62

Tetangga Iwan Fals?

Tiba-tiba saja hari ini saya ingat dengan tempat kerja saya dulu, sebuah tempat yang sangat indah di pedalaman Mentawai. Mungkin ingatan ini terpicu karena tadi malam saya melihat iklan tayangan televisi berjudul “Berburu” yang menampakkan babi hutan yang sedang berlari-lari. Kondisinya mirip sekali dengan di Mentawai.

Tapi sebenarnya bukan babinya yang saya ingat… melainkan cerita tentang Iwan Fals-nya.

Ini adalah cerita yang saya dapat dari Wibi, teman kerja saya yang dulu seorang mahasiswa Kehutanan UGM.

Suatu hari seorang guide (kita sebut saja Justin Bieber) bertanya kepada seorang asisten peneliti bernama Ira, “Ira, kampung Ira di mana?”

Lalu Ira menjawab, “Di Jawa.” Mungkin karena Ira tahu bahwa kalau dia menjawab “Jogja,” Justin tidak akan tahu di mana lokasi tersebut. Minimal kalau Ira menjawabnya dengan nama pulau, Justin akan lebih mengenalnya, karena ini ada di pelajaran SD.

Tanpa dinyana, Justin pun membalasnya dengan antusias, “Wah, di Jawa? Rumah kamu dekat dengan Iwan Fals tidak?”

Saya sampai sekarang ga pernah tau apa jawaban selanjutnya dari Ira. Karena setelah Wibi menceritakan tentang pertanyaan berbau Iwan Fals tersebut, saya langsung tertawa terbahak-bahak. Demikian juga setiap kali cerita itu diceritakan, kami pasti akan kembali tertawa terbahak-bahak, dan cerita itu tidak pernah saya dengar dengan komplit.

Ups, sori… Saya tahu, mentertawakan kekurangan orang lain itu tidak baik, tapi ini benar-benar kocak. Saya tidak bermaksud melecehkan, saya hanya kagum dengan kepolosan si Justin. 🙂

Di sela-sela ceritanya, saya ingat Wibi pernah berkata, “Dia berespon seperti itu karena dia menganggap Jawa itu sebesar Policoman.”

Policoman? Ini memang nama yang agak aneh, tapi ini adalah nama sebuah desa kecil di bagian Utara Siberut, Kepulauan Mentawai. Ada juga yang menyebutnya Polipsoman atau Politcoman. Malah di buku keluaran tahun 80-an, saya menemukan nama Pulipsuman. Ini adalah desa tempat tinggal para guide dan juru masak yang membantu para peneliti primata di Hutan Pungut.

Saya ga punya banyak kenangan dengan Policoman, karena saya hanya pernah menginap di sana beberapa hari, yaitu saat sebelum masuk hutan, saat lebaran, dan saat mau pulang ke Padang. Foto tentang Policoman pun tidak banyak, karena saat itu saya ga punya kamera. Ini adalah foto terakhir saya di Policoman sebelum bertolak ke Padang, yang dijepret menggunakan kamera milik Deden yang lensanya jamuran. 🙂

Bergaya ala preman bersama Deden dan Vera di depan "Betaet," Desa Policoman, Siberut Utara

Dulu, waktu saya kerja di tengan hutan belantara, saya merengek-rengek ingin keluar dari sana. Bukan karena di sana banyak King Cobra, tapi karena saya stres ditekan oleh bos saya yang orang Amerika itu. Walaupun banyak kenangan buruk, tapi di sana juga ada banyak kenangan manis, salah satunya berinteraksi dengan para guide yang polos ini. 🙂 Saya pengen banget bisa ke Policoman lagi untuk bertemu dengan mereka.

Sayangnya saya bukan orang kaya… Kalau saya punya uang banyak, saya akan mengajak Iwan Fals untuk manggung di Policoman, sekalian juga untuk memberi sedikit pengetahuan tentang geografi. 😉

Advertisements
14

Owa Jawa dan Nostalgia Sancang

Kata Anil, bakal ada bule di Forum Hijau Bandung edisi Senin ini. Info itu membuat saya jadi pengen ikutan pertemuan FHB yang diselenggarakan 2 minggu sekali di hari Senin itu. Bukan “bule”-nya yang bikin saya pengen dateng (sori ya, saya ga sekampungan itu hehehe :p), tapi saya pengen dengar hasil penelitian dia yang katanya genrenya lingkungan. *Hahaha, genre… emangnya film?*

Tapi ternyata si bule (yang mungkin ganteng itu) ga dateng, sehingga porsinya dilimpahkan kepada teman perempuannya, yang juga seorang bule asal Amerika Serikat. Namanya Melissa Reisland, seorang mahasiswi University of Wisconsin, yang saat ini sedang menyelesaikan disertasinya tentang Owa Jawa (Hylobates moloch) di Cagar Alam Leuweung Sancang, Garut.

Wuuuuaaaaah… saya demen buanget nih… (bukan Melissanya ya, tapi Owa Jawa-nya… ekeu bukan lesbong kali… *pake gaya bencong*)

Melissa Reisland
Fariz, sang moderator yang merangkap penterjemah
Owa jawa betina bernama Amelia 🙂

Sayangnya Melissa ga banyak cerita tentang penelitiannya, tapi lebih banyak cerita tentang pengalamannya bertemu hewan ini dan itu. Dari hasil penelitian sementaranya, didapat bahwa populasi Owa Jawa di Cagar Alam Leuweung Sancang hanya sekitar 15 ekor! Faktor utama penyebab degradasi populasi ini adalah penebangan liar di dalam cagar alam. Sedangkan dari data hasil pengamatan perilaku, disimpulkan bahwa intensitas kegiatan manusia di dalam hutan telah mengubah perilaku Owa Jawa. Semakin banyak orang masuk ke dalam hutan dan bikin keributan, maka semakin jarang Owa Jawa makan dan melakukan traveling dari pohon ke pohon. Tentang apakah hal ini mempengaruhi populasi Owa Jawa atau tidak, dia tidak menjelaskan.

Sebenarnya sisa waktu yang ada bisa dimanfaatkan untuk bertanya ini-itu tentang Sancang dan Owa Jawa kepada Melissa. Tapi sayangnya hampir semua orang malah memberi pertanyaan OOT, seperti insenerator, produk daur ulang, dan lain-lain. Kasian si Melissa-nya… Walaupun dia orang Amerika, bukan berarti dia ngerti semua permasalahan lingkungan.

Sementara mereka ngasih pertanyaan yang aneh-aneh, dan si Melissanya pun memutar otak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan aneh itu, pikiran saya melayang ke tahun 2005 silam. Itu adalah waktu di mana saya dan beberapa teman saya luntang-lantung main ke Sancang. Dulu rencananya lokasi ini akan dipakai untuk pelantikan ospek anak-anak angkatan 2004. Jadi rencananya setelah disiksa 14 hari di kota, mereka akan menikmati indahnya alam Sancang selama 3 hari. Tapi sayang sungguh sayang…. setelah semua persiapan dilakukan, tiba-tiba ospeknya dibekukan karena ada anak yang mengadu tanpa alasan jelas kepada mamanya yang juga merupakan dosen di ITB. Sia-sia sudah semua perjuangan tim survey…. 😦

Saat itu saya baru tingkat 2. Kayanya sekarang di ITB udah ga ada deh ospek-ospekan macam ini.

Sayangnya dulu teknologi belum secanggih sekarang, jadi saya ga sempat memback-up foto-fotonya. Saya hanya punya sedikit foto saat jadi tim survey.

Wildan, Arief, Angga, Rime, Novi, Rahma   

Resmi… kita kaya anak ilang

Dudul… malah membelakangi cahaya :p

Walaupun menghadap cahaya, yang mukanya keliatan cuma Rahma, karena kulit kita pada gosong 🙂

Ya ampun… cupu-cupu banget ya…. Saya jadi pengen ke Sancang lagi.. Siapa tau saya bisa ketemu Amelia, Tono, Tini, dan Udin 😀

15

Aceh dan Asam Kranji

Mumpung ah……… mumpung saya belum terlalu ngantuk, dan mumpung hari ini masih tanggal 26 Desember 2010.

Ingatkah teman-teman dengan tanggal ini, tanggal 26 Desember? Bukan hari di mana Indonesia dibantai Malaysia 3-0 di final piala AFF, tapi hari di mana saudara-saudara kita di Aceh terkena musibah tsunami 6 tahun lalu. 
Saya ga akan ngebahas lagi tentang Aceh di tahun 2004. Yang lalu biarlah berlalu… jadi saya akan cerita sedikit tentang Aceh di tahun 2010 😀
Jadi ceritanya begini…. *kismis mode on* 
Sekitar 2 bulan lalu saya berkesempatan jadi trainer BLP di Aceh. Dan di hari terakhir di 2 minggu tersebut, saya dan teman-teman berkesempatan jalan-jalan ke daerah perbatasan Banda Aceh – Meulaboh. Konon lokasi ini adalah salah satu lokasi yang hantaman tsunaminya paling dahsyat. Sebenernya ini bukan jalan-jalan, tapi survey dan hunting foto lokasi dengan infrastruktur alam yang rusak. Rencananya foto-foto ini akan dipakai untuk melengkapi buku yang sedang kami buat. 
Alih-alih mendapat pemandangan alam yang rusak, kami malah lebih sering melihat pemandangan indah. Di satu sisi hati saya disejukkan oleh pantai yang sangat indah, dan di sisi lain mata saya disegarkan oleh hutan yang sangat asri. Di beberapa titik terlihat onggokan puing-puing rumah sisa hantaman tsunami yang ditinggal pemiliknya. Mungkin karena manusia enggan untuk bermukin kembali di sini, suksesi lokasi ini berjalan tanpa hambatan yang berarti.
Ini adalah beberapa foto yang membuat saya terkagum-kagum dengan Aceh…. 🙂 (mohon maaf kalau fotonya butut, ga pro soalnya :p)
Danau alami di perempatan jalan raya Banda Aceh – Meulaboh
Para bebek yang berenang dengan kecepatan 20 km/jam :p
It’s okay to be different
Padang rumput yang menyatu dengan hutan 🙂

Sungai yang tenang
Colorful nature
Pabrik semen yang mengganggu pemandangan :p
Jalannya buntu. Jalan yang aneh…
Baru kali ini saya nemu jalan yang buntu. Katanya jalan bagus nan mulus ini didanai oleh USAID. Jalan aslinya udah rusak berat, dan posisinya lebih dekat dengan bibir pantai. Di sepanjang perjalanan, jalan ini sudah membelah beberapa bukit gamping… jadi ini adalah bukit gamping yang kesekian yang dihancurkan. Sayang banget ya bukit-bukit ini dipecah-pecah 😦
Karena buntu, akhirnya kita putar balik deh…. 
Nah, itu dia pantainya… Pantai… pantai….!
Ternyata ada dermaganya. Katanya sih buat ngapalin semen dari pabrik semen yang lokasinya ga jauh dari situ. Yang tadi fotonya saya pasang itu loh…
Waw… waw… keren kan?
Pantai batu 🙂
Passss banget buat pacaran… :p
Nira yang sibuk mencari kerang
Eh ada Mr. Krab 😀
Sayangnya waktu kami ga banyak. Dalam satu jam ke depan kami harus udah makan siang dan check in di bandara untuk bertolak ke Jakarta. Tapi petualangan belum selesai, sodara-sodari…..
Eeeeaaaaaa “yang punya jalan” keluar….
Di Aceh saya banyak sekali menemukan sapi dan kambing yang berkeliaran di pinggir jalan. Mungkin ini yang membuat rasa daging sapi Aceh lebih enak… sapinya ga stress :p
Ke sono-annya lagi (halah bahasanya) ada banyak ibu-ibu yang menjual buah berbentuk bulat kecil-kecil berwarna hitam. Ternyata itu adalah asam kranji (atau Bahasa Inggrisnya velvet tamarind), buah yang sudah langka di Indonesia. Harganya murah, hanya Rp 10.000,00 per ikat. Rasanya hampir sama dengan asam jawa. Hanya saja bentuknya lebih kecil, kulitnya lebih lunak, dan jumlah biji per buahnya cuma satu (kalau asam jawa kan jumlah bijinya sabondoroyot :p).  
Beginilah rupanya:
Asam kranji (Dialium indum)
Gara-gara posting tulisan ini… saya jadi ingat bahwa biji-biji asam kranji yang saya simpan dulu belum saya tanam satu pun. Saya akan tanam biji-biji ini besok pagi, dan pohonnya akan saya rawat dengan baik demi dua tujuan. Pertama, saya ingin anak cucu saya nanti kenal dengan tanaman asam kranji. Dan kedua, saya ingin mengenang bahwa saya pernah datang ke Aceh, tempat di ujung Barat Indonesia yang alamnya begitu indah…. yang membuat saya selalu ingin mengenangnya 🙂
Nanti kalau pohonnya sudah tumbuh, saya akan kabari lagi, hehehe….
Pokonya I love Aceh dan asam kranji… 🙂
14

Peraturan yang Aneh

Ada yang aneh ga dengan gambar di atas? 
Ini adalah mie goreng yang saya pesan waktu saya makan siang di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru. Waktu saya tanya sama mbak-mbak pramusaji di restoran tersebut, beginilah jawabannya: “Soalnya mbak udah melewati pemeriksaan X-ray, jadi ga boleh lagi ada benda tajam setelah pos pemeriksaan itu.”
Oh gitu ya… saya baru tau kalau garpu itu masuk dalam kategori benda tajam sehingga dilarang masuk ke pesawat. Saya pun kemudian terlibat dalam obrolan ga penting bersama Mas Oi dan Kak Ryan dengan pertanyaan pancingan “kenapa kita ga boleh bawa benda tajam?” Salah satu dari mereka lalu menjelaskan bahwa bisa saja benda tajam itu dipakai untuk memecahkan kaca jendela pesawat… atau nodong pramugari misalnya.
Oooooh…. Tapi, tapi…. bukannya kalau kita naik Garuda Indonesia kita dapet makan berat, dan kita “dipinjemin” peralatan makan lengkap mulai dari sendok, garpu, pisau, sampe tusuk gigi (yang biasanya kita colongin)? 
Hmmm…. Nah lo…. berarti ini adalah peraturan yang aneh 😉
17

Bali Trip 2007 Day 1: Nyampe di Bali (Cerita Bali bagian 2)


Ngelanjutin cerita yang kemaren ah…

Yak.. setelah beberapa menit sebelumnya kami bertiga (gua, Salwa, dan Lambok) pusing mikirin gimana caranya supaya kita bertiga bisa masuk ke dalam pesawat tanpa bermasalah, kami pun akhirnya bisa duduk dengan tenang. Sebenernya ga terlalu tenang sih.. soalnya Salwa dan Lambok berantem mulu rebutan tempat duduk deket jendela. Padahal itu kan tempat duduk gua..
Tau berantem gini, aturan tadi gua aja yang duduk di situ..

Sejak awal, Salwa udah mendominasi tempat duduk yang jadi sengketa itu. Sayangnya dia membuat kesalahan dengan pergi ke WC saat di tengah-tengah perjalanan. So, udah jelas lah si Lambok bakal mengambil alih tempat duduk itu dengan semangat 45 layaknya kucing yang menerkam jambal roti, hahaha. Maka cita-cita Salwa untuk melihat ke luar saat pesawat landing di Bandara Ngurah Rai pun kandas seketika…


Kita nyampe Bandara Ngurah Rai Bali pukul 15.00 WITA dengan waktu keberangkatan dari Jakarta pukul 13.15 WIB.


Motonya sambil jalan.. tapi keren kan..?


Suasana di Bandara Ngurah Rai Bali

Di Bandara Ngurah Rai, kita udah dijemput sama panitia, yang ternyata anak IPB semua. Yang ngejemput waktu itu Mara ma Ajis.. orangnya bocoooooorrrr banget (rame maksudnyah). Ternyata pas kita nyampe, anak-anak dari Singapura dan Filipina juga baru nyampe. Trus kita pada kenalan deh…



Mara, Lambok, Rime
Baru kenalan sama Mara, tapi kita langsung banci foto bareng, hahaha..

Dari bandara harusnya kita langsung didrop ke hotel. Tapi berhubung mobil rentalnya cuman ada satu, mereka para “bule” dianterin terlebih dahulu. Kita-kita yang orang Indonesia mah belakangan aja… kita mah di sini aja ngerumpi dulu.. ya ga mbok..?



Si mbok pilih kasih nih.. masa bule dikasih bunga gratis, tapi kita harus bayar goceng?


Poster-poster bertemakan anti global warming merajalela di bandara

Setelah menunggu cukup lama di bandara, di mana para supir ngetawain Lambok kita gara-gara ketawa kekencengan, akhirnya kita caw juga ke Ramayana Resort and Spa, hihiy…

Nyampe di Ramayana, kita disuruh cek in dan bersiap-siap buat seremoni pembukaan acara ntar malem. Gua dapet room mate orang Thailand, namanya Sainum (baca: Sainam). Ternyata dia dah di sini sejak 2 hari lalu, dan tadi pagi dia pergi seorang diri ke Nusa Penida buat nyelam, hohohoho… mandiri sekali anak ini…


Beli-beli resepsionis


Kamar di zona Kampoeng Bali, dan pemandangannya

Coba tebak tempat tidur gua yang mana? Exactly.. yang berantakan itu… hahahaha…


Pukul 19.00 WITA, acara seremoni pembukaan dilakukan. Karena konferensi ini kecil-kecilan, ruangan yang dipake ga gede-gede amat.. cuman aula hotel aja. Acara dibuka dengan sambutan dari para bapak petinggi UNEP. Gua rada nggak ngeh mereka ngomong apa.. secara pada berlogat Singapura dan India sih, jadinya Bahasa Inggrisnya ga jelas gitu, hehehe…


Mbak Salwa, jangan gigit jari mulu ah..

Abis acara pembukaan, kita makan malam. Ternyata malam ini beberapa peserta UNFCCC pada dateng ke sini. Entah lah mau ngapain.. mau ngeliat orang-orang lucu kali.. hehehehe…

Pas makan malem, gua semeja berdua sama Irma. Tapi kemudian jadi berempat dengan karena ada seorang bapak-bapak UNFCCC dari New Zealand dan Ibu-ibu dari Bhutan. Terus terang, gua lupa di mana letak Bhutan…

Nama restoran di hotel ini adalah Gabah Restaurant. Suasananya asik banget… kebetulan lagi pake dekorasi natal, dan ada rumah Santa yang terbuat dari kue. Cozy abis.. restorannya bersinggungan langsung sama jalan.. cuman dipisahin sama kolam ikan dan patung-patungan aja..


Salah satu sudut Gabah Restaurant

Ya ya.. gua suka suasana restorannya, tapi gua ga suka suasana di meja makan gua. Sementara temen-temen lain lagi pada makan sambil ketawa-ketawa ngakak, gua sama Irma harus makan dengan sopan dan kalem.. Ya wajarlah.. di meja kami kan ada orang-orang tua… Ah, jadi ngantuk nih gua..

Bersambung…

13

Bali Trip 2007 Day 1: Ngibulin Polisi

Terima kasih buat teman-teman yang udah berbela sungkawa di postingan gua yang ini, karena mungkin berkat doa dari kalian semualah, gua ga jadi ditolak sama SEAYEN, gyaaaahahahahhaha…

Koreksi, yang nyelenggarain acara ini tuh UNEP, bukan UNFCCC, hehehehe…

Kesan hari pertama: dudul. Keknya gua kurang afdol deh perjalanan jauh tanpa kedudulan di hari pertama

.

Bandung, 9 Desember 2007

Gua pasang alarm jam 4… rencananya begitu bangun langsung packing dan sarapan, trus berangkat dan nyampe di Xtrans jam 06.15 WIB. Tapi dasar kebo, walopun alarm udah snoozing seribu juta kali, gua kagak bangun-bangun. Thanks God, pagi itu Sita nelpon gua buat nyariin Eko, jadinya gua bisa bangun dan menjalankan rencana..

Akhirnya berangkatlah gua ke Cipaganti, menuju basis Xtrans untuk segera berangkat ke Bandara Soekarno-Hatta.

Singkat cerita gua nyampe di Bandara Soekarno-Hatta. Ini first time experience gua ke bandara loh.. *katrok banget emang*. Karena travelnya oke banget dan jalan di Jakarta ga macet, gua nyampe di bandara jam 08.30 (menurut jadwal sih harusnya nyampe jam 09.30). Dan karena gua janjian ketemuan ma Salwa jam 11.00, jadinya selama dua setengah jam penuh gua jadi kek anak kebo kehilangan emaknya.

Jam 11.30 Lambok datang dengan agak tergopoh-gopoh karena takut telat akibat terjebak macet sejak di Bogor.

Jam 12.00 kita check in. Argh, gua lupa banget kalo gua ga punya KTP gara-gara dompet gua ilang… gua dah bikin surat keterangan RT/RW sih, tapi ketinggalan di log book TA. Ahhh… siyal siyal siyal..

Saat itu gua udah mulai ga tenang, takut ga bisa boarding… dan kita bertiga cuman ber-H2C (harap-harap cemas) moga-moga aja 2 ID card bisa dipake buat ber-3…

Ternyata doa kita ga terkabul. Gua ga boleh boarding sampe gua bisa nunjukin kalo gua adalah Warga Negara Indonesia yang legal. Yo oloh tolong… boardingnya satu jam lagi.. bijimana inih..?

Tring… Bikin surat kehilangan dari polisi….!!! Yap, inilah cara yang paling ampuh dan mudah tanpa keluar biaya sepeser pun, hahahaha… Maka langsunglah saat itu kita lari-lari nyari pos polisi. Pas udah ketemu, kita langsung bilang *sambil sedikit ngibul* “Pak, kita mau boarding, tapi salah satu dari kita dompetnya ilang.. Di sini bisa bikin surat kehilangan gak pak?”

Dan si pak polisi muda pun menjawab “Wah, maaf dek, saya ga bisa bikinin.. ini cuman pos, bukan kantor polisi. Kalo mau, adek bisa ke polres di sana, deket kok.. setengah jam juga nyampe…”

Trus dengan ga sopannya kita bilang “Yah pak.. ga sempet dong kalo kita harus ke polres dulu.. kan mau boarding jam 1. Bapak punya motor ga? Bapak mau ga nganterin kita?” sambil pake ekspresi seperti ini:

Untungnya Salwa cantik, dan si pak polisi muda pun baik hati dan mudah dirayu, hehehe… jadi si pak polisi pun bersedia memboyong gua ke polres saat itu dengan motornya.

Sebelum masuk ke dalem kantor polres, si pak polisi muda sempet ngewanti-wanti gua: “Pokoknya nanti kamu jangan bilang mau boarding.. bilang aja kamu lagi ngejemput sodara, trus dompet kamu ilang. Inget ya… Soalnya banyak orang yang suka pura-pura ilang KTP trus bikin surat kehilangan palsu gara-gara beli tiket lewat calo…”

Tampak berpengalaman menghadapi orang seperti yang diceritakan oleh si pak polisi muda di atas, si pak polisi polres pun menginterogasi gua dengan pertanyaan menjebak:
“Nama kamu siapa?”
“Yang ilang apa aja?”
“UDAH BELI TIKET?”

Hampir aja gua bilang “udah”. Untungnya sebelum terucap kata “udah”, si pak polisi muda segera bilang “Dia cuman ngejemput sodaranya aja kok..” dengan suara yang cukup keras untuk menyembunyikan suara gua.

Beberapa menit kemudian surat kehilangan pun sudah di tangan, dan gua jadi terbang ke Bali… Horeee…

Gua baru kali ini loh ditolongin sama polisi. Selama ini kan pengalaman gua selalu kena tilang. Ternyata polisi ada gunanya juga, hehehe… Makasih banyak loh pak polisi, baik pak polisi muda maupun pak polisi yang kami tipu :D.. Semoga bapak-bapak sekalian gampang jodoh dan rejekinya lancar…

Bersambung…

98

Sindangkerta: Antara TA, Surga, dan Narsisisme

Akhirnya… setalah menunggu selama 8 bulan lebih karena pengerjaan konsep, akhirnya hari ini gua kembali ke pantai ini. Horeeee….

* * *

14 September 2007

Perjalanan dimulai pukul 11.30 dengan start keberangkatan dari lab. Sebenernya rencananya sih berangkat jam 9. Gara-gara si Depe ngebatalin diri mau ikut tapi ga bilang2 nih, jadinya waktu kita terbuang percuma.. Secara kita jadi ngaret gara2 nungguin dia.

Pukul 15.00 gua dan Lerry tiba di terminal Tasikmalaya. Gua sempat tercengang, karena ternyata terminal di kota ini sangat bersih dan bagus. Lerry bilang terminal ini seperti bandara. Terminal di Bandung kalah deh pokonya :p

Ternyata bus menuju Cipatujah baru akan berangkat pukul 17.00… alamakjang…

* * *

15 September 2007

Pertempuran dimulai pagi siang ini. Secara pada tanggal ini zona intertidal masih tergenang oleh air pasang pada pagi hari, maka anveg dilakukan pada siang hari. Selama pengerjaan TA di site, kami dibantu oleh seorang petugas suaka margasatwa bernama Hendri, yang kami kira baru lulus SMA tapi ternyata umurnya udah 26, hihihihi…

Peralatan tempur

Jalan yang harus dilewati sejauh 2 km dari homestay menuju site

Ini nih yang namanya padang lamun… objek penelitian gua..

Ini plotnya…

* * *

16 September 2007

Agenda hari ini adalah ngelanjutin anveg kemarin dan latihan pengamatan penyu buat besok. Sebelum ke site, gua poto2 dulu si tukik-tukik lucu ini..

Ah ah ah… gua mau dipoto..

Tukik-tukik dan sandal jepit

Belajar ngamatin penyu

Sambil nunggu air surut, Hendri mengajak kami untuk berkeliling melihat jenis-jenis ikan hias yang ditangkap oleh nelayan dan dipejualbelikan secara lokal. Sayangnya ikan-ikan hias yang ada di tempat penampungan mati sejak kemarin gara2 mati listrik. Katanya ikan hias karang tuh ga tahan kalo ga pake aerator.

Ini dia ikan yang tersisa..

Ikan Gogot, salah satu jenis ikan di game Feeding Frenzy, hehehe.. 🙂

Terumbu karang dalam ember, siap dijual.. kasihan kali kau nak..

Abis jalan-jalan, kita kembali ke site. Sebelum memulai anveg lanjutan kemarin, kami main-main dulu di pantai.. Saat air surut kita bisa liat terumbu karang dengan jelas loh..

Seperti sawah

Waaaa… keren ya…

Siput laut sedang menyantap Ulva sp.

Waaa… Scorpion fish..!!!

* * *

17 September 2007

Hari ini agendanya pengamatan perilaku dan intensitas kemunculan penyu saat air pasang, abis itu pulang ke Bandung.. asik.. asik.. asik..

Paginya sebelum pengamatan, Hendri mengajak kami untuk ikut melepas tukik ke laut. Harusnya sih jadwal pelepasannya minggu depan, tapi berhubung minggu depan gua dan Lerry ga ke sini lagi, jadinya dilepasnya hari ini deh.. hehehehe…

Sang penyelamat penyu

Karapas Penyu hijau (Chelonia mydas)

Ini plastronnya..

Ayo.. ayo.. berbaris yang rapi ya anak-anak..

Ayo kejar ombaknya…!!! Selamat jalan Jack and Sally… 😦

Plang Suaka Margasatwa Sindangkerta

Siangnya, saat gua dan Lerry hendak menuju site, ternyata tempat penangkaran sedang dibersihkan. Gua dan Lerry kemudian mengendap-endap masuk ke dalam, dan menemukan mahkluk-makhluk ini…

Yang coklat adalah Penyu hijau normal dan yang putih albino.. katanya si penyu albino ini ga bisa hidup normal di laut, makanya setelah setahun lalu dilepas, dia kembali lagi ke darat dan ‘memilih’ untuk dipelihara manusia saja..

Tukik-tukik Penyu hijau yang imut-imut… Yo oloh lutuna..

Penyu sisik yang sedang murung

Abis dari curi-curi masuk tempat penangkaran, kami menuju site untuk mencatat perilaku dan intensitas kemunculan si penyu. Waktu yang paling tepat untuk melihat penyu adalah saat air sedang pasang secara maksimal. Dari satu tarikan ombak, kemunculan penyu bisa mencapai 25 kali.. wew.. fantastis…

Ini nih keadaan saat air pasang..

Setelah mencatat apa yang perlu dicatat, kami pulang ke Bandung. Dan berhubung ini adalah blog narsis, maka gua tutup postingan ini dengan foto ini, hahahahaha….

Karena narsis adalah nama tengah kami, ahahahahaha…. xD

*harap maklum lah…*


SAMPAI JUMPA…!!!!

* * *

Catatan perjalanan Bandung – Sindangkerta (siapa tau ada yang butuh)

11.12 – 11.30 Kampus – Terminal Cicaheum (Rp 3000,00)

12.45 – 15.00 Terminal Cicaheum – Terminal Tasikmalaya (Rp 15.000,00)

17.00 – 20.30 Terminal Tasikmalaya – Cipatujah / Sindangkerta (Rp 20.000,00) [hanya beroperasi pukul 07.30 dan 17.00]