1

Kondangan Pertama Tiara

5 months 15 days

Hari ini untuk pertama kalinya Tiara datang ke kondangan. Sebenernya saya lebih setuju untuk ga bawa Tiara pergi ke tempat hingar bingar seperti pesta pernikahan, tapi kemarin saya merasa harus melakukannya karena saya ingin mempertemukan Tiara dengan kakek kandungnya. Iya, Tiara belum pernah bertemu dengan kakek kandungnya sejak lahir 5 bulan lalu.

Papa-mama saya berpisah beberapa belas tahun lalu dan mereka membangun keluarga baru masing-masing. Saya ikut mama, dan jarang sekali bertemu papa. Saat Tiara lahir, papa sakit-sakitan akibat stroke, sehingga agak sulit untuk berkunjung ke rumah. Di sisi lain, saya belum bisa bepergian sendiri membawa bayi tanpa bantuan suami yang sekarang sedang bekerja di Kalimantan.

Nah kemarin, papa menikahkan anak perempuan tirinya. Saya memanfaatkan momen ini untuk mempertemukan papa dengan cucu pertamanya yang lucu dan imut 🙂

Dan ternyataaaaa membawa bayi ke sebuah pesta pernikahan adalah ide yang buruk. Begitu masuk ke gedung pesta, Tiara langsung jejeritan sekuat tenaga. Mungkin itu adalah ekspresi akumulasi dari kaget, takut, risih, panas, dan sebagainya.

Hadeeeeeeeeh, pusing banget. Udah digendong berbagai macam pose, tetep aja Tiara ga mau diem. Akhirnya saya cepet-cepet aja melaksanakan tugas utama saya, mempertemukan Tiara dengan kakeknya. Tiara digendong sebentar oleh kakeknya. Sebentar sekali, hanya beberapa detik, karena mungkin badannya terlalu ringkih untuk menggendong anak kecil. Lalu sebentar oleh nenek tirinya.

Tidak ingin (atau lebih tepatnya tidak tega) mendengar Tiara jejeritan terus, saya kemudian cepat-cepat menyalami kedua mempelai, lalu tancap gas pulang. Sebelumnya sempat makan sate ayam dan es krim juga sih. Itu pun karena ada bude yang menawarkan diri menggendong Tiara 😀

Begitu keluar gedung dan masuk mobil, berenti deh nangisnya 🙂

Baru masuk mobil, masih nangis. Tapi abis itu langsung diem :p

Maaf ya nak…. Moms cuma pengen Tiara bertemu dengan kakek 🙂

Advertisements
0

Menanti Datangnya Engkang-engkang

Ada yang berbeda pada sore itu, sore di mana saya memenuhi ajakan Bunda Maria Hardayanto untuk berkunjung ke komunitas Engkang-engkang yang bermukim di sebuah kampung di bantaran Sungai Cidurian, Bandung. Tak saya sangka, ini adalah kampung yang begitu spesial, kampung yang dipenuhi dengan semangat perbaikan lingkungan dan kehidupan yang lebih baik.  

Selasa itu adalah hari di mana Bunda melakukan pendampingan ibu-ibu di kampung Cidurian. Tepung ganyong, tape singkong, telur, dan beberapa bahan lain sudah ada di tangan. Saya dan Bunda meneruskan langkah melewati gang sempit yang berliku, hingga sampailah kami di sebuah bale desa, sebuah ruangan yang kami gunakan untuk belajar memasak sore itu.

Kue yang akan kami buat hari ini adalah kue muffin. Ini adalah resep coba-coba, tetapi ini adalah resep istimewa, karena kami tidak lagi menggunakan tepung terigu. Sebagai gantinya, kami menggunakan tepung ganyong, tepung yang dibuat secara lokal, sehingga lebih ramah lingkungan dan harganya lebih murah.

“Jika kita tidak impor barang, berarti kita menghemat emisi karbon,” begitulah kira-kira pesan yang Bunda ingin sampaikan pada acara memasak kali itu. Ternyata sebagian dari ibu-ibu tersebut sudah paham tentang pemanasan global dan hubungannya dengan emisi karbon.

Bukan hanya tepung ganyong, mereka juga sering menggunakan bahan-bahan lokal lain seperti singkong, ubi, pisang untuk membuat panganan. Prinsip yang dipakai adalah sebisa mungkin menggunakan bahan lokal.

Selain sebagai ajang mempopulerkan bahan pangan lokal, kegiatan memasak juga dipromosikan sebagai gaya hidup sehat keluarga, karena dengan memasak sendiri, para ibu bisa menjaga kualitas makanan untuk keluarga dan buah hati mereka.

maria2

Aneka panganan non beras dan non terigu yang dibuat ibu-ibu komunitas

maria5

Anak-anak menikmati kue buatan ibu mereka

Muffin Ganyong

Muffin ganyong

Tidak lebih dari satu jam sejak pertama kali kami berkumpul, sepiring kue muffin sudah terpanggang dan siap disantap. Ibu-ibu lain yang sebelumnya tidak ikut memasak pun bermunculan untuk ikut mencicipinya. Hingga munculah Bu Dian, ibu RT kampung tersebut yang belakangan baru saya tahu bahwa beliau memiliki andil yang cukup besar dalam perkembangan kampung tersebut.

Melihat saya sebagai orang asing, Bu Dian kemudian bercerita tentang apa yang telah ibu-ibu di kampung ini lakukan untuk membuat lingkungan mereka lebih baik. Beliau juga menawari saya tour singkat untuk melihat hasil kerja keras mereka selama ini. Tanpa pikir panjang, saya langsung terima ajakan beliau. “Dengan senang hati, Bu…” ucap saya.

“Dulu biasanya sampah dibuang di sini,” ucap Bu Dian sambil menunjuk Sungai Cidurian.

“Tapi sekarang mah udah dipilah, yang basah dikompos, yang kering dimanfaatkan jadi kerajinan dan ga dibuang di sungai lagi. Nanti komposnya dipakai untuk pupuk taneman ini,” tambahnya.

Lahan hijau di tepian sungai lah yang Bu Dian maksud. Lahan yang beberapa tahun lalu merupakan  ‘trotoar’ berpasir itu kini telah berubah menjadi ladang bertanamkan pepohonan dan berbagai tumbuhan pangan.

maria1

maria4

Tumbuhan di ladang tersebut sengaja dibuat beragam agar tidak dibutuhkan pesitida untuk merawatnya. Secara berkala ibu-ibu mengumpulkan kompos yang dibuat di rumah masing-masing untuk ditebarkan di ladang sebagai pupuk alami.

Saat panen tiba, mereka memanennya bersama-sama. Dari ladang tersebut sudah dihasilkan banyak bahan pangan untuk dikonsumsi para warga kampung. Mudah, murah, dan sehat. Ditambah lagi karena ini adalah hasil kerja keras sendiri, rasanya sungguhlah nikmat.

Sebuah saung kecil berdiri di tengah-tengah ladang. Tiga anak sedang bermain di dalamnya. Di bagian belakangnya terdapat baligo berukuran cukup besar bertuliskan “Engkang-Engkang, Komunitas Cidurian Bersih” dengan logo seekor laba-laba air.

engkang-engkang1-e1343672209573

Saung di tengah ladang

Rasa penasaran saya tentang arti nama komunitas ini akhirnya hilang setelah saya melihat baligo tersebut. Ternyata ‘engkang-engkang’ diambil dari nama lokal laba-laba air yang hanya hidup di perairan bersih. Warga menggunakan nama tersebut sebagai penyemangat, dengan harapan suatu saat nanti engkang-engkang akan hidup kembali di Sungai Cidurian.

Selesailah tour saya di hari yang menyenangkan itu. Tak disangka modal iseng-iseng saya berbuah begitu banyak inspirasi…. bahwa ternyata kampung sekecil ini mampu melakukan perubahan yang begitu berarti… bahwa keterbatasan ekonomi dan pendidikan bukanlah halangan dalam berinovasi dan beradaptasi di tengah krisis lingkungan yang terjadi saat ini.

Saya senang sekali pernah menjadi bagian dari komunitas ini, komunitas di mana para ibunya aktif secara langsung memperbaiki kulitas hidup keluarga dan kampung mereka tanpa membebani Bumi lebih jauh… para ibu yang suatu saat akan berkata kepada anak-anak mereka “tenanglah nak, kita tidak perlu memaksakan beli beras, tidak perlu beli terigu, tidak perlu lagi boros karbon untuk bisa menikmati makanan enak dan sehat.”

Semoga saat engkang-engkang yang mereka tunggu telah hadir di Sungai Cidurian, kampung ini sudah benar-benar mandiri dan tahan pangan. Juga menjadi kampung yang menjadi inspirasi bagi kampung-kampung lain untuk maju dan mensukseskan pembangunan berkelanjutan.

Hari beranjak malam. Saya bersiap pulang dengan membawa oleh-oleh kue muffin hasil belajar memasak sore itu. Sebagian ibu bersikeras menawarkan kantung plastik kepada saya untuk membungkus kue-kue tersebut, tapi saya memilih menggunakan daun pisang. Sementara mereka terheran-heran, saya berkata, “simpan dulu rasa penasarannya, Bu, di pertemuan selanjutnya kita bahas tentang plastik.” 😉

***

Tulisan ini diikutsertakan pada lomba blog dengan tema “Masyarakat dan Perubahan Iklim” yang diselenggarakan oleh Oxfam Indonesia.

Oxfam adalah konfederasi Internasional dari tujuh belas organisasi yang bekerja bersama di 92 negara sebagai bagian dari sebuah gerakan global untuk perubahan, membangun masa depan yang bebas dari ketidakadilan akibat kemiskinan.

Kampung Cidurian terpilih sebagai kampung iklim mewakili provinsi Jawa Barat pada Program Kampung Iklim yang diselenggarakan oleh Kementrian Lingkungan Hidup RI. Gelar tersebut diberikan sebagai penghargaan atas upaya-upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang telah dilaksanakan di tingkat lokal sesuai dengan kondisi wilayah.

Semua foto merupakan dokumentasi pribadi Maria Hardayanto.

0

Profesor Tiara

5 months 8 days old

Tiara sekarang sudah bisa memegang barang-barang lebih kecil dan menjaganya agar tidak jatuh. Jadi sekarang setiap kali saya mendekatkan muka saya padanya, seringkali dia berusaha mengambil kacamata saya. Memegang, menarik, lalu mengunyek-unyeknya dengan telapak tangannya yang berkeringat.

Lalu terpikirlah ide untuk memakaikan kacamata itu di kepalanya.

prof tiara

Lucu ya? Kayak Simon Chipmunks. Sayangnya fotonya blur, soalnya dia gerak-gerak terus, dan motonya juga cuma pake BB. Mau coba ambil foto lagi ga tega, soalnya kayaknya dia pusing gitu, hehehe.

I hope someday she will be (or as smart as) a professor. What is better than smart and beautiful? 😉

7

Rindu Seabad

Rasanya seperti seabad sejak terakhir kali saya menulis blog. *Posting lomba ga diitung yak :p*

Makhluk inilah yang membuat seabad terasa begitu sebentar…..

Image

 

Siapakah makhluk ini? Tunggu saja ceritanya besok. Saya akan mulai menuliskan cerita tentangnya yang terendap dalam kepala saya selama 3 bulan terakhir ini. Mungkin akan menjadi cerita yang paaaanjang dan laaaama seperti choki-choki yang ditarik-tarik kambing.

Sekarang bobo dulu, sebelumnya ganti popok dan kasih susu.

11

Tesso Nilo: Jembatan Perkembangan Ekowisata Indonesia

Mungkin tidaklah berlebihan jika saya menilai perjalanan saya ke Taman Nasional Tesso Nilo Riau tahun lalu merupakan sebuah wujud dari impian yang menjadi kenyataan. Ya, saya sejak lama telah bermimpi untuk bertualang ke tempat seperti ini, tempat di mana keanekaragaman hayati begitu berlimpah dan keindahan terpancar dari segala sisinya. Dengan sejuta pesonanya, Tesso Nilo siap menjadi jembatan bagi perkembangan ekowisata Indonesia.

Pulau Sumatera kehilangan hampir 50% hutan alamnya dalam rentang 25 tahun. Tesso Nilo adalah satu dari yang tersisa. Terletak di Provinsi Riau, Tesso Nilo adalah salah satu habitat terpenting yang tersisa bagi gajah dan harimau sumatera yang terancam punah. Tesso Nilo juga merupakan hutan dengan keanekaragaman tumbuhan berpembuluh terkaya di dunia. Maka alangkah beruntungnya saya, karena kala itu – Maret 2011 – saya dan rekan saya Lena Gottschalk berkesempatan menjelajahi hutan Tesso Nilo bersama rekan-rekan dari WWF Indonesia dan WWF Jerman selama beberapa hari.

**

Rima dan Lena di depan kantor Balai Taman Nasional Tesso Nilo. Photo (C) Annisa Ruzuar / WWF-Indonesia

Petualangan dimulai ketika jalan aspal perlahan berganti menjadi jalan tanah, dan tembok-tembok beton perlahan mulai hilang dari pandangan. Selama kurang lebih 4 jam perjalanan dari kota Pekanbaru menuju Taman Nasional Tesso Nilo, mata kami disuguhi pemandangan beragam. Perkotaan, perkebunan akasia dan sawit, lahan gambut yang baru dibuka, hutan yang terbakar, lahan kosong, hingga akhirnya hutan tropis yang sangat lebat. Tibalah kami di Flying Squad Camp.

Jalan menuju Taman Nasional Tesso Nilo

Flying Squad Camp adalah kamp milik WWF yang juga dikelola oleh Balai Taman Nasional Tesso Nilo. Kamp ini merupakan markas dari Elephant Flying Squad atau Pasukan Gajah Reaksi Cepat, yaitu gajah-gajah yang diselamatkan dari bagian lain di Sumatra kemudian dilatih untuk menjadi gajah patroli di Taman Nasional Tesso Nilo. Patroli ini dilakukan untuk meminimalisir konflik yang terjadi antara manusia dengan gajah liar. Bersama para gajah Flying Squad, polisi hutan secara rutin berkeliling Taman Nasional dna mencegah gajah liar masuk ke permukiman atau perkebunan milik masyarakat.

Sebuah kantor berdinding beton berdiri tegap di dekat pintu masuk wilayah kamp. Di belakangnya berdiri dua bangunan beton lain dan sebuah bale-bale. Di dua bangunan ini lah kami akan menginap. Saya tidak pernah menyangka sebelumnya, bahwa berada di tengah hutan bukanlah alasan untuk tidak bisa tidur nyenyak di kasur yang empuk dan mandi di kamar mandi  yang bersih. Kalau enak begini sih, siapa yang tidak mau? 😀

Penginapan di Flying Squad Camp Tesso Nilo

Suasana di dalam kamar penginapan

Terbangun di pagi hari di suatu tempat baru selalu menimbulkan sensasi berbeda, begitu pula dengan yang saya alami di Tesso Nilo. Suara sautan kodok yang sangat keras membangunkan saya pagi itu. Menurut salah seorang petugas di sana,  pada pagi hari kita bisa mendengar suara ungko, kodok, dan gajah yang bersaut-sautan keras. Mungkin saya tidur terlalu lelap, sehingga saya tidak mendengar suara ungko dan gajah pagi itu. Begitu lelap, karena saya mempersiapkan diri untuk bermain bersama para gajah hari ini.

Sejak pagi hari, para mahout (pawang gajah) sudah bersiap dengan gajah masing-masing. Sebelum menjelajahi hutan Tesso Nilo dengan menumpaki punggung gajah, kami belajar membuat “brownies gajah” terlebih dahulu. Brownies ini akan menjadi kejutan bagi para gajah di sore hari nanti.

Ternyata membuat brownies gajah tidaklah terlalu rumit. Yang paling kami butuhkan adalah tenaga yang sangat kuat untuk mengaduk dan memindahkan bahan-bahan yang dibutuhkan ke kuali raksasa. Bahan yang dibutuhkan adalah gula merah, biji jagung, bekatul, mineral pakan ternak, dan air. Kami memasaknya dengan bantuan lalapan api pada kayu bakar yang cukup besar. Setelah matang, brownies dicetak dan dikeringkan di bawah tempat teduh. Brownies ini hanya diberikan seminggu sekali, tidak sering-sering, mungkin supaya gajah tidak bosan makan daun melulu. 🙂

Membuat “brownies gajah.” Photo (C) Annisa Ruzuar / WWF Indonesia

Tibalah agenda yang paling ditunggu: kami menaiki punggung gajah dan menjelajahi hutan selama 2 jam menuju Sungai Nilo. Saya dan Ulrike menumpaki punggung Indro, gajah jantan alfa berusia 27 tahun. Awalnya saya agak gugup, karena saya takut ketinggian. Namun lama-kelamaan saya terbiasa dan mulai menikmatinya. Kombinasi tubuh gajah yang besar dan rapatnya hutan hujan tropis Tesso Nilo membuat kaki saya beberapa kali tersangkut dan terjepit di antara badan Indro dan pepohonan. Bagian paling menghebohkan dari pengalaman menaiki punggu gajah adalah saat kami menyeberangi sungai dan mendaki tanjakan yang sangat curam. Rasanya seperti mau jatuh dan dunia akan segera berakhir. Untunglah mahout Edi yang mendampingi kami dapat meyakinkan kami bahwa semua akan baik-baik saja.

Menjelajahi hutan bersama para gajah. Photo (C) WWF Germany

Sementara kami beristirahat dan menikmati indahnya pemandangan di pinggir Sungai Nilo, para mahout memandikan gajah-gajah yang kepanasan di tengah sungai. Setelah mandi, para gajah mencari makan di pinggir hutan, sementara kami dan para mahout memakan bekal makan siang kami. Makan siang bersama para gajah Flying Squad adalah pengalaman yang sungguh luar biasa bagi saya. 🙂

Kami benar-benar sangat beruntung siang itu, karena kami juga menemukan jejak harimau Sumatera di dasar sungai yang sedang mengering.

Para mahout sedang memandikan gajah di Sungai Nilo

Pasir Sungai Nilo berwarna putih seperti di pantai 😀

Tapak kaki harimau di pinggir Sungai Nilo

Sore hari, sekembali kami bertualang bersama para gajah, ternyata kue yang kami buat pada pagi hari tidak benar-benar mengeras. Mungkin karena adonannya terlalu encer. Pak Syam yang juga merupakan koordinator para mahout di Flying Squad Camp mengajarkan kami cara memberi makan kue kepada gajah. Caranya adalah dengan membentuk kue menjadi bola seukuran setengah bola boling, lalu memampatkannya, dan memasukkannya ke dalam mulut gajah. Kami harus memberi instruksi kepada gajah agar mereka mau membuka mulutnya. Gumpalan kue harus diperlihatkan di depan mata gajah yang mana tingginya lebih tinggi dari pada kepala kami. Lalu kami harus berkata “tinggi, tinggi, tinggi….”, dan gajah akan menaikkan belalainya dan membuka mulutnya. Lalu hap..! Itulah saat yang tepat untuk memasukkan kue. Nyam, nyam, nyam…

Menyuapi brownies ke mulut gajah

“Rima dan Lena, siap-siap ya, habis ini kalian belajar menjadi mahout,” kata Pak Syam. Awalnya saya dan Lena menolak karena takut. Tapi akhirnya kami menjalaninya karena tidak mau melewatkan pengalaman yang sangat berharga ini. Kami belajar menunggangi Rahman, seekor gajah jantan berumur 27 tahun. Ternyata mengendalikan gajah tidak sesulit yang saya bayangkan. Saya cukup “menendang” kecil bagian belakang kuping mereka, atau menepuk bagian kepala tertentu untuk membuat mereka berjalan. Hanya saja dibutuhkan keberanian yang tinggi akan ketinggian, serta ketahanan yang luar biasa terhadap serangga-serangga yang hidup di atas kulit gajah.

**

Kini saya paham mengapa wisatawan mancanegara begitu menggemari ekowisata. Ekowisata memberikan sensasi yang berbeda, lebih dari sekedar pemandangan untuk dinikmati dan dijelajahi. Ekowisata mengandung unsur-unsur edukasi lingkungan hidup dan dilakukan dengan cara yang juga ramah lingkungan. Dengan berekowisata, seorang wisatawan tidak sekedar memanjakan diri dan menghabiskan materi, tetapi juga mempelajari sesuatu dan berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan di wilayah yang disinggahi.

Bertualang bersama gajah hanyalah satu dari paket ekowisata yang ditawarkan di Tesso Nilo. Dari satu petak hutan, dengan satu jenis hewan, di satu kabupaten di Riau saja saya sudah bisa melakukan banyak hal, apalagi jika kekayaan alam lain juga dimanfaatkan untuk menjadi ikon ekowisata. Pantai, laut, pulau-pulau kecil, hutan gambut, sungai-sungai besar, dan suku-suku pedalaman yang hidup di antaranya, masing-masing memiliki ciri khas yang menanti untuk digali dan dikembangkan sebagai ekowisata.

Ekowisata yang tengah menjadi tren saat ini adalah peluang emas bagi Indonesia  untuk mendongkrak sektor pariwisata, mengingat Indonesia dikaruniai kekayaan alam yang begitu melimpah. Dengan mengembangkan ekowisata, bukan tidak mungkin Indonesia bisa kembali menjadi raja di sektor pariwisata di Asia. Namun ini memang bukan hal yang mudah. Perlu kerja keras dan kreativitas ekstra untuk bisa memanfaatkan peluang tersebut.

Tesso Nilo dengan gajah-gajahnya bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan ekowisata Riau, dan lebih luas lagi ekowisata Indonesia. Pada akhirnya, yang terkuatlah yang menang… yang adaptiflah yang bertahan. Ekowisata akan menjadi ikon pariwisata masa depan. Karena tidak seperti wisata konvensional, alih-alih merusak, ekowisata justru melestarikan lingkungan. 🙂

**

Jantung saya masih berdegup sangat kencang saat turun dari punggung Rahman. Namun degup tersebut perlahan mereda saat saya belajar memandikan Indro di Sungai Perbekalan. Ekspresi takut berubah menjadi bahagia saat saya bersama mahout Edi dan Indro tercebur bersama Indro di sungai. Ini adalah bagian terindah dari petualangan saya di Tesso Nilo. Saya ingin memandikan gajah lagi dan suatu saat datang kembali ke tempat ini untuk bermain dengan para gajah Flying Squad! 😀 

Saya memandikan gajah… Yeeeey! 😀

Kami akan kembali ke Tesso Nilo suatu saat nanti.

————————————————————————————

Bagi Anda yang ingin berekowisata di Taman Nasional Tesso Nilo, Anda bisa menghubungi:

Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Jl. Raya Langgan KM 4
Pangkalan Kerinci, Pelalawan – Riau
Telp/fax: +62 761 494728

WWF-Indonesia Program Riau
Perkantoran Grand Sudirman Blok No. B-1
Jl. Datuk Setia Maharaja, Pekanbaru – Riau
Telp : +62 761 855006, Fax : + 62 761 32323
Email : reservasi@tessoniloecotour.com

Situs: http://tessoniloecotour.com/

Download brosur Ekowisata Tesso Nilo di sini.

Rima dan Lena adalah pemenang Forest Friends, sebuah program kerja sama WWF Indonesia dan WWF Jerman yang bertujuan untuk meningkatkan kesadartahuan generasi muda terhadap pentingnya kelestarian hutan. 

Tulisan ini dibuat untuk kepentingan Lomba Blog dalam Rangka Riau Travel dan Tour Fair 2012 dengan tema “Strategi Pengembangan & Promosi Wisata Riau” yang diselenggarakan oleh ASITA RIAU.

0

Tiara’s First Days Photos

Ini adalah foto Tiara di hari-hari pertama kemunculannya di dunia.

64679_10151135435362091_604011656_n

Setelah dimandikan suster. Foto ini diambil oleh adik saya. Saya melihat muka Tiara pertama kali dari foto ini, karena saya tidak IMD dan saya mengalami masa kritis pasca melahirkan.

IMG00437-20120922-1014

Tiara umur 6 jam. Saat pertama kali saya menyentuh Tiara. Kebetulan sedang tidak ada keluarga yg bisa menemani saya di RS. Untunglah ibu dari pasien sebelah mau membantu mengangkat Tiara dari box dan menyerahkannya ke tangan saya.

IMG00438-20120922-1018

“Ngabudah” dalam arti yang sebenarnya =))

IMG00441-20120922-1105

Versi botak

IMG00443-20120922-1154

Versi setengah melek

IMG00452-20120923-1045

Tiara umur 1 hari. Papanya baru pulang tadi malam dari Balikpapan. Sama-sama ngantuk nih ye.

IMG00451-20120923-1045

Ga mirip ya sepertinya?

IMG00446-20120923-1023

Bibirmu seksi sekali nak….

IMG00445-20120923-1006

Kita belum kenalan nih… Kenalin, ini mama.


IMG01114-20120923-0904

IMG00466-20120924-0927

Pertama kali tidur di kamar rumah

IMG00464-20120924-0433

IMG00455-20120923-1758

Digendong papa. Masih pake slabber sisa mimi ASIP pake cup feeder 🙂

2

From Womb to the World

Memang ya, yang namanya hutang itu…. Tebar janjinya enak banget,  giliran disuruh bayar gelagapan. Supaya hutang saya ga tambah banyak, saya akan cicil sedikit demi sedikit.

Yang saya maksud adalah hutang cerita, bukan hutang ke rentenir ya :mrgreen:

Ini adalah curhatan sehari setelah melahirkan. Sengaja tidak saya edit 😀

Bandung, 23 September 2012

Selama ini saya selalu bertanya-tanya, ketika seseorang mengatakan bahwa melahirkan itu sakit, sakitnya itu seperti apa? Apakah sakit karena lukanya? Ataukah sakit karena didorong-dorong kepala bayi? Atau bagaimana? Sekarang saya tahu jawabannya, bahwa rasa sakit yang dimaksud adalah rasa mulas luar biasa. Rasa mulas yang bikin badan tegang dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rasa yang membuat saya — yang menurut mama saya merupakan orang dengan ambang ketahanan rasa sakit yang rendah — teriak-teriak tengah malam dibuatnya.

Saat itu adalah minggu ke-38 kehamilan saya. Tidak lama setelah saya menulis posting tentang harapan saya melahirkan secara normal. Hari Rabu sore saya mulai jalan sambil pegang-pegang pinggang dan punggung, persis seperti nenek-nenek sakit encok. “Tenang saja, masih minggu ke-38,” pikir saya. Mungkin ini masih kontraksi palsu, masih ada 2 minggu lagi untuk mempersiapkan ini-itu.

Hari Kamis, saya semakin seperti nenek-nenek sakit encok. Hari Jumat, saya tiba-tiba ingin periksa ke dr. Sonny. Harusnya sih kontrolnya hari Sabtu, tapi entah kenapa pada Jumat itu saya begitu keukeuh pengen ke dokter. Mungkin keinginan itu muncul karena ketidaksabaran  saya mengetahui berapa BB janin pasca diet karbohidrat dan gula selama 1 minggu. Saya sangat ingin mendengar dokter berkata “ternyata perhitungan minggu lalu error, bayinya tidak seberat yang diperkirakan.”

Karena harus tes darah ini-itu, saya nongkrong di tempat praktek dokter sejak pukul 17.00 WIB. Itu berarti saya harus menunggu 2 jam sebelum dokternya datang. But the good news is saya dapet nomor antrian pertama ^,^

Maka nongkronglah saya di ruang tunggu itu sendirian. Kebetulan si suami sedang tugas di luar Jawa, dan saat itu belum ada ibu-ibu hamil lain yang datang. Entah sinetron apa yang saya tonton saat itu. Saya ga bisa konsentrasi karena setiap 10 menit sekali saya meringis menahan rasa ngilu.

Setengah jam menuju jam buka praktek dr. Sonny, ruang tunggu masih sepi. Agak aneh. Kemudian munculah mas-mas resepsionis dan memanggil nama saya dan berkata “Maaf bu, dokternya ga praktek hari ini… Beliau masih ada seminar di depan Trans Studio Mall.” Infonya lengkap banget sampe Trans Studio Mall-nya juga disebut :mrgreen:

Duer. Berasa dapet geledek di maghrib hari. Akhirnya saya pulang.

Tidak ada yang spesial pada jam-jam berikutnya, kecuali pada pukul 21:00 WIB intensitas dan kualitas rasa mulas yang saya alami menjadi semakin meningkat. “Tarik napas dalam-dalam….. hembuskan” itulah kata-kata sakti untuk menghilangkan sedikit rasa sakit. Saya terus-menerus mensugesti diri sendiri agar rasa mulas ini cepat hilang. Tapi teori ini buyar sudah…. Yang ada malah makin mulas ga karuan. Frekuensi 10 menit sekali kemudian berubah menjadi 5 menit sekali, dan akhirnya menjadi 1 menit sekali.

Kalau harus digambarkan dengan kata-kata, mungkin rasanya mirip dengan rasa menjelang menstruasi, hanya saja sensasinya 100 x lipat. Plus perut yang lagi segede gaban itu seolah-olang mau pecah.

Rasanya tidak ada rasa lain yang lebih menyakitkan dibanding rasa ingin melahirkan. Maka pecahlah tangis saya pada pukul 2 dini hari. Sejak awal saya menahan agar saya tidak membangunkan siapapun, tapi apa daya… Saya ga kuaaaaaat T.T

Mama kemudian terbangun. Feelingnya mengatakan kalau saya sebentar lagi akan melahirkan. Langsung deh semua anggota keluarga dibangunin, beres-beres baju dan perlengkapan lain, ngeluarin mobil dari garasi, dll. Oiya, saya belum sempat cerita ya… Asalnya saya berencana melahirkan di klinik di rumah sendiri dibantu oleh Bidan Atun, teman mama. Itulah kenapa saya ga siap-siap perlengkapan seperti baju dll. Tapi karena saya mengalami pre-eklampsia, mau tidak mau harus melahirkan di RS dengan pengawasan dokter SpOG.

Berangkatlah kami ke RS Bungsu pukul 02:30 WIB. RS ini dipilih karena biaya persalinan caesar-nya paling murah dibandingkan RS-RS lainnya di Bandung. Walaupun tidak pasti, tapi selalu ada kemungkinan saya harus operasi caesar jika tekanan darah saya masih tinggi sebelum bukaan lahir lengkap.

Rasa mulas di perut saya makin ga karuan. Saya mencengkeram tangan adik saya setiap kali rasa mulas datang. (Maafkan saya deeeek :p).

Di perjalanan, tiba-tiba keluar banyak air. Ternyata ketuban saya pecah.

Di UGD RS, ketuban saya pecah lagi. Lalu dua kali di kursi roda saat saya didorong oleh satpam yang siap siaga. Total 4 kali pecah. Rasanya makin ga karuan, tapi herannya, saya masih bisa bilang “Pak Satpam, maaf ya ini kursi rodanya saya kotorin.” :mrgreen:

Lalu masuklah saya ke ruangan VK. Saya ga tau apa singkatan dari VK ini. Pokonya ruangan buat melahirkan deh. Saya teriak-teriak, dan rasanya bayi akan segera brojol, tapi bu bidan tidak kunjung meminta saya mengejan. Dia malah ngobrol sama mama saya, ngobrolin Bidan Atun -_-

Ternyata penundaan itu dilakukan karena si bidannya ga berani membimbing saya melahirkan. Tekanan darah saya saat itu naik jadi 150/110, jadi saya harus nunggu dokter dulu baru bisa mengejan. Beberapa menit kemudian dokter yang dimaksud pun datang. Ternyata dokternya tetanggaan sama RS-nya, jadinya cepet, hehehehe…

Dokter meminta saya mengejan, lalu tiba-tiba ada rasa yang cukup perih, dan saya merasakan ada cairan yang mengucur. Saat itulah saya menyadari bahwa saya di-episiotomi — pengguntingan di sekitar vagina untuk memperbesar jalan lahir bayi. Saya kemudian mempraktekkan cara mengejan yang benar, seperti yang diajarkan oleh instruktur senam hamil.

Seperti biasa, saat ada seorang perempuan yang sedang berusaha melahirkan, pasti muncul kata-kata “ayo terus….”, “ayo sedikit lagi…”, dan sebagainya. Saat itu pun saya mendengarnya, tapi tidak lama, karena setelah 2 kali mengejan saja saya sudah melihat dua tangan bayi menari-nari diiringi suara tangisan yang imut.

Waaaa, sudah lahir! Jauh lebih cepat dari yang saya perkirakan 🙂

Bayi saya lahir pada 22 September 2012 pukul 03:55 WIB, kurang dari satu jam sejak ketuban pertama saya pecah. Si bayi kemudian dibawa ke ruang bayi, setelah diketahui bahwa plasenta saya tak kunjung keluar. Ya, kami gagal IMD. Rasanya muncul geledek di ruangan bersalin saat itu itu. Rencana IMD yang sudah saya persiapkan sejak awal kehamilan harus gagal karena saya mengalami retensio plasenta (plasenta mengalami perlengketan sehingga sulit atau tidak keluar melalui jalan lahir bayi). Belakangan saya baru mengerti bahwa gagal IMD masih jauh lebih baik dibanding nyawa saya melayang 😦

Dua puluh menit berlalu saat tangan kiri dokter masih menekan-nekan ringan perut saya yang sudah kempes saat itu. Dari kanan ke kiri, lalu balik lagi, dan begitu seterusnya. “Tenang bu, masih ada 10 menit lagi,” katanya kepada ibu saya. Saat itu saya tidak mengerti tentang apa yang mereka bicarakan. Untungnya, saya juga tidak mengerti seberapa terancamnya jiwa saya pada saat itu. Kalau saya tau, mungkin saya akan panik dan tekanan darah akan semakin meningkat.

Sepuluh menit berlalu, tibalah waktu yang “ditunggu.” Ternyata yang ditunggu adalah keluarnya plasenta. Karena ga keluar-keluar, akhirnya plasenta yang tertinggal di perut saya diambil secara manual. Jeng jeeeeeeeeeeeeeng…..! Rasanya bagaimana? Rasanya amit-amiiiiiit……. Jauh lebih sakit dibanding melahirkan. Prosesnya juga malah lebih lama, dan dokternya juga lebih capek. Bayangkan, pengambilan secara manual tersebut dilakukan sebanyak 4 kali! Anestesi pun seakan tidak berdaya menghilangkan rasa sakitnya T,T

Sinar matahari kemudian muncul di balik jendela. Bidan memandikan saya yang saat itu bersimbah darah. Saya yang menahan rasa sakit, tapi sangat bahagia. Saya terus-menerus bertanya kepada bu bidan “Bu, kapan saya bisa lihat bayinya?” Bu bidan hanya tersenyum dan menjawab “Sabar….”

Kemudian di pagi itu sebuah box beroda muncul di ujung pintu, diikuti seorang bidan yang mengantarkannya. Di dalamnya tertidur sesosok bayi mungil berselimutkan kain putih bermotif bunga-bunga ungu. Cantik sekali. Mukanya merah dan matanya tertutup rapat. Baunya wangiiiii sekali. Kissing her for the first time is the nicest feeling I’ve ever had in my life. Saya kemudian memanggilnya “Tiara Kayla Jasmin.”

tiara newborn

PS: Foto yang sama emaknya menyusul, soale ada di HP ayahnya. Ayahnya terbang langsung dari Kalimantan, boro-boro inget bawa kamera, hahaha.

PSS: Berat badan Tiara 3,1 kg, dan panjangnya 50 cm.