kapal akibat guyuran air hujan membuat kami sepakat untuk mengambil paket wisata lain menggunakan bus. Terdapat 16 (enam belas) titik persinggahan pada rute bus wisata. Masing-masing tempat memiliki sejarah masing-masing yang menarik.

Saking banyaknya informasi yang saya dapat pada hari itu, saya tidak bisa mengingat semuanya. Titik-titik yang paling saya ingat adalah reruntuhan Tembok Berlin dan Check Point Charlie (yaang dahulunya merupakan pos perbatasan bagian Jerman yang dikuasai AS dan bagian Jerman yang dikuasai Uni Soviet).

Bus wisata.

Check Point Charlie.

Selama di Berlin, Astrid dan Silke mengajak kami bersantap di beberapa tempat makan yang cukup populer di Berlin, juga bersama Lena membantu kami memilih oleh-oleh khas Berlin. Aha.. inilah yang sangat saya suka dari Forest Friends! Walaupun secara harfiah Forest Friends diartikan sebagai “sahabat hutan”, tapi persahabatan kami tidak melulu berkutat pada urusan hutan dan konservasi, tetapi juga menyangkut hal-hal berbau sosial, budaya, serta hal-hal menarik lain yang pantas untuk dibagi.

Interior Ständigen Vertretung, restoran favorit saya dan Annisa.

Saya dan Annisa.

Silke dan Lena.

Sayang sekali kunjungan saya di negara Lena harus berakhir hari ini. Tapi kami tidak bersedih hati, karena kami berjanji untuk terus saling menghubungi dan memberi kabar. Saya dan Lena juga berjanji, suatu hari nanti kami akan berkunjung ke Tesso Nilo bersama untuk memeluk pohon-pohon yang kami tanam 4 bulan lalu, seperti kami memeluk Pohon Oak di Hutan Uckermark.

Berakhirnya kunjungan saya ke Jerman memang menandakan berakhirnya program WWF Forest Friends, tapi kami yakin, semangat Forest Friends tidak akan pernah redup. Semangat Forest Friends akan terus hidup untuk menginspirasi anak-anak muda lain di seluruh dunia untuk melestarikan hutan sebagai penyokong kehidupan makhluk hidup. Viva Forest Friends! 😀

0

WWF Forest Friends Uckermark Trip – Day 5: Last Day in Lychen, Uckermark

Lychen, Uckermark, Jerman, 28 Juli 2011

Awan kelabu tebal menghalangi sinar matahari di Lychen hari ini. Rencana kami berkano hari ini terpaksa diubah menjadi jalan-jalan santai keliling Lychen. Kami dengar tidak jauh dari lokasi penginapan kami terdapat museum Uckermärkische Seen Naturpark. Kunjungan kami ke musem ini akan menjadi salah satu agenda utama kami hari ini. Jika cuaca mendukung, kami bisa mengunjungi tempat-tempat menarik lain di Lychen, pada hari terakhir kami di kota ini.

Wawancara dengan jurnalis surat kabar lokal Uckermark Kurier - Templiner Zeitung, sebelum jalan-jalan. (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Hujan di Lychen. (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Saat berada di halaman depannya, saya tidak menyangka bahwa bangunan yang berdiri di hadapan saya adalah sebuah museum. Dan ternyata itu memang bukan museum, tapi merupakan visitor centre. Dalam Bahasa Jerman, tempat ini disebut Besucherzentrum Uckermärkische Seen. Bangunan cukup mungil dan tampilan luarnya terkesan biasa saja. Saya hampir tidak bisa membedakannya dengan bangunan-bangunan lain di sekelilingnya.

Awetan burung elang di gerbang Besucherzentrum Uckermärkische Seen (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Meskipun ukurannya relatif kecil, konten dari visitor centre ini sangat menarik. Pengunjung tidak dibosankan dengan informasi yang melulu disajikan dalam bentuk deretan tulisan, tetapi juga dalam bentuk video, rekaman suara, permainan, miniatur objek, serta awetan kering hewan. Bisa dikatakan secara keseluruhan bobot tempat ini sangat baik: mendidik dan menyenangkan. Sayangnya semua informasi disajikan dalam Bahasa Jerman. Untunglah Lena dan Silke dengan senang hati berkenan menterjemahkannya kepada saya dan Annisa.

Ternyata WWF punya tempat juga di sini 🙂 (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Saya dan Lena bekerja sama mengantarkan telur ke sarang burung. (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Lena menjelaskan tentang bangunan-bangunan unik yang ada di Uckermark. (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Saya bersama berang-berang yang ternyata ukurannya lebih besar dari yang saya bayangkan. (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Saya dan Lena mempelajari fakta-fakta unik tentang berang-berang. (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Menjadi penebang kayu. (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Tengah hari, kami berkesempatan berbincang dengan seorang petugas visitor centre. Beliau banyak bercerita tentang sejarah Uckermarkische Seen Naturpark (Taman Wisata Alam Uckermark). Statusnya sebagai taman wisata alam membuat aturan-aturan yang ditetapkan di dalamnya tidak seketat aturan-aturan pada taman nasional. Satu hal yang cukup mencengangkan saya adalah mereka tidak memiliki cukup banyak pegawai untuk menjaga dan mengawasi taman wisata alam ini. Penyebabnya klasik: karena tidak terdapat cukup banyak dana untuk membiayai keperluan operasional. Sama seperti di Indonesia, sebagian wilayah di taman wisata alam ini bisa diswastanisasi. Bedanya, di sini si pihak swasta perlu mendapat ijin resmi dari lembaga konservasi seperti WWF atau Greenpeace, sedangkan di Indonesia tidak.

Saya dan Lena berfoto bersama Annisa. (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Rintik hujan masih membasahi Lychen saat kami keluar dari visitor centre. Kami menggunakan kembali jas hujan kami, lalu melanjutkan perjalanan ke arah yang belum kami tentukan sebelumnya. Langkah kami mengantar kami pada sebuah kompleks peradaban masa lalu. Awalnya kami hanya menemukan sebuah rumah sakit tua, tapi setelah ditelusuri, ternyata ini adalah kompleks rumah sakit. Di sekelilingnya terdapat pula kompleks perumahan yang sudah tidak digunakan.

Die Heilstätten Hohenlychen (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Konon rumah sakit yang bernama Die Heilstätten Hohenlychen ini merupakan salah satu rumah sakit termaju di Jerman. Salah satu temuan hebat yang terjadi di rumah sakit ini adalah cara penyembuhan penyakit TBC. Rumah sakit ini didirikan pada tahun 1902, dan berhenti beroperasi pada tahun 1945, saat wilayah ini dikuasi oleh Uni Soviet. Kini saksi-saksi bisu masa lalu yang suram itu disegel dan menjadi milik swasta.

Salah satu bagian Die Heilstätten Hohenlychen. (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Helenenkapelle, gereja di kompleks Hohenlychen, masih digunakan hingga saat ini. (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Kami harus segera bergegas menuju Berlin, meninggalkan Uckermark yang hijau dan damai.. Uckermark yang sangat menginspirasi dan menorehkan kenangan manis dalam ingatan kami. Selamat tinggal Uckermark… Semoga kami bisa kembali ke sini di kesempatan lain. 🙂

2

WWF Forest Friends Uckermark Trip – Day 4: Rawa dan Floß

Lychen, Uckermark, Jerman, 27 Juli 2011

Bocoran informasi yang kemarin saya dapat dari Christoph tentang hari ini adalah hari ini kami akan melakukan aktivitas fisik yang cukup berat, sehingga kami harus sarapan lebih banyak dan membawa bekal makanan, dan satu lagi: memakai sepatu boots tinggi. Sayang sekali hari ini Astrid tidak bisa ikut berpetualang bersama kami, tapi sebagai gantinya, Silke akan menemani kami sampai besok.

Sepatu-sepatu boots (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Kami berkano lagi hari ini, hanya saja tidak berdua-berdua seperti kemarin, tetapi bertiga-bertiga. Dari kantor Treibholz, kami meluncur menuju daratan di seberang danau. Di daratan tersebut terdapat rawa yang ditumbuhi rerumputan, yang juga dikelilingi hutan Pohon Birch.

Menurut penjelasan Christoph, pada masa lalu rawa ini berupa danau. Seiring waktu, air pada danau menyusut sedikit demi sedikit, sehingga akhirnya menjadi rawa seperti sekarang. Kedatangan kami saat itu disambut oleh Ular Cincin atau Ular Rumput (Jerman: Ringelnatter) yang merayap di atas akar rumput. Sayang sekali kami hanya melihat ekor hitamnya sebelum dia merayap cepat menuju hutan.

(c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Rawa (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Seperti rawa-rawa lainnya di belahan dunia manapun, ketersediaan oksigen di rawa sangatlah minim, sehingga proses penguraian terjadi dengan sangat lamban. Satu millimeter lapisan gambut merepresentasikan 1 tahun umur gambut dan kondisi lingkungannya. Jika lingkungan di sekitar rawa mengalami perubahan, maka akan terjadi perubahan pula pada kondisi gambut di permukaan rawa. Itulah mengapa lapisan-lapisan gambut pada rawa dapat menjelaskan sejarah lingkungan di sekitar rawa.

Dengan sejarahnya yang cukup panjang, pastilah rawa yang kami datangi hari ini memiliki banyak lapisan gambut yang berbeda satu sama lain. Untuk membuktikannya, kita harus menggunakan alat khusus yang dibawa oleh Christoph yang berfungsi untuk mengambil sampel gambut yang posisinya cukup jauh dari permukaan.

Christoph Thum (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Sampel gambut yang terangkat (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Dan inilah beberapa lapis gambut yang kami temukan di rawa ini:

Beberapa sampel gambut yang kami ambil (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Lapisan A adalah lapisan saat ini, sedangkan lapisan B diperkirakan merupakan lapisan yang terbentuk sekitar 2.000 tahun yang lalu. Semakin hitam suatu lapisan, berarti semakin banyak kandungan organik yang terkandung dalam lapisan tersebut.

Lapisan C diperkirakan terbentuk pada jaman perunggu (sekitar 3.000 tahun yang lalu). Di dalamnya terdapat potongan-potongan kecil kayu. Kemungkinan besar pada saat itu rawa ini dipenuhi oleh pohon, bukan oleh rumput seperti sekarang.

Lapisan D diperkirakan terbentuk ketika wilayah ini masih berupa danau, karena pada gambutnya terdapat butiran kalsium.

Lapisan E yang memiliki kandungan komponen organik yang sangat rendah, diperkirakan terbentuk pada masa awal terbentuknya danau, yaitu pasca berakhirnya jaman es.

***

Petualangan seru hari ini dimulai pada perjalanan pulang kami menuju tempat parkir kano. Kami harus melewati hutan rawa yang digenangi air dengan kedalaman yang lumayan. Walaupun kami menggunakan sepatu boots tinggi, tapi karena kedalaman air di beberapa titik lebih tinggi dari pada sepatu boots kami, tetap saja kaki kami menjadi basah.

Di hutan rawa (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

(c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Siang itu kami kembali ke kantor Treibholz. Kami turun dari kano, lalu dilanjut naik ke floß. Dalam Bahasa Jerman, floß (baca: flos) berarti rakit besar. Floß digunakan sebagai sarana transportasi tradisional di Lynchen sejak tahun 1720. Hingga saat ini tradisi ini tetap terjaga. Di Lychen, masyarakat merayakan festival floß pada setiap minggu pertama di bulan Agustus pada setiap tahun. Pada festival ini, komunitas pencinta floß akan mempraktekkan cara membuat floß secara tradisional.

Menurut rencana, kami akan makan siang di atas floß yang mengapung di Oberpfuhl. Menu makan siang hari ini sangat-sangat istimewa. Kami disuguhi “goulash”, hidangan sup khas Romania yang terbuat dari daging sapi dengan bumbu paprika. Kata Christoph, kami tidak perlu khawatir akan kualitas daging goulash ini, karena daging sapi yang digunakan berasal dari sapi muda yang mereka pelihara selama 2 tahun. “Saya jamin, sapi ini hidup bahagia,” tambahnya sambil tertawa.

Saya tidak pernah makan goulash sebelumnya, dan saya mendapat kesan yang sangat baik pada kesempatan pertama. Saya baru tahu belakangan bahwa ternyata rahasia nikmatnya goulash ini terletak pada paprikanya. Yana, istri Marcus yang memasak goulash ini untuk kami, menceritakan rahasia itu pada kami, dan dia mengaku menggunakan paprika asli Romania.

Di floß (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

"Goulash" (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Saya tidak terlalu ingat, tapi sepertinya masing-masing dari kami menghabiskan 2 piring goulash dan beberapa potong roti siang itu. Angin yang berhembus di Oberpfuhl membuat kami terkantuk-kantuk pada perjalanan kami menuju “pulau petualangan” kedua yang tidak kalah seru.

Kami turun dari floß dengan membawa satu set peralatan untuk memotong rumput. Di rawa yang tidak jauh dari tempat kami mendarat, Christoph mendemonstrasikan cara memotong rumput menggunakan mesin pemotong. Annisa sangat ingin mencoba menjalankan mesin tersebut, tapi sayangnya mesin ini hanya boleh dijalankan oleh orang yang mengantungi ijin. Dengan cekatan Christoph memotong rumpun demi rumpun rerumputan di rawa tersebut. Selanjutnya adalah tugas kami untuk mengumpulkan potongan-potongan rumput tersebut ke atas ponco, lalu membawanya ke pinggiran rawa.

Christoph menjalankan mesin pemotong rumput (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Saya, Annisa, Lena, dan Silke mengumpulkan potongan rumput (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Kira-kira begitulah pekerjaan yang dilakukan oleh Christoph dan para relawan setiap tahunnya. Pemotongan rumput dilakukan setiap bulan Agustus, karena pada bulan inilah rumput berbunga dan menyebarkan bijinya. Pemotongan rumput yang dilakukan setiap tahun ini bukanlah tanpa alasan. Ini adalah salah satu program pemerintah setempat dalam menyukseskan pelestarian bioma Uckermark, yang salah satunya adalah rawa. Tumbuhnya rerumputan yang diikuti pepohonan di rawa akan menyebabkan menurunnya tingkat ketersediaan air di rawa tersebut. Padahal fungsi rawa sangatlah penting bagi kelangsungan hidup ekosistem lain di sekitarnya.

Masih ingat kan dengan sebutan Indiana Jones yang kami berikan kepada Christoph? Hari ini kami mendapat satu alasan tambahan untuk memanggilnya Indiana Jones: yaitu karena Christoph sangat paham tentang flora dan fauna di Uckermark. Dalam setiap perjalanan kami di tengah hutan, beliau seringkali berhenti untuk menjelaskan hal-hal menarik tentang flora atau fauna yang kebetulan kami temui. Begitu juga pada saat perjalanan kembali menuju floß.

Saat itu Christoph menjelaskan tentang hubungan simbiosis mutualisme antara Pohon Birch dengan suatu jenis jamur yang hidup di sebelahnya. Hubungan unik mereka adalah Pohon Birch memberi keteduhan kepada jamur agar jamur bisa hidup dengan nyaman, dan sebagai balasannya jamur menyumbang air dan sebagian nutrisi kepada pohon Birch. Hubungan yang sangat cantik, bukan? 😉

Belajar dari sang Indiana Jones 🙂 (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Christoph mengarahkan floß menuju bagian Selatan Oberpfuhl, tempat di mana kami menghabiskan sisa hari ini untuk berenang dan berlatih prosedur keselamatan kecelakaan kano. Seharusnya latihan ini dilakukan kemarin. Tapi tidak apalah, siapa tahu latihan ini berguna untuk kesempatan lain.

Angsa-angsa dan bebek-bebek yang mendekati floß kami (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Saya dan Lena berenang di Oberpfuhl (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Saya sebenarnya tidak terlalu berani berenang tanpa pelampung, apalagi di danau yang kedalamannya mencapai 30 meter lebih. Tapi kemudian saya menjadi lebih berani setelah Annisa dan Lena mengajari saya tentang cara mengapung yang baik. Saking asyiknya kami berenang, bisa-bisa kami tidak mau naik floß cepat-cepat. Hanya saja saat itu air danau sangat dingin, sehingga tidak ada alasan bagi kami untuk berlama-lama di dalam air.

Hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan! 😀

0

WWF Forest Friends Uckermark Trip – Day 3: Amazing Rivers and Lakes

Lychen, Uckermark, Jerman, 26 Juli 2011

Hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu, karena sesuai jadwal yang telah dibuat, hari ini kami akan berkano mengarungi sungai dan danau di Lychen, Uckermark. Ini adalah pengalaman pertama saya berkano, jadi saya benar-benar tidak sabar! 😀

Kami kembali bertemu Cristoph Thum pagi ini. Berbeda dengan kemarin, kami mendatangi beliau di kantor Treibholz yang berlokasi di pinggir (Danau) Oberpfuhl (Inggris: Upper Lake). Kantor mungil ini terbuat dari kayu dan menghadap danau. Di bagian pinggirnya, terparkir beberapa kano yang ditata terbalik di atas balok-balok kayu, dan di bagian belakangnya tergantung berbagai macam peralatan berkano. Dari banyak peralatan tersebut, yang kami gunakan adalah dayung, dry bag (tas khusus untuk melindungi barang-barang kami dari air), dan tentu saja kano.

Di bagian depan Kantor Treibholz (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Oberpfuhl (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Sama seperi kemarin, seharian ini kami akan ditemani oleh Cristoph, sang Indiana Jones dari Jerman. Christoph menjelaskan bahwa hari ini kami akan menempuh perjalanan berkano sejauh +16 km, menyusuri beberapa sungai dan danau. Di tengah-tengah perjalanan, kami akan beberapa kali mendarat dan menggotong kano ke lokasi pengarungan berikutnya. Pengarungan akan dimulai dari sungai yang bermuara ke Danau Platkowsee, lalu menuju Danau Zensee, dan berakhir di Oberpfhul.

Dengan mobil van-nya, Marcus mengantar kami hingga ke titik pengarungan pertama. Tiga kano yang akan kami gunakan terkaitkan pada bagian belakang mobil. Selanjutnya, kamilah yang bertugas mengangkut kano-kano ini ke pinggiran sungai. Kano-kano ini memang terlihat ringan, tapi ternyata cukup berat. Walaupun kami menggotongnya berempat, tetap saja otot-otot lengan kami dibuat pegal karenanya. Ajaibnya, Cristoph bisa menggotong satu kano tersebut seorang diri. Itulah kenapa kami menyebutnya Indiana Jones, terlebih dengan topi koboinya yang selalu terpasang menutupi rambut panjangnya.

Danau Platkowsee (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Mengangkat Kano (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Air di danau Platkowsee dan sungai-sungai yang bermuara ke sana sangatlah jernih. Menurut penjelasan Christoph, alasannya adalah karena air tersebut telah tersaring oleh pasir silika pada perjalanannya dari badan air sebelumnya. Penyaringan oleh pasir silika ini tidak hanya membuat air di Danau Platkowsee terlihat jernih, tetapi juga membuatnya miskin nutrisi, sehingga tidak banyak mendukung hidupan liar di bawah air.

Beruntunglah saya satu kano dengan Lena yang sudah cukup mahir mendayung dan mengendalikan kano. Pada pengarungan pertama, saya duduk di depan, sedangkan Lena duduk di belakang. Kata Lena, orang yang duduk di belakang berperan sebagai pengemudi kano.

Astrid dan Annisa (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Saya dan Lena (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Christoph Thum sang Indiana Jones (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Satu kata untuk kesan pertama berkano di Lychen, Uckermark ini: menakjubkan! Sungainya begitu jernih, hutannya begitu asri, dan udaranya begitu segar. Sesekali beberapa jenis burung mengejutkan kami dengan kehadiran mereka di semak-semak hutan. Setiap sudut yang kami pandang begitu indah, bahkan saat kami menengadah menatap langit pun, rimbunnya kanopi pepohonan melindungi kami dari sengatan sinar matahari. Kami sangat menikmati pengarungan saat itu, walaupun kami seringkali menabrak pinggiran sungai atau terjerumus ke dalam semak-semak tumbuhan air.

"Tersangkut" (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Berkano di danau (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Capung penghuni sungai (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Christoph menjelaskan tentang batu silika yang dulunya berasal dari dasar laut. Batu ini digunakan manusia prasejarah untuk berburu. (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Matahari sedang berada pada posisi puncaknya ketika kami berhenti untuk beristirahat sejenak di kedai nelayan setempat. Di sana kami bersantap siang dengan ikan asap dan roti panggang, serta tak lupa meneguk radler untuk melepas dahaga. Kata Astrid, ini adalah kesempatan yang sangat langka, karena di Berlin, ikan segar sangat sulit didapat, kalau pun ada kita harus membelinya dengan harga yang mahal. Di sini kami bisa menyantap ikan asap yang benar-benar segar dengan harga yang tidak mahal. Saya hampir tidak percaya kalau ikan asap yang kami makan ternyata hanya dibumbui dengan garam, karena rasanya benar-benar enak.

Kedai nelayan di pinggir danau (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Hmmm... lecker! (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Asupan tenaga baru untuk mendayung sudah kami dapatkan, saatnya melanjutkan pengarungan. Kata Christoph, di sungai berikutnya, kami tidak perlu mendayung secara penuh, karena arus sungai yang akan kami lalui cukup deras. Christoph benar, kami jadi punya lebih banyak kesempatan untuk menikmati pemandangan dan mengobrol. Di sungai yang menuju Oberpfuhl ini, kami menemukan cukup banyak rubuhan batang pohon, sehingga kami harus sering-sering menunduk. Menariknya, sebagian pohon-pohon ini dirubuhkan oleh berang-berang yang menggerogoti bagian bawah batang pohon. Sungai ini memang sungai yang paling seru, selain menemukan bekas gigitan berang-berang, saya dan Lena juga melihat burung raja udang dari jarak yang sangat dekat!

Pohon yang digigiti berang-berang (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Cahaya matahari mulai meredup saat kami tiba di Oberpfuhl. Dari kejauhan kami bisa melihat kantor Treibolz, tempat yang akan menjadi titik perhentian pengarungan kami. Kami mendayung kano dengan sisa-sisa tenaga terakhir, ditemani beberapa bebek dan diver yang berenang-renang damai di kanan-kiri kano kami. Yeah, 16 km pengarungan telah kami tempuh dengan sukses!

Makan malam hari ini sangat spesial. Astrid meminta saya dan Annisa untuk memasak masakan khas Indonesia. Cukup pusing kami memilih menu makanan apa yang akan kami masak, sampai akhirnya kami memutuskan untuk memasak nasi goreng. Semua bahan dasar bisa kami peroleh di supermarket yang lokasinya tidak jauh dari penginapan kami, kecuali satu hal: kecap manis. Sebagai penggantinya, kami menambahkan madu ke dalam racikan nasi goreng. Agak terlalu dipaksakan memang, tapi ternyata rasanya enak loh…! Dan syukurlah semua orang suka masakan kami. 🙂

Nasi goreng buatan saya dan Annisa 🙂

Bersulaaaang...!

Malam ini kami bersantap di luar ruangan. Suasana ini menambah lengkap sensasi petualangan kami hari ini. Saya tidak sabar menunggu petualangan berikutnya di Uckermark!

Inspirasi yang saya dapatkan dari pengalaman hari ini adalah ternyata manusia tetap bisa memiliki kualitas hidup yang tinggi tanpa perlu merusak alam. Bagi saya, berkano di sungai dan danau yang jernih adalah suatu sumber kebahagiaan, yang dari padanya, saya merasa beruntung mencicipi kualitas hidup yang baik. Saya rasa inilah esensi dari ekoturisme: manusia dan alam mempertahankan hubungan simbiosis mutualismenya. Manusia mendapat kesempatan untuk menikmati indahnya alam, dan alam mendapat kesempatan untuk tetap lestari dan terhindar dari tangan-tangan jahil. Sepertinya Indonesia perlu banyak belajar dari Jerman tentang ekoturisme.  🙂