11

Tesso Nilo: Jembatan Perkembangan Ekowisata Indonesia

Mungkin tidaklah berlebihan jika saya menilai perjalanan saya ke Taman Nasional Tesso Nilo Riau tahun lalu merupakan sebuah wujud dari impian yang menjadi kenyataan. Ya, saya sejak lama telah bermimpi untuk bertualang ke tempat seperti ini, tempat di mana keanekaragaman hayati begitu berlimpah dan keindahan terpancar dari segala sisinya. Dengan sejuta pesonanya, Tesso Nilo siap menjadi jembatan bagi perkembangan ekowisata Indonesia.

Pulau Sumatera kehilangan hampir 50% hutan alamnya dalam rentang 25 tahun. Tesso Nilo adalah satu dari yang tersisa. Terletak di Provinsi Riau, Tesso Nilo adalah salah satu habitat terpenting yang tersisa bagi gajah dan harimau sumatera yang terancam punah. Tesso Nilo juga merupakan hutan dengan keanekaragaman tumbuhan berpembuluh terkaya di dunia. Maka alangkah beruntungnya saya, karena kala itu – Maret 2011 – saya dan rekan saya Lena Gottschalk berkesempatan menjelajahi hutan Tesso Nilo bersama rekan-rekan dari WWF Indonesia dan WWF Jerman selama beberapa hari.

**

Rima dan Lena di depan kantor Balai Taman Nasional Tesso Nilo. Photo (C) Annisa Ruzuar / WWF-Indonesia

Petualangan dimulai ketika jalan aspal perlahan berganti menjadi jalan tanah, dan tembok-tembok beton perlahan mulai hilang dari pandangan. Selama kurang lebih 4 jam perjalanan dari kota Pekanbaru menuju Taman Nasional Tesso Nilo, mata kami disuguhi pemandangan beragam. Perkotaan, perkebunan akasia dan sawit, lahan gambut yang baru dibuka, hutan yang terbakar, lahan kosong, hingga akhirnya hutan tropis yang sangat lebat. Tibalah kami di Flying Squad Camp.

Jalan menuju Taman Nasional Tesso Nilo

Flying Squad Camp adalah kamp milik WWF yang juga dikelola oleh Balai Taman Nasional Tesso Nilo. Kamp ini merupakan markas dari Elephant Flying Squad atau Pasukan Gajah Reaksi Cepat, yaitu gajah-gajah yang diselamatkan dari bagian lain di Sumatra kemudian dilatih untuk menjadi gajah patroli di Taman Nasional Tesso Nilo. Patroli ini dilakukan untuk meminimalisir konflik yang terjadi antara manusia dengan gajah liar. Bersama para gajah Flying Squad, polisi hutan secara rutin berkeliling Taman Nasional dna mencegah gajah liar masuk ke permukiman atau perkebunan milik masyarakat.

Sebuah kantor berdinding beton berdiri tegap di dekat pintu masuk wilayah kamp. Di belakangnya berdiri dua bangunan beton lain dan sebuah bale-bale. Di dua bangunan ini lah kami akan menginap. Saya tidak pernah menyangka sebelumnya, bahwa berada di tengah hutan bukanlah alasan untuk tidak bisa tidur nyenyak di kasur yang empuk dan mandi di kamar mandi  yang bersih. Kalau enak begini sih, siapa yang tidak mau? 😀

Penginapan di Flying Squad Camp Tesso Nilo

Suasana di dalam kamar penginapan

Terbangun di pagi hari di suatu tempat baru selalu menimbulkan sensasi berbeda, begitu pula dengan yang saya alami di Tesso Nilo. Suara sautan kodok yang sangat keras membangunkan saya pagi itu. Menurut salah seorang petugas di sana,  pada pagi hari kita bisa mendengar suara ungko, kodok, dan gajah yang bersaut-sautan keras. Mungkin saya tidur terlalu lelap, sehingga saya tidak mendengar suara ungko dan gajah pagi itu. Begitu lelap, karena saya mempersiapkan diri untuk bermain bersama para gajah hari ini.

Sejak pagi hari, para mahout (pawang gajah) sudah bersiap dengan gajah masing-masing. Sebelum menjelajahi hutan Tesso Nilo dengan menumpaki punggung gajah, kami belajar membuat “brownies gajah” terlebih dahulu. Brownies ini akan menjadi kejutan bagi para gajah di sore hari nanti.

Ternyata membuat brownies gajah tidaklah terlalu rumit. Yang paling kami butuhkan adalah tenaga yang sangat kuat untuk mengaduk dan memindahkan bahan-bahan yang dibutuhkan ke kuali raksasa. Bahan yang dibutuhkan adalah gula merah, biji jagung, bekatul, mineral pakan ternak, dan air. Kami memasaknya dengan bantuan lalapan api pada kayu bakar yang cukup besar. Setelah matang, brownies dicetak dan dikeringkan di bawah tempat teduh. Brownies ini hanya diberikan seminggu sekali, tidak sering-sering, mungkin supaya gajah tidak bosan makan daun melulu. 🙂

Membuat “brownies gajah.” Photo (C) Annisa Ruzuar / WWF Indonesia

Tibalah agenda yang paling ditunggu: kami menaiki punggung gajah dan menjelajahi hutan selama 2 jam menuju Sungai Nilo. Saya dan Ulrike menumpaki punggung Indro, gajah jantan alfa berusia 27 tahun. Awalnya saya agak gugup, karena saya takut ketinggian. Namun lama-kelamaan saya terbiasa dan mulai menikmatinya. Kombinasi tubuh gajah yang besar dan rapatnya hutan hujan tropis Tesso Nilo membuat kaki saya beberapa kali tersangkut dan terjepit di antara badan Indro dan pepohonan. Bagian paling menghebohkan dari pengalaman menaiki punggu gajah adalah saat kami menyeberangi sungai dan mendaki tanjakan yang sangat curam. Rasanya seperti mau jatuh dan dunia akan segera berakhir. Untunglah mahout Edi yang mendampingi kami dapat meyakinkan kami bahwa semua akan baik-baik saja.

Menjelajahi hutan bersama para gajah. Photo (C) WWF Germany

Sementara kami beristirahat dan menikmati indahnya pemandangan di pinggir Sungai Nilo, para mahout memandikan gajah-gajah yang kepanasan di tengah sungai. Setelah mandi, para gajah mencari makan di pinggir hutan, sementara kami dan para mahout memakan bekal makan siang kami. Makan siang bersama para gajah Flying Squad adalah pengalaman yang sungguh luar biasa bagi saya. 🙂

Kami benar-benar sangat beruntung siang itu, karena kami juga menemukan jejak harimau Sumatera di dasar sungai yang sedang mengering.

Para mahout sedang memandikan gajah di Sungai Nilo

Pasir Sungai Nilo berwarna putih seperti di pantai 😀

Tapak kaki harimau di pinggir Sungai Nilo

Sore hari, sekembali kami bertualang bersama para gajah, ternyata kue yang kami buat pada pagi hari tidak benar-benar mengeras. Mungkin karena adonannya terlalu encer. Pak Syam yang juga merupakan koordinator para mahout di Flying Squad Camp mengajarkan kami cara memberi makan kue kepada gajah. Caranya adalah dengan membentuk kue menjadi bola seukuran setengah bola boling, lalu memampatkannya, dan memasukkannya ke dalam mulut gajah. Kami harus memberi instruksi kepada gajah agar mereka mau membuka mulutnya. Gumpalan kue harus diperlihatkan di depan mata gajah yang mana tingginya lebih tinggi dari pada kepala kami. Lalu kami harus berkata “tinggi, tinggi, tinggi….”, dan gajah akan menaikkan belalainya dan membuka mulutnya. Lalu hap..! Itulah saat yang tepat untuk memasukkan kue. Nyam, nyam, nyam…

Menyuapi brownies ke mulut gajah

“Rima dan Lena, siap-siap ya, habis ini kalian belajar menjadi mahout,” kata Pak Syam. Awalnya saya dan Lena menolak karena takut. Tapi akhirnya kami menjalaninya karena tidak mau melewatkan pengalaman yang sangat berharga ini. Kami belajar menunggangi Rahman, seekor gajah jantan berumur 27 tahun. Ternyata mengendalikan gajah tidak sesulit yang saya bayangkan. Saya cukup “menendang” kecil bagian belakang kuping mereka, atau menepuk bagian kepala tertentu untuk membuat mereka berjalan. Hanya saja dibutuhkan keberanian yang tinggi akan ketinggian, serta ketahanan yang luar biasa terhadap serangga-serangga yang hidup di atas kulit gajah.

**

Kini saya paham mengapa wisatawan mancanegara begitu menggemari ekowisata. Ekowisata memberikan sensasi yang berbeda, lebih dari sekedar pemandangan untuk dinikmati dan dijelajahi. Ekowisata mengandung unsur-unsur edukasi lingkungan hidup dan dilakukan dengan cara yang juga ramah lingkungan. Dengan berekowisata, seorang wisatawan tidak sekedar memanjakan diri dan menghabiskan materi, tetapi juga mempelajari sesuatu dan berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan di wilayah yang disinggahi.

Bertualang bersama gajah hanyalah satu dari paket ekowisata yang ditawarkan di Tesso Nilo. Dari satu petak hutan, dengan satu jenis hewan, di satu kabupaten di Riau saja saya sudah bisa melakukan banyak hal, apalagi jika kekayaan alam lain juga dimanfaatkan untuk menjadi ikon ekowisata. Pantai, laut, pulau-pulau kecil, hutan gambut, sungai-sungai besar, dan suku-suku pedalaman yang hidup di antaranya, masing-masing memiliki ciri khas yang menanti untuk digali dan dikembangkan sebagai ekowisata.

Ekowisata yang tengah menjadi tren saat ini adalah peluang emas bagi Indonesia  untuk mendongkrak sektor pariwisata, mengingat Indonesia dikaruniai kekayaan alam yang begitu melimpah. Dengan mengembangkan ekowisata, bukan tidak mungkin Indonesia bisa kembali menjadi raja di sektor pariwisata di Asia. Namun ini memang bukan hal yang mudah. Perlu kerja keras dan kreativitas ekstra untuk bisa memanfaatkan peluang tersebut.

Tesso Nilo dengan gajah-gajahnya bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan ekowisata Riau, dan lebih luas lagi ekowisata Indonesia. Pada akhirnya, yang terkuatlah yang menang… yang adaptiflah yang bertahan. Ekowisata akan menjadi ikon pariwisata masa depan. Karena tidak seperti wisata konvensional, alih-alih merusak, ekowisata justru melestarikan lingkungan. 🙂

**

Jantung saya masih berdegup sangat kencang saat turun dari punggung Rahman. Namun degup tersebut perlahan mereda saat saya belajar memandikan Indro di Sungai Perbekalan. Ekspresi takut berubah menjadi bahagia saat saya bersama mahout Edi dan Indro tercebur bersama Indro di sungai. Ini adalah bagian terindah dari petualangan saya di Tesso Nilo. Saya ingin memandikan gajah lagi dan suatu saat datang kembali ke tempat ini untuk bermain dengan para gajah Flying Squad! 😀 

Saya memandikan gajah… Yeeeey! 😀

Kami akan kembali ke Tesso Nilo suatu saat nanti.

————————————————————————————

Bagi Anda yang ingin berekowisata di Taman Nasional Tesso Nilo, Anda bisa menghubungi:

Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Jl. Raya Langgan KM 4
Pangkalan Kerinci, Pelalawan – Riau
Telp/fax: +62 761 494728

WWF-Indonesia Program Riau
Perkantoran Grand Sudirman Blok No. B-1
Jl. Datuk Setia Maharaja, Pekanbaru – Riau
Telp : +62 761 855006, Fax : + 62 761 32323
Email : reservasi@tessoniloecotour.com

Situs: http://tessoniloecotour.com/

Download brosur Ekowisata Tesso Nilo di sini.

Rima dan Lena adalah pemenang Forest Friends, sebuah program kerja sama WWF Indonesia dan WWF Jerman yang bertujuan untuk meningkatkan kesadartahuan generasi muda terhadap pentingnya kelestarian hutan. 

Tulisan ini dibuat untuk kepentingan Lomba Blog dalam Rangka Riau Travel dan Tour Fair 2012 dengan tema “Strategi Pengembangan & Promosi Wisata Riau” yang diselenggarakan oleh ASITA RIAU.

Advertisements
5

WWF Forest Friends Uckermark Trip – Day 6: Berlin, Berlin…!

Berlin, Jerman, 29 Juli 2011

Pindah dari Lychen menuju Berlin, sama seperti pindah dari kesunyian menuju kegaduhan, atau dari kedamaian menuju kesibukan. Ya, Berlin adalah kota sibuk yang akan kami jelajahi hari ini.

Salah satu sudut kota Berlin yang sibuk.

Sama seperti cuaca di Lychen kemarin, hari ini Berlin diguyur hujan sejak pagi hari. Dari Motel One— tempat kami menginap semalam—kami berjalan kaki menuju kantor WWF Jerman yang lokasinya tidak berjauhan. Di sana kami bertemu tiga orang perwakilan WWF Jerman yang membagi pengetahuan dan pengalamannya dengan kami seputar dunia konservasi. Masing-masing dari mereka menjelaskan tentang profil WWF Jerman, FSC (Forest Stewardship Council), dan peta GIS hutan-hutan Kalimantan dan Sumatera.

"Surat" dalam bentuk gelondongan kayu berisi boneka orangutan ini dikirimkan kepada para profesional di Berlin, sebagai satu bentuk kampanye FSC - WWF.

Di sana saya juga berkesempatan mempresentasikan kondisi pohon-pohon yang kami tanam di Taman Nasional Tesso Nilo 4 (empat) bulan lalu. Pohon-pohon tersebut kini semakin tumbuh besar. Saya juga mengabarkan tentang pemindahan lokasi penanaman pohon Forest Friends seluas 30 hektar dari Desa Pontian Mekar ke desa lain. Penanaman di Desa Pontian Mekar terpaksa dibatalkan, karena masih terdapat konflik antara penduduk setempat dengan pihak Balai Taman Nasional Tesso Nilo. Hal yang paling dikhawatirkan jika penanaman ini dipaksalakukan tanpa persetujuan masyarakat adalah masyarakat justru merusak pohon-pohon tersebut, bukan menjaganya.

Telepon berdering tidak lama setelah sesi presentasi berakhir. Di ujung telepon, terdengar suara seorang wanita berbicara dengan bahasa Jerman. Dialah jurnalis yang kemarin Silke katakan hendak mewawancara saya dan Lena. Untuk kesekian kalinya kami menceritakan kembali tentang program Forest Friends yang kami jalani. Walaupun begitu, kami tidak pernah bosan menceritakannya, karena kisah Forest Friends ini benar-benar unik dan menarik.

Sisa waktu di Berlin kami manfaatkan untuk berjalan-jalan keliling Berlin. Di Berlin terdapat cukup banyak penyedia paket wisata, di antaranya adalah kapal-kapal wisata yang bergerak hilir mudik di sepanjang Sungai Spree yang membelah kota Berlin. Di sepanjang pelayaran, kami mendapat penjelasan dalam Bahasa Inggris tentang bangunan-bangunan yang sedang kami dilewati. Karena hari sedang hujan, kami tidak bisa duduk di bagian atas kapal yang tidak beratap, kami hanya diperbolehkan duduk di bagian bawah kapal.

Interior kapal.

Kapal wisata lain, dilihat dari dalam kapal.

Tahukah kamu, Berlin adalah salah satu kota dengan jembatan terbanyak di dunia? Di pelayaran kapal wisata in,i kami melewati banyak sekali jembatan. Sayangnya tidak semua jembatan bisa kami lalui, karena rute wisata kami terpotong akibat ditutupnya salah satu kanal di sungai tersebut.

Salah satu jembatan di Sungai Spree.

Gedung Pemerintahan, salah satu bangunan favorit saya di Berlin 😀

Pendeknya rute wisata dan buramnya kaca jendela kapal akibat guyuran air hujan membuat kami sepakat untuk mengambil paket wisata lain menggunakan bus. Terdapat 16 (enam belas) titik persinggahan pada rute bus wisata. Masing-masing tempat memiliki sejarah masing-masing yang menarik.

Saking banyaknya informasi yang saya dapat pada hari itu, saya tidak bisa mengingat semuanya. Titik-titik yang paling saya ingat adalah reruntuhan Tembok Berlin dan Check Point Charlie (yaang dahulunya merupakan pos perbatasan bagian Jerman yang dikuasai AS dan bagian Jerman yang dikuasai Uni Soviet).

Bus wisata.

Check Point Charlie.

Selama di Berlin, Astrid dan Silke mengajak kami bersantap di beberapa tempat makan yang cukup populer di Berlin, juga bersama Lena membantu kami memilih oleh-oleh khas Berlin. Aha.. inilah yang sangat saya suka dari Forest Friends! Walaupun secara harfiah Forest Friends diartikan sebagai “sahabat hutan”, tapi persahabatan kami tidak melulu berkutat pada urusan hutan dan konservasi, tetapi juga menyangkut hal-hal berbau sosial, budaya, serta hal-hal menarik lain yang pantas untuk dibagi.

Interior Ständigen Vertretung, restoran favorit saya dan Annisa.

Saya dan Annisa.

Silke dan Lena.

Sayang sekali kunjungan saya di negara Lena harus berakhir hari ini. Tapi kami tidak bersedih hati, karena kami berjanji untuk terus saling menghubungi dan memberi kabar. Saya dan Lena juga berjanji, suatu hari nanti kami akan berkunjung ke Tesso Nilo bersama untuk memeluk pohon-pohon yang kami tanam 4 bulan lalu, seperti kami memeluk Pohon Oak di Hutan Uckermark.

Berakhirnya kunjungan saya ke Jerman memang menandakan berakhirnya program WWF Forest Friends, tapi kami yakin, semangat Forest Friends tidak akan pernah redup. Semangat Forest Friends akan terus hidup untuk menginspirasi anak-anak muda lain di seluruh dunia untuk melestarikan hutan sebagai penyokong kehidupan makhluk hidup. Viva Forest Friends! 😀

0

WWF Forest Friends Uckermark Trip – Day 5: Last Day in Lychen, Uckermark

Lychen, Uckermark, Jerman, 28 Juli 2011

Awan kelabu tebal menghalangi sinar matahari di Lychen hari ini. Rencana kami berkano hari ini terpaksa diubah menjadi jalan-jalan santai keliling Lychen. Kami dengar tidak jauh dari lokasi penginapan kami terdapat museum Uckermärkische Seen Naturpark. Kunjungan kami ke musem ini akan menjadi salah satu agenda utama kami hari ini. Jika cuaca mendukung, kami bisa mengunjungi tempat-tempat menarik lain di Lychen, pada hari terakhir kami di kota ini.

Wawancara dengan jurnalis surat kabar lokal Uckermark Kurier - Templiner Zeitung, sebelum jalan-jalan. (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Hujan di Lychen. (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Saat berada di halaman depannya, saya tidak menyangka bahwa bangunan yang berdiri di hadapan saya adalah sebuah museum. Dan ternyata itu memang bukan museum, tapi merupakan visitor centre. Dalam Bahasa Jerman, tempat ini disebut Besucherzentrum Uckermärkische Seen. Bangunan cukup mungil dan tampilan luarnya terkesan biasa saja. Saya hampir tidak bisa membedakannya dengan bangunan-bangunan lain di sekelilingnya.

Awetan burung elang di gerbang Besucherzentrum Uckermärkische Seen (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Meskipun ukurannya relatif kecil, konten dari visitor centre ini sangat menarik. Pengunjung tidak dibosankan dengan informasi yang melulu disajikan dalam bentuk deretan tulisan, tetapi juga dalam bentuk video, rekaman suara, permainan, miniatur objek, serta awetan kering hewan. Bisa dikatakan secara keseluruhan bobot tempat ini sangat baik: mendidik dan menyenangkan. Sayangnya semua informasi disajikan dalam Bahasa Jerman. Untunglah Lena dan Silke dengan senang hati berkenan menterjemahkannya kepada saya dan Annisa.

Ternyata WWF punya tempat juga di sini 🙂 (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Saya dan Lena bekerja sama mengantarkan telur ke sarang burung. (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Lena menjelaskan tentang bangunan-bangunan unik yang ada di Uckermark. (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Saya bersama berang-berang yang ternyata ukurannya lebih besar dari yang saya bayangkan. (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Saya dan Lena mempelajari fakta-fakta unik tentang berang-berang. (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Menjadi penebang kayu. (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Tengah hari, kami berkesempatan berbincang dengan seorang petugas visitor centre. Beliau banyak bercerita tentang sejarah Uckermarkische Seen Naturpark (Taman Wisata Alam Uckermark). Statusnya sebagai taman wisata alam membuat aturan-aturan yang ditetapkan di dalamnya tidak seketat aturan-aturan pada taman nasional. Satu hal yang cukup mencengangkan saya adalah mereka tidak memiliki cukup banyak pegawai untuk menjaga dan mengawasi taman wisata alam ini. Penyebabnya klasik: karena tidak terdapat cukup banyak dana untuk membiayai keperluan operasional. Sama seperti di Indonesia, sebagian wilayah di taman wisata alam ini bisa diswastanisasi. Bedanya, di sini si pihak swasta perlu mendapat ijin resmi dari lembaga konservasi seperti WWF atau Greenpeace, sedangkan di Indonesia tidak.

Saya dan Lena berfoto bersama Annisa. (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Rintik hujan masih membasahi Lychen saat kami keluar dari visitor centre. Kami menggunakan kembali jas hujan kami, lalu melanjutkan perjalanan ke arah yang belum kami tentukan sebelumnya. Langkah kami mengantar kami pada sebuah kompleks peradaban masa lalu. Awalnya kami hanya menemukan sebuah rumah sakit tua, tapi setelah ditelusuri, ternyata ini adalah kompleks rumah sakit. Di sekelilingnya terdapat pula kompleks perumahan yang sudah tidak digunakan.

Die Heilstätten Hohenlychen (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Konon rumah sakit yang bernama Die Heilstätten Hohenlychen ini merupakan salah satu rumah sakit termaju di Jerman. Salah satu temuan hebat yang terjadi di rumah sakit ini adalah cara penyembuhan penyakit TBC. Rumah sakit ini didirikan pada tahun 1902, dan berhenti beroperasi pada tahun 1945, saat wilayah ini dikuasi oleh Uni Soviet. Kini saksi-saksi bisu masa lalu yang suram itu disegel dan menjadi milik swasta.

Salah satu bagian Die Heilstätten Hohenlychen. (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Helenenkapelle, gereja di kompleks Hohenlychen, masih digunakan hingga saat ini. (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Kami harus segera bergegas menuju Berlin, meninggalkan Uckermark yang hijau dan damai.. Uckermark yang sangat menginspirasi dan menorehkan kenangan manis dalam ingatan kami. Selamat tinggal Uckermark… Semoga kami bisa kembali ke sini di kesempatan lain. 🙂

2

WWF Forest Friends Uckermark Trip – Day 4: Rawa dan Floß

Lychen, Uckermark, Jerman, 27 Juli 2011

Bocoran informasi yang kemarin saya dapat dari Christoph tentang hari ini adalah hari ini kami akan melakukan aktivitas fisik yang cukup berat, sehingga kami harus sarapan lebih banyak dan membawa bekal makanan, dan satu lagi: memakai sepatu boots tinggi. Sayang sekali hari ini Astrid tidak bisa ikut berpetualang bersama kami, tapi sebagai gantinya, Silke akan menemani kami sampai besok.

Sepatu-sepatu boots (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Kami berkano lagi hari ini, hanya saja tidak berdua-berdua seperti kemarin, tetapi bertiga-bertiga. Dari kantor Treibholz, kami meluncur menuju daratan di seberang danau. Di daratan tersebut terdapat rawa yang ditumbuhi rerumputan, yang juga dikelilingi hutan Pohon Birch.

Menurut penjelasan Christoph, pada masa lalu rawa ini berupa danau. Seiring waktu, air pada danau menyusut sedikit demi sedikit, sehingga akhirnya menjadi rawa seperti sekarang. Kedatangan kami saat itu disambut oleh Ular Cincin atau Ular Rumput (Jerman: Ringelnatter) yang merayap di atas akar rumput. Sayang sekali kami hanya melihat ekor hitamnya sebelum dia merayap cepat menuju hutan.

(c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Rawa (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Seperti rawa-rawa lainnya di belahan dunia manapun, ketersediaan oksigen di rawa sangatlah minim, sehingga proses penguraian terjadi dengan sangat lamban. Satu millimeter lapisan gambut merepresentasikan 1 tahun umur gambut dan kondisi lingkungannya. Jika lingkungan di sekitar rawa mengalami perubahan, maka akan terjadi perubahan pula pada kondisi gambut di permukaan rawa. Itulah mengapa lapisan-lapisan gambut pada rawa dapat menjelaskan sejarah lingkungan di sekitar rawa.

Dengan sejarahnya yang cukup panjang, pastilah rawa yang kami datangi hari ini memiliki banyak lapisan gambut yang berbeda satu sama lain. Untuk membuktikannya, kita harus menggunakan alat khusus yang dibawa oleh Christoph yang berfungsi untuk mengambil sampel gambut yang posisinya cukup jauh dari permukaan.

Christoph Thum (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Sampel gambut yang terangkat (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Dan inilah beberapa lapis gambut yang kami temukan di rawa ini:

Beberapa sampel gambut yang kami ambil (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Lapisan A adalah lapisan saat ini, sedangkan lapisan B diperkirakan merupakan lapisan yang terbentuk sekitar 2.000 tahun yang lalu. Semakin hitam suatu lapisan, berarti semakin banyak kandungan organik yang terkandung dalam lapisan tersebut.

Lapisan C diperkirakan terbentuk pada jaman perunggu (sekitar 3.000 tahun yang lalu). Di dalamnya terdapat potongan-potongan kecil kayu. Kemungkinan besar pada saat itu rawa ini dipenuhi oleh pohon, bukan oleh rumput seperti sekarang.

Lapisan D diperkirakan terbentuk ketika wilayah ini masih berupa danau, karena pada gambutnya terdapat butiran kalsium.

Lapisan E yang memiliki kandungan komponen organik yang sangat rendah, diperkirakan terbentuk pada masa awal terbentuknya danau, yaitu pasca berakhirnya jaman es.

***

Petualangan seru hari ini dimulai pada perjalanan pulang kami menuju tempat parkir kano. Kami harus melewati hutan rawa yang digenangi air dengan kedalaman yang lumayan. Walaupun kami menggunakan sepatu boots tinggi, tapi karena kedalaman air di beberapa titik lebih tinggi dari pada sepatu boots kami, tetap saja kaki kami menjadi basah.

Di hutan rawa (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

(c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Siang itu kami kembali ke kantor Treibholz. Kami turun dari kano, lalu dilanjut naik ke floß. Dalam Bahasa Jerman, floß (baca: flos) berarti rakit besar. Floß digunakan sebagai sarana transportasi tradisional di Lynchen sejak tahun 1720. Hingga saat ini tradisi ini tetap terjaga. Di Lychen, masyarakat merayakan festival floß pada setiap minggu pertama di bulan Agustus pada setiap tahun. Pada festival ini, komunitas pencinta floß akan mempraktekkan cara membuat floß secara tradisional.

Menurut rencana, kami akan makan siang di atas floß yang mengapung di Oberpfuhl. Menu makan siang hari ini sangat-sangat istimewa. Kami disuguhi “goulash”, hidangan sup khas Romania yang terbuat dari daging sapi dengan bumbu paprika. Kata Christoph, kami tidak perlu khawatir akan kualitas daging goulash ini, karena daging sapi yang digunakan berasal dari sapi muda yang mereka pelihara selama 2 tahun. “Saya jamin, sapi ini hidup bahagia,” tambahnya sambil tertawa.

Saya tidak pernah makan goulash sebelumnya, dan saya mendapat kesan yang sangat baik pada kesempatan pertama. Saya baru tahu belakangan bahwa ternyata rahasia nikmatnya goulash ini terletak pada paprikanya. Yana, istri Marcus yang memasak goulash ini untuk kami, menceritakan rahasia itu pada kami, dan dia mengaku menggunakan paprika asli Romania.

Di floß (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

"Goulash" (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Saya tidak terlalu ingat, tapi sepertinya masing-masing dari kami menghabiskan 2 piring goulash dan beberapa potong roti siang itu. Angin yang berhembus di Oberpfuhl membuat kami terkantuk-kantuk pada perjalanan kami menuju “pulau petualangan” kedua yang tidak kalah seru.

Kami turun dari floß dengan membawa satu set peralatan untuk memotong rumput. Di rawa yang tidak jauh dari tempat kami mendarat, Christoph mendemonstrasikan cara memotong rumput menggunakan mesin pemotong. Annisa sangat ingin mencoba menjalankan mesin tersebut, tapi sayangnya mesin ini hanya boleh dijalankan oleh orang yang mengantungi ijin. Dengan cekatan Christoph memotong rumpun demi rumpun rerumputan di rawa tersebut. Selanjutnya adalah tugas kami untuk mengumpulkan potongan-potongan rumput tersebut ke atas ponco, lalu membawanya ke pinggiran rawa.

Christoph menjalankan mesin pemotong rumput (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Saya, Annisa, Lena, dan Silke mengumpulkan potongan rumput (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Kira-kira begitulah pekerjaan yang dilakukan oleh Christoph dan para relawan setiap tahunnya. Pemotongan rumput dilakukan setiap bulan Agustus, karena pada bulan inilah rumput berbunga dan menyebarkan bijinya. Pemotongan rumput yang dilakukan setiap tahun ini bukanlah tanpa alasan. Ini adalah salah satu program pemerintah setempat dalam menyukseskan pelestarian bioma Uckermark, yang salah satunya adalah rawa. Tumbuhnya rerumputan yang diikuti pepohonan di rawa akan menyebabkan menurunnya tingkat ketersediaan air di rawa tersebut. Padahal fungsi rawa sangatlah penting bagi kelangsungan hidup ekosistem lain di sekitarnya.

Masih ingat kan dengan sebutan Indiana Jones yang kami berikan kepada Christoph? Hari ini kami mendapat satu alasan tambahan untuk memanggilnya Indiana Jones: yaitu karena Christoph sangat paham tentang flora dan fauna di Uckermark. Dalam setiap perjalanan kami di tengah hutan, beliau seringkali berhenti untuk menjelaskan hal-hal menarik tentang flora atau fauna yang kebetulan kami temui. Begitu juga pada saat perjalanan kembali menuju floß.

Saat itu Christoph menjelaskan tentang hubungan simbiosis mutualisme antara Pohon Birch dengan suatu jenis jamur yang hidup di sebelahnya. Hubungan unik mereka adalah Pohon Birch memberi keteduhan kepada jamur agar jamur bisa hidup dengan nyaman, dan sebagai balasannya jamur menyumbang air dan sebagian nutrisi kepada pohon Birch. Hubungan yang sangat cantik, bukan? 😉

Belajar dari sang Indiana Jones 🙂 (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Christoph mengarahkan floß menuju bagian Selatan Oberpfuhl, tempat di mana kami menghabiskan sisa hari ini untuk berenang dan berlatih prosedur keselamatan kecelakaan kano. Seharusnya latihan ini dilakukan kemarin. Tapi tidak apalah, siapa tahu latihan ini berguna untuk kesempatan lain.

Angsa-angsa dan bebek-bebek yang mendekati floß kami (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Saya dan Lena berenang di Oberpfuhl (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Saya sebenarnya tidak terlalu berani berenang tanpa pelampung, apalagi di danau yang kedalamannya mencapai 30 meter lebih. Tapi kemudian saya menjadi lebih berani setelah Annisa dan Lena mengajari saya tentang cara mengapung yang baik. Saking asyiknya kami berenang, bisa-bisa kami tidak mau naik floß cepat-cepat. Hanya saja saat itu air danau sangat dingin, sehingga tidak ada alasan bagi kami untuk berlama-lama di dalam air.

Hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan! 😀

0

WWF Forest Friends Uckermark Trip – Day 3: Amazing Rivers and Lakes

Lychen, Uckermark, Jerman, 26 Juli 2011

Hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu, karena sesuai jadwal yang telah dibuat, hari ini kami akan berkano mengarungi sungai dan danau di Lychen, Uckermark. Ini adalah pengalaman pertama saya berkano, jadi saya benar-benar tidak sabar! 😀

Kami kembali bertemu Cristoph Thum pagi ini. Berbeda dengan kemarin, kami mendatangi beliau di kantor Treibholz yang berlokasi di pinggir (Danau) Oberpfuhl (Inggris: Upper Lake). Kantor mungil ini terbuat dari kayu dan menghadap danau. Di bagian pinggirnya, terparkir beberapa kano yang ditata terbalik di atas balok-balok kayu, dan di bagian belakangnya tergantung berbagai macam peralatan berkano. Dari banyak peralatan tersebut, yang kami gunakan adalah dayung, dry bag (tas khusus untuk melindungi barang-barang kami dari air), dan tentu saja kano.

Di bagian depan Kantor Treibholz (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Oberpfuhl (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Sama seperi kemarin, seharian ini kami akan ditemani oleh Cristoph, sang Indiana Jones dari Jerman. Christoph menjelaskan bahwa hari ini kami akan menempuh perjalanan berkano sejauh +16 km, menyusuri beberapa sungai dan danau. Di tengah-tengah perjalanan, kami akan beberapa kali mendarat dan menggotong kano ke lokasi pengarungan berikutnya. Pengarungan akan dimulai dari sungai yang bermuara ke Danau Platkowsee, lalu menuju Danau Zensee, dan berakhir di Oberpfhul.

Dengan mobil van-nya, Marcus mengantar kami hingga ke titik pengarungan pertama. Tiga kano yang akan kami gunakan terkaitkan pada bagian belakang mobil. Selanjutnya, kamilah yang bertugas mengangkut kano-kano ini ke pinggiran sungai. Kano-kano ini memang terlihat ringan, tapi ternyata cukup berat. Walaupun kami menggotongnya berempat, tetap saja otot-otot lengan kami dibuat pegal karenanya. Ajaibnya, Cristoph bisa menggotong satu kano tersebut seorang diri. Itulah kenapa kami menyebutnya Indiana Jones, terlebih dengan topi koboinya yang selalu terpasang menutupi rambut panjangnya.

Danau Platkowsee (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Mengangkat Kano (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Air di danau Platkowsee dan sungai-sungai yang bermuara ke sana sangatlah jernih. Menurut penjelasan Christoph, alasannya adalah karena air tersebut telah tersaring oleh pasir silika pada perjalanannya dari badan air sebelumnya. Penyaringan oleh pasir silika ini tidak hanya membuat air di Danau Platkowsee terlihat jernih, tetapi juga membuatnya miskin nutrisi, sehingga tidak banyak mendukung hidupan liar di bawah air.

Beruntunglah saya satu kano dengan Lena yang sudah cukup mahir mendayung dan mengendalikan kano. Pada pengarungan pertama, saya duduk di depan, sedangkan Lena duduk di belakang. Kata Lena, orang yang duduk di belakang berperan sebagai pengemudi kano.

Astrid dan Annisa (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Saya dan Lena (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Christoph Thum sang Indiana Jones (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Satu kata untuk kesan pertama berkano di Lychen, Uckermark ini: menakjubkan! Sungainya begitu jernih, hutannya begitu asri, dan udaranya begitu segar. Sesekali beberapa jenis burung mengejutkan kami dengan kehadiran mereka di semak-semak hutan. Setiap sudut yang kami pandang begitu indah, bahkan saat kami menengadah menatap langit pun, rimbunnya kanopi pepohonan melindungi kami dari sengatan sinar matahari. Kami sangat menikmati pengarungan saat itu, walaupun kami seringkali menabrak pinggiran sungai atau terjerumus ke dalam semak-semak tumbuhan air.

"Tersangkut" (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Berkano di danau (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Capung penghuni sungai (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Christoph menjelaskan tentang batu silika yang dulunya berasal dari dasar laut. Batu ini digunakan manusia prasejarah untuk berburu. (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Matahari sedang berada pada posisi puncaknya ketika kami berhenti untuk beristirahat sejenak di kedai nelayan setempat. Di sana kami bersantap siang dengan ikan asap dan roti panggang, serta tak lupa meneguk radler untuk melepas dahaga. Kata Astrid, ini adalah kesempatan yang sangat langka, karena di Berlin, ikan segar sangat sulit didapat, kalau pun ada kita harus membelinya dengan harga yang mahal. Di sini kami bisa menyantap ikan asap yang benar-benar segar dengan harga yang tidak mahal. Saya hampir tidak percaya kalau ikan asap yang kami makan ternyata hanya dibumbui dengan garam, karena rasanya benar-benar enak.

Kedai nelayan di pinggir danau (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Hmmm... lecker! (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Asupan tenaga baru untuk mendayung sudah kami dapatkan, saatnya melanjutkan pengarungan. Kata Christoph, di sungai berikutnya, kami tidak perlu mendayung secara penuh, karena arus sungai yang akan kami lalui cukup deras. Christoph benar, kami jadi punya lebih banyak kesempatan untuk menikmati pemandangan dan mengobrol. Di sungai yang menuju Oberpfuhl ini, kami menemukan cukup banyak rubuhan batang pohon, sehingga kami harus sering-sering menunduk. Menariknya, sebagian pohon-pohon ini dirubuhkan oleh berang-berang yang menggerogoti bagian bawah batang pohon. Sungai ini memang sungai yang paling seru, selain menemukan bekas gigitan berang-berang, saya dan Lena juga melihat burung raja udang dari jarak yang sangat dekat!

Pohon yang digigiti berang-berang (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Cahaya matahari mulai meredup saat kami tiba di Oberpfuhl. Dari kejauhan kami bisa melihat kantor Treibolz, tempat yang akan menjadi titik perhentian pengarungan kami. Kami mendayung kano dengan sisa-sisa tenaga terakhir, ditemani beberapa bebek dan diver yang berenang-renang damai di kanan-kiri kano kami. Yeah, 16 km pengarungan telah kami tempuh dengan sukses!

Makan malam hari ini sangat spesial. Astrid meminta saya dan Annisa untuk memasak masakan khas Indonesia. Cukup pusing kami memilih menu makanan apa yang akan kami masak, sampai akhirnya kami memutuskan untuk memasak nasi goreng. Semua bahan dasar bisa kami peroleh di supermarket yang lokasinya tidak jauh dari penginapan kami, kecuali satu hal: kecap manis. Sebagai penggantinya, kami menambahkan madu ke dalam racikan nasi goreng. Agak terlalu dipaksakan memang, tapi ternyata rasanya enak loh…! Dan syukurlah semua orang suka masakan kami. 🙂

Nasi goreng buatan saya dan Annisa 🙂

Bersulaaaang...!

Malam ini kami bersantap di luar ruangan. Suasana ini menambah lengkap sensasi petualangan kami hari ini. Saya tidak sabar menunggu petualangan berikutnya di Uckermark!

Inspirasi yang saya dapatkan dari pengalaman hari ini adalah ternyata manusia tetap bisa memiliki kualitas hidup yang tinggi tanpa perlu merusak alam. Bagi saya, berkano di sungai dan danau yang jernih adalah suatu sumber kebahagiaan, yang dari padanya, saya merasa beruntung mencicipi kualitas hidup yang baik. Saya rasa inilah esensi dari ekoturisme: manusia dan alam mempertahankan hubungan simbiosis mutualismenya. Manusia mendapat kesempatan untuk menikmati indahnya alam, dan alam mendapat kesempatan untuk tetap lestari dan terhindar dari tangan-tangan jahil. Sepertinya Indonesia perlu banyak belajar dari Jerman tentang ekoturisme.  🙂

9

WWF Forest Friends Uckermark Trip – Day 2: Berkenalan dengan Hutan Uckermark

Lychen, Uckermark, Jerman, 25 Juli 2011

Hari ini adalah hari perkenalan dengan Hutan Uckermark. Christoph Thum, salah seorang pengelola motel Treibholz menemani kami dan bercerita panjang lebar tentang Hutan Uckermark, mulai dari berbagai tumbuhan dan hewan yang ada di dalamnya, hingga sejarah geologis dan peradabannya.

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, topografi Uckermark dipengaruhi oleh fenomena pencairan es sekitar 15.000-20.000 tahun yang lalu. Pasca pencairan es, bebatuan yang tersisa membentuk bukit-bukit kecil yang dikelilingi danau, dan aliran glasier membentuk lembah-lembah kecil di permukaan yang lebih datar. Sebagian jenis bebatuan tersebut bisa kami lihat di Findlingsgarten Carwitz (Taman Batu Carwitz), di antaranya batu gamping, batuan beku, dan batuan metamorf. Bebatuan ini diperkirakan berasal dari Skandinavia, dan yang batuan terbesar yang kami lihat hari ini berasal dari Swedia, yang dijuluki Der Huter, yang berarti ‘Batu Penjaga.’

Findlingsgarten Carwitz (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

(c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

"Der Huter" (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

(c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Petualangan berikutnya adalah mendaki Hauptmannsberg, yang merupakan salah satu situs peradaban jaman perunggu. Dari bagian atas bukit, kami bisa melihat danau yang sangat luas dan indah. Kami sangat beruntung kali itu, karena selain cuaca sangat bersahabat, kami juga menemukan beberapa jenis burung air di danau. Sebagian bukit tertutupi rerumputan, dan sebagian lagi pepohonan. Pohon oak, beech, pinus, dan beberapa jenis pohon beri menghiasi indahnya hutan yang kami lalui saat itu.

Di salah satu bukit di Hauptmannsberg (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Birdwatching (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Di bawah pohon Bird Berry (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Kami berhenti sejenak di Sch’a’ferei Hofladen untuk beristirahat. Beberapa produk hasil ternak kambing dan biri-biri banyak dijual di sana, mulai dari daging dan keju hingga benda-benda yang terbuat dari benang wol. Kami semua mencicipi es krim, tapi ini adalah es krim biasa yang terbuat dari susu sapi, bukan dari susu kambing. Saya mencoba es krim rasa nougat dan sandorn. Mmmm… yummy 🙂

Makan es krim (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Ah ya, saya lupa menceritakan tentang sejarah hutan Uckermark. Menurut cerita Crhristoph, pada tahun 1140-an hutan Uckermark menjadi saksi bisu pertumpahan darah antara masyarakat lokal dengan sekelompok orang yang datang Polandia, Denmark, dan beberapa negara Eropa Barat. Orang-orang ini datang untuk merebut lahan orang lokal. Para pendatang ini membangun gereja sebagai bangunan pertahanan, menggunakan bebatuan sisa jaman es. Pada bagian tembok tertentu terdapat celah berbentuk panjang dan sempit, yang digunakan untuk membidik lawan dari dalam gereja.

Gereja yang dibangun oleh kaum pendatang (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Bukan hanya itu, pada tahun 1618-1648 juga terjadi perang yang cukup sengit di sini, yaitu antara kaum Katolik dan Protestan. Kaum Katolik kebanyakan berasal dari wilayah Selatan yang dipengaruhi oleh kekaisaran, sedangkan kaum protestan kebanyakan berasal dari Skandinavia. Martin Luther, pemimpin kaum protestan pada perang ini adalah orang pertama yang menterjemahkan injil ke dalam Bahasa Jerman. Walaupun perang ini sangat kental dengan nuansa agama, banyak orang percaya bahwa dominasi agama bukanlah satu-satunya yang diperjuangkan pada perang ini, tetapi juga—seperti perang pada umumnya—sumber daya alam dan wilayah kekuasaan.

Perang yang berlangsung selama 30 tahun ini membuat jumlah penduduk Uckermark menurun drastis hingga hanya seperlimanya. Sisi baiknya, depopulasi penduduk memberi kesempatan kepada hutan Uckermark untuk memulihkan kondisinya. Hutan Uckermark yang gundul karena perang yang cukup panjang kemudian kembali hijau.

Kembali ke es krim… *eh*

Setelah puas makan es krim dan makan siang dengan diiringi musik klasik, kami melanjutkan perjalanan ke Mahlendorf. Mahlendorf adalah salah satu situs kerja WWF Jerman, di mana WWF mencoba membendung sungai menjadi dam. Berbeda dengan beberapa tahun lalu, kini air sungai di sana mengalir sangat cepat, sehingga sungai menjadi lebih dalam, dan banyak wilayah rawa menjadi kering karena tidak mendapat pasokan air sungai. WWF mencoba mengembalikan kondisi ekosistem rawa dengan membuat dam yang tersusun dari gambut. Uniknya, ternyata usaha WWF ini mendapat bantuan dari berang-berang liar yang hidup di sana. Mereka membantu memperkuat dinding dam dengan menyusun kayu-kayu.

Sungai yang arusnya menjadi lebih tenang setelah dam dibangun (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Perjalanan menuju dam (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Dam buatan manusia dan berang-berang liar (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

Di sepanjang perjalanan hari ini, kami banyak belajar tentang tumbuhan dan binatang khas yang ada di Jerman. Kami mencatat 12 spesies tumbuhan dan 14 spesies burung yang kami temui. Kami cukup beruntung karena dapat melihat burung Goldammer (Embrezia citrinella) yang sangat langka dan memiliki suara yang sangat merdu. Astrid kemudian menirukannya sambil bercanda “ich ich ich ich liebe dich” (ich liebe dich berarti “saya cinta kamu” dalam Bahasa Jerman).

Pengalaman lain yang sangat mengesankan hari ini adalah saya dan Lena memeluk pohon oak, simbol pohon Jerman. Kami juga memetik beberapa buah Mirabelle dan langsung melahapnya. Hmmm… nikmat sekali. Terima kasih Hutan Uckermark, kami sangat senang hari ini. 🙂

Forest Friends and the Oak Tree (c) Annisa Ruzuar/WWF Indonesia 2011

4

WWF Forest Friends Uckermark Trip – Day 1: Ich Liebe Uckermark!

Lychen, Uckermark, Jerman, 24 Juli 2011

Yeah, akhirnya saya bertemu lagi dengan Lena, setelah sekitar 2 bulan lalu kami berpetualang bersama mengarungi lebatnya Taman Nasional Tesso Nilo bersama gajah-gajah Flying Squad dan mencari jejak Harimau Sumatera. Kali ini giliran saya mengunjungi Lena di Jerman, tepatnya di Uckermark. Ya, benar, kunjungan ini masih merupakan bagian dari program WWF Forest Friends, dan ini adalah bagian terakhir dari perjalanan kami.

Saya dan Annisa tiba di Berlin pada 24 Juli 2011 pukul 08:30 pagi waktu setempat, setelah menempuh perjalanan sekitar 18 jam (termasuk transit di Kuala Lumpur dan Amsterdam). Di Bandara Berlin, kami bertemu Astrid Korolczuk, seorang perwakilan WWF Jerman, yang kemudian memboyong kami ke Berlin Hauptbahnhof, stasiun kereta api utama di Berlin. Di Berlin Hauptbahnhof saya kemudian bertemu Lena Gottschalk, partner Forest Friends saya, dan juga Hagen Betzwieser dokumentator kegiatan kami selama seminggu ke depan). Senangnya bertemu kembali dengan Lena! 🙂

Saat ini sedang musim panas di Berlin. Kata Astrid, kami beruntung karena cuaca saat itu cukup hangat dibanding hari-hari sebelumnya, yaitu sekitar 20 derajat Celcius. Tapi tetap saja, bagi saya cuaca hari itu sangat dingin. Walaupun awan cukup tebal menutupi langit, syukurlah kami masih bisa menikmati secuil sinar matahari di sore hari.

Berlin Hauptbahnhof

(c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Berlin sangat sepi hari ini. “Sebagian besar pertokoan di Berlin tutup pada hari Minggu, dan orang banyak menghabiskan waktu akhir pekan mereka untuk bertemu sanak famili,” tutur Astrid. Saya sangat suka Berlin. Saya selalu suka kota yang rapi, bersih, dan yang paling keren: punya jalur sepeda.

Walaupun di Bandung (kota asal saya) juga ada jalur sepeda, tapi kualitasnya sangatlah berbeda dengan di sini. Di Berlin, para pesepeda bisa menggoes sepedanya dengan nyaman tanpa harus was-was berbaku hantam dengan para pengguna mobil atau pejalan kaki. Saya bilang sangat berbeda, karena di Bandung jalur sepeda beririsan dengan jalan raya dan trotoar.

Jalur sepeda di Berlin.

Hari ini kami berangkat dari Berlin Hauptbahnhof menuju Uckermark Lake Park (Uckermark akan menjadi lokasi kegiatan kami selama seminggu ke depan) menggunakan kereta api dengan waktu tempuh selama 1 jam. Uckermark adalah sebuah wilayah administratif yang memiliki kawasan lindung paling luas di Jerman, yaitu sekitar 40.604 ha dari luas total 3.058 km². Di luar dugaan, kami tiba 2 jam lebih cepat di Uckermark. Sekitar pukul 14:00 waktu setempat, kami berjalan-jalan berkeliling kompleks motel Treibholz, tempat kami menginap, dengan ditemani Markus sang pemilik motel.

Motel tempat kami menginap (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Berjalan-jalan di sekitar motel (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Jalan kecil di sebelah kanan motel.

Muara sungai yang menuju salah satu danau di Uckermark.

Menurut penuturan Markus, Uckermark memiliki bentuk yang menarik karena mendapat pengaruh besar dari fenomena pencairan es pada jaman es terakhir. Saat es encair, air dan angin menggeser bebatuan dan pasir ke tempat-tempat tertentu yang kemudian membentuk bukit, lembah, dan sungai. Markus menambahkan, bebatuan sisa jaman es terebut kemudian banyak digunakan oleh masyarakat setempat untuk membuat bangunan seperti rumah atau gereja.

(c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Gereja yang tersusun atas bebatuan sisa jaman es.

Selama berabad-abad, Uckermark ditanami berbagai macam tumbuhan, sehingga kini menghasilkan keragaman tumbuhan yang cukup tinggi. Di Uckermark, kita bisa menemukan beberapa spesies tumbuhan endemik Eropa seperti Marsh Orchid (Dactylorhiza majalis), Feather Grass (Stipa pennata), Siberian Bellflower (Campanula sibirica), serta burung Lesser Spotted Eagle (Aquila pomarina), dan Great Bittern (Botaurus stellaris).
Di hari pertama ini, kami belum menemukan banyak tumbuhan dan binatang endemik. Tapi kami sangat beruntung karena kami bisa melihat Bumblebee (Bombus sp.) yang terancam punah karena habitatnya semakin lama semakin berkurang. Kami juga menemukan beberapa spesies bebek dan ikan di danau yang jernih.

Bumblebee (c) Hagen Betzwieser/WWF Germany 2011

Pengalaman kuliner hari ini sangat menarik. Saat makan siang, sekitar pukul 16:30 (atau 21:30 WIB), saya memesan salad sayuran dengan tujuan agar tidak terlalu kenyang. Tapi tak dinyana, ternyata salad yang disajikan berukuran jumbo. Bahkan ekstra jumbo, karena ukurannya 3-4 kali lebih besar dari porsi yang biasa saya santap di Indonesia. Sayang sekali saya tidak menghabiskannya. Untuk pelepas dahaga, saya mencoba Apfelsaftschorle (sari apel yang dicampur dengan air soda). Oh, saya suka sekali Apfelsaftschorle! 🙂

Untuk makan malam, saya memesan omelet dan kentang (ah, sayang sekali saya lupa namanya). Sebenarnya pada menu ini disajikan juga sepiring kecil salad, tapi saya memesan menu tanpa salad, karena khawatir tidak bisa menghabiskannya lagi. Sedangkan untuk minumannya, saya mencoba yang Radler (air limun yang dicampur dengan bir). Omelet dan kentangnya terlalu asin bagi saya, tapi Saya suka sekali Radler! Saya mau Radler lagi…! 🙂

Radler

Saya tidak sabar menunggu esok hari untuk menikmati indahnya alam Uckermark, mengangumi bangunan-bangunan menariknya, mendengarkan sejarah-sejarahnya, sambil mencicipi kuliner khasnya, dan yang terpenting: berbagi keceriaan bersama Lena Gottschalk, my lovely Forest Friend. 🙂

Lenna Gottschalk

Sampai jumpa di reportase selanjutnya. 🙂