62

Tetangga Iwan Fals?

Tiba-tiba saja hari ini saya ingat dengan tempat kerja saya dulu, sebuah tempat yang sangat indah di pedalaman Mentawai. Mungkin ingatan ini terpicu karena tadi malam saya melihat iklan tayangan televisi berjudul “Berburu” yang menampakkan babi hutan yang sedang berlari-lari. Kondisinya mirip sekali dengan di Mentawai.

Tapi sebenarnya bukan babinya yang saya ingat… melainkan cerita tentang Iwan Fals-nya.

Ini adalah cerita yang saya dapat dari Wibi, teman kerja saya yang dulu seorang mahasiswa Kehutanan UGM.

Suatu hari seorang guide (kita sebut saja Justin Bieber) bertanya kepada seorang asisten peneliti bernama Ira, “Ira, kampung Ira di mana?”

Lalu Ira menjawab, “Di Jawa.” Mungkin karena Ira tahu bahwa kalau dia menjawab “Jogja,” Justin tidak akan tahu di mana lokasi tersebut. Minimal kalau Ira menjawabnya dengan nama pulau, Justin akan lebih mengenalnya, karena ini ada di pelajaran SD.

Tanpa dinyana, Justin pun membalasnya dengan antusias, “Wah, di Jawa? Rumah kamu dekat dengan Iwan Fals tidak?”

Saya sampai sekarang ga pernah tau apa jawaban selanjutnya dari Ira. Karena setelah Wibi menceritakan tentang pertanyaan berbau Iwan Fals tersebut, saya langsung tertawa terbahak-bahak. Demikian juga setiap kali cerita itu diceritakan, kami pasti akan kembali tertawa terbahak-bahak, dan cerita itu tidak pernah saya dengar dengan komplit.

Ups, sori… Saya tahu, mentertawakan kekurangan orang lain itu tidak baik, tapi ini benar-benar kocak. Saya tidak bermaksud melecehkan, saya hanya kagum dengan kepolosan si Justin. 🙂

Di sela-sela ceritanya, saya ingat Wibi pernah berkata, “Dia berespon seperti itu karena dia menganggap Jawa itu sebesar Policoman.”

Policoman? Ini memang nama yang agak aneh, tapi ini adalah nama sebuah desa kecil di bagian Utara Siberut, Kepulauan Mentawai. Ada juga yang menyebutnya Polipsoman atau Politcoman. Malah di buku keluaran tahun 80-an, saya menemukan nama Pulipsuman. Ini adalah desa tempat tinggal para guide dan juru masak yang membantu para peneliti primata di Hutan Pungut.

Saya ga punya banyak kenangan dengan Policoman, karena saya hanya pernah menginap di sana beberapa hari, yaitu saat sebelum masuk hutan, saat lebaran, dan saat mau pulang ke Padang. Foto tentang Policoman pun tidak banyak, karena saat itu saya ga punya kamera. Ini adalah foto terakhir saya di Policoman sebelum bertolak ke Padang, yang dijepret menggunakan kamera milik Deden yang lensanya jamuran. 🙂

Bergaya ala preman bersama Deden dan Vera di depan "Betaet," Desa Policoman, Siberut Utara

Dulu, waktu saya kerja di tengan hutan belantara, saya merengek-rengek ingin keluar dari sana. Bukan karena di sana banyak King Cobra, tapi karena saya stres ditekan oleh bos saya yang orang Amerika itu. Walaupun banyak kenangan buruk, tapi di sana juga ada banyak kenangan manis, salah satunya berinteraksi dengan para guide yang polos ini. 🙂 Saya pengen banget bisa ke Policoman lagi untuk bertemu dengan mereka.

Sayangnya saya bukan orang kaya… Kalau saya punya uang banyak, saya akan mengajak Iwan Fals untuk manggung di Policoman, sekalian juga untuk memberi sedikit pengetahuan tentang geografi. 😉

Advertisements
14

Owa Jawa dan Nostalgia Sancang

Kata Anil, bakal ada bule di Forum Hijau Bandung edisi Senin ini. Info itu membuat saya jadi pengen ikutan pertemuan FHB yang diselenggarakan 2 minggu sekali di hari Senin itu. Bukan “bule”-nya yang bikin saya pengen dateng (sori ya, saya ga sekampungan itu hehehe :p), tapi saya pengen dengar hasil penelitian dia yang katanya genrenya lingkungan. *Hahaha, genre… emangnya film?*

Tapi ternyata si bule (yang mungkin ganteng itu) ga dateng, sehingga porsinya dilimpahkan kepada teman perempuannya, yang juga seorang bule asal Amerika Serikat. Namanya Melissa Reisland, seorang mahasiswi University of Wisconsin, yang saat ini sedang menyelesaikan disertasinya tentang Owa Jawa (Hylobates moloch) di Cagar Alam Leuweung Sancang, Garut.

Wuuuuaaaaah… saya demen buanget nih… (bukan Melissanya ya, tapi Owa Jawa-nya… ekeu bukan lesbong kali… *pake gaya bencong*)

Melissa Reisland
Fariz, sang moderator yang merangkap penterjemah
Owa jawa betina bernama Amelia 🙂

Sayangnya Melissa ga banyak cerita tentang penelitiannya, tapi lebih banyak cerita tentang pengalamannya bertemu hewan ini dan itu. Dari hasil penelitian sementaranya, didapat bahwa populasi Owa Jawa di Cagar Alam Leuweung Sancang hanya sekitar 15 ekor! Faktor utama penyebab degradasi populasi ini adalah penebangan liar di dalam cagar alam. Sedangkan dari data hasil pengamatan perilaku, disimpulkan bahwa intensitas kegiatan manusia di dalam hutan telah mengubah perilaku Owa Jawa. Semakin banyak orang masuk ke dalam hutan dan bikin keributan, maka semakin jarang Owa Jawa makan dan melakukan traveling dari pohon ke pohon. Tentang apakah hal ini mempengaruhi populasi Owa Jawa atau tidak, dia tidak menjelaskan.

Sebenarnya sisa waktu yang ada bisa dimanfaatkan untuk bertanya ini-itu tentang Sancang dan Owa Jawa kepada Melissa. Tapi sayangnya hampir semua orang malah memberi pertanyaan OOT, seperti insenerator, produk daur ulang, dan lain-lain. Kasian si Melissa-nya… Walaupun dia orang Amerika, bukan berarti dia ngerti semua permasalahan lingkungan.

Sementara mereka ngasih pertanyaan yang aneh-aneh, dan si Melissanya pun memutar otak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan aneh itu, pikiran saya melayang ke tahun 2005 silam. Itu adalah waktu di mana saya dan beberapa teman saya luntang-lantung main ke Sancang. Dulu rencananya lokasi ini akan dipakai untuk pelantikan ospek anak-anak angkatan 2004. Jadi rencananya setelah disiksa 14 hari di kota, mereka akan menikmati indahnya alam Sancang selama 3 hari. Tapi sayang sungguh sayang…. setelah semua persiapan dilakukan, tiba-tiba ospeknya dibekukan karena ada anak yang mengadu tanpa alasan jelas kepada mamanya yang juga merupakan dosen di ITB. Sia-sia sudah semua perjuangan tim survey…. 😦

Saat itu saya baru tingkat 2. Kayanya sekarang di ITB udah ga ada deh ospek-ospekan macam ini.

Sayangnya dulu teknologi belum secanggih sekarang, jadi saya ga sempat memback-up foto-fotonya. Saya hanya punya sedikit foto saat jadi tim survey.

Wildan, Arief, Angga, Rime, Novi, Rahma   

Resmi… kita kaya anak ilang

Dudul… malah membelakangi cahaya :p

Walaupun menghadap cahaya, yang mukanya keliatan cuma Rahma, karena kulit kita pada gosong 🙂

Ya ampun… cupu-cupu banget ya…. Saya jadi pengen ke Sancang lagi.. Siapa tau saya bisa ketemu Amelia, Tono, Tini, dan Udin 😀

15

Aceh dan Asam Kranji

Mumpung ah……… mumpung saya belum terlalu ngantuk, dan mumpung hari ini masih tanggal 26 Desember 2010.

Ingatkah teman-teman dengan tanggal ini, tanggal 26 Desember? Bukan hari di mana Indonesia dibantai Malaysia 3-0 di final piala AFF, tapi hari di mana saudara-saudara kita di Aceh terkena musibah tsunami 6 tahun lalu. 
Saya ga akan ngebahas lagi tentang Aceh di tahun 2004. Yang lalu biarlah berlalu… jadi saya akan cerita sedikit tentang Aceh di tahun 2010 😀
Jadi ceritanya begini…. *kismis mode on* 
Sekitar 2 bulan lalu saya berkesempatan jadi trainer BLP di Aceh. Dan di hari terakhir di 2 minggu tersebut, saya dan teman-teman berkesempatan jalan-jalan ke daerah perbatasan Banda Aceh – Meulaboh. Konon lokasi ini adalah salah satu lokasi yang hantaman tsunaminya paling dahsyat. Sebenernya ini bukan jalan-jalan, tapi survey dan hunting foto lokasi dengan infrastruktur alam yang rusak. Rencananya foto-foto ini akan dipakai untuk melengkapi buku yang sedang kami buat. 
Alih-alih mendapat pemandangan alam yang rusak, kami malah lebih sering melihat pemandangan indah. Di satu sisi hati saya disejukkan oleh pantai yang sangat indah, dan di sisi lain mata saya disegarkan oleh hutan yang sangat asri. Di beberapa titik terlihat onggokan puing-puing rumah sisa hantaman tsunami yang ditinggal pemiliknya. Mungkin karena manusia enggan untuk bermukin kembali di sini, suksesi lokasi ini berjalan tanpa hambatan yang berarti.
Ini adalah beberapa foto yang membuat saya terkagum-kagum dengan Aceh…. 🙂 (mohon maaf kalau fotonya butut, ga pro soalnya :p)
Danau alami di perempatan jalan raya Banda Aceh – Meulaboh
Para bebek yang berenang dengan kecepatan 20 km/jam :p
It’s okay to be different
Padang rumput yang menyatu dengan hutan 🙂

Sungai yang tenang
Colorful nature
Pabrik semen yang mengganggu pemandangan :p
Jalannya buntu. Jalan yang aneh…
Baru kali ini saya nemu jalan yang buntu. Katanya jalan bagus nan mulus ini didanai oleh USAID. Jalan aslinya udah rusak berat, dan posisinya lebih dekat dengan bibir pantai. Di sepanjang perjalanan, jalan ini sudah membelah beberapa bukit gamping… jadi ini adalah bukit gamping yang kesekian yang dihancurkan. Sayang banget ya bukit-bukit ini dipecah-pecah 😦
Karena buntu, akhirnya kita putar balik deh…. 
Nah, itu dia pantainya… Pantai… pantai….!
Ternyata ada dermaganya. Katanya sih buat ngapalin semen dari pabrik semen yang lokasinya ga jauh dari situ. Yang tadi fotonya saya pasang itu loh…
Waw… waw… keren kan?
Pantai batu 🙂
Passss banget buat pacaran… :p
Nira yang sibuk mencari kerang
Eh ada Mr. Krab 😀
Sayangnya waktu kami ga banyak. Dalam satu jam ke depan kami harus udah makan siang dan check in di bandara untuk bertolak ke Jakarta. Tapi petualangan belum selesai, sodara-sodari…..
Eeeeaaaaaa “yang punya jalan” keluar….
Di Aceh saya banyak sekali menemukan sapi dan kambing yang berkeliaran di pinggir jalan. Mungkin ini yang membuat rasa daging sapi Aceh lebih enak… sapinya ga stress :p
Ke sono-annya lagi (halah bahasanya) ada banyak ibu-ibu yang menjual buah berbentuk bulat kecil-kecil berwarna hitam. Ternyata itu adalah asam kranji (atau Bahasa Inggrisnya velvet tamarind), buah yang sudah langka di Indonesia. Harganya murah, hanya Rp 10.000,00 per ikat. Rasanya hampir sama dengan asam jawa. Hanya saja bentuknya lebih kecil, kulitnya lebih lunak, dan jumlah biji per buahnya cuma satu (kalau asam jawa kan jumlah bijinya sabondoroyot :p).  
Beginilah rupanya:
Asam kranji (Dialium indum)
Gara-gara posting tulisan ini… saya jadi ingat bahwa biji-biji asam kranji yang saya simpan dulu belum saya tanam satu pun. Saya akan tanam biji-biji ini besok pagi, dan pohonnya akan saya rawat dengan baik demi dua tujuan. Pertama, saya ingin anak cucu saya nanti kenal dengan tanaman asam kranji. Dan kedua, saya ingin mengenang bahwa saya pernah datang ke Aceh, tempat di ujung Barat Indonesia yang alamnya begitu indah…. yang membuat saya selalu ingin mengenangnya 🙂
Nanti kalau pohonnya sudah tumbuh, saya akan kabari lagi, hehehe….
Pokonya I love Aceh dan asam kranji… 🙂
11

Saat Keti* Tidak Bisa Memilih

*) Keti = Ketiak = Ketek = Kelek = Armpit (siapa tau ada yang ga tau apa itu “keti”)

Kemarin saya jalan-jalan ke blognya sista Nilla. Ada satu postingannya yang membuat saya merasa agak horor dan sempat tidak bisa mengalihkan perhatian selama beberapa saat setelah membacanya, yaitu tentang tumor payudara. Sebagai cewe (walaupun saya ini adalah cewe jadi-jadian), apalagi kemarin adalah Hari Kartini (sok dihubung-hubungin), saya merasa perlu untuk mempelajari hal ini lebih lanjut.

Rasa penasaran tersebut menyeret saya untuk surfing di beberapa situs kesehatan dan mencari tahu tentang cara pencegahan kanker payudara. Di antara situs-situs yang isinya hampir semua seragam, ada 1 situs yang menurut saya menarik (ujung-ujungnya baru ketauan kalo itu situs terjemahan dari Bahasa Inggris, hehehe…), yang menyebutkan bahwa kebiasaan mencukur bulu ups rambut keti dan memakai deodoran anti-perspirant** ternyata bisa memicu terbentuknya sel kanker payudara. What??!!

**) anti-perspirant: zat yang menghalangi keringat keluar dari tubuh (siapa tau ada ga bisa Bahasa Inggris, hehehe…)

Jadi katanya gini, ada 2 bahaya yang ditimbulkan oleh kebiasaan-kebiasaan tadi. Pertama: adalah sudah fitrahnya bahwa keringat harus keluar dari tubuh, sambil membawa racun-racun dan zat yang tidak berguna bagi tubuh kita. Jika dihalangi, maka keringat akan menumpuk pada kelenjar keringat, begitu pula racun-racunnya. Nah, si racun-racun ini kalau udah numpuk bisa jadi kanker dan menjalar ke payudara.

Kedua, udah pada tau belom kalo rambut keti tuh tugasnya menghalangi zat asing yang masuk ke dalam tubuh? Buat yang belum, silakan terkaget-kaget (apaan sih, ga jelas banget!). Berarti kalau kita cukur habis mereka, kita telah kehilangan 2 (atau 2 ribu?) body guard di tubuh kita. Artinya peluang zat-zat asing masuk ke tubuh kita jadi lebih besar. Apalagi kalo dari proses nyukurnya timbul luka di keti, trus abis itu kita pakein anti-perspirant, udah deh, racun-racun kimiawi dari anti-perspirant pasti langsung masuk ke dalam tubuh kita. Saya pernah punya pengalaman, abis dicukur, keti terasa agak perih, trus abis dipakein anti-perspiran, jadi perih banget, sampe loncat-loncat gitu nahan perihnya.

Kalian biasanya nyukur ketinya gimana? Pake wax atau pake pisau silet yang model iklannya si Choky Sitohang? Kalau pake pisau silet (mau yang merek si Choky atau bukan), maka sebaiknya kita kurangi intensitas penyukuran rambut keti, karena dari penggunaan pisau silet, pasti akan dihasilkan luka (walaupun keciiiil banget). Misalnya keti dicukur kalo pas mau renang aja, atau pas mau pake baju u can see gitu. Jangan tiap hari….

Saya jadi mikir-mikir lagi, kenapa sih di kehidupan ini ada perilaku mencukur rambut keti dan memakai deodoran anti-perspirant? Pasti gara-gara ada tanggapan bahwa cewe yang ketinya berambut lebat tuh kampungan, atau cewe yang bajunya basket (basah ketek) tuh jorok, dll dsb. Padahal kan sebenernya ga juga. Emangnya ada undang-undang yang mengatur tentang perketian?

Saya sendiri baru menyadari hal itu sekarang. Saya baru sadar bahwa saya melakukan kebiasaan-kebiasaan tersebut semata-mata hanya untuk memperhatikan penampilan, tanpa memperhatikan kesehatan. Saya baru sadar bahwa selama ini saya telah bertindak semena-mena pada si keti. Padahal kan si keti sudah beritikad baik dengan memberikan fasilitas pemanjangan rambut. Coba bayangkan kalo panjang rambut keti cuma segitu-gitu aja, nanti kalo ada rambut yang bercabang gimana?

Nah, balik lagi ke cerita kemaren. Balik dari kantor (yang sebenernya kantor-kantoran), saya langsung bergegas ke supermarket untuk beli bedak. Saya pengen buang deodoran anti-perspirant saya, dan saya ganti perannya dengan bedak.


Lah, itu ATM Mandiri hubungannya apa? Ga ada, cuman pengen pamer aja kemarin baru pindah rekening ke Mandiri, hehehe.

Supaya blog ini tidak terkesan nyampah, saya akan sertakan beberapa tips bagi para cewe yang mau beralih fokus pada keti, dari kecantikan menuju kesehatan (sebenernya hanya rangkuman dari tulisan di atas):

  • Supaya ga basket, bukan berarti kita harus menahan keringat supaya ga keluar. Basket bisa dihindari dengan menggunakan bedak, karena bedak bisa menyerap keringat. Artinya, pake deodoran dan pake bedak sama-sama aja hasilnya: sama-sama wangi, sama-sama ga basket, cuma ya kalo bedak jadi agak burket (bubur ketek) aja, hohoho… Efek ke baju juga masih lebih bagus bedak dibanding anti-perspirant.
  • Supaya tetap bersih, sabuni keti saat mandi. Bagi cewe jadi-jadian seperti saya, yang mandinya paling lama 10 menit, mungkin keti jadi bagian yang kurang diperhatikan dan tidak jadi prioritas saat mandi. Kalau ketinya bersih, maka jumlah keringat jadi ga penting.
  • Jangan cukur keti terlalu sering, kecuali kalo udah mengganggu. Biarkanlah mereka bebas menari-nari menikmati indahnya hidup. Kalopun harus dicukur, cukurlah secara hati-hati, jangan sampai ada luka pada keti, dan usahakan tidak menggunakan produk kimiawi apapun pada keti setelah dicukur.
  • Tidak usah merasa kecil hati ketika diejek dan dihina sebagai cewe kampungan dan ga gaol getoh karena basket atau burket. Kalo kamu tipe pendiam, cukup bersabar dan hibur dirimu sendiri. Tapi kalo kamu tipe misionaris, ungkapkan saja argumentasi-argumentasi yang kamu kuasai, supaya mereka jadi mengerti. Dan jika kamu tipe penyerang, katakan saja bahwa orang yang kerket (kering ketek) tapi ga peduli sama kesehatan tubuhnya lah yang sebenarnya kampungan dan ga gaol getoh (sambil sendawa, hahaha…).
  • Yah gitu deh. Be your selp aja lah.


Andai saja tren mode kembali ke era 80-an, saat keberadaan rambut keti dianggap sebagai sesuatu yang indah… saat Eva Arnas dan teman-teman sejawatnya dengan bangga memamerkan ketinya yang berambut lebat… Dan andai saja keti bisa memilih, pasti dia memilih untuk hidup bebas tanpa racun dan luka. Keti memang tidak bisa memilih, tapi si empunya keti bisa memilih.

Jadi bagaimana, pilih dianggap cantik sekarang tapi berbaring di rumah sakit saat tua nanti, atau dianggap aneh sekarang tapi sehat saat tua nanti? Tapi ah, cantik dan aneh itu kan relatif… lagi pula ga ada undang-undangnya.

98

Sindangkerta: Antara TA, Surga, dan Narsisisme

Akhirnya… setalah menunggu selama 8 bulan lebih karena pengerjaan konsep, akhirnya hari ini gua kembali ke pantai ini. Horeeee….

* * *

14 September 2007

Perjalanan dimulai pukul 11.30 dengan start keberangkatan dari lab. Sebenernya rencananya sih berangkat jam 9. Gara-gara si Depe ngebatalin diri mau ikut tapi ga bilang2 nih, jadinya waktu kita terbuang percuma.. Secara kita jadi ngaret gara2 nungguin dia.

Pukul 15.00 gua dan Lerry tiba di terminal Tasikmalaya. Gua sempat tercengang, karena ternyata terminal di kota ini sangat bersih dan bagus. Lerry bilang terminal ini seperti bandara. Terminal di Bandung kalah deh pokonya :p

Ternyata bus menuju Cipatujah baru akan berangkat pukul 17.00… alamakjang…

* * *

15 September 2007

Pertempuran dimulai pagi siang ini. Secara pada tanggal ini zona intertidal masih tergenang oleh air pasang pada pagi hari, maka anveg dilakukan pada siang hari. Selama pengerjaan TA di site, kami dibantu oleh seorang petugas suaka margasatwa bernama Hendri, yang kami kira baru lulus SMA tapi ternyata umurnya udah 26, hihihihi…

Peralatan tempur

Jalan yang harus dilewati sejauh 2 km dari homestay menuju site

Ini nih yang namanya padang lamun… objek penelitian gua..

Ini plotnya…

* * *

16 September 2007

Agenda hari ini adalah ngelanjutin anveg kemarin dan latihan pengamatan penyu buat besok. Sebelum ke site, gua poto2 dulu si tukik-tukik lucu ini..

Ah ah ah… gua mau dipoto..

Tukik-tukik dan sandal jepit

Belajar ngamatin penyu

Sambil nunggu air surut, Hendri mengajak kami untuk berkeliling melihat jenis-jenis ikan hias yang ditangkap oleh nelayan dan dipejualbelikan secara lokal. Sayangnya ikan-ikan hias yang ada di tempat penampungan mati sejak kemarin gara2 mati listrik. Katanya ikan hias karang tuh ga tahan kalo ga pake aerator.

Ini dia ikan yang tersisa..

Ikan Gogot, salah satu jenis ikan di game Feeding Frenzy, hehehe.. 🙂

Terumbu karang dalam ember, siap dijual.. kasihan kali kau nak..

Abis jalan-jalan, kita kembali ke site. Sebelum memulai anveg lanjutan kemarin, kami main-main dulu di pantai.. Saat air surut kita bisa liat terumbu karang dengan jelas loh..

Seperti sawah

Waaaa… keren ya…

Siput laut sedang menyantap Ulva sp.

Waaa… Scorpion fish..!!!

* * *

17 September 2007

Hari ini agendanya pengamatan perilaku dan intensitas kemunculan penyu saat air pasang, abis itu pulang ke Bandung.. asik.. asik.. asik..

Paginya sebelum pengamatan, Hendri mengajak kami untuk ikut melepas tukik ke laut. Harusnya sih jadwal pelepasannya minggu depan, tapi berhubung minggu depan gua dan Lerry ga ke sini lagi, jadinya dilepasnya hari ini deh.. hehehehe…

Sang penyelamat penyu

Karapas Penyu hijau (Chelonia mydas)

Ini plastronnya..

Ayo.. ayo.. berbaris yang rapi ya anak-anak..

Ayo kejar ombaknya…!!! Selamat jalan Jack and Sally… 😦

Plang Suaka Margasatwa Sindangkerta

Siangnya, saat gua dan Lerry hendak menuju site, ternyata tempat penangkaran sedang dibersihkan. Gua dan Lerry kemudian mengendap-endap masuk ke dalam, dan menemukan mahkluk-makhluk ini…

Yang coklat adalah Penyu hijau normal dan yang putih albino.. katanya si penyu albino ini ga bisa hidup normal di laut, makanya setelah setahun lalu dilepas, dia kembali lagi ke darat dan ‘memilih’ untuk dipelihara manusia saja..

Tukik-tukik Penyu hijau yang imut-imut… Yo oloh lutuna..

Penyu sisik yang sedang murung

Abis dari curi-curi masuk tempat penangkaran, kami menuju site untuk mencatat perilaku dan intensitas kemunculan si penyu. Waktu yang paling tepat untuk melihat penyu adalah saat air sedang pasang secara maksimal. Dari satu tarikan ombak, kemunculan penyu bisa mencapai 25 kali.. wew.. fantastis…

Ini nih keadaan saat air pasang..

Setelah mencatat apa yang perlu dicatat, kami pulang ke Bandung. Dan berhubung ini adalah blog narsis, maka gua tutup postingan ini dengan foto ini, hahahahaha….

Karena narsis adalah nama tengah kami, ahahahahaha…. xD

*harap maklum lah…*


SAMPAI JUMPA…!!!!

* * *

Catatan perjalanan Bandung – Sindangkerta (siapa tau ada yang butuh)

11.12 – 11.30 Kampus – Terminal Cicaheum (Rp 3000,00)

12.45 – 15.00 Terminal Cicaheum – Terminal Tasikmalaya (Rp 15.000,00)

17.00 – 20.30 Terminal Tasikmalaya – Cipatujah / Sindangkerta (Rp 20.000,00) [hanya beroperasi pukul 07.30 dan 17.00]

28

I’ve Never Thought to Touch These Monsters Before


*lagi pengen posting sesuatu yang ga penting nih*

Walopun gua suka sama binatang-binatang yang ada di muka bumi ini mulai dari serangga sampai dinosaurus, ada beberapa binatang yang ga gua suka dan sama sekali tidak pernah terpikirkan untuk gua pegang. Sampai akhirnya gua terjerumus dalam praktikum-praktikum di mana gua harus ‘bekerjasama’ dengan moster-moster ini.

1. Bangkong Budug


Bufo melanostictus (sumber)


Apa bedanya kodok sama katak? Tampak seperti pertanyaan bodoh ya, tapi ini sebenarnya ilmiah loh.. Kodok tuh yang kulitnya halus, sedangkan katak tuh yang ada bintil-bintilnya (hyaik). Mungkin dulu waktu para amfibi kuliah, para katak absen di kelas kecantikan, so permukaan tubuhnya jadi korodok gitu.

Sebenernya gua udah pernah megang keduanya waktu praktikum Biosistematika, tapi cuman bangkenya doang yang dikasih formalin. Jadi aja kodoknya asik… ga pake loncat-loncat. Untung aja praktikumnya ga pas malam bulan purnama. Tanya kenapa…

Jadi intinya gua jiji megang kodok apalagi katak yang masih dalam keadaan segar bugar dan daya cengkeramnya masih kuat.

Suatu hari para asisten praktikum Fisiologi Hewan mewajibkan tiap kelompok untuk membawa seekor katak (Bufo sp.). Harus katak ga boleh kodok *heuh.. aya-aya wae sih praktikum teh…*. Dan berhubung di kelompok gua cowonya cuman si Dercun, maka sudah pasti dialah yang ketiban siyal dapet tugas yang jijay-jijay kek gini, hahahaha… (ini adalah contoh emansipasi wanita yang salah kaprah.. jangan ditiru ya :p)

Kayanya si Dercun emang ga berjodoh sama Bufo *dia mah jodohnya sama Dona kali, wakakakak..*. Pada perjalanan dari tempat mencari katak menuju kampus, Dercun mengalami kecelakaan. Sepeda motornya nabrak mobil (kalo ga salah). Akhirnya kelompok gua diomel-omelin asisten deh gara-gara ga bawa katak. Insiden ini kemudian dinamakan “Tragedi Katak Berdarah”.

Tapi kemudian secercah harapan muncul. Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam lab dengan membawa sebuah ember berisi beberapa katak yang sedang berloncatan di dalam air berwarna coklat. Wahai manusia yang 3 tahun lalu membawa katak-katak ini ke dalam lab, I LOVE YOU PISAN LAH..! 😀

Aksi tunjuk-menunjuk terus terjadi dengan kalimat standar “Udah lah lu aja… lu aja..”, sementara asisten makin murka karena waktu praktikum terbuang percuma untuk hal-hal tidak penting semacam ini. Akhirnya gua mengalah, sodara-sodara… gua mengalah…!

Jangan tanya gimana rasanya megang bangkong budug, karena rasanya tidak enak.

2. Mus musculus-wati


Mus musculus (sumber)


Walaupun tikus tuh lucu, tapi tetep aja geuleuh da mainnya di tong sampah dan comberan. Untungnya tikus-tikus yang kita co’o di sini tikus lab, jadinya bersih. Nama lengkapnya Mus musculus Swiss Webster. Itu kalo cowo, kalo cewe namanya Mus musculus-wati.

Pertama kali megang tikus model gini tuh pas praktikum Bium waktu TPB. Kerasa di tangan tuh geli-geli gimanaaaa gitu. Lucu sih.. tapi jadi ga lucu kalo dia boker dan pipis di meja lab gara-gara stress.. soalnya kita disuruh ngebersihin T_T

3. Kecoawati


Periplaneta americana (sumber)


Taruhan sok.. cewe-cewe yang baca blog ini pasti hampir semuanya takut sama makhluk ini. Karena selain baunya dan bentuknya geuleuh, binatang ini punya antena yang suka digoyang-goyangin. Arrgghh… mana coraknya kek gitu lagi (ada mata kamuflase-nya).

Jadi, bisa dibayangkan lah yah gimana ramenya keadaan lab saat para praktikan wanita (yang jumlahnya lebih banyak dari pria) harus bekerjasama dengan para kecoa ini. Kira-kira beginilah ceritanya *kaya tayangan KISMIS ya, hahaha…*.

4. Ikan Cupang (ga pake wati)


Betta splendens wild type (sumber)


Dari dulu sebenernya gua udah sering nyo’o ikan cupang di rumah, tapi cuman buat diliat aja, ga sampe diaduin kaya di praktikum. Pas gua baca lagi postingan ini (yang mana gaya nulisnya ancur banget :D), gua baru nyadar kalo ternyata waktu itu kita nitip beli ikan-ikan cupang itu di si Dercun. Kayanya Dercun emang berbakat deh jadi dealer binatang-binatang yang dipake buat praktikum. Dibisnisin aja atuh Der.. Nanti kalo sukses kita makan-makan… 😀

* * *


Sebenernya masih ada binatang-binatang lain yang dijadiin bahan coco’oan seperti yang diceritain di postingan ini. Tapi berhubung burung merpati tuh lucu dan ga layak disebut monster, jadinya ga gua masukin di sini deh.

Beberapa sisanya ga gua masukin soalnya gua ga bernafsu untuk menceritakannya, seperti burung kowak dan Drosophila melanogaster. Kalian juga pasti ga napsu ngebacanya… ^^

Walaupun geuleuh dan menjijikkan, tetep aja manusia ga akan bisa hidup kalo mereka ga ada.. 😀

20

I’m a Survivor


Hari Minggu sampe Selasa tanggal 1-3 Juli 2007 kemarin gua nemenin anak2 GH latihan Survival di Sanggara. Gua jadi turun lagi gara-gara LAGI-LAGI duo tambang itu pada sok sibuk ngerjain TA. Huh..! Harusnya cerita ini diturunkan tanggal 4 kemarin, tapi berhubung gua gatel banget pengen cerita tentang SPMB, jadinya ajah cerita ini dikesampingkan dulu.

Dan berhubung hari ini gua cape banget… cerita ini gua tuangkan tanpa narasi ya… galerinya aja. Lagian percuma juga gua tulis panjang-panjang… ga ada yang baca ini =p

Timun hutan, salah satu makanan survival favorit

Bayam hutan… huhuhuhu… kita beruntung sekali nemu ini

Yang ini namanya Begonia sp., sering diplesetin jadi ‘begonian’

Ini ulet bulu yang merayap sampe lutut gua.. errr…

Walang yang berkamuflase jadi ranting kayu

Kelabang imut

Kupu-kupu imut, temennya kelabang imut

Katak so imut, bukan temennya kupu-kupu imut dan kelabang imut (sotoy banget dah gua)

Let us go…!!!! You fu*king bastard..!!!

Akhir kisah belalang tua yang kakinya berjumlah enam

Jamur lucu tapi ga bisa dimakan

Sintrong, daunnya bisa dimakan mentah atau disayur

Sayur sintrong + bayem + ciplukan

Sarang laba-laba yang elastis dan kuat: ga rusak walopun udah dikencingin (kata Yanu)

Api, elemen paling penting dalam survival

Blue sky morning

Bivak in the morning sebelum diancurin

Stress akibat kelaparan

Di kebun kina kita nemu 4 ekor alap-alap yang sarangnya di pohon ini

Ini Bukit Tunggul yang kemarin

Di Desa Pangheotan: “Bu… beli bu…”

Cucak rawa (Pycnonotus zeylanicus) juvenil

Ngengat gede yang cantik plus tangan pembantu


Sejak masih di perkebunan kina, Yanu cerita tentang restoran seafood di Bandung yang murah banget. Dan berhubung udah 2 setengah hari ini kita ga makan makanan enak, maka ditunjuklah tempat tersebut sebagai tempat ‘penutupan survival’.

Bayangkan ceu… kita yang kucel dan bau ini masuk ke restoran bintang lima. Apa kata dunia…?? Cuek aja ah.. yang penting kita juga punya duit, hahahah…

Dan beneran loh, saat itu kita diliatin sama semua orang di sana, mulai dari pelayan-pelayannya sampe para tamunya yang dateng ke sana naik mobil mewah.

Saking canggihnya restoran ini, pencatatan pesenannya pake PDA loh… SERIUS ini kaka..

Pas lagi asik-asiknya nyantap makanan, tiba2 terdengar suara: “Ngeri kali orang-orang ini… abis survival langsung makan di sini…” Ternyata ada si Oon juga di restoran ini, dia lagi makan-makan sama anak-anak IMG.

Jadi gembel pas nyampe kota (lagi nungguin Irfan ngambil duit di ATM)

Ini dia D’COST Jalan Sukajadi

Ini menunya… wuuuu…

Bakmi spesial seafood pesenan guah

Cumi saos padang pesenan Alam ma Maman

Kakap bakar pesenan Sigit… wuu, mantap kaka…

Monster Irfan lagi ngabisin kerapu bakarnya tanpa ampun

Ini gurame asam manis di meja sebelah yang kita ‘angkut’ ke meja kita, huahahahaha… (sampe diliatin orang-orang siah.. gelo..!!!)