14

Penasaran Berlebihan Berbuah Tongpes

Karena terlalu sering melihat dan mendengar cerita orang tentang ‘rainbow cake’, saya jadi ikut-ikutan penasaran ingin mencicipinya. Maka ketika teman-teman saya mengajak nongkrong di Bawean Bakery, dan di sana saya melihat masterpiece itu melalui kaca etalase, saya langsung semangat bilang “Yang itu, mbak… yang ituuuuu…

Sebelum menyajikannya di piring, si mbak-nya bilang “Harganya tiga puluh lima ribu.” Ga penting juga sih sebenernya dia ngomong gitu, karena di etalase pun ada tag yang menuliskan harga yang sama. Mungkin ini hanya semacam konfirmasi, “Ini mahal loh, kamu yakin mau beli yang ini?” Mungkin dia pernah punya pengalaman ketemu alay yang sok-sokan mau beli kue ini tapi ga sanggup bayarnya. Berarti mungkin juga kelakuan norak saya membuat dia menyimpulkan kalau saya ini alay.

Tersajilah rainbow cake idaman di piring kecil tepat di depan saya duduk. Saat saya endus, wek baunya amis. Ternyata rainbow cake ini adalah cheese cake yang cake-nya dibuat berwarna-warni. Sebelumnya saya mengira kalau krim pelapisnya itu krim gula biasa, eh ga taunya krim keju. Yah, pantes aja mahal.

Blue Royal Velvet dan Rainbow Cake ala Bawean Bakery Bandung

Gigitan pertama, mmmm… yummy… Gigitan ke-empat, weeeeek… eneg -_-

Karena saya penggemar cheese cake, saya sempat yakin kalau saya akan menghabiskan kue ini sejak gigitan pertama. Tapi ternyata kue ini sangat membuat saya eneg… entah karena kue ini memang mengenegkan, atau karena saya sedang hamil sehingga saya jadi mudah eneg. Pada dasarnya cheese cake emang ga cocok buat dimakan banyak-banyak sih, makanya biasanya dijual dalam porsi sangat kecil, ga segede-gede gaban kaya gini.

Enam orang teman saya sudah mencoba setidaknya satu suap kue ini, tapi kue ini tidak kunjung habis. Saya tawarkan lagi kepada mereka, tapi mereka sudah terlalu kenyang, karena kami memang baru pulang dari pesta pernikahan seorang teman (hahahaha..). Akhirnya dengan semangat “tidak mau menyia-nyiakan makanan” saya habiskan kue ini dengan terpaksa. Dan yang namanya terpaksa itu di mana-mana rasanya ga enak, sodara-sodara.

Ada sedikit perasaan menyesal karena membeli kue mahal ini. Tapi paling tidak rasa penasaran saya hilang sudah. Mungkin suatu saat saya akan kembali membeli fenomenal cake ini lagi di sini bersama suami atau teman-teman lain… tapi satu porsi dibagi empat! >,<

(Postingan ini terinspirasi dari postingan Ais tentang rainbow cup). 

2

Drawing Day #6 “My Best Friend”

Best friend yah? Sebenernya best friend saya lebih dari satu, tapi untuk tantangan kali ini,  saya mencoba menggambar Lerry Martina sebagai best friend saya,  soalnya dia baru aja lulus S2 hari Jum’at lalu. Selamaaaaaaat >,<

Maksud saya, selamat masuk ke kandang harimau selepas dari kandang buaya (untuk kedua kalinya, heuheu :p).

Untuk Lerry, sori ya kalau gambarnya ga mirip. Kalau lebih cantik dari aslinya, anggap aja rejeki… kalau lebih jelek, anggap aja ibadah, hehehe… 😀

Thanks for being my best friend 🙂

14

Owa Jawa dan Nostalgia Sancang

Kata Anil, bakal ada bule di Forum Hijau Bandung edisi Senin ini. Info itu membuat saya jadi pengen ikutan pertemuan FHB yang diselenggarakan 2 minggu sekali di hari Senin itu. Bukan “bule”-nya yang bikin saya pengen dateng (sori ya, saya ga sekampungan itu hehehe :p), tapi saya pengen dengar hasil penelitian dia yang katanya genrenya lingkungan. *Hahaha, genre… emangnya film?*

Tapi ternyata si bule (yang mungkin ganteng itu) ga dateng, sehingga porsinya dilimpahkan kepada teman perempuannya, yang juga seorang bule asal Amerika Serikat. Namanya Melissa Reisland, seorang mahasiswi University of Wisconsin, yang saat ini sedang menyelesaikan disertasinya tentang Owa Jawa (Hylobates moloch) di Cagar Alam Leuweung Sancang, Garut.

Wuuuuaaaaah… saya demen buanget nih… (bukan Melissanya ya, tapi Owa Jawa-nya… ekeu bukan lesbong kali… *pake gaya bencong*)

Melissa Reisland
Fariz, sang moderator yang merangkap penterjemah
Owa jawa betina bernama Amelia 🙂

Sayangnya Melissa ga banyak cerita tentang penelitiannya, tapi lebih banyak cerita tentang pengalamannya bertemu hewan ini dan itu. Dari hasil penelitian sementaranya, didapat bahwa populasi Owa Jawa di Cagar Alam Leuweung Sancang hanya sekitar 15 ekor! Faktor utama penyebab degradasi populasi ini adalah penebangan liar di dalam cagar alam. Sedangkan dari data hasil pengamatan perilaku, disimpulkan bahwa intensitas kegiatan manusia di dalam hutan telah mengubah perilaku Owa Jawa. Semakin banyak orang masuk ke dalam hutan dan bikin keributan, maka semakin jarang Owa Jawa makan dan melakukan traveling dari pohon ke pohon. Tentang apakah hal ini mempengaruhi populasi Owa Jawa atau tidak, dia tidak menjelaskan.

Sebenarnya sisa waktu yang ada bisa dimanfaatkan untuk bertanya ini-itu tentang Sancang dan Owa Jawa kepada Melissa. Tapi sayangnya hampir semua orang malah memberi pertanyaan OOT, seperti insenerator, produk daur ulang, dan lain-lain. Kasian si Melissa-nya… Walaupun dia orang Amerika, bukan berarti dia ngerti semua permasalahan lingkungan.

Sementara mereka ngasih pertanyaan yang aneh-aneh, dan si Melissanya pun memutar otak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan aneh itu, pikiran saya melayang ke tahun 2005 silam. Itu adalah waktu di mana saya dan beberapa teman saya luntang-lantung main ke Sancang. Dulu rencananya lokasi ini akan dipakai untuk pelantikan ospek anak-anak angkatan 2004. Jadi rencananya setelah disiksa 14 hari di kota, mereka akan menikmati indahnya alam Sancang selama 3 hari. Tapi sayang sungguh sayang…. setelah semua persiapan dilakukan, tiba-tiba ospeknya dibekukan karena ada anak yang mengadu tanpa alasan jelas kepada mamanya yang juga merupakan dosen di ITB. Sia-sia sudah semua perjuangan tim survey…. 😦

Saat itu saya baru tingkat 2. Kayanya sekarang di ITB udah ga ada deh ospek-ospekan macam ini.

Sayangnya dulu teknologi belum secanggih sekarang, jadi saya ga sempat memback-up foto-fotonya. Saya hanya punya sedikit foto saat jadi tim survey.

Wildan, Arief, Angga, Rime, Novi, Rahma   

Resmi… kita kaya anak ilang

Dudul… malah membelakangi cahaya :p

Walaupun menghadap cahaya, yang mukanya keliatan cuma Rahma, karena kulit kita pada gosong 🙂

Ya ampun… cupu-cupu banget ya…. Saya jadi pengen ke Sancang lagi.. Siapa tau saya bisa ketemu Amelia, Tono, Tini, dan Udin 😀

26

1 menit + jadi 1 fans + gratis = 10 pohon ditanam + Harimau Sumatera bahagia

Hai, teman-teman.

Maaf sekali sudah beberapa minggu ini saya hilang dari peredaran (yaelah, siapa juga yang nyariin lu, Rim). Belakangan ini perhatian saya tersedot untuk mengurusi beberapa hal, salah satunya adalah menjadi Forest Friend. 
Apa itu “Forest Friend”?
“Forest Friends” adalah sebuah kompetisi, dimana peserta yang telah terpilih berkampanye bersama secara online dan mengumpulkan dukungan publik sebanyak-banyaknya demi penyelamatan hutan alam. Dalam kampanye ini, setiap satu dukungan yang diterima oleh peserta Forest Friends akan diwujudkan dalam bentuk aksi nyata penanaman 10 batang pohon, sehingga semakin banyak dukungan yang diterima oleh masing-masing peserta – melalui pesan konservasi yang mereka kampanyekan- semakin besar kontribusi mereka dalam upaya restorasi hutan, khususnya di Indonesia. 
Tahun 2010 merupakan tahun Keanekaragaman Hayati Dunia dan Tahun Harimau, sehingga restorasi hutan akan difokuskan pada daerah-daerah kritis habitat Harimau Sumatera. 
Jadi ke depannya, blog ini akan diisi dengan info-info lingkungan untuk mendukung kampanye yang saya lakukan.
Nah, teman-teman bisa membantu menyelamatkan Harimau Sumatera, dengan mendukung saya. 
Bagaimana caranya? Mudah saja. 
Teman-teman tinggal membuka situs inihttp://www.wwf-jugend.de/community/channel.php?channel_id=1 dan vote Rima dan Lena untuk jadi Forest Friend.
Cara milihnya gampang, tinggal cari kotak merah seperti ini, lokasinya kebetulan di bawah foto Rima. Trus, klik deh “Become a fan” di bawah tulisan Rima und Lena.
Simpel kan? Ga dibutuhkan lebih dari 1 menit, dan voila, kamu sudah mendukung penyelamatan Harimau Sumatera. 
Ayo dukung hidupan Harimau Sumatera yang lebih baik dengan menjadi fans Rima dan Lena!
12

Ngacoblakness

Banyak hal menarik yang membedakan antara orang Indonesia dengan “bule,” misalnya yang sudah kita ketahui: warna kulit, rambut, iris mata, sampai jumlah bulu dada. Tapi bagi saya ada satu parameter lain yang agak tidak kasat mata, yaitu kemauan dan kepercayaan diri dalam mengemukakan pendapat.

Saya punya cukup banyak pengalaman berinteraksi dengan bule (yang saya maksud dengan bule di sini adalah orang ras Kaukasia). Ga banyak-banyak amat sih, tapi dari pengalaman tersebut saya menyimpulkan bahwa mereka punya satu benang merah: gemar sekali bicara panjang lebar saat mengobrol, terutama saat menjawab sebuah pertanyaan. Yap, kalau saja orang Indonesia menjawab suatu pertanyaan cukup dengan 1 kata atau 1 kalimat, maka orang bule biasanya menjawab dengan 1-2 paragraf untuk pertanyaan yang sama.

Waktu kerja di Mentawai dulu. saya berasumsi bahwa bos saya memang hobi manjang-manjangin jawaban. Tapi setelah saya berinteraksi dengan bule-bule lainnya, saya jadi punya pandangan lain. Ternyata kebanyakan bule memang seperti itu. Orang Swedia, Ceko, Kanada, dan Inggris juga begitu: sama-sama suka ngacoblak. Nah berarti kalau gitu, mana sebenarnya yang lebih tepat: orang bule yang terlalu cerewet, atau orang Indonesia yang kelewat pendiam?

Kegemaran mereka dalam mengemukakan pendapat secara panjang lebar ternyata tidak hanya terjadi di dunia verbal, tapi juga di dunia tulis-menulis. Kemarin saya baru mendapat sebuah surat balasan dari sahabat pena saya di Costa Rica. Dia menulis banyak hal dalam 2 halaman A4, sebagai balasan dari postcard saya yang isinya hanya beberapa kalimat. Sifat yang sama juga saya temui pada sahabat pena saya di Belanda, sampe-sampe saya bingung gimana ngebalesnya supaya tulisan saya juga panjang 😀

Tapi lain halnya dengan teman Australia saya. Dulu, saat bekerja di stasiun penelitian yang sama di Mentawai, kami pernah berbincang mengenai sifat orang Ustrali (Australia). Dia bilang, dibanding orang Kaukasia lainnya, orang Australia tuh jauh lebih nyantai. Mungkin malah lebih mirip orang Indonesia dibanding orang Amerika. Awalnya saya merasa agak aneh dengan pernyataannya, tapi belakangan saya jadi setuju setelah saya mendapati bahwa postcard yang saya kirim kepadanya dibalas dengan postcard juga (buka n surat yang panjang lebar, hehehe…)

 Postcard dari Helen (Ustrali), surat dari Denise (Belanda) yang perangkonya sudah saya preteli, dan surat dari Alberto (Costa Rica) yang baru saya terima kemarin.
Nah, kalo menurut teman-teman gimana? Benarkah apa yang saya asumsikan? Benarkah? Benarkah? Benarkah?
Lebih setuju mana: mereka yang kelewat cerewet atau kita yang kelewat pendiam? Atau punya pengalaman menarik? Ayo bagi-bagi 🙂
PS: “Ngacoblakness” adalah istilah yang saya buat sendiri. Berasal dari kata dalam Bahasa Sunda, “ngacoblak” yang artinya berbicara dalam durasi yang panjang. Imbuhan Bahasa Inggris “-ness” ditambahkan untuk mengubah kata kerja menjadi kata benda, hehehe…. Maafkan aku pak J.S. Badudu…
4

Indonesia: Solidaritas Berlebih dan Hobi Pake Kekerasan


Duh, gua pengen ganti skin blog nih.. tapi setelah sercing-sercing ke sana ke mari, gua ga dapet juga skin yang gua suka.. *sengaja ditulis sebagai pembuka, siapa tau ada desainer web yang baca trus ngebikinin skin gratis, hohoho… NGAREP*

Tau film Get Married? Kebangetan lah kalo ga tau… Sama kebangetannya sama gua yang baru nonton film ini dua hari yang lalu, hehehehe…

Tau ga, apa yang paling gua suka di film ini? ADEGAN BERANTEMNYA.. rame banget… ga cincai kayak film-film Indonesia yang ngakunya bergenre action tapi berantemnya cem mak-mak..

Baru kali ini gua nemu gaya berantem yang lucu dalam film: lempar-lempar jemuran, manjat pohon, nyungsep ke lemari, sampe nyungsepin kepala ke baskom cingcau, hihihi….

Trus lucu aja, berantem antar kampungnya tuh gara-gara salah satu anggota geng disakiti. “Indonesia banget” kata mereka dengan bangga. Heran, sifat jelek gini kok malah bangga…

Tapi sifat solidaritas berlebih dan hobi pake kekerasan emang Indonesia banget sih. Gua jadi inget jaman TPB dulu, waktu masih lucu dan imut jamannya ditindas sama senior… gua disuruh ngedanus dengan berjualan kue di kelas TPB sambil teriak-teriak “Woi.. woi… beli kue gua dong..

Banyak yang ngambil tapi ga mau bayar… tapi untungnya gua punya jurus andalan: “Mau digebukin sama anak-anak KMPA hah?” hihihihihihi….

4

Cross and Check



Dikasih foto ama Tisya via Facebook (keknya ini foto dari kamera gua juga, hehehe..). Ini adalah foto wisudaan Juli tahun kemaren. Beberapa dah pada berguguran bulan Oktober (sori perayaan wisudnya ga gua liput, kan gua lagi diare waktu itu, hahaha..). Dan dua bulan lagi beberapa akan gugur lagi.. Menyisakan 5 orang dalam foto yang masih tergantung dalam pohon “kesengsaraan TA”.

Selamat deh yang mau ngepas-ngepasin kebaya dan jas bulan depan.. Semoga sidangnya lancar, amin. Jangan lupa doakan kami-kami yang masih luntang-lantung ini ya.. 😦