6

Kafe Ah Lo Lo, Y U No Respect Your Guest?

Ew, saya sudah terlampau lama ga apdet blog, saya jadi bingung harus memulai cerita dari mana. Intinya, pasca menikah, saya tidak lagi bekerja di tempat kerja saya sebelumnya. Kini saya membantu penelitian yang tengah dilakukan oleh LPPM ITB bekerja sama dengan Dinas Pendapatan Kota Bandung.

Tugas saya sangatlah simpel, saya hanya perlu mendatangi para wajib pajak berupa hotel dan restoran, bertanya sedikit tentang kondisi mereka saat ini, lalu melaporkannya ke LPPM ITB. Simpel sekali bukan? Benar, simpel sekali, JIKA perwakilan wajib pajak yang saya temui benar-benar kooperatif dan ga melaporkan saya ke sekuriti karena merasa terganggu dengan keberadaan saya.

Pernah ga sih kamu ngebayangin ditangkep sekuriti di mall? Kalau nggak pernah ngebayangin, berarti kamu sama dengan saya. Tapi apa yang terjadi pada saya 2 hari lalu mengubah pengalaman saya tentang pernah atau nggaknya ditangkep sekuriti di mall -_-

Hari itu saya ditugasi untuk mensurvey 20 restoran di sebuah mall yang cukup terkenal di Bandung, sebut saja PIB (Pandung Indah Blaza). Yang harus saya tanyakan kepada para responden di keduapuluh restoran tersebut sangat-sangat-sangat-sangat-sangatlah simpel (kelewat simpel malah):
1. Apakah di restoran ini tersedia akses internet (untuk klien maupun untuk karyawan)?
2. Apakah di restoran ini ada staf yang khusus menangani IT atau komputer?
3. Apa saja peralatan yang digunakan pada kasir?

Plus saya perlu memfoto kondisi kasir dan meminta contoh bon/struk pembayaraan, yang mana kalau ga ada, saya cukup memfotonya saja pake kamera.

See? Simpel sekali bukan? Seharusnya prosesnya pun berjalan dengan lancar karena Dispenda sudah mengantongi ijin dari masing-masing kantor pusat restoran yang dijadikan responden.

Setelah mengitari 18 restoran dan mengumpulkan data yang dibutuhkan, tibalah saya pada restoran ke-19, sebut saja C.Jo (yang jualan donat-donat eneg itu). Restoran ini tidak bersedia memberikan data saya minta, kecuali jika saya membawa ijin tertulis dari pihak pusat di Jakarta. Ini cukup aneh, karena sebenarnya Dispenda sudah mengantongi ijin dari kantor pusat restoran ini. Tentang apakah pihak pusat sudah memberi tahu manajer di counter-counter cabang tentang ijin ini, ITU BUKAN URUSAN SAYA, bukan? Tapi gapapa lah, daripada jadi ribut, biar nanti Dispenda saja yang mengurusnya, hahaha… >,<

Walaupun begitu, saya sangat mengapresiasi keramahan sang supervisor saat berhadapan dengan saya.

Lalu berjalanlah saya ke restoran ke-20, sebut saja Kafe Ah Lo Lo. Terus terang saya baru satu kali nongkrong di kafe ini, itu pun bukan di PIB sini, tapi di JvP mall (Jaris van Pava), karena menurut saya sih harganya ga masuk akal buat kantong saya.

Di sana saya tidak bertemu manajer atau supervisor di kafe tersebut, karena katanya sedang libur atau sedang cuti, atau lain-lain lah. Tapi karena pertanyaan yang akan saya ajukan levelnya berada pada ranah teknis, seharusnya kasir atau pelayan pun bisa membantu memberi jawaban. Iya lah, masa untuk tau apakah di kafe ini ada akses internet aja perlu tanya manajer dulu? Saya percaya mereka di sini bekerja sebagai karyawan, bukan budak.

Akhirnya dengan wajah cemberut, si mbaknya mau menjawab ketiga pertanyaan yang saya ajukan. Tibalah pada bagian di mana saya meminta ijin untuk memfoto kondisi kasir dan meminta contoh bon/struk. Si mbak itu tidak mengijinkan saya memfoto kondisi kasir. “Oh, gapapa lah,” pikir saya. Toh memang kebijakan tiap restoran beda-beda, dan memang ada restoran tidak mengijinkan asetnya difoto.

WALAUPUN SEBENARNYA SAYA PUNYA HAK BAHKAN SAMPE NGELIAT PEMBUKUAN KEUANGAN MEREKA, tapi gapapa lah, daripada ribut.

Ga boleh ngambil foto? Oke. “Terus mbak, kalau saya minta struk bekasnya boleh ga?” tanya saya. Terus si mbaknya, yang seolah-olah menyeragamkan dengan jawaban sebelumnya menjawab “Wah, maaf ya itu ga bisa.”

PADAHAL DI DEPAN SAYA JELAS-JELAS ADA STRUK-STRUK GA KEPAKE yang ditinggalkan oleh pelanggan-pelanggan yang terlampau malas untuk mengambilnya dari kasir atau membuangnya ke tempat sampah. “Kalau ini, ini kan bekas ya mbak, ini ga boleh saya ambil juga? Atau saya foto aja deh ya struk ya?”

Jawabannya bisa ditebak lah. “TETEP NGGAK BOLEH MBAK, HARUS DAPAT IJIN DARI PUSAT DULU”. Can you believe it?

“Oh, gitu ya. Ya udah mbak, gapapa. Saya boleh ga minta tandatangan mbak? Sekedar untuk verifikasi bahwa jawaban dari ketiga pertanyaan yang kita bahas di awal itu benar adanya” tanya saya lagi. Lalu si mbaknya menjawab “Maaf ya ga bisa, kecuali kalau saya bawa surat tugas mbak.” Maksudnya adalah SURAT TUGAS SAYA, YANG HANYA SATU-SATUNYA ITU.

Sepertinya si mbak ini cuma cari cara supaya dia ga usah tandatangan. Tapi dia lupa bahwa di dunia ini ada teknologi fotokopi -_-

Maka pergilah saya ke luar area PIB, mencari tukang fotokopi. Beberapa menit kemudian saya kembali ke Kafe Ah Lo Lo untuk memberikan surat YANG SI MBAKNYA MINTA, lalu menagih tanda tangan yang dia “janjikan”. Akhirnya dia mau ngasih, tapi sambil cemberut, yang mana saya ga habis pikir kenapa dia mesti cemberut.

Sampe sini, keadaan masih oke-oke saja. Tidak ada yang aneh, saya hanya bertemu responden yang tidak kooperatif atau rese saja. Dari Kafe Ah Lo Lo saya bergerak ke Es Teler 77 (kalau yang ini namanya ga diutak-atik :p), untuk minta struk bekas pelanggan, karena pada pagi hari saat saya survey ke sana, belum ada struk bekas yang bisa saya minta.

Kalau pernah ke PIB, pasti kamu tau bahwa untuk kembali ke gerbang utama dari Es Teler 77, kamu harus lewat Kafe Ah Lo Lo. Nah, pas saya lewat kafe rese tersebut, keluarlah petugas sekuriti dari dalam kafe, sambil MENERIAKI SAYA untuk sekedar membuat saya aware kalau dia bermaksud berurusan dengan saya. Petugas sekuriti itu bilang “Mbak, di sini kalau mau menyebarkan selebaran, harus ijin dulu sama pihak manajamen.”

WHAT? SAYA NGGAK MENYEBARKAN SELEBARAN, PAK. Tadi itu saya ngasih fotokopian surat tugas saya karena mereka sendiri yang minta. Kenapa ga mereka aja yang ditangkep? Ah tapi percuma juga komplen sama petugas sekuriti, mereka kan cuma MENURUTI PERINTAH TUAN MEREKA, ga peduli apakah tuannya oon dan ga berperikemanusiaan atau tidak.

Saya dibawa ke bagian manajemen PIB. Saat saya digelandang ke kantor manajemen, saya sempat bertanya sama si petugas tersebut “Saya dilaporkan oleh pelayan Kafe Ah Lo Lo ya?” yang kemudian di-iya-kan oleh si petugas sekuriti. Saya sebenernya kesel berat dan pengen komplen atas kesalahpahaman bahwa saya menyebarkan selebaran gelap, tapi ya sudahlah, saya ga punya waktu buat ribut-ribut. Saya ikutin aja lah mereka maunya gimana.

Sayangnya manajer operasionalnya lagi sibuk, jadi saya cuma bisa titip pesen sama front officenya yang ganteng. “Mas, tolong disampein aja ke manajernya, saya ga menyebarkan selebaran, saya hanya menanyakan beberapa hal, dan  saya sebenarnya sudah mengantongi ijin dari kantor pusat mereka. Saya minta maaf karena menimbulkan kekacauan, ini nomer HP saya kalau-kalau pihak PIB atau Kafe Ah Lo Lo mau menuntut saya lebih lanjut.”

Sebelum saya ngomong gitu, saya sempet nanya sama si masnya “Mas, emangnya kalau saya cuma mau nanya doang ke restoran2 tentang apakah di sana ada internet atau nggak, terus nanya apa merek mesin kasirnya, itu harus ijin dulu sama PIB?” terus kata masnya, “Harusnya sih iya, termasuk juga misalnya kalau restoran mau ngeloading barang dari truk, itu harus lapor dulu sama pihak manajemen.”

OMG, itu mah 2 hal yang beda kali mas T.T

Oh, jadi semuanya harus minta ijin dulu ya sama pihak manajemen? Jadi selama hampir 20 tahun ini saya makan atau beli-beli barang di PIB, saya melakukan kesalahan dong? Karena selama ini saya selalu nanya segala hal langsung ke pelayan di counter yang bersangkutan, ga lewat manajemen dulu tuh -_-

Selama ini PIB adalah salah satu tempat nongkrong favorit saya, tapi sepertinya saya harus cari tempat nongkrong baru nih. Akan jadi terlalu ribet bagi saya, jika untuk menanyakan “Apakah di sini ada koneksi wi fi?” ke pelayan aja saya harus minta ijin ke pihak manajemen PIB dulu. Sori-sori jek, saya ga suka yang ribet-ribet.

Dan untuk Kafe Ah Lo Lo, saya ga nyangka kalau niat baik saya untuk susah-susah nyari tukang fotokopian supaya saya bisa ngasih kopian surat tugas saya ke Kafe Ah Lo Lo ternyata dimanfaatkan untuk memberi alasan kepada sekuriti untuk menangkap saya. WAT DE HEL? Kalau emang ga mau ngasih tandatangan, bilang aja ga mau, ga usah ngasih tapi ujung-ujungnya malah bikin orang jadi susah. Apa sih susahnya bilang “GA MAU”?

Mengutip Dalai Lama, “If you can, help others; if you cannot do that, at least do not harm them.”

Saya jadi berandai-andai, jika saja saya datang ke sana sebagai pembeli, lalu saya bertanya “Apakah di sini ada akses internet?” mungkin ceritanya akan lain. Bagi ke-19 restoran lain, saya bisa bilang bahwa mereka benar-benar menerapkan slogan “Tamu adalah Raja”, siapapun tamu mereka, mereka akan melayaninya dengan baik. Tapi tidak untuk Kafe Ah Lo Lo. Sepertinya bagi mereka, tamu berduit yang mau menghambut-hamburkan duit di Kafe Ah Lo Lo sajalah yang layak diberi pelayanan yang baik. Sisanya cuma bikin susah aja, sehingga lebih baik diurus oleh sekuriti.

Dengan memposting tulisan ini saya TIDAK bermaksud mengajak teman-teman untuk tidak mengunjungi Kafe Ah Lo Lo, saya hanya bermaksud mengajak teman-teman untuk tidak meniru apa yang pelayan Kafe Ah Lo Lo lakukan dalam memperlakukan tamu. Percayalah, itu adalah sikap yang sangat menyebalkan dan hanya akan merugikan diri sendiri.


*sigh*

Advertisements
59

Apa Sih yang Tidak Mungkin Selain Makan Kepala Sendiri?

Pastinya sebagian besar dari teman-teman sudah mendengar tentang fenomena crop circle yang terbentuk di 7 petak sawah di Sleman Yogyakarta pada 23 Januari 2011 lalu. Fenomena unik ini telah sukses membuat orang berspekulasi tentang keberadaan UFO dan alien di jagad raya, atau minimal kembali memikirkan tentang hal ini.

Walaupun saya sudah kenal fenomena unik ini sejak lumayan lama, tapi sejujurnya, baru kali ini saya benar-benar mencari tahu apa itu crop circle. Tercatat terdapat 26 negara yang melaporkan memiliki crop circle, dengan jumlah total sekitar 10.000 buah.

Para ilmuwan mengatakan bahwa 80% crop circle yang ada di permukaan Bumi bisa dipastikan merupakan kreasi manusia. Sedangkan 20%-nya lagi masih misteri. Ada yang bilang lingkaran-lingkaran ini bisa saja terjadi akibat angin puting beliung. Oh, kemon…. kalau saja angin puting beliungnya adalah hasil ayunan tongkat sihir  Profesor Snape sih saya mungkin percaya.

Bagi teman-teman yang rajin menonton televisi, pasti belakangan ini sering melihat sosok Thomas Djamaluddin, peneliti LAPAN yang sedang laku dimintai penjelasan tentang crop circle oleh media. Beliau menyatakan bahwa crop circle di Sleman itu adalah murni buatan manusia. “Karena UFO itu tidak ada,” tambahnya.

Saya setuju bahwa mungkin itu adalah pekerjaan orang iseng. Tapi bahwa UFO itu tidak ada: Oh ya? Apakah Anda bisa membuktikannya? Atau Anda sekedar tidak mau mengakuinya?

Mungkin tulisan ini akan terkesan sedikit kontroversial. Tapi it’s okey lah yah… saya pengen berpendapat.

Saya belum pernah melihat UFO, tapi saya tidak menyangkal KEMUNGKINAN keberadaannya. Silakan tertawakan jika memang lucu. Tapi setelah tertawa, coba baca postingan ini sampai habis, lalu pikirkan kembali segala kemungkinan yang mungkin belum pernah terpikirkan.

Continue reading

2

Indonesia Menang, Banggakah Kita?

Nasionalisme memang sangat dahsyat. Saya yang tidak terlalu suka sepak bola saja bisa menjadi suka dibuatnya. Apalagi saat melawan negara-negara yang hobinya menginjak-injak harkat dan martabat Indonesia, wah saya pasti jadi suporter paling nyebelin sejagat raya.

Saya sekarang pengen sedikit berkomentar–atau lebih tepatnya ngabulatuk–tentang persepakbolaan Indonesia. Tentang gosip yang sedang hangat diperbincangkan oleh ibu-ibu dan remaja putri, yaitu tentang Irfan Bachdim. Saya ga akan membahas tentang siapa itu Irfan Bachdim, tapi saya ingin membahas tentang predikatnya sebagai pemain yang di-“naturalisasi.”
Irfan Bachdim–si ganteng maut
Ya, dialah Irfan Bachdim, pemain timnas yang sedang banyak diperbincangkan belakangan ini. Yang muda, dan top scorer. Ah tapi tidak juga… Bambang Pamungkas, Muhammad Ridwan, Arif Suyono, dan Firman Utina juga top scorer. Tapi kenapa harus Irfan Bachdim? Mungkin sebenarnya bukan hanya karena “top scorer”nya, tapi juga tampangnya, dan bule-nya. Saya sampai sekarang masih ga ngerti, kenapa orang Indonesia tuh hebooooh banget kalau ada sesuatu yang berhubungan dengan bule. 
Btw, istilah naturalisasi masih terdengar aneh bagi saya. Untuk menggambarkan penarikan orang-orang bule atau blasteran Indonesia yang skill sepakbolanya berkembang di luar negeri menjadi bagian dari timnas Indonesia, mungkin istilah yang lebih tepat adalah “Indonesianisasi” atau “PSSI-isasi.” Kenapa jadi naturalisasi sih? Natural itu kan artinya alami, bukan Indonesia. 
Kembali ke topik. Irfan Bachdim sukses membuktikan bahwa dirinya patut diperhitungkan sebagai pesepakbola yang berskill internasional. Dengan hasil seperti ini, negara mana sih yang kemudian tidak tergiur untuk melakukan naturalisasi? Adalah sangat mungkin di tahun-tahun depan Indonesia akan menambah jumlah pemain naturalisasi, dengan tujuan meningkatkan prestasi di kancah sepakbola internasional. Dan rasanya, bau-baunya menunjukkan kecenderungan itu. Gosipnya akan ada 7 pemain asing lagi yang akan dinaturalisasi. Udah mau ikut-ikutan Qatar aja nih keknya. 
Katakanlah setelah melakukan naturalisasi tambahan, di tahun-tahun depan timnas Indonesia berpeluang lebar memenangkan berbagai kejuaraan internasional yang lingkupnya lebih luas lagi dari ASEAN. Lalu akan banggakah kita?
Kalau saya? Tergantung. Tergantung seberapa besar andil para pemain naturalisasi tersebut terhadap keberhasilan timnas. Kalau porsinya lebih kecil dibanding andil pemain lokal, saya akan bangga. Tapi kalau sebaliknya, buat apa? Bahkan saya akan merasa malu. 
Bagi saya, menang bukanlah sekedar mendapat pengakuan bahwa kitalah yang terbaik di lapangan. Tapi menang juga berarti kita mampu mengembangkan potensi lokal kita hingga menjadi yang terbaik di kancah internasional. Kalau kita banyak pakai pemain naturalisasi, itu mah bukan mengembangkan potensi lokal, tetapi mengambil hasil pengembangan negara lain lalu melabelinya dengan nama “Indonesia.” Kalau begini, kita sebenarnya belum mampu jadi yang terbaik…. kita hanya mampu bayar orang.
Saya tidak bicara tentang darah atau garis keturunan. Saya bicara tentang bagaimana dan di mana seseorang berkembang dan berproses. Artinya, ga peduli mau bule atau lokal, selama orang itu berkembang di Indonesia, itu masuk dalam kategori pengembangan potensi lokal. Contohnya adalah Miroslav Klose yang berdarah Polandia dan lahir di Polandia, tapi kemudian sejak kecil hijrah ke Jerman dan memulai karir sepakbolanya di Jerman. Kalau dia sekarang membela timnas Jerman, ini adalah sesuatu yang wajar. Dan Jerman layak memilikinya, karena Jermanlah yang mengembangkannya.
Kalau kita analogikan dengan dunia tani, kasus Miroslav Klose bagaikan menanam bibit impor di tanah sendiri. Sedangkan kasus Irfan Bachdim atau pemain naturalisasi blasteran Indonesia lainnya adalah menanam bibit lokal di tanah orang lain, lalu kita membelinya atau mengambilnya kembali. Sekarang coba kita pikir lagi, lebih bangga punya bibit bagus atau punya tanah yang bagus? Kalau kita punya bibit bagus tapi tanah kita ga subur, apakah kita layak mendapatkan hasil panen yang bagus?
Mungkin ada yang akan jawab layak. Layak, karena kita punya uang. Makanya di atas saya katakan bahwa kalau menangnya lewat cara begini, sebenarnya kita belum mampu jadi yang terbaik, tapi hanya mampu bayar orang. 
Balik lagi ke pertanyaan awal. Banggakah kita? Apa yang sebenarnya kita kejar? Supremasi atau pengembangan sumber daya manusia lokal? Jawaban kita akan sangat bergantung pada apa visi kita. 
31

Bayangkan Engkau Duduk di Sana

“Sayang, lihatlah burung-burung yang sedang bermain di sana… Mereka romantis sekali ya..”
“Matahari sore ini begitu menghangatkan. Aroma sangat senada dengan rumput menguning..”
“………………………………………………….”
Kalo kamu duduk di sana, di gambar ketiga, kira-kira apa yang akan tertulis pada balonnya? Punya ide, ayo tuliskan ide gilamu. Sepuluh pengide terbaik akan mendapat hadiah menarik dari Rime. (pede amat sih, cem yang ngomennya bakal lebih dari sepuluh aja :p)
PS: Foto ini saya ambil 100 meter dari kantor saya. Itu ceritanya TPS (Tempat Pembuangan Sampah Sementara)
2

Sambutan dari Rime yang Udah Seabad Ga Ngeblog

(Postingan ini ditulis sambil nunggu proses import blog dari WordPress ke Blogger… Ampun lamanya, padahal cuman 15 postingan loh…)
Saya mengucapkan ‘welkam bek’ kepada diri saya sendiri yang balik lagi pengen ngeblog di Blogger.
Mungkin akan terkesan sedikit plin-plan (hah, sedikit?), tapi memang begitulah adanya. Satu tahun lalu saya memutuskan untuk pindah ke WordPress dengan alasan sulitnya akses Blogger dari kampus (biasa lah, gara-gara fatwa admin kampus). Tapi ternyata setelah pindah ke WordPress, produktivitas menulis saya jadi menurun. Saya seperti ga dapet soul yang sebenarnya dalam ngeblog. Saya jadi malas-malasan…. (maksudnya jadi lebih malas dari biasanya, karena saya adalah pemalas sejak orok)
Belakangan ini saya baru menyesali kenapa saya sangat malas menulis. Dan saya pikir, satu-satunya jalan agar saya rajin menulis lagi adalah dengan kembali ngeblog di blogger.
Silahkan bilang saya plin-plan dan ga punya prinsip sepuasnya… karena saya ga peduli, hahahahaha….
8

It was not that Bored to Be a Volunteer

Beberapa hari lalu, ketika seorang teman bertanya “So, what are you doing now?”, gua menjawab “I’ve been enjoying my lazy days”. Hahaha lazy days. Meski penilaian terhadap kata “malas” akan sangat bervariatif, tapi kalo kamu tau bagaimana sibuk dan menderitanya gua waktu kerja di pedalaman Mentawai, kamu pasti setuju.

Jadi apakah definisi lazy days yang gua singgung? Jawabannya adalah hari di mana gua ke luar rumah dengan alasan yang tidak produktif secara ekonomi, tapi sangat produktif (mungkin) bagi orang lain secara manusiawi, termasuk di dalamnya adalah pacar, tukang jualan makanan, supir angkot, dan orang-orang YPBB. Loh, kok orang-orang YPBB? Iyaaaaaaaaa… gua sekarang lagi aktif jadi volunteer di YPBB.

Bukannya ga butuh duit ya.. tapi ga tau kenapa gua sekarang lagi hobi banget kerja sosial dibanding maksa kerja serabutan sambil nunggu panggilan kerja idaman. Gua ngerasa lebih berguna aja jadi manusia (halah lebay banget sih). Eh, tapi bener loh, ada rasa puas di hati yang ga akan kita dapet dengan cara lain.

Hal lain yang menyenangkan adalah gua jadi bisa jalan-jalan gratis, hahahaha… Misalnya waktu gua jadi super jenius notulis di Rapat Tahunan YPBB bulan lalu di Ranca Upas. Tempat yang sebenernya ga bagus2 amat ini adalah tempat spesial bagi gua karena ini adalah tempat gua dipelonco waktu OSPEK dulu…. waktu masih bego mau aja digituin. Gyaaa.. gua bernostalgillllaaaaa… Di sana gua menyusuri jalan setapak yang juga gua susuri 5 tahun lalu jam 12 malem. Hoho, ternyata ga ada banyak perubahan.




Di sini juga gua makan stroberi yang dipetikin Gundil entah dari kebunnya siapa, hehehe…

Dan karena letaknya deket sama Kawah Putih, pas gua balik ke Bandung, gua dan si pacar mampir aja dulu di Kawah Putih.. secara gua belum pernah ke sana hahaha… (duh, skandal nih, jangan disebar2 ya)

Kegiatan lain yang gua volunteerin (halah bahasa naon ieu?) di YPBB adalah proyek biogas di Lembang, di mana gua jadi translator seorang mahasiswa S2 dari Swedia bernama Isak yang lagi melakukan penelitian untuk tesisnya. Berhubung si gua pengen banyak belajar juga tentang biogas dan memperlancar cas-cis-cus bersama bule, kegiatan volunteering ini sangat bermanfaat bagi gua. Ow, selain bahasa Inggris, yang juga terlancarkan adalah bahasa Sunda, secara gua udah seabad ga make bahasa Sunda sebagai bahasa persatuan (halah naon sih..).

Ini nih yang namanya Isak

Nah, kalo yang ini namanya Wawa, teknisi biogas lokal dari Desa Cicalung, Lembang

Ini laboratoriumnya…

Kemaren gua ke sana lagi untuk jadi translator untuk ke-tiga kalinya. Dan tumben-tumbenan, pasca pulang dari Lembang gua pake acara nongkrong-nongkrong dulu di atap koskosannya Isak, bareng si Dom. Dan inilah buah dari keisengan kami, hahaha…



Tuh kan, jadi volunteer tuh menyenangkan. Sebenernya jadi pemulung juga menyenangkan sih, asal kita bisa mencoba narik manfaat dari segala sisi aja 🙂

PS: Tulisan ini didedikasikan untuk Anil yang sejak beberapa hari lalu berharap gua mendeskripsikan kesan-kesan menjadi volunteer di YPBB. Biar pada kabita ya Nil, hehehe… :p

34

Jomblowati

*Sebenernya gua udah mencoba menulis tentang ini sejak lama.. tapi ga sempet dipublis aja. Sampe akhirnya kemarin baca tulisan Aul tentang mahasiswa gajah duduk, gua jadi pengen ngepublis tulisan ini..*

Cariin gue cewek dong…


Lama-lama gua bosen juga denger kata-kata ini. Hampir semua cowok cap gajah duduk yang gua kenal pasti pernah ngomong kek gini ke gua, mentang-mentang di jurusan gua banyak ceweknya..

Huh, emangnya gua biro jodoh? Cape deh..

Kayanya predikat “jomblo” emang udah jadi stereotip mahasiswa cap gajah duduk, dan sudah menjadi tradisi, sampai-sampai mendarah daging. Mungkin hal inilah yang dijadikan inspirasi oleh Adithya Mulya saat menulis novel pertamanya, Jomblo.

Gimana enggak? Perbandingan jumlah mahasiswa cowok dan ceweknya aja 7:3. Ditambah lagi, konon para mahasiswanya kurang bisa bergaul apalagi merayu cewek, hahaha…. Ditambah lagi, para mahasiswi yang jumlahnya cuman 30% itu penampilannya relatif kurang menarik (jika dibandingkan dengan kampus lain seperti U*PAD atau U*ISBA).

Sebenarnya gua kurang suka sama alasan yang terakhir ini. Kok kesannya manusia dinilai secara fisik semata. Tapi mau bagaimana lagi… kita hidup di Indonesia, di mana segala sesuatu dinilai secara fisik dan materi (mungkin ini juga menjawab pertanyaan kaka Superbad di blognya tentang kenapa semua cewe urban di Indonesia punya style yang sama). Jika bersikeras dengan penampilan yang kurang menarik, maka bersiap-siaplah menghadapi kenyataan bahwa jodoh akan datang terlambat.

Gua masih konsisten dengan pilihan kedua kok.. tenang aja… (naon seh?)

Gua punya banyak macem-macem temen cewek di gajah duduk. Ada yang tipe gaul bisa nyambung sana nyambung sini, ada tipe nasi goreng alias sok gaul padahal korban mode, ada yang tipe S.O, ada tipe aktivis (kekekkekk…),dan ada juga yang tipe autis dan merasa dirinya sakit jiwa. Hmm, kira-kira gua termasuk yang mana ya? Hohohoho…

Kalo mau dipikir-pikir, sebenernya cewek gajah duduk tuh memiliki permasalahan yang lebih rumit dibanding cowok gajah duduk dalam hal pencarian jodoh. Tanya kenapa?

Jawab begini.

Coba bayangkan seorang cowok gajah duduk yang cupu dan IP-nya 3,5 (apalagi kalo dari jurusan papan atas yang notabene mudah mencari kerja). Setelah lulus, merintis karir, dan kemudian menjadi kaya raya, mencari jodoh kemudian bukanlah suatu hal yang terlalu sulit. Siapa sih cewek yang ga mau sama lulusan gajah duduk apalagi yang hidupnya sudah mapan? (Ingat, kita hidup di Indonesia ). Pun jika si cowok menginginkan jodoh dengan tingkat pendidikan setara, dia bisa memilih cewek mana saja lulusan perguruan tinggi mana saja.

Sekarang coba ganti subjeknya jadi cewek. Cowok gajah duduk aja belum tentu ada yang mau. Sebagai pilihan lain, pastilah dia mencari cowok dari luar gajah duduk. Tapi kemudian pilihan ini menjadi lebih sulit, karena lagi-lagi terbentur oleh budaya sosial Indonesia, di mana pada sebuah pasangan, si cowok harus memiliki tingkat pendidikan atau penghasilan yang lebih tinggi dari si cewek. Atau jikapun memiliki tingkat pendidikan yang sama, almamater di cowok pasti dipertanyakan posisinya terhadap almamater si cewek.

Pun jika si cewek bersifat anti-sosial dengan tidak memperhatikan hal-hal itu, pastilah dalam dirinya terdapat pula keinginan untuk mendapatkan seorang pasangan hidup yang memiliki kualitas lebih baik dari dirinya. *kok bahasa gua jadi formal gini ya?*

Lalu ke mana mereka harus mencari? MIT? Bujubuset…

* * *


Eh, gua nulis gini ga maksud untuk mendiskreditkan perguruan tinggi lain atau begimana… Gua hanya ingin memuntahkan uneg-uneg gua setelah beberapa bulan kemarin ngobrol tentang hal ini dengan seorang teman (hai Mal, apa kabar?). Juga sekedar ingin memberikan wawasan pada para cowo gajah duduk, bahwa bukan hanya mereka yang memiliki masalah dalam mencari jodoh.

Ga semua yang gua tulis di sini benar. Jangan terlalu serius lah, hahaha… xD

PS: Tulisan ini tidak terinspirasi dari pengalaman pribadi, tapi dari pengalaman dosennya Mala, dan beberapa dosenwati gua yang masih menjomblo..