14

Demi Melahirkan Normal – My 38 Weeks Pregnancy Story

Di usia kandungan minggu ke-38 ini, saya sedikit was-was. Bukan was-was karena takut akan rasa sakit saat melahirkan, tapi was-was apakah saya bisa melahirkan secara normal atau tidak. Saya juga ga takut dengan rasa sakit pasca cesar yang katanya akan sembuh dalam waktu yang jauh lebih lama. Saya cuma takut ga bisa nutupin biayanyaaaaaa, hadoh. Memang uang bisa dicari dan harusnya ga jadi masalah utama, tapi saya mencoba untuk ga muna, masalah perduitan memang merupakan salah satu yang  saya perhatikan dalam urusan melahirkan. 😦

38 weeks old fetus

Jadi begini ceritanya… *kismis mode on*

Saya adalah orang dengan potensi hipertensi bawaan genetis dari ayah. Selama ini saya tidak pernah punya tekanan darah lebih dari 120/80 mmHg, tapi pas hamil di trimester ketiga ini, duweeeeeew… tekanan darah saya naik jadi 130/90 mmHg. Ditambah dengan simptom kaki bengkak dan kenaikan berat badan secara drastis (berat badan palsu, karena beratnya berasal dari air yang ga keluar lewat pipis), saya pun divonis mengalami gejala pre-eklampsia.

Ini terjadi pada minggu 34 menuju ke minggu 36. Saat itu memang saya lagi heboh-hebohnya beraktivitas ke sana ke mari, kan ceritanya saya sedang merintis bisnis (ntar aja ya cerita bisnisnya — siapa tau ada yang penasaran *ngesok artis dikit gapapa lah :mrgreen: *). Ternyata ibu dengan gejala pre-eklampsia itu tidak boleh kecapean, karena aktivitas berlebihan akan memicu kerja jantung dan bikin tekanan darah tambah tinggi.

Gegara itu, bumil berperut besar ini (kembali) diomelin oleh sang mama yang sebenarnya sudah pensiun dari dunia omel-omelan sejak saya menikah setahun lalu. Jangan kecapean bla bla bla… Kalau pre-eklampsia nanti ga bisa lahiran normal bla bla bla… Tuh kan kakinya bengkak lagi bla bla bla… Dan sejuta bla bla bla lainnya yang kayanya ga banget kalau ditulis semua di sini. -_-

Di sisi Bumi lain bernama Kiara Condong, hiduplah seorang sepupu yang juga sedang hamil dan juga punya gejala pre-eklampsia, namanya Nita. Kayaknya gen dari keluarga ayah saya ini dominan sekali, sampe-sampe semua sodara perempuan saya dari keluarga ayah punya kecenderungan yang sama. Usia kehamilannya hanya lebih muda 2-3 minggu dari saya.

Di minggu ke-36 kehamilan saya, saat berat kandungan mencapai 2800 gram, Nita menelepon saya dan mewek karena bayinya cuma 1600 gram. Kalau menurut tabel ini sih, bayi saya kegedean 100 gram dan bayi Nita kurang 400 gram. Setelah baca-baca sana-sini, kemungkinan besar kurangnya berat badan bayi Nita adalah karena pre-eklampsia, di mana pembuluh darah (termasuk tali plasenta) menjadi mengecil akibat tekanan darah di atas normal sehingga transfer nutrisi menjadi terhambat.

Trus saya pikir, wah berarti makanan kudu dijaga bener-bener nih, saya harus makan banyak, atau minimal ga lebih sedikit dibanding sebelum-sebelumnya. Saya cuma jaga-jaga aja takut bayinya jadi kurang gizi karena saya mengalami pre-eklampsia ringan.

Tibalah minggu ke-37. Saya periksa ke dokter kandungan, dan berat badan janin saya jadi 3300 gram aja gitu. Tet tooooot, kelebihan 400 gram. Dede, how come dalam 1 minggu nambahnya 500 gram? 😦

Setelah dipikir-pikir, mungkin karena saya kebanyakan minum teh manis. Sebelum periksa ke dokter terakhir kali itu, saya mengalami insomnia hebat, dan biasanya pas tengah malem jadi laper, dan akhirnya ngemil dan minum teh nasgitel deh (kebetulan di rumah lagi ada teh favorit saya, dan saya udah ga mengkonsumsi asam folat, jadi saya merasa bebas minum teh sebanyak-banyaknya, hahaha…).

Bisa ditebak lah apa cerita selanjutnya, si mama langsung ngomel. Katanya untuk anak pertama, melahirkan secara normal itu susah kalau bayinya kegedean. Dia sih nyaranin (dengan nada maksa khas emak-emak galak) untuk diet. Stop dulu yang manis-manis, kurangi dulu hidrat arang! She literally mentioned it as “hidrat arang” not “karbohidrat” :p

Dan diet pun dimulai kemarin. OMG, it tastes like hell. Saya udah lama sekali ga diet-dietan, jadi sekalinya ga makan nasi dalam jumlah banyak itu rasanya gimanaaaaa gitu 😦 Saya cuma makan bayem rebus, tempe, telur rebus, sate ayam (yang tanpa gajih tentunya), sama nasi sedikit buat sarapan. Dokter juga meminta saya untuk stop minum vitamin dan kalsium.

Saya baru baca-baca lagi forum ibu hamil, ternyata berat badan janin 3300 gram di usia kehamilan 37 minggu ini memang sesuatu banget. Ga heran deh si mama segitu sewot ngomelnya T.T

Rasanya pengen banget olah raga kaya jaman muda dulu. Pengen banget menjaga berat badan tanpa ngurangin asupan makanan. Lari 20 keliling di Sabuga, trus sit-up, push-up, dan nyobain pull-up (yang sampe sekarang ga bisa-bisa :mrgreen: ). Tapi itu semua ga mungkin saya lakukan karena masalah genetis tadi. Kalau kecapean, ntar malah jadi fatal pas melahirkannya (katanya bisa sampe menimbulkan kematian buat si ibu 😦 — aduh jangan sampe deh).

Jadi satu-satunya cara untuk menjaga berat badan si dede bayi adalah berdiet. Saya harus rela berdiet supaya ga bangkrut. Alasan yang naif memang, tapi alamiah.

Jumat atau Sabtu ini saya akan periksa lagi ke dokter. Mudah-mudahan si dede bayi nambah gedenya ga gede-gede amat. Saya juga berharap minggu lalu dokternya lagi error jadi salah ngitung berat badan si dede bayi — doa yang lagi-lagi naif, tapi lagi-lagi alamiah. :mrgreen:

Bumil ini hanya bisa berusaha dan berdoa. Kalau ternyata bayinya kegedean dan harus cesar, apa boleh buat. Seperti kalimat terkenal, “uang bisa dicari.”

— Ibu hamil yang 27 tahun lalu lahir dengan berat badan 4 kg, setelah 41 minggu bersenang-senang di rahim sang mama

Advertisements
10

Aljabar

Beberapa hari lalu saya menemukan sebuah note di Facebook:

Hey, try to solve this problem!

Edison: “Give me one dollar, then i’ll have twice as much money as you, Nikola!

Tesla: “No Tom, you give me one dollar! Then we will have both the same amount of money.”

How many dollars has got each?

—-

Apakah teman-teman bisa langsung menebaknya? Karena formulasinya masih sederhana, jawaban dari pertanyaan ini sangat mungkin untuk ditebak dengan mudah tanpa perlu membuat persamaannya.

Tapi karena saya lagi kurang kerjaan, saya coba selesaikan soal ini secara jantan. *eh*

Kesimpulannya, Edison punya 7 dollar, sedangkan Tesla punya 5 dollar.

Saya jadi ingat masa-masa SD dulu, ketika belajar adalah sesuatu yang menyenangkan dan akan saya lakukan tanpa disuruh orang tua. Dulu saya suka sekali matematika, dan aljabar adalah salah satu bab pelajaran favorit saya pada mata pelajaran ini selain trigonometri dan logika. Sayangnya perkuliahan di kampus gajah duduk membuat saya kini benci matematika. Apalagi setelah kenalan sama si integral lipat tiga.. (dafuq did I just study?  T.T)

Terus? Ya udah, gitu aja. Cuma pengen cerita kalau saya dulu suka sekali matematika.

Maaf ga penting. :mrgreen:

17

Menjayakan Kembali Sang Primadona Budaya Indonesia

Alangkah miris rasanya mengetahui bahwa wayang — warisan budaya asli Indonesia — sangat diapresiasi di negeri lain, tapi tidak di negeri asalnya… bahwa sementara di negeri lain seni wayang sudah resmi masuk ke dalam kurikulum pendidikan formal, di negeri asalnya para budayawan perlu beradu otot dengan pemerintah untuk memperoleh pencapaian yang sama.

Dalam sejarah perkembangannya, bangsa Indonesia pernah menciptakan puncak-puncak kreasi dan karya yang sampai sekarang masih dikagumi. Kreasi dan karya budaya tersebut merupakan  hasil akal, budi, dan pikiran manusia yang tak ternilai harganya.

(Ilustrasi dari jakarta.go.id)

Kesenian wayang adalah satu dari sekian banyak kesenian khas Indonesia. Di mata para pengamat budaya, kesenian wayang memiliki nilai lebih dibandingkan seni lainnya, karena kesenian wayang merupakan kesenian yang komprehensif yang dalam pertunjukannya memadukan unsur-unsur kesenian, diantaranya seni karawitan, seni rupa (tatah sungging), seni pentas (pedalangan), dan seni tari  (wayang orang). Di samping fungsinya sebagai hiburan, kesenian wayang juga memiliki fungsi estetika dan sarat dengan nilai-nilai luhur. Setiap alur cerita, falsafah dan perwatakan tokohnya, sampai bentuk pada kesenian wayang mengandung makna yang sangat mendalam.

Kita patut berbangga akan hal ini, karena kemajuan sebuah bangsa salah satunya ditentukan oleh peradaban budayanya. Bahkan UNESCO, lembaga yang membawahi kebudayaan dari PBB pada tahun 2003 menetapkan wayang — yang merupakan kebudayaan asli Indonesia — sebagai sebuah warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity). Ironisnya, bukan rasa bangga dan tindakan melestarikan kebudayaan ini yang muncul, tapi anggapan bahwa kebudayaan ini kuno dan ketinggalan jaman sehingga generasi muda mulai meninggalkannya.

Sudah sebegitu lunturnyakah rasa kecintaan kita pada kesenian wayang?  Berkaca pada diri sendiri, mungkin saja jawabannya adalah “ya.” Saya terakhir kali menonton pertunjukan wayang hampir dua tahun lalu. Itupun karena tidak sengaja saya temukan di sebuah festival di kota tempat saya tinggal. Saya lupa siapa dalangnya, saya juga lupa bagaimana ceritanya. Mungkin saya adalah representasi dari generasi muda yang mulai acuh tak acuh dengan kesenian ini.

Saya pernah suka sekali dengan wayang, terutama wayang golek. Semuanya berawal saat orang tua saya membelikan saya “Si Cepot”, tokoh wayang golek yang memang merupakan idola saya pada kala itu. Walaupun sedikit menakutkan dengan mukanya yang merah dan giginya yang menonjol, kelucuan karakternya membuat saya jatuh hati. Kini Si Cepot entah berada di mana, saya sudah lama sekali tidak memikirkannya.

Pertunjukan mini wayang golek di Braga Festival 2010

Ketemu Cepot di Braga Festival 2010, langsung minta foto bareng 😀

Tak bisa dipungkiri, arus globalisasi dan modernisasi yang terlampau kencang menerpa negeri ini membuat kita melupakan budaya tradisional. Jika jaman dulu orang menyetel televisi untuk menonton pertunjukan wayang kulit/golek/orang di TVRI, kini ada banyak pilihan lain yang dianggap lebih menarik seperti sinetron atau sitkom. Tak heran jika semakin lama masyarakat semakin tidak mengenal wayang, apalagi tergerak untuk melestarikannya. Seperti kata pepatah, “tak kenal maka tak sayang.”

Jika generasi saya yang masa kecilnya diwarnai kesenian wayang saja kini bersikap acuh tak acuh terhadap kesenian ini, bagaimana dengan generasi anak-anak jaman sekarang yang mungkin sama sekali tidak pernah bersentuhan dengan dunia wayang? Lalu mau dibawa kemana warisan budaya ini? Pantaskah wayang tergeser oleh Naruto atau tokoh kartun lain? Memikirkannya saja saya sudah merinding. -_-

Saya merasa tergerak untuk kembali mencintai wayang. Saya tidak mau anak cucu saya kelak mengenal wayang hanya karena mengunjungi museum, lalu manggut-manggut saat membaca keterangan “ini adalah warisan budaya Indonesia.” Atau mengenal wayang karena menonton pertunjukan yang justru digelar oleh orang-orang yang bukan berkebangsaan Indonesia.

Mengeluh dan berharap saja tentu tidak akan menyelesaikan masalah. Sebagai bagian dari generasi yang sedikit lebih tua pada masa ini, saya merasa perlu ambil bagian dalam menemukan solusi untuk mengembalikan kejayaan kesenian wayang di mata anak-anak. Berikut adalah beberapa solusi yang sempat terpikirkan di benak saya terkait masalah ini:

Bagi Para Orang Tua

1. Mempelajari Dunia Wayang sebagai Modal untuk Mengajar dan Mendidik Anak

Selain memiliki cerita yang menarik, dunia wayang juga berisikan nilai-nilai luhur dan falsafah hidup yang penting untuk pembentukan karakter anak-anak. Jika kita masih kurang percaya diri membawakan nilai-nilai tersebut, minimal kita bisa membawakan cerita yang menarik dan menghibur untuk anak-anak.

Untuk mempelajari cerita wayang klasik, kita cukup sesekali menonton pertunjukan wayang. Atau kalau tidak, kita bisa membaca bukunya.  Sayangnya di dua cerita yang paling populr dalam dunia perwayangan yaitu Ramayana dan Mahabharata, terdapat beberapa bagian cerita yang kurang cocok untuk dikonsumsi anak-anak. Tapi kita bisa memilahnya dan hanya menceritakan bagian yang pantas untuk diceritakan. Saat kita sudah hafal ceritanya, kita bisa menggunakannya sebagai dongeng pengantar tidur atau media pembelajaran suatu materi.

Buku karya Rizem Aizid, cocok untuk pemula

2. Mengajak Anak-anak Mengunjungi Museum Budaya

Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Kita bisa memanfaatkan energi ini untuk mengajak mereka menjelajahi museum yang menampilkan koleksi wayang. Memang belum banyak berdiri museum khusus wayang di negeri ini, tapi paling tidak terdapat beberapa museum di beberapa kota besar yang bisa kita dijadikan pilihan:

Koleksi wayang golek Museum Sri Baduga Bandung

Koleksi wayang beber Museum Sri Baduga Bandung

3. Menjadikan Wayang sebagai Objek Kreasi

Banyak kegiatan yang dinilai bisa merangsang kemampuan motoris anak, misalnya menggambar, mewarnai, dan berprakarya. Sambil merangsang kreativitas mereka, kita bisa memperkenalkan wayang pada kegiatan-kegiatan ini, misalnya:

  • Mewarnai gambar wayang. Gambar polos wayang bisa diunduh secara gratis misalnya di laman Facebook e-wayang.
  • Membuat wayang kertas. Cara membuatnya bisa disimak di blog Surfer Girl. Jika bentuk wayang asli (misalnya wayang kulit) dirasa terlalu sulit, bisa dibuat bentuk lain yang disukai. Selanjutnya wayang hasil karya bisa digunakan untuk mengadakan pertunjukan kecil-kecilan. 😀
  • Membuat papertoy  wayang. Cetakannya bisa diunduh secara gratis misalnya di blog Yapato dan Salazad.
  • Membuat wayang dari daun singkong. Cara membuatnya bisa disimak di blog Dey.

Wayang kertas (ilustrasi dari en.surfer-girl.com)

Papertoy Bima dan Sadewa hasil buatan sendiri ^,^

Wayang batang daun singkong (ilustrasi dari blog Dey)

4. Memanfaatkan Kemajuan Teknologi Informasi

Seiring kemajuan teknologi, kini inspirasi dan cerita estetis wayang dapat kita nikmati dalam bentuk digital. Salah satunya adalah komik e-wayang.org dan situs interaktif ramaya.na. Dengan gambar yang lucu dan menarik, diharapkan anak-anak akan bersemangat untuk menyimaknya. 😀

Komik e-wayang (ilustrasi dari e-wayang.org)

Situs ramaya.na (ilustrasi dari ramaya.na)

5. Menuansakan Wayang dalam Kehidupan Sehari-hari

Banyak barang-barang yang kita gunakan sehari-hari yang bisa kita manfaatkan untuk menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap wayang, misalnya: baju, tas, sepatu, mug, dan lain-lain. Diharapkan dengan interaksi setiap hari dengan wayang, apalagi jika sudah menjadi ikon bagi barang kesayangan mereka, anak-anak akan mencintai wayang dengan sendirinya. 😀

Kaos Srikandhi, hasil hunting di Jogja

Mug wayang (ilustrasi dari kaskus.co.id)

.

Bagi Para Pelaku Dunia Wayang

1. Mengembangkan Inovasi Pertunjukan Wayang Khusus Anak-anak

Jika biasanya pertunjukan wayang digelar semalam suntuk, menggunakan Bahasa Jawa atau Sunda secara full, dan terkadang berisikan cerita-cerita dewasa, maka perlu dibuat juga pertunjukan wayang khusus untuk anak-anak. Misalnya dibuat pada waktu siang hari dengan durasi hanya 2 jam, menggunakan Bahasa Indonesia, dan berisikan cerita khusus anak-anak.

Khusus untuk anak-anak jaman sekarang yang agak kebarat-baratan, kesenian wayang perlu punya nilai nyentrik, sehingga mungkin para dalang perlu bereksperimen dengan memasukkan unsur pop ke dalamnya. Sebenarnya ini bukan hal baru, karena sejak tahun 1925 sudah ada wayang kancil, dan sejak tahun 2010 ada wayang hiphop.

Wayang kancil (ilustrasi dari dongengwayangkancil.wordpress.com)

Wayang hiphop (ilustrasi dari Facebook.com)

2. “Memformalkan” Wayang

Seni wayang mengandung nilai-nilai luhur dan falsafah hidup yang baik untuk membantu pembentukan karakter anak-anak, oleh karena itu seni wayang sangat cocok untuk dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan nasional. Upaya ini telah dilakukan oleh PEPADI, namun sayangnya gayung belum bersambut.

Kita juga bisa mengusulkan adanya Hari Wayang Nasional. Sama seperti hari-hari perayaan lainnya, biasanya masyarakat akan melakukan hal-hal spesial pada hari-hari tersebut. Saya harap, jika ada Hari Wayang Nasional, stasiun televisi swasta akan tergerak untuk menampilkan pertunjukan wayang, dan masyarakat awam akan tergerak untuk berkontribusi memajukan dunia perwayangan nasional, misalnya para blogger menulis artikel tentang wayang. 🙂

3. Mengadakan Kelas atau Kursus Dalang Bocah

Sayang sekali rasanya jika apresiasi dan minat anak-anak terhadap wayang berhasil ditingkatkan tapi tidak tersedia cukup banyak fasilitas yang memungkinkan anak-anak berkecimpung lebih jauh dalam dunia wayang, misalnya tidak ada tempat kursus dalang dan sinden bocah. Untuk  menjadi seorang dalang dan sinden profesional tentulah tidak cukup dengan mengikuti kursus selama beberapa bulan. Tapi sebagai langkah awal untuk memfasilitasi kecintaan anak-anak terhadap wayang, sepertinya wadah-wadah semacam ini perlu ada dan dikelola dengan baik.

Sekolah Pedalangan “Sobokartti” (ilustrasi dari sobokartti.wordpress.com)

4. Mengadakan dan Mendukung Acara-acara Spesial Pewayangan secara Berkala

Salah satunya adalah Festival Dalang Bocah Nasional yang diselenggarakan setiap tahun di berbagai kota pada sejak 2008. Kegiatan ini diprakarsai oleh PEPADI dan didukung oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga RI dan berbagai sponsor. Festival serupa tingkat daerah juga dilaksanakan oleh PEPADI provinsi dan kabupaten/kota setiap tahunnya.

Dalang bocah (ilustrasi dari festivaldalangbocah.com)

Ketua Umum PEPADI Pusat, Ekotjipto, mengatakan Festival Dalang Bocah diadakan untuk mendorong kecintaan anak-anak terhadap profesi dalang. PEPADI berada posisi mengawal tradisi seni wayang agar tetap lestari dan menjaga agar mata rantai generasi pedalangan tidak putus begitu saja. (Sumber)

***

Itulah beberapa hal yang menurut saya bisa kita lakukan mulai dari sekarang untuk menumbuhkan kembali minat anak-anak terhadap dunia wayang.

Kelestarian seni dan budaya wayang adalah tanggung jawab kita bersama sebagai bangsa pemilik sah kebudayaan ini. Dibutuhkan tekad dan komitmen yang kuat dari berbagai pihak untuk mengembalikan kejayaan wayang sebagai primadona budaya nasional, terutama di mata anak-anak Indonesia yang hidup di generasi instan seperti sekarang. Mengandalkan pemerintah saja tentu bukan hal yang bijak, karena sejatinya peran keluarga dan masyarakat bisa memberikan hasil yang lebih optimal.

Menggubah sedikit kesenian ini agar sesuai dengan perkembangan jaman menurut saya bukanlah sesuatu yang salah. Toh yang penting kita bisa menggiring generasi penerus kita untuk mencintai wayang. Biarkanlah mereka mencintai wayang melalui jalur yang mereka pilih sendiri. Bukankah yang terpenting dari seni wayang bukanlah kemasannya, tetapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya?

Semoga tidak ada lagi kata-kata sumbang yang mengeluhkan “kok wayang lebih diapresiasi di luar negeri ya?”. Semoga seni dan budaya wayang bisa kembali menjadi primadona di tanah kelahirannya sendiri. Tidak lagi dianggap ribet, tetapi agung… tidak lagi dianggap aneh, tetapi unik… dan tidak lagi dianggap kuno, tetapi antik…

Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai budayanya. Jayalah selalu wayangku, primadona budayaku. 🙂

7

Senam Hamil Pertama ^,^

Akhirnya kemarin saya ikutan senam hamil juga. Sebenarnya sejak kemarin-kemarin juga bisa, hanya saja bumil ini terlalu malas. Saya memilih kelas senam hamil di RS Santo Borromeus (Jl. Dago, Bandung), karena berdasarkan hasil googling di sini bayarnya murah dan dapet banyak bonus produk-produk sampel dari sponsor. Yah beginilah kisah hidup pencinta gretongan… walopun nilainya ga seberapa, yang gretongan yang lebih dipilih. :mrgreen:

Saya tiba pukul 08:30 WIB tepat di RS Borromeus, sesuai dengan info yang saya dapat bahwa kelas senam hamil ini akan dimulai pada waktu tersebut. Setelah celingak-celinguk di RS besar ini, akhirnya saya bertanya kepada seorang bapak di meja front office, dan bapak berkumis baplang itu menjelaskan bahwa kelas senam hamil tidak dilakukan di RS, tapi di Klinik Kesehatan Keluarga bertempat Asrama Keperawatan St. Borromeus, Jl. Suryakencana Bandung (tepat di belakang RS).

Klinik Kesehatan Keluarga RS St. Borromeus Bandung

Registrasinya gratis. Saya hanya perlu membayar iuran senam hamil yang akan saya ikuti saat itu, yaitu Rp 15.000,00. Ibu front office juga menginformasikan bahwa setiap Rabu ada kelas Manajemen Laktasi, kalau mau ikutan, nambah lagi Rp 15.000,00. Dan saya ikutan, karena penasaran. 😀

Saya mengintip kelas hamilnya. Wah, rupanya sudah banyak ibu-ibu berperut besar sedang asyik ngerumpi. Saya kemudian mengantri untuk mendapat giliran pemeriksaan tekanan darah oleh mbak bidan.

Suasana kelas senam hamil

Sambil nunggu kelasnya dimulai, seperti biasa saya sok kenal sok deket sama orang-orang. Lumayan dapet 3 kenalan baru, hihi… (Mbak Dewi, Luciana, sama Rosi). Masing-masing usia kehamilannya sudah memasuki minggu ke 33, 37, dan 40. Sepertinya di kelas ini usia kehamilan saya yang paling bontot deh. Tapi kok saya paling endut ya? 😛

Senam pun dimulai. Ternyata senamnya asiiiiik, kaya yoga gitu. Apalagi instrukturnya suka melucu, saya jadi semakin semangat ngikutin senam hamilnya. :mrgreen:

Materi yang diajarkan adalah gerakan-gerakan untuk melenturkan otot-otot saat melahirkan. Ternyata otot yang berperan bukan hanya selangkangan, tapi hampir semua otot di seluruh tubuh (T.T). Selain itu juga diajarkan pernapasan dan mengejan yang baik. Pokonya seru deh, berasa banget jadi ibu-ibunya… ^,^

Nah, tibalah bagian yang paling asik. Setelah senam selesai, mbak-mbak SPG Prenagen membagikan susu coklat gratis. Karena saya di rumah juga minum Prenagen, jadinya ga terlalu heboh sih senengnya. Tapi terus abis itu dibagiin juga burjo (bubur kacang ijo) hangat dan 4 potong roti tawar. Daaaaan, saya dapet paket sampel produk perawatan bayi dan ibu hamil dari Mother & Baby Indonesia. Bener kata orang-orang, di sini bayarnya murah tapi bonusnya banyak, nyahahahaha….

Kudapan pasca senam hamil ^,^

Paket dari Mother & Baby Indonesia

Insya Allah hari Sabtu nanti saya akan ikutan senam hamil di sini lagi. Katanya khusus untuk senam hamil Sabtu pagi, ada bonus penyuluhan promosi kesehatan. Untuk edisi Sabtu ini, yang akan dibahas adalah “Teknik mengurangi nyeri persalinan.” 😀

Kira-kira Sabtu nanti gretongannya apa ya? *ngarep* :mrgreen:

***

PS: Cerita tentang Manajemen Laktasi akan saya tulis di kesempatan lain. Saya lagi males nulis yang serius-serius.

PS lagi: Berikut adalah jadwal kelas senam hamil dan penyuluhan Sabtu di Klinik Kesehatan Keluarga Santo Borromeus (siapa tau ada yang butuh).

Jadwal senam hamil Klinik Kesehatan Keluarga RS Santo Borromeus

Selasa | 16:00 – 18:00 WIB
Rabu | 08:30 – 09:30 WIB (kelas persiapan menyusui 09:30 – 10:30 WIB)
Jumat | 16:00 – 18:00 WIB
Sabtu Gel I | 08:30 – 09:30 WIB (kelas penyuluhan 09:30 – 10:30 WIB)
Sabtu Gel II | 10:30 – 11:30 WIB
Minggu | 10:00 – 12:00 WIB

Jadwal Penyuluhan Promosi Kesehatan Sabtu (Pre-Natal Class) Klinik Kesehatan Keluarga RS Santo Borromeus

4/8/12 | Teknik mengurangi nyeri persalinan
11/8/12 | Rawat gabung
18/8/12 | Imunisasi bayi
25/8/12 | P3K pada bayi
1/9/12 | Makanan bayi
8/9/12 | Pijat bayi sehat
15/9/12 | Tanda bahaya kehamilan
22/9/12 | Deteksi dini pada telinga bayi
29/9/12 | Tumbuh kembang bayi
6/10/12 | Memandikan bayi
13/10/12 | Keluarga berencana
20/10/12 | Senam nifas (fit & shape)
27/10/12 | Perawatan kebidanan
3/11/12 | Persiapan persalinan
10/11/12 | Gizi ibu hamil dan menyusui
17/11/12 | Slide persalinan
24/11/12 | Miracle of ASI
1/12/12 | Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
8/12/12 | Pijat ibu hamil
15/12/12 | Hypnobirthing
22/12/12 | Massage perineum
29/12/12 | Teknik mengurangi nyeri persalinan

10

“Sadewa”

Ada yang tau papertoy? Sederhananya papertoy adalah boneka yang terbuat dari kertas, yang bisa kita buat sendiri, cukup dengan modal mem-print, menggunting, melipat, dan menempel. 😀

Suatu hari saya menemukan blog ini, terus jadi kabita pengen bikin papertoy Pandawa 5. Akhirnya saya download deh gambar-gambarnya untuk kemudian di-print. Asalnya saya mau print di kertas manila, tapi ternyata di tempat nge-print-nya ga ada kertas manila, jadinya pake kertas inkjet deh. Ternyata hasilnya lebih bagus, wow woooow… ^,^

(Sekilas info aja: biaya print di kertas inkjet per lembarnya Rp 3.000 perak.)

Alat dan bahan yang dibutuhkan untuk membuat papertoy

Alat dan bahan yang dibutuhkan sederhana saja. Cukup alat potong dan bahan perekat. Buat yang perfeksionis dan gila kerapihan, mungkin akan lebih suka pakai cutter dan penggaris. Tapi buat pemalas kelas kakap, bisa pake gunting aja. Saya pake keduanya. Untuk garis potong yang akan terlihat dari luar, saya pakai cutter. Tapi untuk potongan yang ga bakal keliatan, saya pake gunting. :mrgreen:

Terus untuk perekatnya bisa pake lem atau pakai double tape. Buat kamu-kamu yang jorok, mendingan pake double tape aja deh, soalnya lem yang belepotan bakal mengurangi keindahan papertoy-nya.

Cetakan yang telah dipotong

Ini dia Sadewa yang sudah jadi

Ini ceritanya percobaan pertama. Masih banyak sisi ga rapihnya: idungnya kurang nempel, lipetannya banyak yang ga rapih, garis putus-putus masih keliatan (keknya bisa dibikin ga keliatan deh).

Bagi yang bertanya-tanya “kenapa yang dibuat pertama kali Sadewa?” jawabannya adalah karena Nakula dan Sadewa adalah tokoh Pandawa 5 yang least favorite bagi saya. Jadi kalau ada yang salah-salah, saya ga bete. Kenapa ga Nakula aja? Yah karena hidup memang tidak adil.

Gapapa ya, Sadewa… walaupun kamu produk gagal, you will always be in my heart. :mrgreen:

1

Maria Hardayanto, Ibu Rumah Tangga Penebar Virus Hijau

Sebagian orang menilai menjadi ibu rumah tangga berarti memilih menarik diri dari ranah publik. Tidak ada lagi jenjang karir, tidak ada lagi aktualisasi dmairi, tidak ada lagi cita-cita turut memajukan bangsa. Jika Anda termasuk salah satu dari orang-orang ini, tunggu sampai Anda berkenalan dengan Maria Hardayanto. Anda mungkin akan berubah pikiran. 

Suatu malam, saya cek satu per satu notifikasi Facebook yang pada malam itu sangatlah padat. Ternyata beberapa notifikasi datang dari Bunda yang sedang mempromosikan tulisannya di beberapa grup yang juga kebetulan saya ikuti. Jika kebetulan waktu saya luang, saya akan langsung membacanya, tapi jika sedang sedikit sibuk, saya bookmark dulu untuk saya baca lain waktu.

Ya, “Bunda,” begitulah saya memanggil sosok wanita ini. Dan ya, saya adalah penggemar berat tulisan-tulisan Bunda. Bukan tanpa alasan, saya menyukai tulisan-tulisan beliau karena isinya sangatlah inspiratif. Membayangkan bahwa sosok penulisnya berusia paruh baya, sontak membuat saya malu. Ternyata saya yang lebih muda dan berada pada usia puncak produktif masih kalah produktif dibanding Bunda.

Laman salah satu blog Maria Hardayanto

.

Ibu Rumah Tangga yang ‘Berkarir’ Melebihi Wanita Karir

“Kita sering bilang orang-orang Indonesia itu jorok dalam menjaga lingkungan, tapi kita tidak mau terjun langsung untuk membantu mereka. Yang saya lakukan hanya setitik debu, tapi saya yakin apa yang saya lakukan bermakna bagi mereka.” — Maria Hardayanto

Bunda adalah seorang ibu rumah tangga. Namun kepeduliannya yang sangat besar terhadap isu lingkungan hidup dan pemberdayaan perempuan membuat Bunda tergerak untuk melakukan banyak aktivitas di luar rumah.

Saat ini Bunda mendampingi dan membina dua komunitas yang tinggal di pemukiman padat penduduk kota Bandung, yaitu Komunitas Engkang-engkang dan Komunitas Sukamulya Indah. Visinya sangatlah mulia, yaitu mewujudkan lingkungan yang lebih baik dan memberdayakan kaum perempuan untuk turut berpartisipasi dalam pembangunan berkelanjutan. Kegiatan ini murni beliau lakukan secara sukarela alias tanpa dibayar. “Yang ada Bunda malah nombok, hehehe…” katanya sambil tertawa.

Saya beruntung sekali karena berkesempatan untuk ikut kumpul-kumpul dengan salah satu komunitas ini pada suatu sore. Sore itu saya bertemu Bunda yang sedang bersiap-siap bertemu Komunitas Engkang-engkang. Dengan pakaian rapi, Bunda menenteng reusable bag berisi cukup banyak barang. Rupanya Bunda baru saja selesai belanja untuk keperluan pertemuan kali ini sekaligus keperluan di rumahnya.

“Engkang-engkang,” nama yang cukup unik dan mungkin banyak yang menyalahartikannya dengan “ongkang-ongkang” yang bermakna sedikit negatif. Engkang-engkang adalah nama hewan semacam laba-laba air yang merupakan indikator alami sungai bersih dan jernih. Diharapkan nama ini bisa menjadi penyemangat ibu-ibu di bantaran Sungai Cidurian untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih, yang membuat engkang-engkang muncul kembali di sungai ini.

Bale-bale Komunitas Engkang-engkang

Keberuntungan saya berlipat ganda ketika ternyata edisi pertemuan kali itu adalah membuat cupcake tape dan ganyong. Sore itu Bunda membawa selembar print out resep yang didapatkannya dari internet. Kegiatan kali ini memang hanya memasak kue, tapi bukan berarti tidak ada poin belajarnya. Dari kegiatan ini kita belajar bahwa kita bisa menggunakan bahan lokal untuk mengganti bahan impor.

Selain menghemat biaya yang dikeluarkan, dengan menggunakan bahan lokal kita turut menjaga Bumi dengan “menghemat karbon.” Maksudnya adalah kita tidak ikut-ikutan menghasilkan polusi dari kegiatan mengimpor barang.

Cupcake Tape dan Ganyong” hasil belajar Komunitas Engkang-engkang

Seru kan? Selanjutnya resep-resep inovatif yang pernah dicoba pada pertemuan komunitas bisa dipraktekkan sendiri oleh para ibu-ibu, dan hasilnya bisa dijual di warung. Anak-anak jadi bisa jajan makanan sehat yang bebas bahan kimia berbahaya. Satu hal lagi yang tak kalah penting: jajanan ini ramah lingkungan karena tidak menggunakan plastik sebagai pembungkus.

Memasak hanyalah satu dari banyak kegiatan yang dilakukan komunitas Engkang-engkang. Banyak kegiatan menarik dan sarat makna lainnya yang dilakukan oleh ibu-ibu anggota komunitas ini. Beberapa di antaranya adalah belajar memisah sampah, mengkampanyekan anti buang sampah di sungai, berkebun, mengkompos, dan membuat tas dari bungkus kemasan plastik. Yang pasti semua kegiatan tersebut mengacu pada prinsip pembangunan berkelanjutan.

(Dokumentasi Maria Hardayanto)
.

Kegigihan Bunda yang tak kenal lelah kini telah membuahkan hasil. Selain memiliki lingkungan yang lebih bersih dan asri, kedua komunitas ini kini cukup dikenal sebagai salah satu “komunitas hijau” kota Bandung.

Banyak orang yang telah mengunjungi dan banyak media yang telah meliput kedua tempat ini. Kebanyakan orang datang untuk belajar tentang social entrepreneurship. Bahkan Wakil Walikota Bandung, Bapak Ayi Vivananda sering berkunjung ke Komunitas Engkang-engkang karena beliau sangat suka dengan semangat para ibu ini.

Pada bulan Juli 2012, kedua kampung ini juga terpilih sebagai kampung percontohan perubahan iklim Jawa Barat. Hebat kan? 🙂

.

Selalu Ada Cinta untuk Keluarga

Dengan kegiatannya yang seabreg, tidak sejengkal pun Bunda menjadi jauh dari keluarganya. Keluarga adalah hal terpenting dalam hidup Bunda. Kecintaan inilah yang membuat beliau memilih menjadi ibu rumah tangga setelah selama beberapa tahun mencoba berkarir pasca lulus dari Fakultas Ekonomi Uninus Bandung. Alasannya sederhana, Bunda tidak rela jika anak-anaknya lebih dekat dengan pembantu daripada dengan dirinya.

Mesra bersama sang suami

Foto anak-anak di dinding rumah

Bahkan setelah anak-anaknya dewasa, Bunda masih memperlakukan mereka dengan manja. Tidak ada yang salah, toh memang seharusnya begitulah hubungan seorang ibu dengan anak-anaknya. Bunda selalu berbagi cerita tentang apa yang beliau kerjakan di luar rumah kepada anak-anaknya. Begitu pula sebaliknya, Bunda selalu mendengarkan cerita khas anak muda dari anak-anaknya, sambil mencoba membantu memberikan solusi apabila dibutuhkan.

Ada kalanya di antara anggota keluarga muncul perbedaan pendapat. Biasanya bunda menyikapinya dengan santai dan memilih cara musyawarah untuk mencapai mufakat. Bunda berprinsip bahwa setiap anggota keluarga punya hak yang sama dalam mengutarakan pendapat, tidak pandang bulu apakah posisi mereka sebagai anak atau orang tua. Tapi tentu saja ada batasan-batasan tertentu yang tidak bisa dilanggar.

Rasa cinta kepada keluarga Bunda curahkan dengan selalu menyediakan makanan sehat di meja makan. Jika ada jadwal berkegiatan di luar rumah, Bunda akan mempersiapkan bahan-bahan masakan sejak sehari sebelumnya, “jadi besok paginya tinggal sreng, sreng, sreng…” tambahnya.

Bukan hanya itu, Bunda juga berusaha menciptakan suasana rumah yang asri. Tentu saja “asri” menurut kamus pribadi beliau. Bunda memelihara banyak tanaman hias dan tanaman pangan di kebun depan dan belakang rumah. Ada pula kolam lele dan tong pengkomposan untuk mengolah sampah organis sisa dapur dan makanan. Melalui keasrian ini juga Bunda mengajarkan anak-anaknya untuk mencintai alam dan lingkungan.

Halaman depan (kiri) dan halaman belakang (kanan) rumah Maria Hardayanto

Tong sampah organis (kiri) dan non-organis (kanan) di rumah Maria Hardayanto

.

Menemukan Tuhan dalam Pencarian

Bunda adalah seorang muallaf. Keputusan ini beliau ambil bukan karena alasan menikah atau atas paksaan orang lain, tapi berdasarkan hasil pencariannya sendiri. Satu hal lagi yang membuat saya kagum…. Bukan karena apa agama yang beliau pilih, tapi bagaimana proses beliau menemukan Tuhan dalam perjalanan hidupnya.

Bunda mempelajari agama Islam secara otodidak. Bunda bercerita, pada tahun 1980-an beliau membeli buku belajar mengaji dan buku petunjuk sholat di pinggir jalan yang saat itu harganya hanya Rp 1.000,00. Bunda membaca dan mempelajari buku-buku itu pada perjalanan menuju atau sepulang dari kantor menggunakan bis kota. Tekad Bunda sangatlah kuat: sekali masuk Islam, maka beliau harus menjadi muslim yang baik.

Sekarang, saat sudah fasih membaca Al-Qur’an, Bunda secara rutin mengikuti pengajian. Selain menambah relasi, kegiatan ini beliau manfaatkan untuk menebar ‘virus-virus’ hijau. Menjaga lingkungan juga termasuk ibadah, maka menyebarkan virus hijau bisa dihitung juga sebagai dakwah. 🙂

.

Tetap Tampil Cantik

Di balik kesibukannya, Bunda masih sempat merawat diri. “Bagaimanapun orang pertama kali menilai kita dari penampilan fisik. Kalau kita bersih dan rapi, orang akan lebih mau mendengar kita,” katanya bersemangat.

Sebenarnya tidak sulit untuk merawat kecantikan ala bunda. Cukup cuci muka setiap hari dan makan makanan yang sehat. Sekali-sekali boleh juga ke salon untuk memanjakan diri dan melakukan perawatan yang tidak bisa kita lakukan sendiri di rumah.

Pakaian dan asesoris Bunda sederhana saja, tidak mewah. Tapi Bunda sangat lihai dalam memadupadankan pakaian dengan asesoris sehingga enak dipandang mata. Coba lihat saja penampulan bunda di foto-foto ini, matching kan? 😉

Maria Hardayanto

Suatu saat pernah kami membahas tentang salah satu foto Bunda yang dipasang di Facebook. Bunda bercerita bahwa beliau memang mempersiapkan satu foto yang bagus, yang kelak akan dikenang saat beliau tiada.

Suatu hari saudara saya meninggal, dan di depan peti matinya terpasang foto terbaiknya semasa hidup. Saya jadi kepikiran bahwa saya harus punya foto yang bagus, jadi saat sudah tiada nanti, saya dikenang seperti pada foto itu,” katanya. Ya ampun, Bunda.. 😀

Maria Hardayanto

.

Belajar dan Menjadi Inspirasi melalui Dunia Maya

Banyak hal yang Bunda capai saat ini merupakan hasil dari proses belajar secara mandiri. Adanya internet membuat proses belajar mandiri dan berjejaring menjadi lebih mudah dan cepat. Inilah salah satu keuntungan hidup di era digital.

Melalui internet pula Bunda menjadi sumber inspirasi. Saya mungkin tidak akan pernah tahu sosok ibu rumah tangga moderen ini jika saya tidak berjejaring dengan beliau melaui Facebook. Saya juga mungkin tidak akan pernah tahu tentang Komunitas Engkang-engkang jika Bunda tidak menuliskannya di blognya. Begitu pula dengan orang-orang lain.

Maria Hardayanto: ibu rumah tangga yang melek teknologi dan internet

Kini Bunda telah menjadi inspirasi bagi banyak orang, khususnya kaum perempuan. Bunda berharap ibu-ibu rumah tangga di Indonesia tidak cepat puas dengan apa yang dimiliki sekarang. Mereka harus terus merasa haus akan pengetahuan dan pengalaman baru, karena sejatinya banyak hal yang bisa dilakukan oleh ibu rumah tangga yang bisa bermanfaat bagi dirinya sendiri, keluarga, maupun lingkungannya.

Hidup di negara berkembang memang dipenuhi banyak “masalah:” harga BBM yang semakin mahal, harga sembako yang melangit, lingkungan yang semakin kotor, dan lain sebagainya. Menurut Bunda, berkeluh kesah dan menyalahkan pemerintah tidaklah berguna. Lebih baik kita gunakan energi dan waktu yang kita punya untuk melakukan sesuatu yang sederhana tapi bermanfaat.

Terima kasih Bunda, karena telah menjadi inspirasi bagi kami, kaum perempuan. Melalui pencapaian selama ini, Bunda telah membuktikan bahwa usia dan gender bukanlah penghalang untuk maju dan membawa perubahan. Bunda juga telah mematahkan anggapan miring bahwa menjadi ibu rumah tangga berarti berhenti beraktualisasi diri dan tidak turut memajukan bangsa. Semoga angin yang menerbangkan “virus-virus” yang Bunda ciptakan selalu berhembus sehingga virus-virus ini hinggap di semakin banyak tempat.

Mari kaum perempuan, ikuti langkah Bunda. Siapkan tekadmu dan mulailah melakukan perubahan sederhana yang bermanfaat! 🙂

***

Klik link-link berikut untuk terhubung dengan Bunda (Maria Hardayanto).    

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam kontes Fastron Blogging Challenge. Fastron Blogging Challenge (FBC) adalah kompetisi blog yang mengangkat tema-tema yang erat kaitannya dengan kehidupan bermasyarakat dan perubahan sosial. Pada ajang FBC yang pertama, tema yang diangkat adalah Women In Digital Era.

18

Nujuh Bulanan (yang Diusahakan) Zero Waste

Alhamdulillah pada Selasa, 17 Juli 2012 lalu, acara nujuhbulanan yang saya beserta keluarga selenggarakan secara kecil-kecilan berjalan dengan lancar.

Kalau mau ngikutin adat Jawa sih, harusnya pada usia tujuh bulan kehamilan pertama, dilakukan upacara tingkeban yang super-duper rumit. Berhubung bakal riweuh ini-itu (apalagi menjelang bulan Ramadhan), saya memilih untuk tidak melakukan upacara ini, melainkan mengambil inti sarinya saja, yaitu berdoa demi keselamatan si jabang bayi.

Saya dan keluarga memilih mengadakan acara pengajian kecil-kecilan saja. Kami mengundang ibu-ibu di kompleks perumahan dan ibu-ibu yang biasa ngaji di masjid untuk mengaji di rumah, lalu makan-makan, dan setelah itu pulang bawa oleh-oleh. Hehehe, simpel sekali ya? 🙂

Nah, mumpung acaranya simpel, saya mengusahakan acara ini supaya bersifat zero waste. Mengadakan acara zero waste memang bukanlah hal mudah, apalagi kalau posisi kita di acara ini cuma “anak bawang.” Untungnya rayuan maut saya berhasil membuat si mamah setuju untuk ber-zero waste walaupun belum bisa 100%. :mrgreen:

Hal pertama yang terpikirkan adalah bagaimana menyuguhkan makanan di rumah secara zero waste (maksudnya makanan yang tidak dibawa pulang). Untungnya karena “syarat”-nya gampang, yaitu cuma menyediakan makanan kaya karbohidrat sebanyak 7 macam (atau lebih, yang penting jumlahnya ganjil), bagian ini sangat bisa dibuat zero waste. Kami menggunakan nyiru yang dilapisi daun pisang, lalu rebusan karbohidrat tadi ditata di atasnya. Ibu-ibu yang datang akan mengonsumsi makanan yang tidak biasa dihidangkan di perkotaan ini menggunakan piring kecil. 🙂

Rebusan karbohidrat (pisang, talas, “sagu,” ubi, singkong, ganyong, kacang tanah, kacang Bogor, jagung manis)

Kedua, untuk makanan yang dibawa pulang (oleh-oleh)–yang biasanya di perkotaan dibungkus menggunakan kotak kertas atau styrofoam–kami menggunakan besek bambu yang dilapisi daun pisang. Nah, untuk yang satu ini perjuangannya lumayan susah. Selain harus melobi si mamah untuk setuju bikin paketan nasi timbel, saya juga harus mencari besek bambu yang sudah semakin sulit didapat di kota ini. Akhirnya berkat rayuan maut saya, si mamah yang biasanya tukang ngatur itu setuju dengan usul saya. Horeee… :mrgreen:

Besek berisi makanan ini nantinya akan dibawa oleh ibu-ibu menggunakan tas jinjing. Awalnya kami ingin menyediakan tas jinjing kain, tapi karena biayanya akan terlalu mahal, kami memilih tas dari bahan yang lebih murah saja tapi tetap anti-kresek, yaitu non-woven (atau apa lah namanya, saya kurang hafal). Sengaja tas-tas jinjing ini tidak kami berikan sablonan kata-kata yang berhubungan dengan acara ini, supaya ibu-ibu ini mau pakai terus tas ini untuk keperluan lain tanpa perlu tersandung rasa malu karena ada label “gratisan” di atasnya.

Besek bambu

Nasinya dibuat “timbel” (dibungkus dengan daun pisang menggunakan teknik khusus), lalu untuk lauknya dibuat “takir” dari daun pisang.

Menunya sederhana saja: nasi timbel, oseng tempe, perkedel kentang, gepuk daging sapi (plus kerupuk, lalab, sambal, dan buah pisang). Di bagian bawahnya ada satu besek lagi berisi rujak dan kue-kue.

Besek nasi dan kue yang sudah dibungkus tas jinjing (anti kresek, booo…).

Rujak yang harus pake delima, yang mana delimanya susah banget dicari. Akrhinya pake delima impor deh.

Lemper, satu-satunya snack gacoan yang ga pake plastik.

Ternyata ada keuntungan lain yang didapat dari usaha ini selain (tentu saja) minimnya jumlah sampah. Daun pisang memberi aroma khas yang membuat cita rasa makanan menjadi lebih mantap. Penggunaan besek juga ternyata membuat ibu-ibu itu senang karena mengingatkan mereka pada masa kecil mereka. Kalau kita bisa bagi-bagi rejeki, sambil melestarikan tradisi, dan memberi perasaan senang yang lebih banyak kepada orang lain, itu kan seru banget…. :mrgreen:

Sayangnya, beberapa jenis makanan dalam paket makanan ini “memaksa” kami untuk tetap menggunakan plastik, antara lain: buah pisang, kerupuk, lalaban, sambal, kue-kue, dan RUJAK. Rujak adalah syarat wajib nujuhbulanan, jadi ga bisa ga ada. (Btw ini wajib versi adat Jawa ya, bukan versi agama :mrgreen:). Sama satu lagi: AMDK (air minum dalam kemasan). Saya ga berhasil merayu si mamah untuk ga menyertakan AMDK dalam kotak kue, euy. Entah kenapa AMDK ini seolah-oleh merupakan kewajiban dalam dunia perkotak-kue-an nasional. Jadi aja ga bisa 100% zero waste.

Tapi kan yang penting kita sudah berusaha. Saya percaya, hal-hal baik yang dilakukan dengan cara yang “baik” akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik lagi. Mudah-mudahan usaha zero waste ini memberi pengaruh positif kepada si dede di dalam perut saya ini untuk menjadi penerus pejuang lingkungan, membantu ibunya, tante-tante dan om-omnya menciptakan masa depan yang lebih baik. Sehat-sehat terus ya dede… tinggal 2 bulan lagi nih, jangan nakal ya. 😀