42

Selamat 3 Tahunan

Kemarin, saya dan si pacar merayakan sesuatu. Kami tidak merayakan “palentin,” tapi kami merayakan 3 tahun usia hubungan kami. Sebenarnya tanggal ulang tahunnya adalah 12 Februari, tapi karena kami berdua sama-sama sibuk, kami baru bisa merayakannya (baca: ketemu) kemarin.

Sebenarnya tidak pernah ada perayaan khusus untuk memperingati ulang tahun ini, tapi entah kenapa, mungkin karena orang-orang pada heboh merayakan “palentin,” kami jadi ikut-ikutan pengen tukeran kado, hehehe… :mrgreen:

Nah, yang namanya tukeran kado itu kan harusnya kita nebak-nebak kira-kira orang yang mau kita kasih kado itu pengennya apa… sambil kita sendiri harap-harap cemas nebak apa isi di dalam kado yang kita dapat. Tapi kalau saya dan si pacar tukeran kadonya ga gitu. Kami ke toko, terus milih masing-masing mau dibeliin apa. :mrgreen:

Emang agak aneh, tapi kami punya tujuan. Saya ga mau dapet barang yang ujung-ujungnya ga akan kepake sama saya, begitu juga dengan si pacar. Kalau kadonya ga kepake, maka esensi kado itu sendiri akan jadi absurd. Jadi, kami rasa, ga ada salahnya tuh milih sendiri “kado” yang kita pengen. πŸ˜€

Inilah “kado” yang saya pilih..

Sendok dan sumpit logam beserta tempatnya.

Continue reading

39

I Think I’ve Found a New Hobby!

Hyahahahaha… akhirnya saya ngeblog lagi setelah seminggu kemarin hiatus karena mengerjakan suatu proyek rahasia. Lucunya, proyek ini dibuka dengan dan diakhiri oleh suatu pesta pernikahan.

Pesta pertama adalah pesta pernikahan Rima dan Iwan. Tenang, ini bukan Rima si Rime. Ini adalah Rima temennya pacar saya, hehehe.

Prikitiew..........!

Continue reading

50

Harimau-harimau

*Sebelumnya, saya minta maaf dulu kepada teman-teman, karena belum sempat blogwalking. Insya Allah besok kalau ada waktu saya akan bayar hutang blogwalking :p*

Hari ini saya iseng memeriksa surat-surat tagihan via pos yang menumpuk di lemari ruang keluarga. Ternyata di antara amplop-amplop yang bertuliskan nama mama dan papa, saya menemukan dua amplop yang bertuliskan nama saya.

Rupanya keduanya adalah surat dari WWF, tertanggal 17 Agustus 2010. Selama ini saya tidak menerimanya, karena orang-orang di rumah lupa menyerahkannya kepada saya.

Awalnya saya pikir ini adalah surat dari WWF Indonesia. Tapi ternyata dari WWF UK. Isinya adalah ucapan terima kasih karena saya telah mengisi petisi untuk keperluan Tiger Summit 2010 di Rusia. Dan sebagai hadiah, mereka memberi saya satu set stiker harimau bertema “Year of the Tiger.” Mereka harap saya mau menempel stiker ini di tempat-tempat strategis sehingga orang lain bisa mendapatkan pesan yang ada di dalamnya.

Karena saya mendapat dua buah surat, berarti saya dapat 2 set stiker. Mungkin karena dulu saya mengisi petisinya dua kali, hehehe… :mrgreen:

Surat dari WWF UK.

Rencananya saya akan ambil satu atau dua potong stiker yang saya suka. Selebihnya, Β stiker-stiker ini akan saya berikan kepada teman-teman, khususnya teman-teman kecil saya yang sisa waktu hidupnya akan lebih panjang dari pada saya πŸ™‚

Surat dan stiker ini sangat mengingatkan saya pada tahun 2010, tahun harimau yang benar-benar harimau. Apa sajakah memori-memori indah itu? Mari kita cekidot….!

Continue reading

62

Tetangga Iwan Fals?

Tiba-tiba saja hari ini saya ingat dengan tempat kerja saya dulu, sebuah tempat yang sangat indah di pedalaman Mentawai. Mungkin ingatan ini terpicu karena tadi malam saya melihat iklan tayangan televisi berjudul “Berburu” yang menampakkan babi hutan yang sedang berlari-lari. Kondisinya mirip sekali dengan di Mentawai.

Tapi sebenarnya bukan babinya yang saya ingat… melainkan cerita tentang Iwan Fals-nya.

Ini adalah cerita yang saya dapat dari Wibi, teman kerja saya yang dulu seorang mahasiswa Kehutanan UGM.

Suatu hari seorang guide (kita sebut saja Justin Bieber) bertanya kepada seorang asisten peneliti bernama Ira, “Ira, kampung Ira di mana?”

Lalu Ira menjawab, “Di Jawa.” Mungkin karena Ira tahu bahwa kalau dia menjawab “Jogja,” Justin tidak akan tahu di mana lokasi tersebut. Minimal kalau Ira menjawabnya dengan nama pulau, Justin akan lebih mengenalnya, karena ini ada di pelajaran SD.

Tanpa dinyana, Justin pun membalasnya dengan antusias, “Wah, di Jawa? Rumah kamu dekat dengan Iwan Fals tidak?”

Saya sampai sekarang ga pernah tau apa jawaban selanjutnya dari Ira. Karena setelah Wibi menceritakan tentang pertanyaan berbau Iwan Fals tersebut, saya langsung tertawa terbahak-bahak. Demikian juga setiap kali cerita itu diceritakan, kami pasti akan kembali tertawa terbahak-bahak, dan cerita itu tidak pernah saya dengar dengan komplit.

Ups, sori… Saya tahu, mentertawakan kekurangan orang lain itu tidak baik, tapi ini benar-benar kocak. Saya tidak bermaksud melecehkan, saya hanya kagum dengan kepolosan si Justin. πŸ™‚

Di sela-sela ceritanya, saya ingat Wibi pernah berkata, “Dia berespon seperti itu karena dia menganggap Jawa itu sebesar Policoman.”

Policoman? Ini memang nama yang agak aneh, tapi ini adalah nama sebuah desa kecil di bagian Utara Siberut, Kepulauan Mentawai. Ada juga yang menyebutnya Polipsoman atau Politcoman. Malah di buku keluaran tahun 80-an, saya menemukan nama Pulipsuman. Ini adalah desa tempat tinggal para guide dan juru masak yang membantu para peneliti primata di Hutan Pungut.

Saya ga punya banyak kenangan dengan Policoman, karena saya hanya pernah menginap di sana beberapa hari, yaitu saat sebelum masuk hutan, saat lebaran, dan saat mau pulang ke Padang. Foto tentang Policoman pun tidak banyak, karena saat itu saya ga punya kamera. Ini adalah foto terakhir saya di Policoman sebelum bertolak ke Padang, yang dijepret menggunakan kamera milik Deden yang lensanya jamuran. πŸ™‚

Bergaya ala preman bersama Deden dan Vera di depan "Betaet," Desa Policoman, Siberut Utara

Dulu, waktu saya kerja di tengan hutan belantara, saya merengek-rengek ingin keluar dari sana. Bukan karena di sana banyak King Cobra, tapi karena saya stres ditekan oleh bos saya yang orang Amerika itu. Walaupun banyak kenangan buruk, tapi di sana juga ada banyak kenangan manis, salah satunya berinteraksi dengan para guide yang polos ini. πŸ™‚ Saya pengen banget bisa ke Policoman lagi untuk bertemu dengan mereka.

Sayangnya saya bukan orang kaya… Kalau saya punya uang banyak, saya akan mengajak Iwan Fals untuk manggung di Policoman, sekalian juga untuk memberi sedikit pengetahuan tentang geografi. πŸ˜‰

10

A Little Story about 2010: WWF Forest Friend

*Menyambut tahun 2011, semua orang menulis tentang refleksi kehidupan mereka di tahun 2010. Rasanya saya juga perlu membuatnya.*

Tahun 2010 adalah tahun yang cukup melelahkan bagi saya… tapi bukan lelah sembarang lelah. Ini adalah lelah yang membuahkan hasil. Saya punya banyak cerita yang tidak sempat saya tuliskan di blog ini karena hiatus panjang saya selama 3 tahun. Saya ingin menceritakan semuanya, tapi daripada semua orang jadi bosan, saya hanya akan ceritakan satu cerita saja. Satu cerita yang menurut saya paling menarik dan paling heboh, yaitu tentang WWF Forest Friend.
Diawali dengan sesuatu yang tidak biasa….Β Saya lupa tepatnya, pokoknya di sekitar bulan April 2010, entah karena kesambet apa, saya iseng membuka akun email Yahoo! yang udah seabad ga saya buka. Bagi saya, Gmail dan Yahoo! bagaikan Facebook dan Friendster… Begitu kita asyik dengan hal baru yang lebih inovatif, maka yang lama cenderung ditinggalkan…
Dan terberkatilah saya saat itu. Saya kebetulan membaca sebuah pengumuman tentang WWF Forest Friend. Tentang apa itu Forest Friend, teman-teman bisa baca di sini. Intinya ini adalah lomba kampanye lingkungan di dunia maya, yang diawali dengan kompetisi blog, dan dilanjutkan dengan voting online.

Baca selengkapnya Β»

15

Aceh dan Asam Kranji

Mumpung ah……… mumpung saya belum terlalu ngantuk, dan mumpung hari ini masih tanggal 26 Desember 2010.

Ingatkah teman-teman dengan tanggal ini, tanggal 26 Desember? Bukan hari di mana Indonesia dibantai Malaysia 3-0 di final piala AFF, tapi hari di mana saudara-saudara kita di Aceh terkena musibah tsunami 6 tahun lalu. 
Saya ga akan ngebahas lagi tentang Aceh di tahun 2004. Yang lalu biarlah berlalu… jadi saya akan cerita sedikit tentang Aceh di tahun 2010 πŸ˜€
Jadi ceritanya begini…. *kismis mode on* 
Sekitar 2 bulan lalu saya berkesempatan jadi trainer BLP di Aceh. Dan di hari terakhir di 2 minggu tersebut, saya dan teman-teman berkesempatan jalan-jalan ke daerah perbatasan Banda Aceh – Meulaboh. Konon lokasi ini adalah salah satu lokasi yang hantaman tsunaminya paling dahsyat. Sebenernya ini bukan jalan-jalan, tapi survey dan hunting foto lokasi dengan infrastruktur alam yang rusak. Rencananya foto-foto ini akan dipakai untuk melengkapi buku yang sedang kami buat. 
Alih-alih mendapat pemandangan alam yang rusak, kami malah lebih sering melihat pemandangan indah. Di satu sisi hati saya disejukkan oleh pantai yang sangat indah, dan di sisi lain mata saya disegarkan oleh hutan yang sangat asri. Di beberapa titik terlihat onggokan puing-puing rumah sisa hantaman tsunami yang ditinggal pemiliknya. Mungkin karena manusia enggan untuk bermukin kembali di sini, suksesi lokasi ini berjalan tanpa hambatan yang berarti.
Ini adalah beberapa foto yang membuat saya terkagum-kagum dengan Aceh…. πŸ™‚ (mohon maaf kalau fotonya butut, ga pro soalnya :p)
Danau alami di perempatan jalan raya Banda Aceh – Meulaboh
Para bebek yang berenang dengan kecepatan 20 km/jam :p
It’s okay to be different
Padang rumput yang menyatu dengan hutan πŸ™‚

Sungai yang tenang
Colorful nature
Pabrik semen yang mengganggu pemandangan :p
Jalannya buntu. Jalan yang aneh…
Baru kali ini saya nemu jalan yang buntu. Katanya jalan bagus nan mulus ini didanai oleh USAID. Jalan aslinya udah rusak berat, dan posisinya lebih dekat dengan bibir pantai. Di sepanjang perjalanan, jalan ini sudah membelah beberapa bukit gamping… jadi ini adalah bukit gamping yang kesekian yang dihancurkan. Sayang banget ya bukit-bukit ini dipecah-pecah 😦
Karena buntu, akhirnya kita putar balik deh…. 
Nah, itu dia pantainya… Pantai… pantai….!
Ternyata ada dermaganya. Katanya sih buat ngapalin semen dari pabrik semen yang lokasinya ga jauh dari situ. Yang tadi fotonya saya pasang itu loh…
Waw… waw… keren kan?
Pantai batu πŸ™‚
Passss banget buat pacaran… :p
Nira yang sibuk mencari kerang
Eh ada Mr. Krab πŸ˜€
Sayangnya waktu kami ga banyak. Dalam satu jam ke depan kami harus udah makan siang dan check in di bandara untuk bertolak ke Jakarta. Tapi petualangan belum selesai, sodara-sodari…..
Eeeeaaaaaa “yang punya jalan” keluar….
Di Aceh saya banyak sekali menemukan sapi dan kambing yang berkeliaran di pinggir jalan. Mungkin ini yang membuat rasa daging sapi Aceh lebih enak… sapinya ga stress :p
Ke sono-annya lagi (halah bahasanya) ada banyak ibu-ibu yang menjual buah berbentuk bulat kecil-kecil berwarna hitam. Ternyata itu adalah asam kranji (atau Bahasa Inggrisnya velvet tamarind), buah yang sudah langka di Indonesia. Harganya murah, hanya Rp 10.000,00 per ikat. Rasanya hampir sama dengan asam jawa. Hanya saja bentuknya lebih kecil, kulitnya lebih lunak, dan jumlah biji per buahnya cuma satu (kalau asam jawa kan jumlah bijinya sabondoroyot :p).  
Beginilah rupanya:
Asam kranji (Dialium indum)
Gara-gara posting tulisan ini… saya jadi ingat bahwa biji-biji asam kranji yang saya simpan dulu belum saya tanam satu pun. Saya akan tanam biji-biji ini besok pagi, dan pohonnya akan saya rawat dengan baik demi dua tujuan. Pertama, saya ingin anak cucu saya nanti kenal dengan tanaman asam kranji. Dan kedua, saya ingin mengenang bahwa saya pernah datang ke Aceh, tempat di ujung Barat Indonesia yang alamnya begitu indah…. yang membuat saya selalu ingin mengenangnya πŸ™‚
Nanti kalau pohonnya sudah tumbuh, saya akan kabari lagi, hehehe….
Pokonya I love Aceh dan asam kranji… πŸ™‚
12

Green and Green (My Wedding Preparation – Part 3)

Ngemeng-ngemeng masalah nuansa resepsi pernikahan, saya kini terjepit dengan dua ide hijau. Ini ga sengaja loh…. Kebetulan saya suka warna hijau… dan saya juga berniat menjadikan acara resepsi pernikahan ini ramah lingkungan… yang kalau kata orang bule mah “green wedding”. Jadilah dua hijau ini bertemu πŸ™‚

Bahas yang mana dulu ya? Yang denotatif aja dulu deh, hijau yang beneran berarti warna hijau. Kenapa hijau? Karena pengen aja. Plus karena rencananya nanti mau dibuat semi “utdor”… Kalau pake warna lain, ntar nabrak-nabrak deh warnanya. Khusus untuk busana, saya akan memadupadankan si hijau ini dengan coklat tua dan broken white. Wow, pasti keren banget…. *ngarep*

Saya sudah punya imajinasi sendiri tentang bagaimana si hijau, coklat tua, dan broken white ini berkomposisi nanti. Tapi saya belum mampu menterjemahkannya sehingga bisa dimengerti orang lain. Jadi saya coba cari di internet, dan kebetulan nemu yang mirip-mirip…

Tapi masih kurang coklat tuanya nih….

Kebetulan minggu lalu saya ada acara di Hotel Santika Bogor. Dan pas masuk ke lounge-nya, ternyataaaaaa… wow wow… ini nih komposisi warna yang saya mau banget…!

Kalau hijaunya kaya gini berarti hijau apa sih? Kayanya sih hijau lumut, hijau yang lucu dan imut πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Nah, sekarang kita ngomongin hijau yang kedua, yang konotatif. Saya pengen acara ini bernuansakan alam, ramah lingkungan, dan merupakan zero waste event, atau event yang sesedikit mungkin menghasilkan sampah. Untuk mencapai cita-cita ini, ada beberapa hal yang perlu dilakukan:

1. Pilih katering yang bersedia menyediakan gelas kaca untuk air putih. Beberapa katering mematok harga lebih mahal untuk gelas kaca dibanding air mineral dalam kemasan., tapi ada juga kok yang mematok harga yang sama untuk keduanya. Tentu saja gelas es krim, mangkuk sup, dan lain-lainnya juga kalau bisa jangan plastik, apalagi styrofoam -_-

Aksi ini sudah pernah dilakukan oleh teman saya, Endah dan Ardi. Tapi sayangnya sebagian tamu mereka komplain karena menganggap air putih yang ada di gelas kaca tidak higienis. Akhirnya mau tidak mau harus ada air minum dalam kemasan deh di sana. Nah, berarti PR kita adalah pikirkan bagaimana caranya supaya air dalam gelas kaca bisa dianggap higienis oleh para tamu. Mungkin kita bisa pake penutup gelas yang terbuat dari logam kali ya?

2. Pilih souvenir yang sesedikit mungkin menghasilkan sampah. Semakin berguna suatu souvenir bagi yang menerimanya, maka akan semakin baik. Apa lagi kalau juga mengandung pesan yang mendukung usaha pelestarian alam…. Wah pasti cihuy banget.

Saya akan ulas tentang souvenir yang akan saya buat sendiri di postingan berikutnya πŸ˜€

3. Pilih atau buat desain undangan yang sesedikit mungkin menghasilkan sampah. Apakah perlu pakai sampul plastik? Apa perlu kartu undangannya dilaminasi? Apa perlu pake kartu undangan?

Memang rencananya kami akan mengundang teman-teman via SMS dan jejaring sosial internet saja. Tapi rasanya orang tua kami masih membutuhkan kartu undangan pernikahan. Saya ga mau mengecewakan mereka, jadi saya akan tetap buatkan kartu undangan. Saya akan coba buatkan yang ramah lingkungan dan sederhana, tapi unik dan keren πŸ˜‰

Rencananya juga saya akan bahas tentang kartu undangan jadi-jadian ini di postingan berbeda. Btw, saya terinspirasi dari desain undangan pernikahan Flo (Medan) yang sederhana tapi imut ini:

4. Pilih tempat yang strategis, berarea parkir luas, dan tidak terlalu jauh dari pusat keramaian atau tempat tinggal para tamu. Selain boros waktu dan bahan bakar, jauhnya lokasi acara bisa jadi satu alasan logis kenapa orang-orang ga dateng ke acara nikahan kita.

Luas area parkir juga jadi hal penting. Jangan sampai kita jadi biang kerok kemacetan gara-gara para tamu kita pada parkir mobil di pinggir jalan. Selain bikin orang bete, kemacetan juga bikin orang lain boros waktu dan bahan bakar.

Lebih bagus lagi kalau lokasi resepsi pernikahan kita juga mengesankan nuansa “hijau”, misalnya banyak pohonnya. Itulah salah satu alasan kenapa saya memilih Galeri Cinde πŸ™‚

5. Pilih menu makanan berbahan dasar lokal dan tidak terlalu banyak daging. Semakin banyak kita mengkonsumsi makanan berbahan dasar daging dan bahan yang diimpor, maka semakin besar karbon yang kita lepas ke udara. Kita bisa menghemat karbon misalnya dengan menghindari penyajian buah impor seperti buah kiwi, buah naga, jeruk sunkist, apel Washington, dll. Sebagai gantinya, kita bisa menyajikan semangka, nenas, melon, dll…. (yah, ini mah emang yang biasa disajikan di nikahan kaliiii….. :p) bisa juga ditambah jambu biji, belimbing, atau lengkeng (kalau lagi musimnya).

Ini buah-buahannya orang bule… Kita mah ga usah sok-sokan nyuguhin yang kaya gini lah…

6. Pilih bunga hidup (jika memungkinkan), dan gunakan bunga lokal yang sedang musimnya. Sama juga dengan buah, untuk bisa dipanen bukan pada musimnya, biasanya petani memperlakukan tanaman secara tidak wajar, misalnya dengan memberi pupuk kimia tertentu dalam jumlah banyak. 
Kalaupun kita pake bunga yang ga hidup, usahakan untuk memanfaatkan bunga-bunga ini selama mungkin, misalnya dengan menyimpannya di vas berisi air di rumah kita. Kalau sudah layu, jangan lupa untuk mengkomposnya πŸ™‚

7. Pilih mahar dan cincin kawin yang sederhana. Sederhana bukan berarti norak ya. Coba tanya sama anak tambang, untuk dapat 1 gram emas dibutuhkan berapa ton batu untuk diancurin? Terus tailingnya di kemanain? Oke-oke aja sih pake emas, tapi sebaiknya tidak berlebihan. Begitu juga dengan berlian (jadi inget dulu pernah nulis tentang berlian). Pake cincin bekas rasanya ga masalah, kan bisa di-retouch supaya keliatan baru lagi πŸ™‚

8. Siapkan skema pemisahan sampah pengomposan. Mudah-mudahan nanti ga akan dihasilkan sama sekali plastik. Kalaupun ternyata ada, kita harus menyiapkan tempat sampah yang berbeda untuk setiap jenis sampah. Sampah plastik, kertas, dan logam yang masih bisa didaur ulang bisa kita kasih ke pemulung, sedangkan sampah organis tentu saja kita kompos. Bagaimana cara mengkomposnya? Ada banyak cara. Cara yang paling mungkin untuk menampung sampah organis dalam jumlah banyak adalah menggali lubang yang cukup besar di tanah. Jadi mulai dari sekarang kita harus udah cari-cari lahan. Atau bisa juga bikin lubang biopori. Kalau keranjang takakura kayaknya ga akan muat deh :p

9. The last but not least… Tentukan jumlah undangan yang akan hadir seakurat dan sepresisi mungkin. Jangan sampai kita menyediakan makanan secara berlebih. Kan sayang banget kalau makanannya kebuang atau keburu basi. Karbon yang terbuang jadi sia-sia deh….

Yah, lagi-lagi karbon, lagi-lagi karbon…. Ya emang, gaya hidup hijau itu pada intinya adalah mengurangi emisi karbon.

Ini kok malah jadi kaya tips-tips ya? Biarin deh ah… itung-itung mengedukasi orang yang baca blog ini, dan menginspirasi orang-orang yang mau bikin green wedding :p

***

Semoga acara resepsi pernikahan nanti bisa hijau sehijau-hijaunya…. Asal jangan sampe sehijau Shrek dan Fiona aja hehehehe… πŸ˜€

9

Pilih-pilih Lokasi Resepsi (My Wedding Preparation – Part 2)

Percaya ga bahwa pemilihan lokasi resepsi pernikahan yang tepat akan sangat berpengaruh pada keseluruhan acara? Ya eyaaaaa lah… ngapain ditanya sih?

Sebenarnya mama saya pengeeeeen banget menggelar resepsi pernikahan putrinya yang bandel ini di rumahnya. Di rumah yang sudah 25 tahun saya huni dan ga pernah ditinggalkan lebih dari 4 bulan. Kayanya emang asik juga kalau gelar resepsi pernikahan di rumah… Kalau suatu saat nanti saya udah ga tinggal di sini lagi, saya akan selalu mengenang romansa pernikahan setiap kali mudik ke kampung. Tapi sayangnya impian itu terlalu sulit untuk diwujudkan. Rumah saya agak jauh dari pusat kota, dan mungkin akan sangat menyulitkan para tamu undangan yang ga punya kendaraan pribadi. Ke undangan naik odong-odong? Wat de heeeeeelll….. keburu luntur aja deh itu bedak dan maskara.

Ya, akan jadi terlalu mahal bagi saya untuk menerima bahwa resepsi pernikahan saya tidak dihadiri oleh sebagian teman saya, hanya karena lokasinya terlalu jauh dari pusat kota. Akhirnya saya dan sang pacar memutuskan untuk menyewa gedung saja. Tapi teteup, namanya ibu-ibu, maunya ngatuuuur aja. Mama saya bilang jangan gedung yang begini lah jangan gedung yang begitu lah, jangan kejauhan lah, dst. Nah, dari sekian banyak syarat tersebut, hanya ada satu gedung yang bisa jadi pilihan, dan itu adalah Galeri Cinde.

Minggu lalu saya sama si pacar coba liat-liat dulu. Selain posisinya yang memang dekat dengan rumah saya dan pusat kota, harga sewa lokasi ini juga ga terlalu mahal, dan area parkirnya luas. Dan yang paling membahagiakan adalah….. desain gedungnya unik, banyak barang-barang ornamen Jawa-nya, dan di kawasan outdoornya ada banyak tanaman. Jadinya resepsi pernikahan bisa dibuat semi outdoor gitu deh. Ngebayanginnya aja udah seneng, hihihi…

Di sana ada 3 lokasi yang bisa dipilih, masing-masing punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Yang pertama adalah Gedung Restoran. Kayanya dulu ini memang sebuah restoran, soalnya banyak pilar dan korsi-korsinya gitu. Kelebihannya adalah ada air mancurnya, jadi berasa kaya di Eropa-Eropa gimanaaaa gitu. Ini dia foto-fotonya. (Karena diambilnya pake hape butut, maka hasilnya juga butut :p)

Air mancur Eropa-Eropaan. (Eh, apa Bali-Balian ya?) 

Kafe
 Gerbang menuju kompleks restoran.

Jalan dari gerbang utama menuju kompleks restoran. 

Ayo tebak apa ini? Ini adalah musholla. Keren ya, berasa di jaman Robin Hood. 

Ini toiletnya… agak ga nyambung sendiri desainnya.  

Keseluruhannya kira-kira seperti ini.

Sebenarnya di sini cukup asik, tapi sayangnya kebanyakan pilar. Kayanya agak ga enak dilihat gitu. Kata mas-mas penjaga gedungnya, para undangan akan makan di kafe, sedangkan pelaminan berlokasi di bar. Di antara kafe dan bar, ada sebuah ruangan terbuka yang ada kolam air mancurnya. Ini bakal keren banget kalau cuaca lagi cerah. Tapi bakal jadi bencana kalau ujan, karena kalo pake tenda kayanya bakal jadi rada aneh, hehehehe….

Yang kedua adalah Gedung Galeri. Pilihan ini harganya paling murah, tapi menurut saya paling oke. Gedungnya berbentuk persegi panjang, dengan atap plafon yang sangat tinggi. Di bagian depannya ada panggung yang tidak begitu tinggi, dan di bagian belakangnya ada lantai 1,5 berisi barang-barang antik. Ruangannya agak sempit, jadi gedung itu hanya dipakai untuk pelaminan, musik, meja VIP, dan meja makanan utama. Sedangkan makanan-makanan lain yang sifatnya perintilan disimpen di luar, pake tenda. Jadi kesannya kaya utdor-utdor gimanaaaa gitu. (Hahahaha “utdor”…!)

Karena saya dan sang pacar terlalu asik lihat-lihat gedung ini dan album foto berisi rekaman pernikahan-pernikahan yang pernah diselenggarakan di sini, saya jadi lupa foto-foto deh. Ini adalah beberapa foto yang saya dapat dari blog orang:

Gedung Galeri Cinde. (sumber
 Suasana “utdor.” (Sumber)
Tenda centil. (Sumber)
Suasana di malam hari. (Sumber)
Yang ketiga adalah Gedung GSG. Karena harganya ada di luar jangkauan kemampuan kami untuk membayar, kami ga mencoba melihat tempat itu. Kayanya gedung ini ga jauh beda deh sama GSG pada umumnya: besar dan membosankan.  
 Kaya singgasana raja ya…. (Sumber)
Daaaaaan…. berdasarkan penilaian terhadap kelebihan dan kekurangan masing-masing gedung, kami memilih Gedung Galeri. Horeeeeee……! Untungnya si mama juga setuju dengan pilihan ini. Jadi langkah selanjutnya adalah booking dan bayar uang muka 25%. 
Walaupun nanti bakal pake tenda, tapi saya tetap berharap bahwa hari itu matahari akan bersinar dengan terik. Ada yang sedia jasa pawang hujan? πŸ˜€
4

Bicara tentang Pernikahan (My Wedding Preparation – Part 1)

Entah bagaimana mulanya, pokonya tiba-tiba saya harus nyiapin acara pernikahan sejak bulan kemarin. Oh ya… sejak saya dan orang tua saya berkunjung ke rumah sang pacar, hehehe… Sebenarnya rencana pernikahan ini bukanlah sesuatu yang menghebohkan, karena toh sejak mulai pacaran 3 tahun lalu, kami memang berencana cepat-cepat menikah. Pengennya sih cepet-cepet, tapi ternyata seluruh jagat raya baru mendukung kami melaksanakannya tahun depan.

Lalu pertanyaan yang muncul pertama kali adalah “pesta pernikahan macam apa yang akan digelar?” Hmmm… kalau ngikutin apa yang kita mau, hampir semua orang akan bilang ingin menggelar pesta yang mewah, di mana para tamunya dijamu dengan makanan yang lezat, dan sang pengantin pada hari itu bak raja dan ratu sejagad. Just confess it! Saya yakin semua wanita pasti menginginkan hal itu. Tapi pertanyaan berikutnya adalah “perlukah semua itu?”

Sebenarnya sih pengen…. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, kayanya saya ga perlu pesta mewah itu. Bagi saya, yang terpenting dari sebuah pernikahan adalah janji suci kedua mempelai. Lalu buat kenapa sampai ada yang namanya “pesta”? Apa sih tujuan pesta? Sebenarnya hanya untuk ajang woro-woro aja kan bahwa si A dan si B menikah. Saya ga keberatan kok kalau saya dan pasangan saya menikah tanpa pesta. Tapi sayangnya kami tidak hidup sendiri… dan kebetulan aja orang tua saya, orang tua pacar saya, dan juga mungkin orang tua kamu ga suka akan keputusan tersebut..

Beberapa hari lalu saya ngobrol dengan seorang teman saya yang baru saja menikah bulan lalu. Dia bercerita bahwa dia juga tidak menginginkan pesta pernikahan yang mewah, tapi keluarga mempelai wanitanya-lah yang menginginkannya. Mereka bilang ini adalah sebuah keharusan. Loh, kata siapa? Pesta pernikahan itu hanya budaya, yang tentu saja lahir dari pemikiran manusia. Berarti kita tidak punya kewajiban untuk menjalankannya. Memang kita perlu melestarikan nilai-nilai budaya bangsa ini, tapi bagian budaya yang mana? Yang boros dan menghambur-hamburkan uang?

Lalu kenapa masih kita lakukan juga? Kenapa, ada yang tau?

Saya sendiri ga tau kenapa. Saya rasa kita saat ini terjebak pada suatu usaha pelestarian budaya yang absurd. Absurd karena kita mencoba menjiplak gaya hidup yang diwarisi para pemegang tahta kerajaan jaman dulu, tanpa benar-benar menelaah apa manfaat yang sebenarnya bagi kita. Terlebih lagi apabila kita bukan termasuk kaum “mereka.”

Kembali ke rencana pernikahan. Untungnya keluarga saya dan keluarga pacar saya ga keberatan dengan rencana gelaran pesta yang sederhana dan biasa-biasa saja. Kami setuju untuk melangsungkan akad dan resepsi pernikahan pada bulan Juni atau Juli tahun depan. Saya sih milih bulan Juni atau Juli itu ngasal aja… sekenanya, hahaha…

Tinggal milih tanggal deh. Awalnya saya pikir milih tanggal itu mudah. Tapi kemudian pemilihan jadi agak rumit, karena bude saya memerintah menyarankan untuk tidak memilih hari Minggu Pon dan Kamis apaaaaa gitu, karena itu adalah hari-hari meninggalnya eyang putri dan eyang kakung dari keluarga mama di Jogja. Ga mudah, karena saya ga punya tanggalan Jawa. Ada yang punya tanggalan Jawa? Tolong liatin dong… ada hari Minggu Pon ga di bulan Juni dan Juli 2011? >,<

Speaking-speaking tentang resepsi pernikahan… kami akan mengejawantahkan adat nenek moyang saya, yaitu adat Jogja. Saya sangat suka adat pernikahan Jogja, karena selain memang menarik, mungkin saya juga suka karena adat ini sejak jaman dulu digunakan di upacara pernikahan para putri Keraton. Waw waaaaw… (Wah benar nih…. susah ya untuk ga ngiri sama putri Keraton…. ga heran deh orang susah lepas dari budaya pesta :p)

Nah, abis itu tinggal milih bajunya deh…. Setahu saya, ada 3 jenis busana pengantin di adat pernikahan Jogja. Masing-masing dipakai pada kesempatan yang berbeda. Tapi seiring berjalannya waktu, aturan penggunaan busana ini tidak terlalu diperhatikan.

Ini dia ragamnya:

Busana Paes Ageng, di mana kedua mempelai menggunakan kemben/dodot. Busana ini dipakai oleh Mbak Dian Sastro di acara resepsi pernikahannya. Masya Alloh cantiknyaaaaa.. πŸ™‚ 
Busana Jogja Putri, di mana mempelai wanita menggunakan kebaya sederhana dengan sanggul rambut yang agak “mekar” ke samping. Ini juga dipake sama saudari kembar saya yang cantik itu.

 Busana Paes Ageng Jangan Menir, kalau menurut saya sih ini seperti perpaduan Paes Ageng dan Jogja Putri. Entah siapa model di foto ini… tapi ini saudari kembar saya juga :p
Tinggal depeleh-depeleh nih… Sebenernya saya sukaaaa banget sama busana Paes Ageng. Kayanya keren aja gitu pake batik dari atas sampe bawah. Tapi kayanya opsi ini agak tidak memungkinkan, karena pacar saya agak terlalu kerempeng…. jadi pasti nanti saya keliatan gemuk banget. Males deeeeh -_-
Yang Jogja Putri juga bagus (pokonya semua yang dipake Dian Sastro saya suka deh :p), tapi sayangnya kalau muka saya yang bulat ini dipadukan dengan model sanggul seperti itu, bakal tambah buntet deh. Ntar undangannya pada bingung, ini yang nikahan manusia apa donat?
Jadi ya pilihan saya akhirnya jatuh ke busana Paes Ageng Jangan Menir. Walaupun ada niatan juga untuk memaksa menyemangati si pacar supaya mau nambah bobot berat badan, supaya kita bisa pake busana Paes Ageng, hehehehe…. Wah, jangan-jangan biaya nikahan paling gede malahan buat beli Appeton Weightgain, hahaha…. xD
Lalu bagaimana nuansa pestanya? Lalu bagaimana souvenirnya? Undangannya? Makanannya?
Sabar…. Tunggu saja tanggal mainnya, hihihihi. *Sok laku mode on* 
11

Otong, Radit, dan Jani


Ini adalah anggota keluarga baru yang dibebaskan dari sebuah toko akuarium di Ciwalk Bandung pada hari Selasa, 8 April 2008, pukul 19.00 WIB. Toko Akuarium “Gampang Ingat” tepatnya.


Ini adalah rumah baru mereka, akuarium peninggalan penghuni kos terdahulu


Peralatan dan bahan yang dibeli


Sang pembebas


Sang pembokat


Sang terbebas bernama Otong (Mas koki) serta Radit dan Jani (Moli marbel), dengan uang pembebasan sebesar Rp 6.000 untuk Otong dan Rp 2.400 masing-masing untuk Radit dan Jani


* * *


Welcome to the new life.. Mudah-mudahan kalian betah tinggal di rumah yang baru.. Saya dan Yusni akan merawat kalian dengan baik πŸ˜€