7

Rindu Seabad

Rasanya seperti seabad sejak terakhir kali saya menulis blog. *Posting lomba ga diitung yak :p*

Makhluk inilah yang membuat seabad terasa begitu sebentar…..

Image

 

Siapakah makhluk ini? Tunggu saja ceritanya besok. Saya akan mulai menuliskan cerita tentangnya yang terendap dalam kepala saya selama 3 bulan terakhir ini. Mungkin akan menjadi cerita yang paaaanjang dan laaaama seperti choki-choki yang ditarik-tarik kambing.

Sekarang bobo dulu, sebelumnya ganti popok dan kasih susu.

Advertisements
5

WWF Forest Friends Uckermark Trip – Day 6: Berlin, Berlin…!

Berlin, Jerman, 29 Juli 2011

Pindah dari Lychen menuju Berlin, sama seperti pindah dari kesunyian menuju kegaduhan, atau dari kedamaian menuju kesibukan. Ya, Berlin adalah kota sibuk yang akan kami jelajahi hari ini.

Salah satu sudut kota Berlin yang sibuk.

Sama seperti cuaca di Lychen kemarin, hari ini Berlin diguyur hujan sejak pagi hari. Dari Motel One— tempat kami menginap semalam—kami berjalan kaki menuju kantor WWF Jerman yang lokasinya tidak berjauhan. Di sana kami bertemu tiga orang perwakilan WWF Jerman yang membagi pengetahuan dan pengalamannya dengan kami seputar dunia konservasi. Masing-masing dari mereka menjelaskan tentang profil WWF Jerman, FSC (Forest Stewardship Council), dan peta GIS hutan-hutan Kalimantan dan Sumatera.

"Surat" dalam bentuk gelondongan kayu berisi boneka orangutan ini dikirimkan kepada para profesional di Berlin, sebagai satu bentuk kampanye FSC - WWF.

Di sana saya juga berkesempatan mempresentasikan kondisi pohon-pohon yang kami tanam di Taman Nasional Tesso Nilo 4 (empat) bulan lalu. Pohon-pohon tersebut kini semakin tumbuh besar. Saya juga mengabarkan tentang pemindahan lokasi penanaman pohon Forest Friends seluas 30 hektar dari Desa Pontian Mekar ke desa lain. Penanaman di Desa Pontian Mekar terpaksa dibatalkan, karena masih terdapat konflik antara penduduk setempat dengan pihak Balai Taman Nasional Tesso Nilo. Hal yang paling dikhawatirkan jika penanaman ini dipaksalakukan tanpa persetujuan masyarakat adalah masyarakat justru merusak pohon-pohon tersebut, bukan menjaganya.

Telepon berdering tidak lama setelah sesi presentasi berakhir. Di ujung telepon, terdengar suara seorang wanita berbicara dengan bahasa Jerman. Dialah jurnalis yang kemarin Silke katakan hendak mewawancara saya dan Lena. Untuk kesekian kalinya kami menceritakan kembali tentang program Forest Friends yang kami jalani. Walaupun begitu, kami tidak pernah bosan menceritakannya, karena kisah Forest Friends ini benar-benar unik dan menarik.

Sisa waktu di Berlin kami manfaatkan untuk berjalan-jalan keliling Berlin. Di Berlin terdapat cukup banyak penyedia paket wisata, di antaranya adalah kapal-kapal wisata yang bergerak hilir mudik di sepanjang Sungai Spree yang membelah kota Berlin. Di sepanjang pelayaran, kami mendapat penjelasan dalam Bahasa Inggris tentang bangunan-bangunan yang sedang kami dilewati. Karena hari sedang hujan, kami tidak bisa duduk di bagian atas kapal yang tidak beratap, kami hanya diperbolehkan duduk di bagian bawah kapal.

Interior kapal.

Kapal wisata lain, dilihat dari dalam kapal.

Tahukah kamu, Berlin adalah salah satu kota dengan jembatan terbanyak di dunia? Di pelayaran kapal wisata in,i kami melewati banyak sekali jembatan. Sayangnya tidak semua jembatan bisa kami lalui, karena rute wisata kami terpotong akibat ditutupnya salah satu kanal di sungai tersebut.

Salah satu jembatan di Sungai Spree.

Gedung Pemerintahan, salah satu bangunan favorit saya di Berlin 😀

Pendeknya rute wisata dan buramnya kaca jendela kapal akibat guyuran air hujan membuat kami sepakat untuk mengambil paket wisata lain menggunakan bus. Terdapat 16 (enam belas) titik persinggahan pada rute bus wisata. Masing-masing tempat memiliki sejarah masing-masing yang menarik.

Saking banyaknya informasi yang saya dapat pada hari itu, saya tidak bisa mengingat semuanya. Titik-titik yang paling saya ingat adalah reruntuhan Tembok Berlin dan Check Point Charlie (yaang dahulunya merupakan pos perbatasan bagian Jerman yang dikuasai AS dan bagian Jerman yang dikuasai Uni Soviet).

Bus wisata.

Check Point Charlie.

Selama di Berlin, Astrid dan Silke mengajak kami bersantap di beberapa tempat makan yang cukup populer di Berlin, juga bersama Lena membantu kami memilih oleh-oleh khas Berlin. Aha.. inilah yang sangat saya suka dari Forest Friends! Walaupun secara harfiah Forest Friends diartikan sebagai “sahabat hutan”, tapi persahabatan kami tidak melulu berkutat pada urusan hutan dan konservasi, tetapi juga menyangkut hal-hal berbau sosial, budaya, serta hal-hal menarik lain yang pantas untuk dibagi.

Interior Ständigen Vertretung, restoran favorit saya dan Annisa.

Saya dan Annisa.

Silke dan Lena.

Sayang sekali kunjungan saya di negara Lena harus berakhir hari ini. Tapi kami tidak bersedih hati, karena kami berjanji untuk terus saling menghubungi dan memberi kabar. Saya dan Lena juga berjanji, suatu hari nanti kami akan berkunjung ke Tesso Nilo bersama untuk memeluk pohon-pohon yang kami tanam 4 bulan lalu, seperti kami memeluk Pohon Oak di Hutan Uckermark.

Berakhirnya kunjungan saya ke Jerman memang menandakan berakhirnya program WWF Forest Friends, tapi kami yakin, semangat Forest Friends tidak akan pernah redup. Semangat Forest Friends akan terus hidup untuk menginspirasi anak-anak muda lain di seluruh dunia untuk melestarikan hutan sebagai penyokong kehidupan makhluk hidup. Viva Forest Friends! 😀

2

WWF Forest Friends Uckermark Trip – Day 4: Rawa dan Floß

Lychen, Uckermark, Jerman, 27 Juli 2011

Bocoran informasi yang kemarin saya dapat dari Christoph tentang hari ini adalah hari ini kami akan melakukan aktivitas fisik yang cukup berat, sehingga kami harus sarapan lebih banyak dan membawa bekal makanan, dan satu lagi: memakai sepatu boots tinggi. Sayang sekali hari ini Astrid tidak bisa ikut berpetualang bersama kami, tapi sebagai gantinya, Silke akan menemani kami sampai besok.

Sepatu-sepatu boots (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Kami berkano lagi hari ini, hanya saja tidak berdua-berdua seperti kemarin, tetapi bertiga-bertiga. Dari kantor Treibholz, kami meluncur menuju daratan di seberang danau. Di daratan tersebut terdapat rawa yang ditumbuhi rerumputan, yang juga dikelilingi hutan Pohon Birch.

Menurut penjelasan Christoph, pada masa lalu rawa ini berupa danau. Seiring waktu, air pada danau menyusut sedikit demi sedikit, sehingga akhirnya menjadi rawa seperti sekarang. Kedatangan kami saat itu disambut oleh Ular Cincin atau Ular Rumput (Jerman: Ringelnatter) yang merayap di atas akar rumput. Sayang sekali kami hanya melihat ekor hitamnya sebelum dia merayap cepat menuju hutan.

(c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Rawa (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Seperti rawa-rawa lainnya di belahan dunia manapun, ketersediaan oksigen di rawa sangatlah minim, sehingga proses penguraian terjadi dengan sangat lamban. Satu millimeter lapisan gambut merepresentasikan 1 tahun umur gambut dan kondisi lingkungannya. Jika lingkungan di sekitar rawa mengalami perubahan, maka akan terjadi perubahan pula pada kondisi gambut di permukaan rawa. Itulah mengapa lapisan-lapisan gambut pada rawa dapat menjelaskan sejarah lingkungan di sekitar rawa.

Dengan sejarahnya yang cukup panjang, pastilah rawa yang kami datangi hari ini memiliki banyak lapisan gambut yang berbeda satu sama lain. Untuk membuktikannya, kita harus menggunakan alat khusus yang dibawa oleh Christoph yang berfungsi untuk mengambil sampel gambut yang posisinya cukup jauh dari permukaan.

Christoph Thum (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Sampel gambut yang terangkat (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Dan inilah beberapa lapis gambut yang kami temukan di rawa ini:

Beberapa sampel gambut yang kami ambil (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Lapisan A adalah lapisan saat ini, sedangkan lapisan B diperkirakan merupakan lapisan yang terbentuk sekitar 2.000 tahun yang lalu. Semakin hitam suatu lapisan, berarti semakin banyak kandungan organik yang terkandung dalam lapisan tersebut.

Lapisan C diperkirakan terbentuk pada jaman perunggu (sekitar 3.000 tahun yang lalu). Di dalamnya terdapat potongan-potongan kecil kayu. Kemungkinan besar pada saat itu rawa ini dipenuhi oleh pohon, bukan oleh rumput seperti sekarang.

Lapisan D diperkirakan terbentuk ketika wilayah ini masih berupa danau, karena pada gambutnya terdapat butiran kalsium.

Lapisan E yang memiliki kandungan komponen organik yang sangat rendah, diperkirakan terbentuk pada masa awal terbentuknya danau, yaitu pasca berakhirnya jaman es.

***

Petualangan seru hari ini dimulai pada perjalanan pulang kami menuju tempat parkir kano. Kami harus melewati hutan rawa yang digenangi air dengan kedalaman yang lumayan. Walaupun kami menggunakan sepatu boots tinggi, tapi karena kedalaman air di beberapa titik lebih tinggi dari pada sepatu boots kami, tetap saja kaki kami menjadi basah.

Di hutan rawa (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

(c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Siang itu kami kembali ke kantor Treibholz. Kami turun dari kano, lalu dilanjut naik ke floß. Dalam Bahasa Jerman, floß (baca: flos) berarti rakit besar. Floß digunakan sebagai sarana transportasi tradisional di Lynchen sejak tahun 1720. Hingga saat ini tradisi ini tetap terjaga. Di Lychen, masyarakat merayakan festival floß pada setiap minggu pertama di bulan Agustus pada setiap tahun. Pada festival ini, komunitas pencinta floß akan mempraktekkan cara membuat floß secara tradisional.

Menurut rencana, kami akan makan siang di atas floß yang mengapung di Oberpfuhl. Menu makan siang hari ini sangat-sangat istimewa. Kami disuguhi “goulash”, hidangan sup khas Romania yang terbuat dari daging sapi dengan bumbu paprika. Kata Christoph, kami tidak perlu khawatir akan kualitas daging goulash ini, karena daging sapi yang digunakan berasal dari sapi muda yang mereka pelihara selama 2 tahun. “Saya jamin, sapi ini hidup bahagia,” tambahnya sambil tertawa.

Saya tidak pernah makan goulash sebelumnya, dan saya mendapat kesan yang sangat baik pada kesempatan pertama. Saya baru tahu belakangan bahwa ternyata rahasia nikmatnya goulash ini terletak pada paprikanya. Yana, istri Marcus yang memasak goulash ini untuk kami, menceritakan rahasia itu pada kami, dan dia mengaku menggunakan paprika asli Romania.

Di floß (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

"Goulash" (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Saya tidak terlalu ingat, tapi sepertinya masing-masing dari kami menghabiskan 2 piring goulash dan beberapa potong roti siang itu. Angin yang berhembus di Oberpfuhl membuat kami terkantuk-kantuk pada perjalanan kami menuju “pulau petualangan” kedua yang tidak kalah seru.

Kami turun dari floß dengan membawa satu set peralatan untuk memotong rumput. Di rawa yang tidak jauh dari tempat kami mendarat, Christoph mendemonstrasikan cara memotong rumput menggunakan mesin pemotong. Annisa sangat ingin mencoba menjalankan mesin tersebut, tapi sayangnya mesin ini hanya boleh dijalankan oleh orang yang mengantungi ijin. Dengan cekatan Christoph memotong rumpun demi rumpun rerumputan di rawa tersebut. Selanjutnya adalah tugas kami untuk mengumpulkan potongan-potongan rumput tersebut ke atas ponco, lalu membawanya ke pinggiran rawa.

Christoph menjalankan mesin pemotong rumput (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Saya, Annisa, Lena, dan Silke mengumpulkan potongan rumput (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Kira-kira begitulah pekerjaan yang dilakukan oleh Christoph dan para relawan setiap tahunnya. Pemotongan rumput dilakukan setiap bulan Agustus, karena pada bulan inilah rumput berbunga dan menyebarkan bijinya. Pemotongan rumput yang dilakukan setiap tahun ini bukanlah tanpa alasan. Ini adalah salah satu program pemerintah setempat dalam menyukseskan pelestarian bioma Uckermark, yang salah satunya adalah rawa. Tumbuhnya rerumputan yang diikuti pepohonan di rawa akan menyebabkan menurunnya tingkat ketersediaan air di rawa tersebut. Padahal fungsi rawa sangatlah penting bagi kelangsungan hidup ekosistem lain di sekitarnya.

Masih ingat kan dengan sebutan Indiana Jones yang kami berikan kepada Christoph? Hari ini kami mendapat satu alasan tambahan untuk memanggilnya Indiana Jones: yaitu karena Christoph sangat paham tentang flora dan fauna di Uckermark. Dalam setiap perjalanan kami di tengah hutan, beliau seringkali berhenti untuk menjelaskan hal-hal menarik tentang flora atau fauna yang kebetulan kami temui. Begitu juga pada saat perjalanan kembali menuju floß.

Saat itu Christoph menjelaskan tentang hubungan simbiosis mutualisme antara Pohon Birch dengan suatu jenis jamur yang hidup di sebelahnya. Hubungan unik mereka adalah Pohon Birch memberi keteduhan kepada jamur agar jamur bisa hidup dengan nyaman, dan sebagai balasannya jamur menyumbang air dan sebagian nutrisi kepada pohon Birch. Hubungan yang sangat cantik, bukan? 😉

Belajar dari sang Indiana Jones 🙂 (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Christoph mengarahkan floß menuju bagian Selatan Oberpfuhl, tempat di mana kami menghabiskan sisa hari ini untuk berenang dan berlatih prosedur keselamatan kecelakaan kano. Seharusnya latihan ini dilakukan kemarin. Tapi tidak apalah, siapa tahu latihan ini berguna untuk kesempatan lain.

Angsa-angsa dan bebek-bebek yang mendekati floß kami (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Saya dan Lena berenang di Oberpfuhl (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Saya sebenarnya tidak terlalu berani berenang tanpa pelampung, apalagi di danau yang kedalamannya mencapai 30 meter lebih. Tapi kemudian saya menjadi lebih berani setelah Annisa dan Lena mengajari saya tentang cara mengapung yang baik. Saking asyiknya kami berenang, bisa-bisa kami tidak mau naik floß cepat-cepat. Hanya saja saat itu air danau sangat dingin, sehingga tidak ada alasan bagi kami untuk berlama-lama di dalam air.

Hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan! 😀

45

Mau Tato yang Mana?

Ngeblog ah…

Di awal tahun 2011 ini, saya memutuskan untuk pindah “lagi” ke WordPress. Hah, lagi? Yup, dulu saya pernah pake WordPress juga.

Saya pertama kali mengenal dunia blog tahun 2003, saat masih kuliah tingkat 1. Saya suka baca-baca blog orang, tapi masih enggan untuk bikin blog sendiri, sampai akhirnya iseng bikin blog pada tahun 2005. Bisa ditebak lah, isinya super ga penting… tentang keceng-mengeceng, jerawat yang jarang muncul, dan sarana marah2 sambil banting-banting barang kalau lagi kesel sama dosen, atau satpam sok-sokan, atau rektor di kampus saya yang menyebalkan itu.

Saat itu belum banyak penyedia jasa blog gratisan, dan yang populer jumlahnya bisa dihitung dengan jari: blogger, blogsome, blogspirit, blogdrive (Friendster ga saya itung sebagai populer :p). Itu juga ga populer-populer amat. Dari ketiga jasa gratisan ini, saya milih Blogger, karena kayanya paling lumayan.

Setali tiga uang dengan narablog-narablog pada jaman itu, blog adalah ajang curhat, bukan media sharing informasi seperti sekarang. Sehingga yang perlu saya pikirkan pada saat itu adalah bagaimana caranya supaya saya nyaman untuk ngeblog. Dan untuk urusan ini, Blogger sangat sudah memenuhi tugasnya.

Empat tahun berlalu, makin lama makin banyak orang mengakses situs blogger dari kampus, seperti halnya Photibucket dan Friendster (entah kenapa saya senyum-senyum sendiri waktu mengingat tentang hal ini… Friendster gitu looooooh…). Sepertinya admin-admin di kampus mulai resah dengan “penyelewengan” penggunaan bandwidth gratisan yang seharusnya digunakan untuk kepentingan akademis ini. Jadilah para pengguna kedua situs ini dipersulit dengan lemotnya akses. Ini adalah kondisi yang lebih lumayan dibanding “blokir” (seperti untuk situs-situs pornografi dan hosting film seperti Rapidshare dan Megauploads).

Mau ga mau saya harus pindah rumah lain, saat itu yang lagi rame adalah WordPress. Layaknya anak kecil yang ga mau disuruh pindah rumah dari rumah yang dicintainya, saya agak kehilangan semangat untuk ngeblog. Entah kenapa, rasanya malas sekali untuk nulis, walaupun tulisannya ga penting (seperti biasa). Mungkin karena saya ini tipikalnya suka ngutak-ngatik, sementara WordPress ga bisa diutak-atik. Jadi saya agak pundung.

Waktu pun berlalu. Dua tahun setelah lulus kuliah, ketika saya ingin kembali ngeblog namun dengan kondisi sudah lepas dari belenggu admin kampus yang pelit bandwidth itu, saya balik lagi sama mantan saya, si Blogger. Saya cukup senang, apalagi setelah si Blogger mempercantik diri dengan fitur ini-itu dan tampilan yang bisa di-mix-and-match sendiri. Tapi sayangnya ada yang masih kurang, yaitu fasilitas komentarnya. Kenapa sih Blogger ga bisa bikin fasilitas komen yang bikin kegiatan komen-mengkomen jadi lebih nyaman…? Yang simpel gitu, ga ribet…

Baru belakangan ini saya jadi rewel sama masalah ini. Kenapa saya jadi rese dengan masalah komeng-mengkomeng ini, adalah karena saya sangat menjunjung tinggi arus informasi 2 arah di dalam suatu blog, yaitu dari yang punya blog dan dari yang baca blog. Itung-itung ikut menyukseskan Millenium Development Goals lah… walaupun sebenernya agak-agak jauh :p

Terlepas dari komen yang sifatnya nge-junk, atau yang sifatnya pamrih (pengen blognya dikunjungin dan dikomenin balik), dan spam, menurut saya kegiatan komen-mengkomen ini sangat baik untuk perkembangan si pengomen (halah bahasanya…). Bagaimana si pengomen ini memilih kata-kata yang tepat, dan yang lebih penting: BERANI BERPENDAPAT. (Bagi saya, “nice,” “pertamax,” “salam kenal,” dll itu hanya bumbu, bukan komen yang sebenarnya :p). Rasanya narablog-narablog Indonesia lebih gemar ngerame-ramein doang, tanpa memberi komeng yang benar-benar bermutu. Kalaupun ada yang berani konfrontasi, biasanya mereka bersembunyi di balik label “anonim.”

Nah, sekarang kalau sarana berkomeng ria-nya aja bikin orang males ngejunk, gimana orang mau ngomeng dengan cerdas?

Maka dari itulah saya pindah “lagi” ke WordPress. Kali ini tanpa paksaan. Jadi walaupun blog ini ga penting dan ga bermanfaat secara konten, tapi minimal bisa bermanfaat secara proses untuk menunjang perkembangan orang yang baca, hehehe…. Walaupun ini adalah visi yang kelewat jauh dengan realita. Tapi gapapa lah, namanya juga visi… bebas dong 😀

Just call me plin-plan or whatever.. saya ga peduli. Yang saya pedulikan adalah bagaimana semua orang bisa berkembang sebagai manusia yang punya hak berpendapat.

Buat pengguna Blogger, jangan pundung ya. Setiap penyedia jasa blog punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, tinggal kita sesuaikan saja mana yang sesuai dengan kebutuhan kita.

Sama halnya dengan minum kopi. Rasa kopinya akan sama saja jika kita meminumnya menggunakan tangan kanan atau kiri. Tapi sensasinya akan jauh lebih nikmat kalau kita minumnya pake tangan favorit 🙂

Jadi… tinggal pilih tatonya saja. Mau tato W atau tato B? Kebetulan saat ini saya pilih tato W. Mungkin kalau tukang tatonya bisa memperbaiki tato B jadi lebih bagus, bisa saja ke depannya saya akan minum kopi pake tangan bertato B lagi.

Hidup itu hanya berkutat pada proses pilih-memilih. Dan kita akan rugi kalau kita ga nyoba semuanya 😀

Gambar saya ambil dari sini.

21

Toleransi dalam Dunia Persilatan

yoko1

Kalo sering nonton Derings bangun-kikuk-bangun-kikuk, kalian pasti tau apa yang dimaksud dengan “KIKIL”. Dan KIKIL of the week kali ini adalah sontrek Return of the Condor Heroes yang dipopulerkan oleh Yuni Shara.

Seketika gua langsung teringat masa kecil gua dulu waktu jadi bocah yang hobi banget nonton Yoko. Gua masih inget tuh dulu, saking ngefansnya, sampe-sampe bahan obrolan di sekolah pun (waktu itu gua kelas 4 SD) ga jauh dari urusan Yoko, Bibi Lung, Cupetong, dan tokoh-tokoh lain, serta intrik-intrik yang ada di dalamnya. Dulu kami sempet protes kenapa Bibi Lung-nya diganti. Tentu saja karena Bibi Lung yang asli lebih cantik daripada Bibi Lung imitasi.

Dulu, saat buku diari-yang-wangi-tapi-wanginya-ga-jelas-itu masih berjaya jauh sebelum orgi apalagi binder, geng gua punya salinan lirik lagu sontrek Yoko di diarinya. Untuk apa? Yaitu untuk dinyanyiin bareng-bareng saat istirahat makan siang. (Yo oloh, masa kecil gua ga jelas banget ya.)

Suatu hari, saat tumben-tumbenan gua yang bersuara sember ini ikutan nyanyi bagian refrain-nya, tiba-tiba temen gua nyeletuk “Eh, bentar-bentar, apaan tadi? Tendangan?”

“Iya, tendangan indah pun meeeeemudaaaaar…”

Seketika itu juga geng ga jelas dengan aktivitas ga jelas itu pun tertawa terbahak-bahak, “Woi, kenangan indah bukan tendangan indah…!!!”

Loh, ini kan film silat, wajar dong ada kata-kata tendangan-nya. Harusnya masih bisa ditoleransi lah… Kalian ga belajar PPKn ya?

Sayangnya saat itu gua ga kepikiran buat ngomong kayak gitu.

Pesan moral: Lakukanlah toleransi pada tempatnya.

8

It was not that Bored to Be a Volunteer

Beberapa hari lalu, ketika seorang teman bertanya “So, what are you doing now?”, gua menjawab “I’ve been enjoying my lazy days”. Hahaha lazy days. Meski penilaian terhadap kata “malas” akan sangat bervariatif, tapi kalo kamu tau bagaimana sibuk dan menderitanya gua waktu kerja di pedalaman Mentawai, kamu pasti setuju.

Jadi apakah definisi lazy days yang gua singgung? Jawabannya adalah hari di mana gua ke luar rumah dengan alasan yang tidak produktif secara ekonomi, tapi sangat produktif (mungkin) bagi orang lain secara manusiawi, termasuk di dalamnya adalah pacar, tukang jualan makanan, supir angkot, dan orang-orang YPBB. Loh, kok orang-orang YPBB? Iyaaaaaaaaa… gua sekarang lagi aktif jadi volunteer di YPBB.

Bukannya ga butuh duit ya.. tapi ga tau kenapa gua sekarang lagi hobi banget kerja sosial dibanding maksa kerja serabutan sambil nunggu panggilan kerja idaman. Gua ngerasa lebih berguna aja jadi manusia (halah lebay banget sih). Eh, tapi bener loh, ada rasa puas di hati yang ga akan kita dapet dengan cara lain.

Hal lain yang menyenangkan adalah gua jadi bisa jalan-jalan gratis, hahahaha… Misalnya waktu gua jadi super jenius notulis di Rapat Tahunan YPBB bulan lalu di Ranca Upas. Tempat yang sebenernya ga bagus2 amat ini adalah tempat spesial bagi gua karena ini adalah tempat gua dipelonco waktu OSPEK dulu…. waktu masih bego mau aja digituin. Gyaaa.. gua bernostalgillllaaaaa… Di sana gua menyusuri jalan setapak yang juga gua susuri 5 tahun lalu jam 12 malem. Hoho, ternyata ga ada banyak perubahan.




Di sini juga gua makan stroberi yang dipetikin Gundil entah dari kebunnya siapa, hehehe…

Dan karena letaknya deket sama Kawah Putih, pas gua balik ke Bandung, gua dan si pacar mampir aja dulu di Kawah Putih.. secara gua belum pernah ke sana hahaha… (duh, skandal nih, jangan disebar2 ya)

Kegiatan lain yang gua volunteerin (halah bahasa naon ieu?) di YPBB adalah proyek biogas di Lembang, di mana gua jadi translator seorang mahasiswa S2 dari Swedia bernama Isak yang lagi melakukan penelitian untuk tesisnya. Berhubung si gua pengen banyak belajar juga tentang biogas dan memperlancar cas-cis-cus bersama bule, kegiatan volunteering ini sangat bermanfaat bagi gua. Ow, selain bahasa Inggris, yang juga terlancarkan adalah bahasa Sunda, secara gua udah seabad ga make bahasa Sunda sebagai bahasa persatuan (halah naon sih..).

Ini nih yang namanya Isak

Nah, kalo yang ini namanya Wawa, teknisi biogas lokal dari Desa Cicalung, Lembang

Ini laboratoriumnya…

Kemaren gua ke sana lagi untuk jadi translator untuk ke-tiga kalinya. Dan tumben-tumbenan, pasca pulang dari Lembang gua pake acara nongkrong-nongkrong dulu di atap koskosannya Isak, bareng si Dom. Dan inilah buah dari keisengan kami, hahaha…



Tuh kan, jadi volunteer tuh menyenangkan. Sebenernya jadi pemulung juga menyenangkan sih, asal kita bisa mencoba narik manfaat dari segala sisi aja 🙂

PS: Tulisan ini didedikasikan untuk Anil yang sejak beberapa hari lalu berharap gua mendeskripsikan kesan-kesan menjadi volunteer di YPBB. Biar pada kabita ya Nil, hehehe… :p

6

Saya masih idup, kaka..

Pasti pada penasaran kan ke mana si Rime pergi?

Tenang aja, ular-ular kobra di SIberut belum berhasil mencaplok gua kok. Jadi kesimpulannya saya masih hidup, karena kalo saya udah mati tercaplok ular kobra, lalu yang menulis postingan ini adalah hantu.

Eh iyah, tadi saya makan di Waroeng Steak and Shake loh. Ini pertama kalinya, hohohoho… Saya emang cupu, soalnya kalo beli steak selalu ke Javan, Suis Butcher, atau Double Steak. Itu uga tadi ditraktir sama Anna yang lagi berbahagia ngerayain ulang taun.

Udah dulu ah. Orang yang lagi naik motor di belakang udah marah2 nih.