17

Menjayakan Kembali Sang Primadona Budaya Indonesia

Alangkah miris rasanya mengetahui bahwa wayang — warisan budaya asli Indonesia — sangat diapresiasi di negeri lain, tapi tidak di negeri asalnya… bahwa sementara di negeri lain seni wayang sudah resmi masuk ke dalam kurikulum pendidikan formal, di negeri asalnya para budayawan perlu beradu otot dengan pemerintah untuk memperoleh pencapaian yang sama.

Dalam sejarah perkembangannya, bangsa Indonesia pernah menciptakan puncak-puncak kreasi dan karya yang sampai sekarang masih dikagumi. Kreasi dan karya budaya tersebut merupakan  hasil akal, budi, dan pikiran manusia yang tak ternilai harganya.

(Ilustrasi dari jakarta.go.id)

Kesenian wayang adalah satu dari sekian banyak kesenian khas Indonesia. Di mata para pengamat budaya, kesenian wayang memiliki nilai lebih dibandingkan seni lainnya, karena kesenian wayang merupakan kesenian yang komprehensif yang dalam pertunjukannya memadukan unsur-unsur kesenian, diantaranya seni karawitan, seni rupa (tatah sungging), seni pentas (pedalangan), dan seni tari  (wayang orang). Di samping fungsinya sebagai hiburan, kesenian wayang juga memiliki fungsi estetika dan sarat dengan nilai-nilai luhur. Setiap alur cerita, falsafah dan perwatakan tokohnya, sampai bentuk pada kesenian wayang mengandung makna yang sangat mendalam.

Kita patut berbangga akan hal ini, karena kemajuan sebuah bangsa salah satunya ditentukan oleh peradaban budayanya. Bahkan UNESCO, lembaga yang membawahi kebudayaan dari PBB pada tahun 2003 menetapkan wayang — yang merupakan kebudayaan asli Indonesia — sebagai sebuah warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity). Ironisnya, bukan rasa bangga dan tindakan melestarikan kebudayaan ini yang muncul, tapi anggapan bahwa kebudayaan ini kuno dan ketinggalan jaman sehingga generasi muda mulai meninggalkannya.

Sudah sebegitu lunturnyakah rasa kecintaan kita pada kesenian wayang?  Berkaca pada diri sendiri, mungkin saja jawabannya adalah “ya.” Saya terakhir kali menonton pertunjukan wayang hampir dua tahun lalu. Itupun karena tidak sengaja saya temukan di sebuah festival di kota tempat saya tinggal. Saya lupa siapa dalangnya, saya juga lupa bagaimana ceritanya. Mungkin saya adalah representasi dari generasi muda yang mulai acuh tak acuh dengan kesenian ini.

Saya pernah suka sekali dengan wayang, terutama wayang golek. Semuanya berawal saat orang tua saya membelikan saya “Si Cepot”, tokoh wayang golek yang memang merupakan idola saya pada kala itu. Walaupun sedikit menakutkan dengan mukanya yang merah dan giginya yang menonjol, kelucuan karakternya membuat saya jatuh hati. Kini Si Cepot entah berada di mana, saya sudah lama sekali tidak memikirkannya.

Pertunjukan mini wayang golek di Braga Festival 2010

Ketemu Cepot di Braga Festival 2010, langsung minta foto bareng 😀

Tak bisa dipungkiri, arus globalisasi dan modernisasi yang terlampau kencang menerpa negeri ini membuat kita melupakan budaya tradisional. Jika jaman dulu orang menyetel televisi untuk menonton pertunjukan wayang kulit/golek/orang di TVRI, kini ada banyak pilihan lain yang dianggap lebih menarik seperti sinetron atau sitkom. Tak heran jika semakin lama masyarakat semakin tidak mengenal wayang, apalagi tergerak untuk melestarikannya. Seperti kata pepatah, “tak kenal maka tak sayang.”

Jika generasi saya yang masa kecilnya diwarnai kesenian wayang saja kini bersikap acuh tak acuh terhadap kesenian ini, bagaimana dengan generasi anak-anak jaman sekarang yang mungkin sama sekali tidak pernah bersentuhan dengan dunia wayang? Lalu mau dibawa kemana warisan budaya ini? Pantaskah wayang tergeser oleh Naruto atau tokoh kartun lain? Memikirkannya saja saya sudah merinding. -_-

Saya merasa tergerak untuk kembali mencintai wayang. Saya tidak mau anak cucu saya kelak mengenal wayang hanya karena mengunjungi museum, lalu manggut-manggut saat membaca keterangan “ini adalah warisan budaya Indonesia.” Atau mengenal wayang karena menonton pertunjukan yang justru digelar oleh orang-orang yang bukan berkebangsaan Indonesia.

Mengeluh dan berharap saja tentu tidak akan menyelesaikan masalah. Sebagai bagian dari generasi yang sedikit lebih tua pada masa ini, saya merasa perlu ambil bagian dalam menemukan solusi untuk mengembalikan kejayaan kesenian wayang di mata anak-anak. Berikut adalah beberapa solusi yang sempat terpikirkan di benak saya terkait masalah ini:

Bagi Para Orang Tua

1. Mempelajari Dunia Wayang sebagai Modal untuk Mengajar dan Mendidik Anak

Selain memiliki cerita yang menarik, dunia wayang juga berisikan nilai-nilai luhur dan falsafah hidup yang penting untuk pembentukan karakter anak-anak. Jika kita masih kurang percaya diri membawakan nilai-nilai tersebut, minimal kita bisa membawakan cerita yang menarik dan menghibur untuk anak-anak.

Untuk mempelajari cerita wayang klasik, kita cukup sesekali menonton pertunjukan wayang. Atau kalau tidak, kita bisa membaca bukunya.  Sayangnya di dua cerita yang paling populr dalam dunia perwayangan yaitu Ramayana dan Mahabharata, terdapat beberapa bagian cerita yang kurang cocok untuk dikonsumsi anak-anak. Tapi kita bisa memilahnya dan hanya menceritakan bagian yang pantas untuk diceritakan. Saat kita sudah hafal ceritanya, kita bisa menggunakannya sebagai dongeng pengantar tidur atau media pembelajaran suatu materi.

Buku karya Rizem Aizid, cocok untuk pemula

2. Mengajak Anak-anak Mengunjungi Museum Budaya

Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Kita bisa memanfaatkan energi ini untuk mengajak mereka menjelajahi museum yang menampilkan koleksi wayang. Memang belum banyak berdiri museum khusus wayang di negeri ini, tapi paling tidak terdapat beberapa museum di beberapa kota besar yang bisa kita dijadikan pilihan:

Koleksi wayang golek Museum Sri Baduga Bandung

Koleksi wayang beber Museum Sri Baduga Bandung

3. Menjadikan Wayang sebagai Objek Kreasi

Banyak kegiatan yang dinilai bisa merangsang kemampuan motoris anak, misalnya menggambar, mewarnai, dan berprakarya. Sambil merangsang kreativitas mereka, kita bisa memperkenalkan wayang pada kegiatan-kegiatan ini, misalnya:

  • Mewarnai gambar wayang. Gambar polos wayang bisa diunduh secara gratis misalnya di laman Facebook e-wayang.
  • Membuat wayang kertas. Cara membuatnya bisa disimak di blog Surfer Girl. Jika bentuk wayang asli (misalnya wayang kulit) dirasa terlalu sulit, bisa dibuat bentuk lain yang disukai. Selanjutnya wayang hasil karya bisa digunakan untuk mengadakan pertunjukan kecil-kecilan. 😀
  • Membuat papertoy  wayang. Cetakannya bisa diunduh secara gratis misalnya di blog Yapato dan Salazad.
  • Membuat wayang dari daun singkong. Cara membuatnya bisa disimak di blog Dey.

Wayang kertas (ilustrasi dari en.surfer-girl.com)

Papertoy Bima dan Sadewa hasil buatan sendiri ^,^

Wayang batang daun singkong (ilustrasi dari blog Dey)

4. Memanfaatkan Kemajuan Teknologi Informasi

Seiring kemajuan teknologi, kini inspirasi dan cerita estetis wayang dapat kita nikmati dalam bentuk digital. Salah satunya adalah komik e-wayang.org dan situs interaktif ramaya.na. Dengan gambar yang lucu dan menarik, diharapkan anak-anak akan bersemangat untuk menyimaknya. 😀

Komik e-wayang (ilustrasi dari e-wayang.org)

Situs ramaya.na (ilustrasi dari ramaya.na)

5. Menuansakan Wayang dalam Kehidupan Sehari-hari

Banyak barang-barang yang kita gunakan sehari-hari yang bisa kita manfaatkan untuk menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap wayang, misalnya: baju, tas, sepatu, mug, dan lain-lain. Diharapkan dengan interaksi setiap hari dengan wayang, apalagi jika sudah menjadi ikon bagi barang kesayangan mereka, anak-anak akan mencintai wayang dengan sendirinya. 😀

Kaos Srikandhi, hasil hunting di Jogja

Mug wayang (ilustrasi dari kaskus.co.id)

.

Bagi Para Pelaku Dunia Wayang

1. Mengembangkan Inovasi Pertunjukan Wayang Khusus Anak-anak

Jika biasanya pertunjukan wayang digelar semalam suntuk, menggunakan Bahasa Jawa atau Sunda secara full, dan terkadang berisikan cerita-cerita dewasa, maka perlu dibuat juga pertunjukan wayang khusus untuk anak-anak. Misalnya dibuat pada waktu siang hari dengan durasi hanya 2 jam, menggunakan Bahasa Indonesia, dan berisikan cerita khusus anak-anak.

Khusus untuk anak-anak jaman sekarang yang agak kebarat-baratan, kesenian wayang perlu punya nilai nyentrik, sehingga mungkin para dalang perlu bereksperimen dengan memasukkan unsur pop ke dalamnya. Sebenarnya ini bukan hal baru, karena sejak tahun 1925 sudah ada wayang kancil, dan sejak tahun 2010 ada wayang hiphop.

Wayang kancil (ilustrasi dari dongengwayangkancil.wordpress.com)

Wayang hiphop (ilustrasi dari Facebook.com)

2. “Memformalkan” Wayang

Seni wayang mengandung nilai-nilai luhur dan falsafah hidup yang baik untuk membantu pembentukan karakter anak-anak, oleh karena itu seni wayang sangat cocok untuk dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan nasional. Upaya ini telah dilakukan oleh PEPADI, namun sayangnya gayung belum bersambut.

Kita juga bisa mengusulkan adanya Hari Wayang Nasional. Sama seperti hari-hari perayaan lainnya, biasanya masyarakat akan melakukan hal-hal spesial pada hari-hari tersebut. Saya harap, jika ada Hari Wayang Nasional, stasiun televisi swasta akan tergerak untuk menampilkan pertunjukan wayang, dan masyarakat awam akan tergerak untuk berkontribusi memajukan dunia perwayangan nasional, misalnya para blogger menulis artikel tentang wayang. 🙂

3. Mengadakan Kelas atau Kursus Dalang Bocah

Sayang sekali rasanya jika apresiasi dan minat anak-anak terhadap wayang berhasil ditingkatkan tapi tidak tersedia cukup banyak fasilitas yang memungkinkan anak-anak berkecimpung lebih jauh dalam dunia wayang, misalnya tidak ada tempat kursus dalang dan sinden bocah. Untuk  menjadi seorang dalang dan sinden profesional tentulah tidak cukup dengan mengikuti kursus selama beberapa bulan. Tapi sebagai langkah awal untuk memfasilitasi kecintaan anak-anak terhadap wayang, sepertinya wadah-wadah semacam ini perlu ada dan dikelola dengan baik.

Sekolah Pedalangan “Sobokartti” (ilustrasi dari sobokartti.wordpress.com)

4. Mengadakan dan Mendukung Acara-acara Spesial Pewayangan secara Berkala

Salah satunya adalah Festival Dalang Bocah Nasional yang diselenggarakan setiap tahun di berbagai kota pada sejak 2008. Kegiatan ini diprakarsai oleh PEPADI dan didukung oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga RI dan berbagai sponsor. Festival serupa tingkat daerah juga dilaksanakan oleh PEPADI provinsi dan kabupaten/kota setiap tahunnya.

Dalang bocah (ilustrasi dari festivaldalangbocah.com)

Ketua Umum PEPADI Pusat, Ekotjipto, mengatakan Festival Dalang Bocah diadakan untuk mendorong kecintaan anak-anak terhadap profesi dalang. PEPADI berada posisi mengawal tradisi seni wayang agar tetap lestari dan menjaga agar mata rantai generasi pedalangan tidak putus begitu saja. (Sumber)

***

Itulah beberapa hal yang menurut saya bisa kita lakukan mulai dari sekarang untuk menumbuhkan kembali minat anak-anak terhadap dunia wayang.

Kelestarian seni dan budaya wayang adalah tanggung jawab kita bersama sebagai bangsa pemilik sah kebudayaan ini. Dibutuhkan tekad dan komitmen yang kuat dari berbagai pihak untuk mengembalikan kejayaan wayang sebagai primadona budaya nasional, terutama di mata anak-anak Indonesia yang hidup di generasi instan seperti sekarang. Mengandalkan pemerintah saja tentu bukan hal yang bijak, karena sejatinya peran keluarga dan masyarakat bisa memberikan hasil yang lebih optimal.

Menggubah sedikit kesenian ini agar sesuai dengan perkembangan jaman menurut saya bukanlah sesuatu yang salah. Toh yang penting kita bisa menggiring generasi penerus kita untuk mencintai wayang. Biarkanlah mereka mencintai wayang melalui jalur yang mereka pilih sendiri. Bukankah yang terpenting dari seni wayang bukanlah kemasannya, tetapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya?

Semoga tidak ada lagi kata-kata sumbang yang mengeluhkan “kok wayang lebih diapresiasi di luar negeri ya?”. Semoga seni dan budaya wayang bisa kembali menjadi primadona di tanah kelahirannya sendiri. Tidak lagi dianggap ribet, tetapi agung… tidak lagi dianggap aneh, tetapi unik… dan tidak lagi dianggap kuno, tetapi antik…

Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai budayanya. Jayalah selalu wayangku, primadona budayaku. 🙂

Advertisements
10

“Sadewa”

Ada yang tau papertoy? Sederhananya papertoy adalah boneka yang terbuat dari kertas, yang bisa kita buat sendiri, cukup dengan modal mem-print, menggunting, melipat, dan menempel. 😀

Suatu hari saya menemukan blog ini, terus jadi kabita pengen bikin papertoy Pandawa 5. Akhirnya saya download deh gambar-gambarnya untuk kemudian di-print. Asalnya saya mau print di kertas manila, tapi ternyata di tempat nge-print-nya ga ada kertas manila, jadinya pake kertas inkjet deh. Ternyata hasilnya lebih bagus, wow woooow… ^,^

(Sekilas info aja: biaya print di kertas inkjet per lembarnya Rp 3.000 perak.)

Alat dan bahan yang dibutuhkan untuk membuat papertoy

Alat dan bahan yang dibutuhkan sederhana saja. Cukup alat potong dan bahan perekat. Buat yang perfeksionis dan gila kerapihan, mungkin akan lebih suka pakai cutter dan penggaris. Tapi buat pemalas kelas kakap, bisa pake gunting aja. Saya pake keduanya. Untuk garis potong yang akan terlihat dari luar, saya pakai cutter. Tapi untuk potongan yang ga bakal keliatan, saya pake gunting. :mrgreen:

Terus untuk perekatnya bisa pake lem atau pakai double tape. Buat kamu-kamu yang jorok, mendingan pake double tape aja deh, soalnya lem yang belepotan bakal mengurangi keindahan papertoy-nya.

Cetakan yang telah dipotong

Ini dia Sadewa yang sudah jadi

Ini ceritanya percobaan pertama. Masih banyak sisi ga rapihnya: idungnya kurang nempel, lipetannya banyak yang ga rapih, garis putus-putus masih keliatan (keknya bisa dibikin ga keliatan deh).

Bagi yang bertanya-tanya “kenapa yang dibuat pertama kali Sadewa?” jawabannya adalah karena Nakula dan Sadewa adalah tokoh Pandawa 5 yang least favorite bagi saya. Jadi kalau ada yang salah-salah, saya ga bete. Kenapa ga Nakula aja? Yah karena hidup memang tidak adil.

Gapapa ya, Sadewa… walaupun kamu produk gagal, you will always be in my heart. :mrgreen:

4

Drawing Day #17 “My Favorite Superhero”

Berpacu dengan waktu sepulang sekolah, berharap masih bisa menonton serial kesayangan di televisi. Kira-kira begitulah nasib anak SD yang tumbuh pada dekade ’90-an yang terpaksa harus pulang sekolah pada sore hari. Bahkan kadang saya bisa sampe marah-marah sendiri kalau ada temen semobil jemputan yang lama banget keluar dari kelasnya, semua itu demi Kotaro Minami.

Ya, tayangan televisi sore hari favorit saya kala itu adalah Kastria Baja Hitam, dengan lakon utama Kotaro Minami.

Ksatria Baja Hitam

Jujur, saya dulu tergila-gila dengan Kotaro Minami. Namun sekarang, belasan tahun kemudian, ketergila-gilaan itu berubah menjadi rasa mual. Mungkin inilah yang membuat masa kanak-kanak menjadi masa yang paling indah, kita bisa menyukai apa saja tanpa memberikan penilaian yang serius. Kalau suka ya suka aja, ga ada penjelasannya. 🙂

Dari segi alur cerita sih bisa dibilang serial ini ga kreatif. Setipe lah sama Power Ranger dan serial superhero lainnya: ada geng yang jahat ngedrop monster di Bumi untuk mengacau, tapi kemudian dibasmi oleh superhero dengan bantuan pedang sakti mandra guna. Terus besoknya monsternya beda lagi, dan begitu seterusnya. Benar-benar monoton dan mudah ditebak. Tapi di mata saya, serial ini berbeda dari serial-serial superhero lainnya, karena di setiap episodenya pasti ada pesan moral atau poin belajarnya untuk anak-anak.

Saya sudah lupa sih apa-apa saja pesan moral dan poin belajarnya, tapi ada satu episode yang masih saya ingat, yaitu episode moster kaktus.

Saat itu Kotaro menyiram kaktus milik Reiko (pacar Kotaro — kalau ga salah) dengan air dalam jumlah banyak. Lalu Reiko berujar, “Jangan siram terlalu banyak air, nanti kaktusnya mati.” Pada akhir episode, kata-kata Reiko inilah yang akhirnya menginspirasi Kotaro untuk mengalahkan monster kaktus dengan menjatuhkannya ke sungai.

Untuk anak-anak, menurut saya ini adalah media belajar yang baik. Walaupun sekedar belajar “kaktus ga bisa hidup kalau kebanyakan air”, tapi yang penting ada poin belajarnya. :mrgreen:

Kastria Baja Hitam kini telah berevolusi menjadi varian-varian yang jumlahnya cukup banyak. Sayang sekali, seiring kedewasaan, saya mulai meninggalkan serial ini. Varian terakhir yang saya tonton adalah Ksatria Baja Hitam RX Bio. Ah, jadi pengen nonton lagi, terus ngelanjutin sampe tamat. 😀

6

Drawing Day #16 “My Turning Point in Life”

Ternyata benar apa kata rumput yang bergoyang, bahwa hidup manusia tidak akan pernah bisa disangka-sangka. Seperti juga hidup saya.

Pada suatu hari di bulan Agustus tahun 2000, di minggu pertama saya sekolah di SMA Negeri 1 Bandung, teman saya Dian Marliana Srikaton mengajak saya untuk bergabung dengan organisasi bernama “Bumi Satu.” Saya yang saat itu masih ababil dan belum tahu mau memilih organisasi apa yang akan saya jalani selama 3 tahun ke depan, akhirnya mengiyakannya.

Sebenernya saya kurang sreg dengan keputusan yang saya buat, karena saya pikir organisasi ini tidak populer (yah, namanya juga ababil, ngerti lah :p). Tapi saat itu saya tidak tega menolak ajakan Dian, apalagi setelah Dian bilang “Pliiiiiis, sodara saya minta saya ngajakin kalian untuk masuk ke situ.”

Maka bergabunglah saya sebagai anggota Bumi Satu, organisasi SMA pertama di Indonesia yang bergerak dalam bidang lingkungan hidup. Benar dugaan saya, organisasi ini memang tidak populer, pendaftarnya hanya 6 orang pada tahun itu: saya, Dian, Rani, Evi, Gilang, dan Made. Tapi yang tersisa sampai akhir tahun 2003 hanyalah 5 orang, karena Made mati gaya dan akhirnya beralih ke klub skateboard.

Pada jaman saya SMA dulu, isu-isu lingkungan hidup belum sesanter sekarang. Bahkan saking bingungnya mau melakukan aktivitas apa, kami sering kali menyibukkan diri mengurusi tanaman di greenhouse. Lumayan, sambil ngurusin tanaman biasanya kami bisa curi-curi pandang anak-anak Tae Kwon Do yang sedang latihan tendang-tendangan. :mrgreen:

Kami memang tidak punya banyak aktivitas internal selain main tanaman dan main ular, tapi senior kami seringkali mengajak kami main ke LSM sana-sini, ikutan aksi ini-itu, dan diskusi segala macem. Sampai akhirnya saya yang ababil saat itu menemukan bahwa “lingkungan hidup” adalah dunia yang sangat menarik.

Bocah Ababil

Ketertarikan ini kemudian menyeret saya untuk berkarir di bidang lingkungan hidup selepas saya lulus kuliah…. dan saya berniat untuk terus konsisten berkarir di bidang ini sampai tua. Doakan saja ya! *Takeshi Castle mode on* :mrgreen:

Saya merasa sangat beruntung 11 tahun lalu berteman dengan Dian, si gadis Pontianak yang lugu. Dan saya bersyukur saya yang ababil saat SMA dulu mau mencoba sesuatu yang baru, yang menurut saya tidak populer. Jika tidak, mungkin saat ini saya berkarir sebagai akuntan atau artis. *ngarep* :mrgreen:

Hidup memang penuh dengan kejutan, jadi jangan pernah tolak kesempatan yang datang kepada kita saat ini. Kita tidak akan pernah tahu apakah hal itu akan mengantarkan kita pada turning point hidup kita selanjutnya. So, just try it! 🙂

9

Drawing Day #7 “My Inspiration”

Apa itu inspirasi? Jujur, walaupun saya sering pake kata ini dalam kehidupan sehari-hari, saya ga tau apa arti “inspirasi” yang sebenarnya. Menurut KAAR sih (KAAR = Kamus Abal-Abal Rima), inspirasi adalah sesuatu yang membuat seseorang terdorong untuk menentukan dan mengejar visi hidupnya. Sehingga seseorang yang menginspirasi orang lain disebut “inspirator.”

Tapi sepertinya ketimbang “inspirator,” orang-orang lebih suka menyebut orang yang menginspirasi dengan “inspirasi.” Mungkin karena inspirator terlalu terkesan seperti nama alat, hahaha… Atau mungkin juga telinga orang-orang banyak terpengaruh lagu Chicago tahun ’80-an yang judulnya You’re the Inspiration. Sebentar ya, saya nyanyi dulu….

♪ ♫You’re the meaning in my life
You’re the inspiration
You bring feeling to my life
You’re the inspiration ♪ ♫

Beliaulah Dr. Achmad Sjarmidi, yang menginspirasi saya untuk menjadi dosen. Bukan dosen sembarang dosen, tetapi dosen gaul tentunya, ahaha… Satu hal yang paling saya tidak suka dari dosen adalah sikap judgmental mereka terhadap mahasiswa. Hebatnya, Pa Mamid (sapaan akrabnya) tidak begitu. Beliau melihat kualitas seseorang bukan dari nilai akademisnya, tapi dari cara mereka memperoleh nilai tersebut. Sehingga tak heran pada semua mata kuliah yang beliau ajarkan, pendekatan yang dilakukan adalah mengajak mahasiswa berpikir (secara harfiah), bukan “berpikir” yang hanya mendengarkan tetapi konsentrasi belanja ke mana-mana. Sementara mahasiswa lain merasa bete karena “kenyamanan” mereka terganggu, saya justru bersemangat! It’s so fun….! 😀

Lebih kerennya lagi adalah, saya bisa tidak sengaja bertemu beliau pada event-event pergerakan sosial di Bandung. Di saat orang-orang seumuran beliau merasa hal-hal seperti itu sudah bukan urusan mereka lagi karena sudah bukan jamannya, Pa Mamid hadir untuk menginspirasi anak-anak muda.

Satu hal lain yang membuat saya heran adalah, dengan segala kesibukannya ke sana ke mari, beliau masih tetap update dengan dunia musik mancanegara. Pernah di satu kesempatan saat kami survey tempat kuliah lapangan bersama, beliau memperdengarkan musik dengan lagu berbahasa Perancis kepada saya, dia bilang “Ini lagu seksi.” Dan pada perjalanan kembali ke Bandung, saat kami mendengar lagu Britney Spears di radio, beliau berkomentar, “Hebat ya si Britney, bisa bangkit lagi dari keterpurukan.”

Eh…. Sampe tau berita tentang Britney, pak? Wah, bener-bener gaul 😀

*Padahal saya yang anak muda aja saat itu ga tau kalau itu lagu Britney, dan saya juga ga tau kalau Britney sudah bangkit dari keterpurukannya -_-*

Itulah Pa Mamid, dosen yang gaul dan asik. Someday, I want to be just like him: cerdas, gaul, hangat, inspiratif 🙂

P.S.: Gambar ini adalah hasil percobaan kali ke-tiga saya belajar menggunakan cat air, dan saya menemui kesulitan dalam mewarna kulit manusia, hahaha… Liat aja tuh hasilnya berantakan. Harusnya sih ga selegam itu kulitnya si bapak, tapi karena warnanya ga rata terus, saya poles-poles lagi.. akhirnya jadi legam banget plus tetep ga rata juga -_- *yah, namanya juga belajar :p*

P.S.S.: Beliau adalah orang yang sama dengan yang saya ceritakan di sini.

2

Drawing Day #6 “My Best Friend”

Best friend yah? Sebenernya best friend saya lebih dari satu, tapi untuk tantangan kali ini,  saya mencoba menggambar Lerry Martina sebagai best friend saya,  soalnya dia baru aja lulus S2 hari Jum’at lalu. Selamaaaaaaat >,<

Maksud saya, selamat masuk ke kandang harimau selepas dari kandang buaya (untuk kedua kalinya, heuheu :p).

Untuk Lerry, sori ya kalau gambarnya ga mirip. Kalau lebih cantik dari aslinya, anggap aja rejeki… kalau lebih jelek, anggap aja ibadah, hehehe… 😀

Thanks for being my best friend 🙂

2

Drawing Day #5 “My Favorite Food”

…..dan makanan favorit saya adalah es krim. Varian yang paling saya suka adalah rasa vanilla, baik yang polos maupun yang bertabur choco chip atau potongan kue coklat.

Kebiasaan saya saat makan es krim adalah saya menggigit bagian atas cone-nya duluan sebelum makan es krimnya. Ga tau kenapa, hahaha…. xD

Kalau kamu, suka es krim rasa apa? Dan bagaimana cara memakannya yang asik menurut kamu? 🙂